
...Percayalah ketika tak ada satupun yang mendukung kita. Maka akan ada sebuah penyesalan yang tumbuh di dasar hatimu yang terdalam....
...~JBlack...
...🌴🌴🌴...
Pagi yang cerah kini terlihat di rumah keluarga Almeera. Dua orang ibu hamil terlihat sedang bergandengan tangan berkeliling perumahan di mana rumah Almeera berada.Â
Banyak sekali tetangga yang menyapa keduanya. Tak jarang juga ada yang menanyai siapa Humaira pada Almeera. Namun, dengan tegas, istri Bara itu menjawab jika Humaira adalah saudara jauhnya.Â
"Bagaimana tidurmu tadi malam?" tanya Almeera saat mereka mulai berjalan diatas rumput berembun yang membuat kaki keduanya begitu segar dan sejuk.Â
Humaira menoleh. "Baru kali ini aku merasakan tidur paling nyenyak, Mbak."Â
Apa yang dikatakan oleh Humaira memang benar. Tadi malam adalah untuk pertama kalinya dia tidur tanpa bermimpi buruk lagi. Dia tidur dengan tenang dan nyaman seakan rumah barunya ini membuat semua pikiran yang biasa menghantuinya kini mulai pergi.Â
Mimpi dan ingatan akan hinaan Syakir yang setiap malam dia rasakan di Kota Malang. Ternyata tak lagi datang. Dia merasa tubuh dan pikirannya merasa nyaman dan tenang disini.Â
"Aku yakin kamu bisa melewati semuanya, Mai," ucap Almeera dengan yakin. "Jangan lemah. Jangan mau ditindas oleh pria. Kamu harus bisa berjalan ke depan dan katakan padanya bahwa kamu adalah perempuan sukses."Â
Humaira mengangguk. Semua nasihat yang istri Bara itu berikan benar-benar seperti siraman rohani di pagi hari. Dia mulai berpikir akan masa depannya setelah pembicaraan dengan Almeera kemarin.Â
Dirinya akan didaftarkan kuliah setelah putranya lahir. Dirinya akan meneruskan pendidikan disini dan mencapai cita-cita yang selama ini sempat terhenti karena sebuah masalah yang tak seperti kebenarannya.
"Tapi, Mbak. Aku ingin menanyakan sesuatu yang membuatku berpikir sejak semalam," kata Humaira pada Almeera.
"Kita duduk dulu disana. Setelah itu kamu boleh menanyakan apa yang mengganggumu," ajak Almeera sambil membawa Humaira di kursi taman yang ada di komplek perumahannya.Â
"Bagaimana aku bisa kuliah, Mbak? Sedangkan di kampus lamaku, aku dikeluarkan dengan tidak hormat?" tanya Humaira yang benar-benar bingung.
Jujur apa yang dia katakan benar. Perkara foto tak senonoh itu dia dikeluarkan dari kampus. Para dekan dan semua dosen tak percaya dengan penjelasannya.Â
"Mertuamu yang melakukannya, Mai. Mereka yang sudah membersihkan namamu di kampus," ucap Almeera yang mengejutkan Humaira.
"Maksud, Mbak?"Â
Almeera menyandarkan punggungnya di kursi taman. Pandangannya menatap ke depan. Dia memutar ingatannya saat dimana sahabat, Humaira. Sefira yang merupakan adik Syakir menghubunginya.
__ADS_1
"Halo?" sahut Almeera saat mengangkat panggilan dari nomor tak dikenalnya.Â
"Benar ini, Mbak Meera?" tanya suara dari seberang telepon.
"Ya benar. Ini dengan siapa?"Â
"Aku Sefira, Mbak. Sahabat Humaira sekaligus adik kandung Syakir."Â
Jujur saat mendengar nama Syakir dibawa. Almeera tak paham akan maksud Sefira yang menghubunginya. Namun, ternyata saat gadis itu mengatakan jika Sefira tahu Almeera dari Humaira. Dari sana istri Bara itu mengerti.Â
"Maaf jika aku mengganggu waktumu, Mbak. Tapi Mamaku meminta untuk mengabarimu karena ini menyangkut Humaira," kata Sefira dengan pelan.
Dari panggilan itu akhirnya mengalirlah cerita semuanya. Semua tak ada yang ditutupi oleh Sefira. Gadis itu memang ingin meminta bantuan Almeera untuk menjaga Humaira selama dia ada Jakarta.Â
"Jadi dia dijebak?" tanya Almeera yang terkejut tak menyangka ada wanita jahat pada Humaira.
"Iya, Mbak. Tapi tenang saja. Aku dan Mamaku sudah memiliki bukti. Kami akan membersihkan nama Humai agar dia bisa berkuliah di sana," sahut Sefira menjelaskan.Â
"Aku akan membantumu, Fira. Aku juga sudah menyayangi Humaira seperti adikku sendiri," kata Almeera dengan tulus. "Berikan saja berkas dirinya dan biarkan aku dan suamiku yang akan mengurus semuanya disini."Â
Jantung Humaira seakan berhenti berdetak. Sebuah kabar yang lagi-lagi mengejutkan dirinya. Dia menatap Almeera dengan pandangan tak percaya. Air matanya bahkan mengalir saat cerita dari Almeera selesai.
"Konspirasi macam apa itu, Mbak? Kenapa ada orang sejahat itu padaku?" tanyanya dengan menghapus air matanya.
Humaira mengingat dia tak pernah melakukan kesalahan pada Rachel. Bahkan mengganggu apa yang menjadi milik wanita itu tak pernah sekalipun. Namun, kenapa Rachel sebenci itu pada dirinya.
Kenapa wanita itu seakan menganggapnya musuh yang harus dibasmi dan dihancurkan.Â
"Untuk alasan itu. Mertuamu belum mengatakan apapun lagi, Mai," kata Almeera dengan jujur.
Humaira memegang pinggiran kursi saat perutnya merasakan kram. Dia sampai memejamkan matanya dan membuat Almeera yang mihat tentu panik.Â
"Kenapa, Mai?"Â
"Perutku sakit, Mbak," kata Humaira dengan meringis.
Almeera dengan pelan mengusap perutnya. Dirinya juga meminta Humaira untuk menarik nafasnya begitu dalam lalu buang.Â
__ADS_1
"Pelan-pelan aja, Mai," kata Almeera dengan penuh perhatian. "Jangan banyak pikiran. Anakmu di dalam sini memiliki ikatan batin yang kuat denganmu. Apa yang kamu rasakan maka dia juga merasakannya."Â
Humaira mengangguk. Dia mencoba berdamai dengan kejutan yang dibawa oleh Almeera. Meski dirinya tak terima dan sakit. Namun, Humai mencoba untuk melupakannya sejenak.
"Aku cuma gak habis pikir aja, Mbak. Apa salahku padanya?" tanya Humai setelah dirinya tenang.
"Apapun alasannya. Percaya sama Mbak. Apa yang dia tanam maka akan dia tuai. Apa yang dia lakukan, dengan alasan apapun itu. Dia tetap salah!"Â
...🌴🌴🌴...
Malang.
Seorang perempuan terlihat sedang berbaring di ranjang empuknya. Dia menatap ke langit-langit kamar dengan pikiran yang mulai memikirkan semuanya.Â
Baru kali ini dirinya mau pulang ke rumah. Rumah yang seakan bukan rumah untuknya. Tak ada kehangatan, tak ada kasih sayang di dalamnya. Kedua orang tuanya benar-benar super sibuk dengan pekerjaannya.Â
Hingga pandangannya kini menatap ke samping. Sebuah pigura yang diletakkan di atas meja samping nakas membuat matanya menajam.
"Gara-gara kamu, kedua orang tuaku tak pernah menyayangiku. Gara-gara kamu, kasih sayang mereka berkurang."Â
Rachel menatap marah pigura itu. Dengan kasar dia mendorong foto itu sampai jatuh ke lantai dan pecah. Dia tak peduli lagi dengan keluarga ini. Dia tak bahagia berada disini.
Sampai suara teriakan kemarahan seseorang membuat Rachel tetap tak beranjak dari tidurnya. Bahkan sampai pintunya yang dibuka kasar tak membuat dirinya takut.
"Apa yang sudah kamu lakukan, Rachel?" seru suara pria paruh baya yang sangat dia tahu siapa. "Kampusmu memberikan surat ini pada Papa dan apa yang sudah kau lakukan, hah!"Â
Rachel memejamkan matanya. Dia sangat tahu apa yang dimaksud papanya ini. Sahabatnya tadi sudah menceritakan kepadanya perihal foto tak senonoh yang pernah ia sebar sudah diklarifikasi oleh para dosen dan dekan.Â
Dan hal itu membuat Rachel tahu, jika ucapan Sefira benar terjadi. Pasti perempuan itu tahu apa yang selama ini dia lakukan untuk Humai.Â
"Rachel jawab!"Â
"Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan!"Â
~Bersambung
Hiyaaa ada apa sebenarnya hayoo? Apa yang tersembunyi disini?
__ADS_1
Yuhuuu mikir mikir deh yah malam ini.