Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Pelukan Saudara Angkat


__ADS_3

...Tak ada dendam untukku di masa lalu. Aku ingin memulai semuanya dari awal. Mencoba menerimanya menjadi saudaraku meski kita tak sedarah. ...


...~Humaira Khema Shireen...


...🌴🌴🌴...


Humaira menatap penuh hari. Matanya bahkan sampai berkaca-kaca saat melihat bagaimana Rachel yang memeluk papanya dengan penuh rindu. Bagaimanapun dia bisa merasakan apa yang Rachel rasakan sekarang. Dirinya pernah berada di posisi itu.


Dia rindu pelukan seorang ibu saya tinggal bersama Rein dan Ibu Shadiva. Dia ingin perhatian kecil dari sosok yang ia anggap ibu kandungnya itu. Dia bahkan rela pura-pura sakit agar dirawat oleh Shadiva.


Semua Humai lakukan untuk mencari perhatian. Meski kadang ujung-ujungnya harapannya tak sesuai dengan kenyataan. Bukannya mendapatkan apa yang dia harapkan. Ternyata caci maki yang dia dapat.


Suara yang selalu mengingatkan dirinya untuk selalu mandiri. Untuk tak sering mengeluh tentu tanpa sadar membuat Humai tak pernah manja pada siapapun. Dia selalu berusaha melakukan segalanya dengan dirinya sendiri. Dia selalu berusaha tak meminta bantuan saat dirinya sanggup.


Hinggal hal itulah dampak kejam dari sebuah jahatnya perkataan. Orang tak pernah berpikir apakah perkataan mereka menyakiti atau tidak. Apakah ucapan mereka menjadi penghancur mental orang lain atau tidak. Mereka adalah manusia egois. Yang hanya mampu menghina tanpa peduli jika korban mereka tentu paling tersakiti disini.


Kedua mata Humai sampai berkaca-kaca. Dia tak menyangka kehadiran papanya menjadi kebahagiaan untuk Rachel.


"Sayang, " Panggil Syakir yang membuat Humai ingat ada calon suaminya disana.


"Aku bahagia, Kak. Papa mau bertanggung jawab, " Kata Humai dengan senyuman lebar di bibirnya. "Lihatlah Rachel! Dia bahagia dengan kedatangan Papa. "


Syakir mengangguk. Namun, mata pria itu tak lepas sedikitpun dari Humai. Dia takut jika calon istrinya itu hanya memendam sakitnya sendirian. Dia tak mau Humai merasa dirinya sendirian di dunia ini.


"Aku tak mau Rachel semakin buruk keadaannya. Aku tak mau dia sepertiku dulu. Yang hanya ingin dipeluk mamanya saja, tak pernah mendapatkannya."


"Aku bahkan sampai pura-pura sakit tapi Ibu tetap tak memberikannya, " Lanjut Humai yang bercerita.


Entah kenapa perasaan Syakir sakit saat mendengarnya. Dia menjadi berpikir jika dirinya sama saja memberikan tetesan air cuka di hati yang tengah terluka dulu.


Saat mental Humai yang buruk. Saat perempuan itu yang butuh teman. Ternyata dia dipertemukan dengan cara yang salah. Dirinya yang tak bisa menerima takdir akhirnya menyiksa Humai. Tanpa tahu jika sebenarnya wanita yang ia cintai ini dulu sedang tersiksa dengan keadaannya sendiri.

__ADS_1


"Maafkan aku, Sayang, " Kata Syakir yang membuat Humai tersenyum. "Aku… "


"Ustt! " Humai menggeleng.


Dia mengusap rahang tegas Syakir dan memberikan senyuman terbaiknya.


"Jangan ingat tentang itu, Sayang. Kita sudah berbaikan. Sekarang yang ada yaitu aku, kamu dan Jya, " Ujar Humai dengan tersenyum.


Ibu satu anak itu benar-benar sudah ikhlas dengan apa yang terjadi padanya. Dia sudah melupakan segala hal yang terjadi padanya di masa lalu.


Perubahan sikap Syakir. Hubungan mereka yang hendak menuju ke jenjang serius membuat Humaira tentu ingin berdamai dengan semuanya terutama Rachel.


"Aku memang tak salah mengejarmu kembali. Meminta pada Tuhan untuk kesempatan satu kali saja kembali padamu. "


Humaira terkekeh. Dia kemudian mengalihkan tatapannya dan melihat papanya dan Rachel tengah duduk di kursi taman dengan Rachel yang manja pada papanya itu.


Bahkan Humai bisa melihat papanya yang memegang piring makan dan menyuapi putri angkatnya itu. Tak ada kata cemburu dalam diri Humai. Dia benar-benar ikhlas dan mendukung papanya yang ingin membantu Rachel sadar dan kembali sehat.


"Aku ingin mendekat, Sayang, " Kata Humai yang membuat Syakir membelalakkan matanya.


"Ayo! "


Humai menarik tangan Syakir. Keduanya mulai melangkah berjalan ke arah kursi yang diduduki Rachel dan papanya. Humai benar-benar serius akan hal ini. Dia benar-benar ingin hubungannya dengan Rachel berdamai dan tak ada dendam lagi.


Entah kenapa Humai masih berpikir jika ada hati yang baik dalam diri Rachel. Bahkan Humai berpikir meski banyak dokter yang mengatakan Rachel gila. Humai tak menganggapnya gila.


Humai bahkan yakin Rachel masih memiliki akal sehat. Wanita itu mungkin bisa saja sepertinya. Yang nekat menarik perhatian orang tua dengan melakukan apapun.


"Sayang. Kita bisa pergi sekarang sebelum Rachel melihat kata, " Bisik Syakir yang khawatir calon istrinya terluka.


Humai menggeleng. Dia yakin akan praduganya. Sebagai anak yang sama-sama pernah ada di kondisi yang sama dengan mental yang sama. Tentu mereka pasti memiliki kemiripan.

__ADS_1


"Rachel! " Panggil Humai yang membuat kegiatan ayah dan anak angkat itu terhenti sejenak.


Rachel yang terlihat bahagia saat disuapi papanya menegang kaku tubuhnya. Perempuan itu bahkan dengan cepat memutar kepalanya hingga melihat sosok yang sudah lama tak ia temui.


"Humai! " Serunya dengan terkejut.


Begitupun dengan Papa Hermansyah. Pria paruh baya itu lekas berdiri setelah menyerahkan mangkuk berisi bubur ke tangan salah satu suster yang ada disana.


Dia spontan menatap kedua wanita yang usianya sama itu. Dirinya merasa khawatir. Khawatir jika Humai diserang oleh Rachel.


"Long time no see. Bagaimana kabarmu, Chel? " Sapa Humai dan mulai memberanikan diri melangkah mendekat.


Rachel yang masih shock itu hanya menatap Humai dengan lekat. Tubuh wanita itu bahkan diam mematung seakan dirinya belum sadar bahwa Humai semakin melangkah mendekat.


"Sayang, " Panggil Papa Hermansyah saat putrinya itu dengan berani terus mendekat.


"Kamu baik-baik saja, 'kan, Chel? Kamu sehat, 'kan, Saudaraku? "


Rachel benar-benar tak menyangka bertemu dengan wanita yang selalu menjadi bayangannya. Otaknya mulai memutar sekarang. Seakan akal sehatnya mulai bekerja dan melawan pikirannya yang buruk.


Sedangkan Humaira, wanita itu terus melangkah mendekat. Sampai akhirnya kedua orang itu saling berhadapan dalam diam. Humai tersenyum saat Rachel tak melakukan apapun dan dia yakin jika saudara angkatnya ini benar-benar tak sepenuhnya gila.


Dengan tekad yang kuat. Dengan kepercayaan diri yang bulat. Tanpa disangka, Humai mulai membuka tangannya dan dia memeluk Rachel dengan sekali gerakan.


"Akhirnya aku memiliki saudara perempuan. Aku bisa memeluknya sekarang, " Ujar Humai yang semakin membuat Papa Hermansyah dan Syakir terkejut.


Mereka tentu mendekati keduanya dengan perasaan takut. Takut jika Rachel mengamuk dan melukai sosok Humai. Takut jika Rachel memukuli wanita kesayangan keduanya.


Bagaimanapun keduanya belum tahu bagaimana reaksi Rachel setelah ini. Ini adalah pertemuan pertama setelah sekian lama mereka tak pernah bertemu. Pertemuan pertama semenjak kejadian masa lalu mereka yang sulit. Kejadian masa lalu yang menjadi penderitaan mereka semua hingga saat ini.


"Aku percaya bahwa kamu butuh pelukan, Rachel. Kamu butuh papa dan teman untuk mengertimu. Jangan pernah melukai dirinya sendiri setelah ini. Berceritalah padaku dan mari kita perbaiki masa lalu kita menjadi hubungan yang lebih baik. "

__ADS_1


~Bersambung


Percayalah kadang anak broken home mencari cara biar dia bisa dapat perhatian orang tuanya. Meski cara itu adalah hal gila.


__ADS_2