
...Kita tak akan pernah tahu kebaikan apa yang sudah dilakukan hingga membuat orang lain baik kepada kita. Apa yang sudah kita rencanakan ternyata ada rencana Tuhan yang lebih baik....
...~Humaira Khena Shireen...
...🌴🌴🌴 ...
Akhirnya sepeninggal Syakir. Orang tua Syakir mengurus perizinan agar Humaira bisa dibawa pulang. Mereka juga akan membawa Humai ke rumah orang tua Syakir. Mereka tak mengizinkan wanita yang sedang berbadan dua itu tinggal sendirian di rumahnya karena takut terjadi sesuatu hal buruk menimpa padanya.
"Aku tinggal di rumah aja, Fir. Aku gak nyaman di rumahmu," kata Humaira masih merengek.
Saat ini di ruang rawat Humai hanya ada Sefira dan Humai. Kedua orang tua Syakir sedang keluar dan entah kemana.
"Percayalah padaku, Mai! Kalau kamu di rumah. Bakalan ada aku sama Mama yang nemenin kamu," sahut Sefira dengan apa adanya.
"Tapi aku takut orang-orang mengatakan aku hanya numpang hidup, numpang tenar dan…"Â
"Hey…hey…" Sefira menangkup kedua wajah sahabatnya.
Dia menatap wajah Humai yang selalu panik attack ketika melakukan yang bukan versinya. Dia selalu berusaha menghindar demi menjaga omongan orang lain.
"Ini hidupmu, Mai. Jangan dengarkan mereka yang terus menghinamu," ujar Sefira dengan pelan. "Mereka ya mereka. Kamu ya kamu. Gak bakal ada kesamaan dan kamu gak harus hidup di atas kemauan semua orang."Â
Humaira menunduk. Percayalah mentalnya yang sering dirundung membuat Humai selalu ingin menjadi sosok yang sempurna. Dia tak mau mengecewakan orang lain meski usahanya diacuhkan.Â
"Lalu Rein bagaimana?" tanya Humai dengan pelan.
"Kami akan membawa Rein keluar negeri, Nak. Kami akan berusaha agar adikmu sembuh," celetuk suara Mama Ayna yang membuat Humai lekas menoleh.Â
Mata gadis itu berkaca-kaca. Bahkan ketika Mama Ayna mendekat dan berdiri di depan Humai, dia lekas mengambil tangan Mama Syakir dan menciumnya.
"Tante, aku…"Â
"Panggil Mama. Kamu itu putriku. Kamu juga sudah menyelamatkan putraku dari sosok jahat yang merubahnya," lirih Mama Ayna yang membuat Sefira menaikkan salah satu alisnya.
Seakan bertanya siapa sosok jahat yang sedang dibicarakan oleh mamanya itu.Â
"Tapi…"Â
__ADS_1
"Cobalah, Nak. Mama gak mau kamu panggil Tante terus. Kamu udah disini, jadi bagian keluar kami."Â
Humaira menangis. Dia tak percaya jika masih ada orang yang mau menerima kekurangannya, baik kepadanya dan tanpa menuntut banyak hal.
"Mama," lirih Humai yang langsung membuat Mama Ayna memeluk calon menantunya itu.
"Kamu berhak bahagia, Sayang. Mama, Papa dan Sefira bakalan ada buat kamu."Â
Mama Ayna sudah mengetahui semuanya. Sefira menceritakan bagaimana masa lalu sahabatnya itu. Perlakuan orang tuanya, hidupnya, pembullyan yang ada di kampus. Segala hal yang dialami Humai diceritakan dan membuat Ayna semakin menyayangi gadis kecil ini.
Dia tak peduli jika Humai bukan gadis kaya. Mama Ayna juga tak peduli jika menantunya bukan gadis yang cantik. Menurutnya, cantik di luar itu bisa dipoles dan dirawat sendiri. Namun, cantik dari hati. Tak bisa ditipu atau direkayasa.Â
"Terima kasih, Ma. Terima kasih udah buat Humai bisa ngerasain bagaimana hidup menjadi keluarga bahagia," ujar Humaira dengan menangis.Â
"Percayalah pada Mama, ini adalah tangisan terakhir. Setelah itu jangan pernah menangis lagi. Beritahu pada Mama dan Fira kalau Syakir macam-macam. Kamu mengerti!"Â
"Iya, Ma."Â
Tapi jika Syakir suamiku, maka kita adalah sepasang baju yang harus menjaga aib pasangan kita. Tak ada yang boleh mengetahui aib itu kecuali kami sendiri, batin Humai dalam hatinya.
"Sekarang kamu tenang yah. Papa udah urus semua keperluan Rein. Dia akan diterbangkan ke luar negeri. Lebih tepatnya ke teman Papa yang ada di Amerika. Dia yang akan mengurus semuanya sampai keperluan Rein pribadi.
"Akan ada suster yang terus berada di samping Rein, Nak. Jadi jangan jadikan Rein sebagai beban pikiranmu, yah," mata Mama Ayna penuh perhatian. "Saat ini cukup pikirkan si kecil yang ada dalam perutmu ini."Â
"Sekali lagi, Humai bener-bener mau berterima kasih, Ma. Semoga kebaikan Mama dan papa dibalas oleh Tuhan."
"Aamiin."Â
...🌴🌴🌴...
Di tempat lain.
Syakir yang benar-benar sedang begitu emosi segera kembali ke apartemennya. Dia tak percaya jika keluarganya lebih memilih wanita itu daripada dirinya.
Bahkan selama ini baik Mamanya, Papanya dan Giska selalu ada di pihaknya. Namun, semenjak kehadiran gadis cupu itu. Semua meninggalkannya. Semua tak ada yang membela dirinya dan itu membuat emosi Syakir semakin meluap.
Syakir segera berjalan ke arah lemari minuman yang ada disana. Dia mengambil sebotol minuman haram mahal miliknya yang ia beli saat perjalanan bisnis di eropa.Â
__ADS_1
Pria itu tak lupa mengambilkan gelas kecil dan ingin minum seorang diri. Menurut Syakir sepertinya menenggak sedikit minuman ini akan membuat pikirannya tenang.Â
"Bagaimana bisa Mama mau menikahkanku dengan gadis jelek itu. Mau ditaruh dimana mukaku ini?" seru Syakir sambil menyugar rambutnya ke belakang.
Dia menuang air itu ke dalam gelas lalu meminumnya dengan sekali tenggak. Syakir benar-benar tak peduli pada siapapun. Dia hanya ingin ketenangan sebelum ada neraka dalam hidupnya.
"Aku akan menyiksamu, Humai. Aku akan menyiksamu sampai kau pergi dan mundur karena lelah dengan caramu sendiri!" teriak Syakir tanpa peduli jika ada sepasang kaki yang memasuki ruang apartemennya.
Disana, sosok Rachel berdiri mematung. Gadis itu benar-benar mendengar teriakan Syakir. Dia tak percaya dengan apa yang ia dengar semuanya.
Tangannya terkepal kuat. Emosinya memuncak dan rasanya ia ingin mengumpat. Namun, tiba-tiba ide kejam mulai terlintas di kepalanya dan membuat bibirnya tersenyum misterius.
"Kau boleh menikah dengan Syakir tapi pemenang hatinya adalah aku," ujarnya dengan senyum miring. "Kita lihat saja nanti. Apa yang akan aku lakukan kepadamu, *****!"Â
Setelah mengatakan itu, Rachel segera mendekati kekasihnya. Dia meletakkan tas mahal miliknya di atas meja lalu menarik tangan Syakir yang hendak menenggak minumannya lagi.
"Kau…" Syakir yang hendak marah tentu menahan saat melihat sosok kekasihnya ada disana.
"Sayang. Maafkan aku," rengek Rachel yang masih berusaha mencari cara agar Syakir mau memaafkannya. "Aku tak akan egois lagi. Aku akan terus mengutamakanmu daripada teman-temanku. Aku janji."Â
Syakir belum mabuk berat. Dia masih tahu siapa yang ada di sampingnya dan merengek padanya. Wanita yang sangat ia cintai selama iniÂ
"Kamu yakin?" tanya Syakir mengangkat tubuh Rachel sampai ada di atas pangkuannya.Â
Gadis itu melingkarkan tangannya di leher Syakir. Dia mencium bibir Syakir sebentar lalu kepalanya mengangguk.
"Aku menyesal, Sayang. Aku sadar jika selama ini aku egois sama kamu," ujar Rachel dengan manja.
"Aku memaafkanmu dan ingat jangan pernah mengulanginya lagi. Oke?"
"Oke!" Rachel lekas memeluk Syakir.
Dia tersenyum penuh kemenangan dengan otak yang mulai menyusun rencana. Kali ini bukan tangannya lagi yang akan bergerak tapi tangan kekasihnya.
"Aku akan buat hidupmu semakin menderita dan menunjukkan bahwa hanya akulah yang menjadi pemenang di hati Syakir," ucapnya dalam hati dengan senyum miringnya.Â
~Bersambung
__ADS_1
Yaya kita lihat aja, Cel. Siapa yang bakal nyungsep duluan yekan dan siapa yang bakal jadi pemenangnya.
Jangan lupa klik, like komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.