Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Calon Desainer Berbakat


__ADS_3

...Tak selamanya kita yang ada di titik terendah akan selamanya berada di keadaan seperti itu. Cobalah untuk berdamai dan meninggalkan sesuatu yang sakit jika itu tak bisa diperbaiki lagi....


...~Humaira Khema Shireen...


...🌴🌴🌴...


Ternyata sebuah kesedihan tak selamanya akan berakhir dengan tangisan. Tak selamanya sebuah kesabaran yang selalu kita terapkan akan membuat kita rendah dan sakit. Sebuah harapan yang selalu kita bumbung tinggi, sebuah perjuangan yang pernah kita lakukan akan menjadikan kita sadar bahwa untuk berada di titik bahagia sekarang, bukanlah hasil jerih payah yang mudah. 


Banyak hal yang sudah dia lakukan. Banyak hal yang sudah dia lewati. Namun, tak sekalipun hal itu menyurutkan semangatnya untuk berjuang melewati semuanya. 


Entah itu menyakitkan, entah itu sakit yang sangat amat sakit, entah itu hinaan dan makian. Namun, dia menerima semuanya sampai akhirnya Tuhan benar-benar membawanya keluar dari keadaan seperti itu. 


Akhirnya dia bisa terbebas dari semua hal yang dulu menjatuhkannya. Akhirnya dia bisa bangkit dengan bantuan sosok yang menjadi penyemangatnya sejak dulu. Akhirnya dia bisa bersama dengan orang-orang baik yang Tuhan berikan padanya.


Definisi takdir hanya Tuhan yang tahu, ya seperti itulah kisah Humaira Khema Shireen.


"Oh, Sayang. Jangan!" seru Humaira saat sosok manusia kecilnya sedang memainkan mainannya dan diletakkan di atas kertas berisi tugasnya yang baru selesai ia kerjakan. 


"Ibu, mainannya taruh sini!" ucap anak yang usianya hampir tiga tahun. 


Humaira hanya bisa menatap nanar tugas kuliahnya. Dia tak bisa marah kepada bocah kecil menggemaskan itu karena memang kesalahannya juga meletakkan kertas penting di atas meja ruang tamu. 


"Iya," sahut Humai yang kemudian duduk di atas karpet dimana sejak tadi dia memang berada di sana untuk mengerjakan tugas.


Namun, putranya yang meminta susu membuat Humai mau tak mau meninggalkan pekerjaannya yang berakhir seperti ini. 


"Oh, Boy. Kau membuat ibumu frustasi, Sayang," ucap Hermansyah sambil mengusap kepala cucunya yang sedang meminum susu.


"Tugas untuk besok, Papa. Aku akan mengeprintnya lagi," kata Humaira dengan menatap kerta itu nanar.


"Apa desainmu selesai?" tanya Papa Hermansyah pada putrinya. 


Humaira mengangguk. Dia membawa laptop miliknya dan menggeser di hadapan sang papa. Setelah itu, gadis yang memiliki seorang putra tersebut membuka file tempat dimana hasil desain untuk pagelaran busana Humaira yang akan dilakukan di kampus.


"Bagaimana, Pa?" tanya Humai meminta pendapat.


"Bagus. Desainmu ini ala-ala wanita korea? Dress dengan bagian bawah diberikan model payung tapi beberapa motif yang menggambarkan sebuah kebahagiaan?" 


Humaira tersenyum. Ternyata papanya adalah orang yang peka. Semenjak mereka tinggal bersama di Jakarta. Humaira mampu dekat dengan Hermansyah dan Emili secara cepat.


Ikatan darah yang lebih kental dengan air tentu benar adanya. Meski mereka sudah terlalu lama dijauhkan. Namun, tak ada yang bisa memungkiri jika di darah mereka adalah darah yang sama. 


"Iya, Pa. Jadi cocok dipakai musim panas begitu. Bagaimana?" 


"Bagus, Nak. Cocok. Sekarang sedang musim kemarau disini. Jadi Papa yakin penjualan pagelaran kamu versi kampus pasti bakalan laris habis," ucap Hermansyah yang membuat Humaira terpancing akan semangatnya. 

__ADS_1


Akhirnya pembicaraan keduanya terhenti tatkala tak terdengar suara bocil yang semakin hari semakin ceriwis. Ayah dan anak itu lekas menatap ke arah tempat dimana bocah kecil itu sedang menikmati susunya.


"Ah dia mengantuk, Papa," kata Humaira mendekati Jay yang mulai menguap.


"Biarkan Papa yang membawanya ke kamar. Kamu selesaikan tugas yang diganggu oleh Jay," ucap Hermansyah lalu mengambil alih tubuh mungil cucunya itu. 


"Makasih banyak, Pa. Maaf Humai banyak merepotkan, Papa," kata Humai dengan pandangan sendunya. 


Hermansyah menggeleng. Dia menampilkan senyuman khas terbaik seorang ayah agar anaknya tahu bahwa ia melakukan ini semuanya ikhlas tanpa paksaan. 


"Kamu gak merepotkan Papa, Sayang. Kita adalah keluarga dan tugas keluarga adalah saling mensupport!" 


...🌴🌴🌴...


"Mai, ibu muda yang cantik!" teriak suara melengking yang membuat sang empu menoleh. 


Disana, terlihat dua orang wanita yang usianya seumuran dengannya berlari ke arahnya. Mereka lekas memeluk Humaira yang menunggu kedatangan keduanya.


"Ya Tuhan. Kalian dari mana?" 


Dua wanita itu cengengesan. Mereka mengangkat sebuah kresek putih ke atas dan membuat Humai bisa melihat apa isi di dalamnya.


"Ya Tuhan. Batagor?"


"Kalian beli dimana?" tanya Humai yang mulai melangkah menuju kelasnya.


"Di depan kampus tapi masih nyebrang sih," sahut wanita yang celana panjang dengan baju atasan berkerah rapi.


Humai mengangguk. Dia tak lagi bertanya karena dirinya memiliki janji dengan dosennya.


"Kamu mau kemana?" tanya Lidya, salah satu wanita yang memakai jaket denim.


"Ke ruangan Pak Jeno," ujar Humai yang membuat Lidya memegang lengan ibu satu anak itu.


"Mau ngapain kamu ketemu dosen ganteng itu, Mai?" tanya Mira, wanita yang satunya.


Humaira memukul pundak sahabatnya. Dia geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka. 


"Ya mau kasih hasil desainku yang diminta beliau," kata Humai pada dua sahabatnya. "Udah yah. Aku anter ini dulu!"


"Mai salamin sama Pak Jeno yah. I Love You, gitu," ucap Lidya dengan mengedipkan salah satu matanya.


Humaira hanya terkekeh. Lidya dan Mira seperti dua malaikat yang diturunkan oleh Tuhan. Dua manusia yang dipertemukan dengan dirinya tatkala Humai berada di titik terendah.


Dimana saat itu dia masih kesulitan berteman, dimana saat itu dia masih menjadi sosok pemalu. Akhirnya datanglah dua wanita seumuran dengannya.

__ADS_1


Mira dan Lidya adalah wanita friendly. Keduanya juga berasal dari keluarga terpandang. Namun, sikap keduanya yang ramah membuat Humai mulai nyaman dan akhirnya terjalinlah persahabatan mereka yang sudah berjalan hampir dua tahun. 


Ya, Humai sudah dua tahun menempuh kuliahnya. Di tahun pertama dia mengalami kesulitan. Banyak sekali hujatan yang ia terima karena video tak senonohnya yang menyebar itu ternyata sudah sampai di kota manapun.


Saat mengetahui bahwa aibnya tersebar. Humai merasa down. Mentalnya benar-benar ditempa apalagi masa itu dia masih berada di fase baby blues.


Sampai akhirnya Mira dan Lidya datang, Humai yang tak pernah memiliki teman lalu diberikan keduanya dan kemudian jadi sahabat terbaik untuk Humaira. Dari sanalah, mulai muncul dan terbukalah pemikiran dan sikap Humai.


Tak ada lagi sikap takut, pemalu dan pendiam. Humaira benar-benar telah berubah 180 derajat dari sikapnya yang lama. 


Sampai akhirnya langkah wanita yang pernah melahirkan itu berhenti di sebuah pintu tempat dimana Dosen yang terkenal tampan, putih tapi killer berada. 


Dengan pelan, Humaira mengetuk pintu itu sampai suara bass terdengar dan memintanya masuk.


"Selamat siang, Pak. Maaf saya kesini ingin memberikan hasil desain yang Pak Jeno minta," ucap Humai dengan sedikit menunduk lalu menyerahkan coretan tangannya pada pria yang duduk dengan tenang di kursi kebesarannya.


Pria itu menerima hal desain Humai. Dia meneliti coretan tangan ajaib Humaira yang begitu mengagumkan. 


"Bagus. Desain ini akan saya ajukan ke teman saya yang ada di Korea. Kamu bersedia?" 


~Bersambung


Yang namanya takdir bisa dirubah ketika kamu berjuang ya begini guys. Emang awalnya sakit tapi ketika kamu ikhlas menjalani hidupmu pasti ada jalan yang menuntun kalian.


Humai yang karyanya makin bersinar, yang sana masih dihantui masa lalu dan berada di titik bawah.


Namanya takdir Tuhan gak ada yang tahu yekan.


Oh ya jangan lupa mampir di karya temanku yah.



Ini cuplikannya


Saat pagi menjelang, Sevia terbangun dari tidurnya. Perlahan dia melepaskan tangan kekar yang membelit perutnya. Sevia membalikkan badannya dan mendapati Dave yang sedang tertidur pulas.


Bagaimana nanti jika aku punya anak, apa dia akan bertanggung jawab? batin Sevia.


"Jangan melihatku terus, nanti kamu terjebak dalam pesonaku!" Dave langsung membuka matanya dan mendapati Sevia sedang menatapnya dengan tatapan kosong. "Dengar! Meski kita sudah menikah, tapi kamu jangan berharap banyak padaku, karena aku sudah memiliki seseorang yang aku cintai."


"Kamu bicara seperti itu setelah mendapatkan semuanya dariku? Aku tidak keberatan jika kamu menceraikan aku sekarang juga. Lagipula pernikahan kita hanya siri." Sevia langsung bangun dari tidurnya dan menuju ke kamar mandi.


Hatinya hancur berkeping-keping mendengar apa yang suaminya katakan. Meskipun benar tidak ada cinta di antara mereka, apa seharusnya Dave mengatakan hal itu setelah dia mengambil harta yang paling berharga dalam hidupnya.


Tidak Sevia! Kamu tidak boleh lemah! Sudah cukup kamu dipermainkan oleh lelaki! Apapun yang terjadi dengan Dave jangan pernah memakai perasaan. Anggap saja semua itu sebagai kewajiban kamu sebagai seorang istri," batin Sevia

__ADS_1


__ADS_2