Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Mimpi menjadi Nyata


__ADS_3

...Terkadang kita perlu membayar apa yang terjadi di masa lalu agar masa depan kita menjadi lebih baik. ...


...~JBlack...


...🌴🌴🌴...


Papa Hermansyah dan Mama Emili benar-benar memanjakan Rachel. Dia tak melakukan perbedaan kasih sayang apapun pada putra putrinya. Kedua paruh baya itu antusias memilih pakaian baru untuk putri angkatnya itu.


"Pilihlah baju yang lain, Nak. Kamu mau celana pendek juga gak papa, " Kata Papa Hermansyah yang sangat tahun stylist putrinya itu.


Meski dulu dia tak pernah ada untuk Rachel. Papa Hermansyah selalu memantau Rachel. Bagaimana gaya penampilan anak angkatnya itu dan membuatnya cukup mengerti style Rachel.


"Nggak, Pa. Ini saja, " Kata Rachel menunjukkan beberapa dress di tangannya.


Ya Rachel benar-benar ingin merubah penampilannya. Dia memilih baku dress selutut dan kaos besar serta celana panjang. Tak ada baju pendek, sexy seperti dirinya yang dulu.


Dia ingin merubah semuanya. Dia ingin menjadi Rachel yang baru. Dia ingin menjadi pribadi yang lebih baik.


"Kalau ini? " Kata mama Emili menunjukkan rok panjang warna hitam.


Rachel menerimanya. Dia benar-benar tak protes apapun. Perempuan itu sudah sangat terlalu bersyukur dengan kehidupan yang masih baik hati kepadanya.


Diterima dengan baik oleh keluarga yang pernah ia sakit. Diperlakukan layaknya putrinya sendiri. Itu semua sudah menjadi hal yang cukup untuk dirinya.


Rachel sadar diri. Rachel bahkan banyak bersyukur. Dibalik sikapnya yang dulu jahat, ternyata Tuhan masih memberikan kebaikan yang banyak untuknya.


"Ayo kita cari makan sekarang! " Ajak Mama Emili lalu melingkarkan tangannya di lengan putrinya. "Biarkan Papa yang membawa belanjaan. "


"Tapi, Ma. Kasihan Papa, " Kata Rachel menahan langkah mamanya itu.


"Papamu itu kuat, Nak. Jadi biarkan saja Papa yang membawanya! " Kata Mama Emili lalu menarik tangan putrinya dulu.


Rachel hanya bisa pasrah. Apalagi saat dia menatap ke belakang dan melihat Papa Hermansyah tersenyum ke arahnya dengan memberikan acungan jempol. Hal itu membuat Rachel hanya bisa membalas dengan senyuman.


Ternyata diperhatikan oleh orang tua seperti ini rasanya. Mendapatkan kasih sayang yang besar ternyata seindah ini dan itu membuat Rachel benar-benar hidup dalam kebahagiaan.


Saat ketiganya mulai duduk di sebuah restoran. Mama Emili mengambil buku menu untuk memesan makanan. Sedangkan Rachel, wanita itu mengambil tisu dan mengusap keringat di dahi papanya.


"Maafkan Rachel ya, Pa. Rachel bikin Papa capek, " Ucapnya dengan tulus.

__ADS_1


Papa Hermansyah tersenyum. Jujur dia merasa ikut bahagia. Apalagi ternyata melihat bagaimana perubahan anak angkatnya itu. Hidupnya terasa sempurna. Dia memiliki satu anak kandung tapi Tuhan mendatangkan dua anak yang sekarang menjadi anak dan teman masa tuanya.


"Papa sudah biasa. Apalagi ketika belanja bersama mamamu, " Kata Papa Hermansyah membuat Mama Emili menurunkan buku menu di tangannya.


"Mama dengar ya, Pa! " Kata Mama Emili yang membuat Papa Hermansyah terkekeh.


Pria paruh baya itu melingkarkan tangannya di pundak sang istri lalu menariknya untuk mencium salah satu pipinya.


"Tapi Papa mencintai, Mama. "


"Gombal! " Ujar Mama Emili dengan malu-malu.. "Gak mau dilihat anak kita. Tuh? "


Jantung Rachel berdetak kencang. Dua orang tua di depannya ini benar-benar menganggapnya seperti anak kandung. Tak ada perbedaan apapun bahkan di kedua matanya begitu tulus padanya.


"Rachel! " Panggil Mama Emili saat Rachel hanya diam dan menatap ke arah mereka.


"Ah ya, Ma? " Jawab Rachel terkejut.


"Kamu kenapa hm? Sakit? " Tanya Papa Hermansyah dengan penuh perhatian.


Kepala Rachel menggeleng. Dia mengulurkan tangan lalu menggenggam tangan Papa Hermansyah dan Mama Emili bersama.


...🌴🌴🌴...


Di Korea.


Terlihat canda tawa semua orang di sebuah kamar hotel yang tengah dijadikan area permainan itu. Mereka benar-benar menciptakan suasana kekeluargaan yang begitu hangat dan akrab.


Bahkan Jeno yang baru saja mengenal Reyn langsung akrab sekarang. Tak ada batasnya apapun di antara mereka. Kelimanya ditambah satu bocah kecil terlihat begitu menikmati permainan mereka ini.


"Ayo keluarkan kartumu, Reyn. Kakak yakin kamu pasti kalah! " Kata Humai dengan muka mulus tanpa coretan.


Ya kali ini mereka berada di ruang kamar hotel Syakir Humai. Setelah makan bersama, mereka memilih kembali ke hotel karena cuaca semakin dingin. Padahal ini siang hari tapi salju ternyata membuat suhu tak bersahabat di tubuh mereka.


"Aku pasti menang kali ini, Kak! " Kata Reyn tak mau menyerah.


Mereka memang sedang bermain kartu. Yang kalah wajahnya akan dicoret. Dan dari sekian banyak orang, antara Syakir, Humai, Jeno, Sefira dan Reyn. Hanya wajah Humai yang bersih.


Perempuan itu tak pandai main kartu tapi sepertinya keberuntungan selalu berpihak padanya. Hingga akhirnya saat Reyn mulai membuka kartu akhinya. Humai lekas mengeluarkan punyanya dan dia kembali menang.

__ADS_1


"Lihatlah. Kamu kalah! " Kata Humai dengan bahagia.


Perempuan itu memeluk suaminya dengan erat. Bahkan tanpa sadar dia mencium pipi Syakir sampai dia lupa disana masih ada orang yang melihat.


"Astaga mataku! " Kata Reyn pura-pura dramatis. "Ternodai! "


"Kasihan. Sini sama kita aja, Reyn. Kalau mereka memang udah dianggap dunia milik sendiri! " Kata Sefira menyindir.


Humai lekas melepaskan pelukannya. Lalu Syakir pura-pura menarik telinga adiknya itu.


"Kayak yang gak bucin aja sama Jeno! " Kata Syakir menggoda.


"Ih siapa yang bucin? " Tanya Sefira berkilah.


"Ih siapa yang susah jalan? " Goda Syakir yang membuat pipi Sefira memerah.


Ah jika ingat kejadian tadi pagi. Bagaimana jalan dia yang seperti siput dan sedikit terbuka. Membuatnya ingat bagaimana ganasnya suaminya itu semalam.


Jujur ya memang mereka baru unboxing semalam. Selama ini Sefira dan Jeno lebih mendekatkan antara satu dengan yang lainnya. Saling membuat nyaman, lebih dekat dan tak ada kecanggungan.


"Udah, Kak. Kasihan pipinya udah sama kek kepiting rebus, " Tambah Humai lagi yang membuat suasana semakin cair. "Ada yang mau coklat panas? "


Semua orang akhirnya angkat tangan. Ya, Humai akan memesan coklat panas memakai layanan hotel karena sepertinya salju turun semakin banyak. Perempuan itu lekas beranjak berdiri. Berjalan menuju telepon hotel dan meninggalkan beberapa orang yang asyik berbicara.


Syakir sendiri lekas mengambil benda pipih yang ada di sampingnya sejak tadi dan melihat sebuah pesan singkat yang dikirim papa mertuanya dengan sebuah foto.


"Papa dan Mama sudah menjemput Rachel. Kami sedang mengajaknya berbelanja membeli kebutuhannya. Katakan pada Humai tentang ini ya, Nak. Papa sama Mama gak mau dia salah paham," Kata Syakir membaca pesan yang dikirim Papa Hermansyah.


"Eh jadih… " Jeda Sefira yang ternyata penasaran dengan apa yang dilihat kakaknya. "Dia… "


Syakir mendongak. Dia menatap adiknya dan mengangguk.


"Semuanya sudah selesai, Giska. Tak ada masalah lagi di antara kita. Kita akan berjalan bersama seperti satu keluarga besar," Kata Syakir dengan tersenyum.


~Bersambung


Yehh, maaf kemarin aku libur update yah. Ada kegiatan dan malemnya pas mau update. otw merem duluan hais.


Hari ini do'ain 3 bab Oke.

__ADS_1


__ADS_2