
...Dulu hal seperti ini adalah impian putraku. Namun, sekarang ini juga menjadi kebiasaan baruku yang paling aku sukai di antara kita....
...~Humaira Khema Shireen...
...🌴🌴🌴...
Wajah Syakir benar-benar tak bersahabat. Pria itu terus mengerucutkan bibirnya karena kesal. Bukan kesal akan kehadiran anaknya. Namun, ia yakin jika adiknya itu sengaja untuk mengacaukan kegiatannya yang hendak bermesraan dengan sang istri.
"Ayah! " Panggil Jay yang tengah duduk berbaring di sofa yang ada di kamar ayah ibunya.
Anak itu memang tengah menonton televisi kesukaannya. Kegiatan seperti ini adalah kegiatan yang biasa dilakukan oleh Jay ketika di rumah.
"Hmm? " Sahut Syakir yang tengah tiduran di atas ranjang.
Pria itu tak memiliki semangat lagi. Kepalanya sakit saat harus berusaha meredam keinginannya yang tadi hampir meledak. Miliknya juga mulai tegang sampai akhirnya dia harus mencoba membuang pikiran kotornya saat ada putranya disini.
Jujur kepalanya terasa sakit. Ya menahan hal seperti itu membuat kepalanya pusing. Namun, bagaimanapun yang terjadi juga karena ada anaknya disana. Dia tak bisa egois pada Jay.
Dia juga tak bisa memarahi anak itu. Bagaimanapun bukan kesalahan putranya. Dia juga pasti tak tahu tentang apa yang akan dilakukan ayah dan ibunya.
Sedangkan Humai, gadis itu merasa tak enak hati. Bagaimanapun dia tahu ekspresi suaminya sangat amat kesakitan. Dia juga tak bisa melakukan apapun karena putranya ada disini.
"Ayah ayo kesini! " Ajak Jay dengan hebohnya.
Syakir tak menjawab. Namun, dia juga tak bisa menolak keinginan putranya itu. Dengan pelan dia mulai menegakkan tubuhnya. Tapi sebelum itu, dia menatap ke bawah. Dia menatap kondisi dirinya yang benar-benar apakah sudah tertidur dengan nyenyak atau belum.
"Untung saja dia tidur. Ah kepalaku beneran sakit, " Gumam Syakir dalam diam.
Dengan malas, Syakir mulai melangkahkan kakinya ke arah istri dan anaknya. Wajahnya yang suntuk membuat Humai semakin merasa bersalah.
Dengan pelan Syakir duduk di samping istrinya. Dia memeluk Humai dari belakang dan meletakkan kepalanya di pundak Humai. Wajah Syakir begitu lesu dan Humai sendiri tahu apa yang sebenarnya pria itu inginkan.
Meski keduanya dulu melakukan karena dijebak dan Humai tak sadar. Perempuan itu tahu maksud suaminya seperti ini.
"Ayah sakit? " Tanya Jay beranjak dari duduknya.
__ADS_1
Anak itu berjalan ke arah ayahnya yang tengah bermanja pada ibunya.
"Ibu, " Panggil Jay saat Syakir tak menjawab.
"Ayah hanya capek, Nak, " Jawab Humai dengan pelan.
"Ayah kalau capek, tidur aja. Biar Ibu sama Jay disini, " Kata anak itu dengan polosnya.
Syakir spontan makin menyusupkan wajahnya di leher sang istri.
"Bener, 'kan, Bu? "
"Iya bener, " Sahut Humai dengan mengangguk.
"Tapi aku pengen tidur sama kamu, " Bisik Syakir di telinga Humai yang membuat gadis itu merinding.
Jujur perasaan Humai tak karuan. Dia susah menelan ludahnya sendiri. Tingkah Syakir yang manja benar-benar mulai terlihat. Namun, bukannya risih. Humai merasa bahagia.
Dia jadi tahu bagaimana tingkah suaminya ketika bucin. Dia juga tahu bagaimana suaminya itu ketika bermanja dengannya. Maklum saja, dulu mereka tak pernah seperti ini.
Jangankan bermanja. Dekat dengan Syakir saja, Humai tak pernah merasakannya.
"Tapi, Bu. Jay mau nonton ini dulu, " Ujar Jay dengan wajah yang berubah.
"Ini waktunya Jay tidur siang, Sayang. Nanti malam Ayah mau ajak Jay pergi loh. Ya, 'kan, Yah? "
Syakir spontan menganggukkan kepalanya. Setidaknya bocah kecil duplikatnya itu tidur agar dia bisa mengganggu istrinya ini.
Jay yang mendengar kata pergi spontan mengangguk. "Beli es krim nanti malam yah? "
"Oke tapi dengan syarat, Jay harus tidur siang dulu. Oke? "
"Ok."
Wajah Syakir langsung berubah sumringah. Mereka akhirnya berjalan ke atas ranjang. Dengan pelan, Jay mulai merangkak di dekat ibunya. Dia memeluk Humai dengan erat dan membuat Syakir dengan terpaksa tidur di samping putranya itu.
__ADS_1
Humaira hanya tersenyum. Tangannya yang satu ia buat mengusap punggung putranya dan tangan yang lain ia buat untuk mengusap kepala suaminya itu.
"Jay kalau tidur cepet, Sayang? " Kata Syakir dengan suaranya yang pelan.
Kepala Humai mengangguk dengan pelan sebagai jawaban. Putranya memang seperti Humai. Mencium bau banyak guling dengan mudah dia tertidur.
"Kenapa tanya itu? " Tanya Humai dengan pelan.
"Aku pingin tidur deket kamu, " Ujar Syakir yang menggeser tubuhnya dan memeluk putranya dengan sayang.
Bagaimanapun dirinya. Syakir tetap mengutamakan putranya itu. Dia sangat menyayangi Jay dengan tulus. Bahkan apa yang putranya minta, Syakir rela melakukan apapun.
Tak ada yang bisa menggantikan posisi anak pertamanya ini. Dia bahkan ingin mencurahkan kasih sayang yang besar untuk Jay. Menurutnya pertengkaran mereka dulu membuat Jay menjadi korban utama disini. Maka dari itu, Syakir ingin anaknya bahagia sekarang. Dia akan melakukan apapun agar Jay tak merasa sendiri dan berbeda lagi.
Sampai tak lama, akhirnya apa yang dikatakan istrinya itu benar. Nafas Jay sudah begitu teratur. Itu memang jadi pertanda bahwa putranya telah terlelap dengan tenangnya.
Mata Syakir pun beralih. Dia menatap ke arah istrinya yang sejak tadi dia. Dan benar saja, disana Humaira tengah tertidur dengan tenangnya. Nafasnya begitu naik turun dengan teratur.
Mata wanita itu terpejam dengan pelan. Sepertinya rasa lelah akan acara mereka pagi tadi membuat Humai tanpa sadar ketiduran. Hal itu membuat Syakir yang belum tidur spontan tersenyum.
Tak ada rasa marah dalam dirinya. Dia tahu jika istrinya pasti merasa lelah. Dirinya juga tertawa merasakan sikapnya sendiri. Namun, wajar saja. Usianya bukan anak muda lagi. Dia juga memiliki keinginan yang kuat untuk kembali merasakan kenikmatan dunia.
Namun, kenikmatan itu tersingkir saat melihat wajah Jay dan Humai yang tertidur dengan tenang. Menurutnya dia masih bisa menahan segalanya daripada harus mengganggu tidur istrinya itu.
"Ternyata berada di antara kalian adalah kebahagiaan yang paling tinggi, " Gumam Syakir dengan pelan.
Pria itu perlahan menarik selimut agar lebih ke menutupi tubuh ketiganya. Namun, sebelum itu dia menurunkan suhu AC agar lebih dingin dari sebelumnya.
"Tidurlah dulu, Sayang. Tapi nanti malam, aku tak akan mengizinkanmu untuk tidur, " Kata Syakir dengan tersenyum miring.
Pria itu segera membaringkan tubuhnya dengan nyaman. Dia memeluk istri dan anaknya dengan erat. Syakir benar-benar merasa bahagia bisa berada di kondisi sekarang.
Akhirnya setelah sekian lama hanya menjadi bayangan, hanya menjadi bunga mimpi. Kini dia bisa merasakan nyata memeluk keduanya dan satu ranjang dengan mereka dalam ikatan halal.
"Aku akan berusaha membahagiakan kalian berdua. Apapun itu aku berjanji tak akan mengecewakan Tuhan dan kalian lagi. "
__ADS_1
~Bersambung
Bang Syakir mode garang nahan-nahan tapi liat anak auto nyalinya ciut. Ini mah pengalaman bapak-bapak dunia nyata haha.