
...Mungkin jika dulu aku terlalu percaya diri dan membuatku sombong. Namun, sekarang aku lebih banyak insecure karena lawanku bukanlah pria yang biasa....
...~Guntur Syakir Alhusyn...
...🌴🌴🌴...
Jay yang langsung berlari ke arah Jeno tentu langsung ditangkap oleh pria itu. Jay dengan bahagianya melingkarkan tangannya di leher dosen killer itu dengan menceritakan apa saja yang baru saja dia lakukan.
"Om Syakir bawain Jay mainan, Om. Ada pesawat. Pesawatnya bagus banget," kata Jay menjelaskan. "Terus ada mobil-mobilan juga tapi belum Jay mainin."Â
Jeno mengangguk. Dia merasa dirinya datang diwaktu yang tak tepat. Namun, tujuan awalnya memang untuk menjenguk Jay karena dia khawatir pada mental bocah laki-laki itu.
"Assalamualaikum," salam Jeno lalu mencium punggung tangan Mama Emili dan Papa Hermansyah.
"Waalaikumsalam," sahut kedua orang tua Humaira dengan ramah.Â
Bukan hanya pada mereka. Jeno pun berjalan ke arah Syakir dan menyematkan senyuman tipis.
"Halo, Syakir," sapanya dengan ramah.
"Hai, Jeno. Apa kabar?"Â
"Saya baik," sahut Jeno dengan kepala mengangguk.
"Kalian sudah kenal?" Tanya Mama Emili yang bisa melihat interaksi keduanya.
"Ya, Tante. Kami pernah bertemu di restoran. Saat saya dan Jay makan siang," kata Jeno menceritakan.Â
Mama Emili dan Papa Hermansyah terkejut. Keduanya tak menyangka jika takdir bisa sebercanda itu. Mempertemukan ayah dan anak itu dulu dalam keadaan yang sama-sama tak kenal.
Mungkin itulah takdir yang tanpa kita rencanakan. Apa yang kita sudah perbuat akan ada hikmah setelahnya. Apa yang sudah kita jalani, pasti ada jalan yang lain untuk menyelesaikannya.
"Oh iya. Om ada sesuatu buat kamu, Jay," kata Jeno yang baru ingat sesuatu yang ia bawa untuk Jay.
"Apa, Om?" Tanya Jay yang terlihat begitu nyaman dalam gendongan Jeno.Â
Papa Hermansyah dan Mama Emili yang bisa melihat kecemburuan dalam mata Syakir tentu tak bisa mengatakan apapun. Jeno adalah tempat ternyaman Jay. Pria muda itu bisa membuat cucu mereka merasa nyaman dan bahagia ketika bermain dengannya.
Terutama Jeno juga pandai dekat dengan anak kecil hingga membuatnya dengan mudah mengambil hati bocah berumur hampir tiga tahun tersebut.Â
"Kemarilah, Syakir! Kita tunggu mereka disini," ajak Papa Hermansyah pada mantan menantunya itu.Â
Akhirnya orang tua Humaira dan Syakir menunggu di kursi yang ada di depan rumah Hermansyah. Sedangkan Jay, dia mulai diturunkan karena Jeno hendak membuka bagasi belakang.
__ADS_1
"Ayo tebak. Apa hadiah yang Om bawa?"Â
"Mainan?"Â
Jeno menggeleng. Perlahan dia mulai membuka bagasi itu hingga sebuah kotak besi seperti jeruji itu terlihat dan seekor hewan menggemaskan terdapat di dalamnya.
"Wah, kucing!" Pekik Jay dengan mata berbinar.
Kedekatan keduanya yang sangat intens membuat Jeno sangat menyayangi Jay. Bahkan pria muda itu sangat tahu apa yang disukai oleh putra pertama Humaira itu.
Jay adalah anak yang aktif dan cerdas. Dia lebih suka aksi daripada teori. Anak itu juga lebih suka bermain dengan makhluk hidup daripada permainan.Â
Jika dibelikan mainan, maka Jay akan bermain hanya beberapa minggu lalu bosan. Namun, jika dia bermain dengan hewan yang bergerak anak itu sangat suka.Â
Jenk tahu itu pun saat mengajak Jay ke kebun binatang. Bocah itu begitu aktif menyebutkan nama dan menirukan suara Jeno yang mengajari Jay cara bersuara hewan-hewan itu. Dari sanalah dia berinisiatif untuk membawa kucing.
"Ayo turunkan, Om! Jay mau main sama kucingnya," kata bocah itu dengan antusias.
Akhirnya Jeno mulai menarik tempat kucing itu lalu menutup bagasi dengan pelan. Setelah itu Jeno menggandeng tangan Jay dan membawanya mendekati kedua orang tua Humaira dan Syakir.
"Opa, Oma lihat. Jay punya kucing baru," kata Jay dengan heboh.
"Wah kucingnya cantik. Siapa yang kasih?"
"Udah bilang apa sama Om Jeno?"Â Â
"Terima kasih, Oma Jeno. Jay sayang, Om Jeno!" Tanla diduga, Jay menarik leher Jeno dan mencium pipinya.Â
Bisa dilihat oleh siapapun bahwa Jay begitu menyayangi Jeno apa adanya. Bocah itu sangat suka dengan sikap Jeno yang selalu mengerti tentang dirinya.
Hubungan mereka yang dekat. Lalu pribadi Jay yang tak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah membuatnya dengan mudah dekat dengan Jeno.
Tentu pemandangan itu membuat seorang laki-laki yang tadi bersemangat merasa insecure. Dia merasa dirinya sangat tak mengenali darah dagingnya sendiri.Â
Bahkan cara mengambil hati Jay saja. Syakir juga merasa kesulitan. Dia merasa kalah start dari Jenk tapi dirinya berusaha mengatur rasa cemburunya agar tak berubah menjadi emosi.Â
Tak lama pelayan mulai datang membawakan minuman. Papa Hermansyah lekas memanggil Jeno agar duduk bersama mereka. Pria muda itu berbalik.Â
"Jay main sama kucing dulu yah. Om mau ngobrol sama Opa dan Oma," pamit Jeno hati-hati.
"Iya, Om."
...🌴🌴🌴...
__ADS_1
Suasana di meja taman itu terasa lebih canggung. Entah kenapa di antara Syakir dan Jeno seakan ada jarak. Ada sesuatu benang merah yang menjadikan keduanya memiliki sekat tak kasat mata.Â
"Ayo diminum. Setelah itu Om mau berbicara pada kalian berdua," kata Papa Hermansyah memulai pembicaraan.
Mama Emili telah berpamitan untuk menyiapkan cemilan. Jadi tinggallah tiga pria dewasa yang duduk tenang di kursi tersebut. Mereka tentu mengangguk menghormati permintaan Papa Hermansyah.
Baik Syakir ataupun Jeno, keduanya meraih cangkir teh hangat itu lalu meneguknya dengan pelan.Â
"Sebelumnya, Om mau mengenalkan kalian berdua dulu. Mungkin kalian hanya kenal namanya saja tapi tidak dengan status kalian berdua. Benar?" kata Papa Hermansyah penuh hati-hati.
Dia tak mau ada yang tersakiti atau merasa disanjung disini. Papa Hermansyah ingin semuanya adil di antara mereka berdua. Baik Syakir atau Jeno juga, biar tahu hubungan mereka dengan keluarga Humaira.
"Iya, Om," sahut keduanya bersama.Â
"Syakir, Jeno ini adalah salah satu dosen di kamois Humaira. Dia juga yang menjembatani Humaira untuk meneruskan kuliah dan desainnya sampai ke Korea," kata Papa Hermansyah memulai mengenalkan. "Berkatnya juga, desain Humai lolos dan sekarang tinggal menunggu apakah bisa ikut fashion show di sana atau tidak."
Syakir mengangguk. Dia menatap ke arah Jeno dengan bangga. Dia juga tak menyangka jika pria muda di depannya ini adalah jalan bagus dan sukses untuk mantan istrinya.
Entah kenapa rasa insecure dalam diri Syakir semakin besar. Dia bahkan sampai merasa tak cocok untuk bersanding atau berharap untuk kembali dengan mantan istrinya lagi.
"Lalu, Jeno. Pria muda yang duduk disampingmu itu. Pria yang kamu kenal namanya Syakir itu sebenarnya dia adalah…" jeda Papa Hermansyah seakan dia sudah memikirkan semuanya.
Apa dampak dan efek yang akan terjadi setelah ini. Namun, menutupi semua itu juga tak baik. Baik Jeno atau Syakir harus tahu di antara mereka berdua. Agar di antara mereka tak ada yang merasa tersakiti atau apapun.
"Dia adalah ayah kandung Jay, cucuku. Dia adalah mantan suami putriku, Humaira."Â
~Bersambung
Ah habis ini Jeno gimana yah, makin brutal apa mundur alon-alon?
mampir juga ke karya temenku ya
Cinta Sendiri
Blurb :
Mencintai tanpa dicintai... Kedekatannya selama ini dengan sahabat abangnya hanya dianggap sebagai adik, tidak lebih.
Anggita Nur Anggraini, biasa disapa Gita telah jatuh cinta pada sahabat almarhum abangnya. Akan tetapi, cintanya bertepuk sebelah tangan. Bahkan dia sampai merelakan kehormatannya, sayangnya lelaki itu tetap tidak melihatnya.
Apakah cintanya akan berbalas?
__ADS_1