
...Percayalah terkadang semua cinta itu penuh misteri. Kita tak akan tahu siapa yang datang lebih dulu dan bertahan sampai akhir....
...~JBlack...
...🌴🌴🌴...
Dua pasangan pengantin yang masih dibilang baru itu tentu mulai memilih untuk berangkat ke Korea lebih dulu sebelum tanggal yang ditentukan. Ya atas kesepakatan bersama, mereka akan melaksanakan bulan madu terlebih dahulu sebelum Humai dan Sefira melaksanakan peragaan busana pertama mereka dalam acara fashion.
Bagaimanapun ini adalah ajang bergengsi. Suatu kehormatan untuk keduanya jika lolos dan bisa sedikit untuk melambungkan nama mereka di dunia baru ini.
Semua berkas yang akan mereka bawa tentu dipersiapkan dengan baik. Dari paspor, KTP, tiket, surat nikah mereka juga dan berkas yang lain tentu telah selesai mereka siapkan semuanya.
Mereka akan terbang ke Korea besok pada siang hari. Ya, mereka mengambil jam siang karena takut jika pagi, mereka akan terburu-buru.
Pasangan pengantin baru yang tentu dipenuhi dengan kebucinan itu selalu mengalami drama bucin di setiap paginya.
Jika Syakir dan Humai terlihat semakin lengket. Berbeda dengan Sefira dan Jeno. Keduanya mulai tak ada kecanggungan lagi di antara keduanya.
Meski memang mereka belum melaksanakan malam pertama tapi Jenk ingin istrinya melakukan dengan sukarela. Dia tak mau memaksa. Toh menikah isinya bukan hanya bagian kehangatan saja.
Jeno ingin istrinya itu nyaman dengannya. Jeno ingin mereka melakukan suka sama suka. Tak ada perasaan yang terpaksa, tertekan ataupun karena hanya sebuah tanggung jawab.
Jeno tak mau itu terjadi. Dia ingin malam pertama terjadi karena keinginan keduanya. Keinginan hati mereka yang ingin melebur menjadi satu.
Sampai akhirnya hari ini, jadwal keempatnya berbelanja. Ya, mereka akan membeli beberapa makanan yang ingin mereka bawa ke Korea dan beberapa pakaian juga.
Sesuai prediksi, di Korea saat ini tengah musim salju. Ah musim yang sangat dinanti oleh Humai. Perempuan itu ingin melihat salju secara langsung dan membuat Syakir tentu ingin mengabulkannya dengan cepat.
Dengan melangkah bersama. Kedua pasangan suami istri itu segera berjalan memasuki sebuah mall besar di Malang. Jangan lupakan, keberadaan Jay yang ikut di tengah-tengah pasangan itu membuat suasana lebih ramai lagi.
"Kita mau beli apa, Bu? " Tanya Jay yang ada di samping Syakir.
Bocah itu memang meminta jalan sendiri. Dengan penuh kasih sayang, Syakir menggandeng tangannya dengan pelan.
"Beli baju tebal buat, Jay. Sama beli makanan, " Kata Humai dengan pelan
Mereka segera berjalan masuk ke salah satu store yang menjual jaket tebal keperluan untuk mereka selama ada di Korea.
Syakir, Jay dan Jeno memilih mengebor istri mereka. Kedua bucin posesif itu sedikitpun tak pernah mau lepas dari posisinya kecuali keduanya harus kerja.
"Kak ini? " Tanya Humai menunjukkan sebuah jaket kecil untuk Jay.
__ADS_1
Jaket tebal dengan bulu-bulu di bagian topinya terlihat sangat lucu dan estetik. Humai lemas mendekatkan dengan tubuh anaknya.
"Jay suka gak? " Tanya Humai yang begitu mengutamakan kenyamanan putranya.
Selama ini Humai tak pernah egois. Dia selalu mengutamakan kenyamanan Jay. Apa yang ingin anak itu pakai, maka dia akan membelinya. Dan apa yang ingin Humai beli, dia akan menanyakan pada anaknya itu apakah Jay mau atau tidak.
"Suka, Bu, " Balas Jay sambil mengangguk.
"Kalau kamu, Kak? "
"Bagus. Jay juga suka. Jadi itu aja, " Kata Syakir yang selalu mendukung.
Jika keluarga Syakir dan Humai saling meminta pendapat. Berbeda dengan Sefira dan Jeno. Pasangan satu ini memang paling fenomenal.
"Ini aja, Kak. Ini bagus! " Kata Sefira memegang sebuah jaket berbulu di tangannya dan berwarna putih.
"Bagus ini, Sayang, " Balas Jeno memegang jaket tebal dengan berwarna hitam.
"Tapi ini… " Seru Sefira dengan cemberut.
Dia ingin punya jaket putih karena menurutnya bagus jika dipakai. Apalagi mengingat idolanya ayang Korea yang berfoto dengan jaket tebal berbulu putih terlihat sangat keren, dia juga ingin memakainya.
"Nggak ini! " Kata Jeno yang tetap kekeh.
Ah maklumlah. Usianya keduanya kan hampir sama. Maka dari itu perbedaan seperti ini pasti akan terjadi.
"Daripada pusing. Lebih baik kalian beli dua-duanya," Kata Syakir yang datang dan menjadi penengah.
Ucapan Syakir membuat pertengkaran keduanya berhasil menoleh. Tapi mereka spontan menoleh ke arah Syakir dengan tatapan tajam keduanya.
"Nggak? " Pekik keduanya bersamanya.
Syakir terkejut bukan main. Dia bahkan sampai mengusap dadanya karena pekikan adik ipar dan adik kandungnya begitu mengejutkannya.
"Mangkanya kalian berdua kenapa sih? " Gerutu Syakir tak habis pikir. "Kenapa berdebat hal gak penting? Kalau mau beli, ya beli aja. Kalau bingung, beli dua-duanya! "
Jeno dan Sefira spontan terdiam. Apa yang dikatakan oleh kakaknya itu benar. Keduanya lekas menoleh dan tak lama terkekeh bersama.
Ya beginilah tingkah absurd keduanya. Mereka akan memperdebatkan hal tak penting lalu berakhir dengan tawa receh mengakui tingkah mereka yang tak ada gunanya.
Akhirnya mereka lekas melanjutkan belanja. Setelah semua pakaian yang mereka cari dapat. Kelimanya mulai berjalan menuju market yang ada di lantai paling bawah.
__ADS_1
Dengan membawa stroller belanja. Syakir memasukkan putranya ke sana dan kelimanya mulai berjalan mencari bahan apa saja yang akan dibeli.
"Mie instan? " Kata Sefira membawa liat belanja kakak iparnya itu.
"Buat apa mie, Ra? " Tanya Sefira aneh.
Humai menggeleng. Sahabatnya ini benar-benar masih tanya gunanya mie instan.
"Ya dimakan, " Balas Humai dengan menepuk kepala sahabatnya itu pelan.
"Tapi kan disana? "
"Kalau gak ada gimana? Kita juga gak tau, mau makanan disana apa nggak kan? "
Humai adalah orang yang terperinci. Dia akan menulis apa saja kemungkinan yang terjadi. Dimakan atau tidak, menurutnya lebih baik membawa daripada harus ketinggalan dan menyesal.
"Baiklah, Nyonya besar. Anda memang nyonya terbaik, " Kata Sefira dengan bangga.
Dia senang memiliki Humai. Apalagi jika pergi dengan sahabatnya itu tak akan ada hal yang ketinggalan untuknya.
Setelah semua belanjaan selesai. Akhirnya Syakir mulai memasukkan barang belanjaan itu di kursi tengah dan bagasi.
"Jangan lupa kalian istirahat yang cukup. Besok jangan sampai telat ke Bandara, " Kata Almeera mengingatkan.
"Siap, Mai. Tapi besok pagi telpon aku yah. Aku takut bangun kesiangan, " Ujar Sefira yang membuat Syakir dan Humai terkekeh.
"Kalian terlalu bekerja keras di malam hari sampai kesiangan, " Cibir Syakir menggoda. "Nanti malam stop dulu. Daripada kalian kami tinggal! "
Pasangan pengantin itu saling tatap. Baik Jeno maupun Sefira tahu maksud Syakir. Tapi keduanya sering bangun siang bukan karena mereka habis melebur dalam kenikmatan.
Tetapi pekerjaan Jeno yang harus diselesaikan sebelum dirinya ke Korea dan juga dia mengambil cuti panjang. Membuat semua pekerjaan itu harus selesai dan disetorkan.
"Ingat. Jangan ninu ninu dulu dan tahan sampai besok ke Korea! " Kata Syakir mengingatkan.
Humai hanya menggelengkan kepalanya. Memang suaminya ini banyak ucapan aneh dan begitu receh.
"Udah jangan di dengar Kak Syakir. Kalian pulang aja oke. Jangan kemana-mana, langsung pulang. Dan hati hati yah. Sampai jumpa besok! "
~Bersambung
Bang Jeno mau nyoba bikin debay di Korea aja haha.
__ADS_1