
...Ketika Tuhan mendatangkan teman baik lagi untukku. Disitulah aku merasa ada hikmah disetiap ujian yang datang....
...~Humaira Khema Shireen...
...🌴🌴🌴...
Hari ini suasana Tumpang terasa lebih dingin dari biasanya. Terlihat seorang perempuan yang tengah berbadan dua sedang berkutat dengan kesibukannya di dapur. Dia bergerak kesana kemari melakukan pekerjaannya sebagai seorang istri.Â
Menyiapkan sarapan pagi, membuatkan kopi untuk Syakir lalu menyapu dan mengepel rumah miliknya. Dia melakukan semuanya seorang diri tanpa ada yang membantu.Â
Humai juga berusaha agar tak kelelahan. Dia bergerak pelan tapi dengan tekad yang kuat. Sambil sesekali dia mengusap perutnya mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Hingga pekerjaan terakhir yaitu membuatkan makanan, dia lagi-lagi harus menahan rasa mualnya ketika bau masakan tercium di hidungnya. Jujur kehamilan Humai hampir sama dengan ibu hamil lainnya.Â
Merasakan morning sickness, sering buang air kecil dan susah makan. Namun, berbeda jika dia memakan makanan yang sama seperti makanan Syakir, mencium aroma tubuhnya, minyak wanginya dan berada di dekatnya. Rasa mual itu seakan hilang.
Humai sampai memikirkan jika anaknya pasti merindukan ayahnya. Anaknya ingin selalu di dekat Syakir meski pria itu tak pernah menganggapnya.
"Akhirnya selesai," kata Humai setelah menata piring terakhir di meja makan.
Menu nasi goreng khas tangan Humai tercium begitu semerbak di seluruh ruang makan. Ilmu belajar dari cafe, membuatnya bisa memberikan yang terbaik untuk sang suami.
Humai hanya berharap, semoga makanan yang kali ini ia masak dengan tangannya sendiri, bisa Syakir makan dengan baik. Saat Humai hendak kembali ke dapur, sebuah suara langkah kaki yang mendekati ruang masak membuatnya menghentikan langkahnya.
"Selamat pagi, Kak," sapanya dengan menunduk.
Syakir tak menjawab. Pria itu hanya mendudukkan dirinya di salah satu kursi yang ada di sana, lalu menatap menu sarapannya kali ini.Â
"Kakak mau ku ambilkan makanan?" tanya Humai dengan hati-hati.
Syakir melirik Humai tajam. Dia benar-benar muak dengan perempuan ini.
"Jangan pernah berperan menjadi istri yang baik untukku!" serunya dengan suara tegas. "Kau tak perlu melayaniku karena aku bisa melakukan semuanya sendiri."Â
"Maaf," ujar Humai dengan menunduk menahan rasa sakit.
Syakir tak peduli. Dia mengambil nasi goreng itu lalu meletakkan di atas piringnya. Kemudian dia mengambil telur juga untuk menjadi lauk pauk menu makan paginya.
Saat dia hendak menyuapkan nasi goreng itu ke mulutnya. Humai yang masih berdiri setia di dekat meja makan membuatnya mendengus kesal.
"Aku ingin setiap kali kau selesai masak dan aku mau makan, keluar dari sini! Aku tak bernafsu ketika melihatmu!" serunya dengan tajam.
Mata Humai berkaca-kaca. Namun, dia tak menjawab apapun. Kepalanya hanya mengangguk sebelum dia berbalik dan hendak pergi dari sana.
__ADS_1
"Tunggu!" seru Syakir yang membuat langkah Humai berhenti. "Temanku akan datang dan menginap disini."
"Jangan pernah sok baik pada mereka, mencari perhatiannya dan jangan katakan apapun tentangmu. Kau mengerti?"Â
Perkataan Syakir barusan membuat Humai bingung. Namun, mendengar suara suaminya yang tak mau dibantah membuat Humai patuh dan menganggukkan kepalanya.
"Baik, Kak."Â
"Sekarang sana kau pergi!"Â
Akhirnya Humai mulai pergi meninggalkan ruang makan. Namun, dia tak pergi keluar. Humai bersembunyi dibalik dinding dan mengintip suaminya yang mulai sarapan.Â
Jantung Humai berdetak kencang. Dia menatap ekspresi wajah Syakir yang tak bisa ditebak. Suaminya itu mulai mengunyah suapan pertama hasil masakannya sendiri.Â
"Semoga Kak Syakir menyukainya." Doa Humai dalam hati dengan penuh harap.
Tak ada perubahan apapun. Namun, saat melihat Syakir yang makan dengan lahap membuat ibu hamil itu bahagia. Dia mengusap perut anaknya dengan air mata yang menetes.
"Misi pertama kita berhasil, Sayang. Kita harus sering membuatkan makanan yang enak untuk Ayah agar dia mengingat kita nanti," ujar Humai dengan senyuman mengandung kesedihan.
...🌴🌴🌴...
Bandara Abdurrahman Saleh.
"Kapan pekerjaan ini selesai?" gumam Syakir dengan menatap sekeliling.
Temannya itu belum datang dan membuatnya mulai bosan menunggu. Namun, saat pria itu hendak pergi menuju ke salah satu coffee shop, sebuah suara yang sangat ia kenal membuat pria itu beranjak berdiri.Â
"Lo apa kabar?" tanya Bara sambil memeluk dirinya dengan hangat.
Syakir tersenyum. Sahabatnya ini masih tetap sama. Tak pernah berubah sedikitpun.
"Gue baik, Bar. Lo sendiri?" tanya Syakir dengan menatap kedatangan sahabat dan keluarganya. "Tanpa Lo bilang, gue bisa lihat kalau Lo udah jauh lebih baik dan bener-bener baik."Â
Bara terkekeh. Dia meraih pundak istrinya dan memberikan kecupan di puncak kepala Almeera.Â
"Seperti yang Lo lihat! Hidup gue jauh lebih berarti sekarang!"
Syakir memutar matanya malas. Jiwa romantis sahabatnya satu ini memang sangat menggebu. Dari ketiga persahabatan mereka, bisa dibilang Bara adalah kaum bucin tingkat dewa.Â
"Gue salut dengan kesempatan yang bisa Lo dapet dari Meera."Â
"Lo bener. Gue beruntung punya dia."Â
__ADS_1
Syakir bisa melihat bagaimana sahabatnya itu saling menatap penuh cinta dengan Almeera. Ada rasa iri pada diri Syakir ketika melihat sahabatnya bisa bersatu dengan wanita yang dia cintai. Berbeda sekali dengan dirinya yang harus terjebak dengan seorang wanita berhati jahat dan kejam.
"Yaudah. Yok masuk! Malang lagi dingin banget sekarang!"Â
Akhirnya kelimanya segera masuk ke dalam mobil milik Syakir. Syakir adalah salah satu sahabat Bara yang pernah menjadi saksi nikah pernikahan kedua pria itu. Syakir dengan lihai membawa mobilnya dan mulai meninggalkan bandara yang mulai dipadati oleh banyak mobil.
"Kita bakalan tinggal dimana, Pa?" tanya Abraham menatap jalanan kota impiannya.
"Tanya aja ke Om Syakir," kata Bara yang sama tak tahu.
"Kita akan ke Tumpang. Di sana lumayan jauh dengan kota dan airnya juga dingin."Â
"Apa rumah Om Syakir disana?" celetuk Bia yang kepo.
Pria itu mengangguk. Meski hatinya enggan menjawab yang sebenarnya.
"Iya," sahut Syakir dengan suara terbata.
"Nanti Om akan menjadi pemandu kalian selama di Malang, loh!" ujar Syakir seakan mengalihkan perhatian mereka.
"Siap, Om! Ajak kami ke Kota Batu juga yah. Bia pengen main ke jatim park, sengkaling, coban rondo. Ah dan masih banyak lagi," ujar Bia yang sudah mencari tahu beberapa destinasi di Malang.
"Siap!"Â
Akhirnya perjalanan selama tiga puluh menit dari Abdurrahman Saleh ke tumpang pun berakhir. Mobil Syakir mulai memasuki sebuah perumahan hingga hampir 100 meter akhirnya kendaraan itu berhenti.
"Ayo turun!" ajak Syakir dengan bahagia.
Saat mereka mulai keluar dari mobil. Syakir mengepalkan tangannya saat wanita yang sudah diperingati menunggu di depan sana seakan menyambut kehadiran mereka.
"Siapa dia, Kir?" tanya Bara penasaran.
Syakir menatap Humai dengan penuh kebencian. Dia benar-benar merasa bahwa wanita busuk itu sedang mencari perhatian.Â
"Dia cuma saudara gue, Bar!"Â
Saat kata itu meluncur dengan bebas dari bibir Syakir. Sebuah hati terasa ditusuk ribuan jarum. Mata Humai berkaca-kaca dan merasa sakit ketika tak dianggap.
Apa sehina itu aku dimatanya sampai aku tak dianggap istri di hadapan teman-temannya? Gumam Humai dalam hati sambil menahan tangis.
~Bersambung
Gakpapa Mai, nanti Lo juga anggep dia itu mantan suami, ehh hahha kabur.
__ADS_1
Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat ngetiknya.