
...Perasaan itu kini semakin tumbuh subur. Bahkan tak ada dinding penghalang lagi di antara kita berdua....
...~Humaira Khema Shireen...
...🌴🌴🌴...
Syakir merasa tenang dan bahagia. Ada perasaan lega dalam hatinya saat melihat Humaira benar-benar menerima pekerjaanya sekarang sebagai apa. Perempuan itu bahkan dengan tulusnya menggenggam tangan hingga mengeluarkan rasa hangat dari kulit Humai.Â
Pria itu, ayah kandung Jay, sampai tak percaya jika dinding batas di antara keduanya telah hilang. Sikap Humaira yang dulu kini bisa dilihat lagi. Tatapan mata yang lembut. Perilaku yang penuh perhatian kini bisa ia rasakan kembali.
Bahkan tanpa diduga. Humaira melepaskan tangan mereka dan mengusap dahi Syakir yang berkeringat.
"Capek yah?"Â
Syakir tersenyum. Dia meraih tangan itu dan menciumnya dengan lembut.Â
"Untuk kebahagiaan kalian berdua. Tak ada kata capek untukku, Mai. Aku harus bekerja agar bisa bersanding denganmu."Â
Ada hati yang bahagia. Ada hati yang berbunga. Ada perasaan yang tak bisa dijabarkan saat cintanya yang setelah sekian lama kini berbalas. Ternyata perjuangannya selama ini tak sia-sia.Â
Humaira merasa tuhan kembali baik kepadanya. Tuhan membuktikan semua doa yang ia inginkan dikabulkan. Dia yang masih percaya bahwa cintanya itu bisa menuntut Syakir kembali ke jalan yang benar. Cinta yang ia punya bisa membuat Syakir berubah ternyata benar adanya.
Mantan suaminya itu telah menjadi sosok yang lebih baik. Mantan suaminya telah menjadi versi terbaik sepanjang hidupnya.Â
"Lalu bagaimana dengan nasib Rachel sekarang, Kak?" tanya Humai yang membuat Syakir menghentikan pergerakan tangannya.
Tangan yang tadinya mengusap tangan Humai dengan lembut kini terhenti saat nama wanita yang telah menghancurkannya kini ia dengar lagi. Nama wanita yang menjadi sumber utama hidupnya hancur berantakan. Wanita yang seumur hidupnya tak mau Syakir temui.
Wanita jahat yang telah merubah dirinya menjadi monster. Wanita paling jahat dan kejam yang pernah membuat Syakir bodoh bisa mencintainya dengan tulus.
"Terakhir kali aku mendengar bahwa Rachel ada di rumah sakit jiwa."
"Lalu Adam?"Â
"Dia mendekam di penjara. Ternyata dia telah menggelapkan uang perusahaan begitu banyak. Memalsukan tanda tanganku untuk kerja sama dengan perusahaan lain dan lebih parahnya lagi dia bekerja sama dengan Rachel untuk menjebak kita berdua."
Humaira sampai merinding. Bahkan tanpa sadar dia menggenggam tangan Syakir dengan erat.Â
"Rachel gila, Kak? Dia benar-benar gila?" tanya Humai yang hatinya seakan kasihan dengan jalan hidup wanita yang telah menyakitinya itu.Â
...🌴🌴🌴...
__ADS_1
Di tempat lain. Di sebuah ruangan dimana tak ada apapun disana. Hanya ada ranjang dan meja tempat hiasan minuman dan makanan diletakkan. Ruangan itu bernuansa putih bersih.
Semuanya tak ada yang berwarna. Dari cat, warna sprei semuanya putih. Hingga hal itu tentu membuat siapapun bisa melihat apa yang ada di dalam ruangan itu.
Seorang perempuan dengan rambut berantakan itu terlihat tengah bermain dengan boneka yang ada dalam tangannya. Bukan terlihat bermain tapi wanita itu sambil menunjuk boneka itu dengan mengumpatinya.Â
"Kamu harus mati!"
"Kamu harus mati, Mai!"Â
"Kamu mengambil papaku! Kamu mengambil papaku!" teriaknya dengan begitu kencang.
Tangan telunjuk yang ia kira pisau itu menusuk-nusuk boneka itu. Bahkan dengan kasar dia memukul boneka itu seakan samsak tinju pelampiasan kemarahannya.
Tak lama tawa kembali terdengar. Tawa penuh ejekan memenuhi ruangan itu.Â
"Kau wanita bodoh! Kau wanita paling tolol yang bisa aku hancurkan. Hahaha."Â
Sungguh siapapun yang melihat kondisi Rachel begitu menyedihkan. Kulit yang dulunya bersih itu kini kusam tak terawat. Wajah yang dulunya cantik, penuh make up kini tak ada lagi. Â
Wajah Rachel benar-benar telah berubah dari yang dulu. Semua yang ada dalam dirinya, yang dulu pernah ia banggakan kini tak ada gunanya lagi.
Tak ada Rachel yang cantik, tak ada Rachel yang sempurna di mata orang. Seakan semua yang ada di dunia ini telah ada hukuman yang akan dia dapat untuk seorang yang melakukan kejahatan.Â
"Aghh kembalikan papaku, Mai! Kembalikan!" teriaknya yang kembali mengamuk.
Rachel turun dari ranjangnya. Dia segera membentur-benturkan kepalanya di dinding. Darah segar kembali keluar lagi dan bersamaan dengan itu masuklah tiga orang petugas di kamar Rachel dan dengan sigap memegang kedua tangan Rachel dengan kuat.
"Pergi! Kalian pergi! Lepaskan! Hahahaha!" tawanya kembali menggelegar.
"Aku akan membuat Humai mati. Dia hsrus mati dari pikiranku!"Â
Bayangan dan pikiran Rachel terus berputar di kepalanya. Dam hal itulah yang membuat wanita yang dulunya menjadi primadona kampus sering mencoba bunuh diri dengan membenturkan dahinya di dinding.Â
Seakan yang dia lakukan itu bisa membuat bayangan wajah Humai hilang dari kepalanya. Seakan pikirannya tentang Humai bisa menghilang ketika dia memukul kepalanya sendiri.Â
"Aghhh!" teriak Rachel saat tangannya disuntik.
Kini tubuh Rachel mulai melemah. Dia bahkan tak melawan lagi pada tiga suster yang memegangnya. Mereka lekad meletakkan Rachel di ranjangnya kembali.
"Ambil tali untuk mengikatnya. Dia kembali mengamuk dan mencoba bunuh diri lagi!"Â
__ADS_1
"Baik," balas satu suster yang lain yang mulai mengambil apa yang mereka butuhkan.
Akhirnya mata yang tadinya terbuka kini tertutup dengan tenang. Nafas yang mulanya naik turun kini terlihat begitu nyaman dan menangkan.Â
Rachel selalu berhenti mengamuk saat suntikan penenang itu masuk ke dalam tubuhnya dan itu selalu dilakukan oleh para suster ketika kegilaan Rachel kembali.
"Berikan dia penjagaan ekstra. Aku akan menghubungi keluarganya untuk menyampaikan keadaannya."
...🌴🌴🌴...
Bukan hanya Rachel yang menderita. Namun, Adam, pria yang memiliki masa depan cemerlang dulu. Hidupnya yang serba mewah berkat bantuan Syakir semuanya kini telah kandas.Â
Semua keluarganya juga tak mau membantunya. Apalagi papanya telah lepas tangan. Orang tua Adam mengatakan bahwa mereka menyetujui putranya di penjara untuk membuatnya jera dari masalah yang telah ia lakukan.
Pria dengan pakaian penjara itu kini duduk di paling sudut. Dia menenggelamkan kepalanya diantara kedua kakinya. Sudah beberapa tahun dia disini, tapi Adam tak memiliki teman satupun di dalam penjara.
Lebih parahnya lagi, dia adalah orang yang paling dibenci dan disiksa disana. Semua teman satu selnya selalu membuatnya menjadi pembantu untuk mereka.
 "Adam!" panggil seorang pria yang memiliki tato di tubuhnya.
Adam tak menjawab. Dia merasa lelah karena baru saja selesai membersihkan kamar mandi. Jadwalnya memang melakukan kebersihan disana.Â
"Adam!"Â
"Aghh!" teriak Adam saat rambutnya yang gondrong itu dijambak sampai wajahnya mendongak.
"Kau tak bisu dan tuli, 'kan?"Â
"Ampun. Sakit!" ringis Adam dengan memegang rambutnya.
Ini benar-benar tarikan yang kesekian kalinya. Masih ada banyak penyiksaan yang ia terima di dalam sel ini yang dilakukan oleh teman satu selnyaÂ
Pria itu melepaskan tangannya dari rambut adam dengan kasar. Lalu dia berbalik dan menepuk pundaknya.Â
"Pijat pundakku sekarang!" seru pria itu memerintah. "Kau menolak, ingat apa yang pernah aku lakukan."Â
Adam menggeleng. Dia sangat tahu hukuman apa yang dimaksud dalam perkataan pria di depannya ini. Hal yang pernah ia dapatkan adalah dua hari dirinya tak makan karena jatahnya diambil ketua dari selnya itu.Â
"Bagus. Sekarang ayo pijat pundakku!"Â
~Bersambung
__ADS_1
Hihi yang kemarin tanya nasib mereka. Nih mulai ada pembahasan mereka sampai bab berikutnya. Jadi jan sampai kalian lompat bab lo yah. Ntar aku sedih huhu.