Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Pamit Untuk Pergi


__ADS_3

...Ternyata akhir dari kisahku sungguh menyakitkan. Semua perjuanganku ternyata gagal dan tak membuat dia bisa menyadari ketulusan hatiku....


...~Humaira Khema Shireen...


...🌴🌴🌴...


"Kakak serius?" tanya Rein dengan pandangan yang masih setengah percaya.


Humaira yang memang sudah tak tahan, menganggukan kepalanya. Kesabarannya juga telah habis. Cinta yang selama ini dia perjuangkan ternyata tak cukup membuat Syakir bisa menatap perjuangannya.


Pria itu ternyata terlalu sulit untuk digapai. Pria itu benar-benar sudah tak bisa diharapkan oleh dirinya lagi. Syakir sudah menutup akses keduanya untuk saling menerima satu dengan yang lainnya. Maka dari itu, jika dia tak menyerah maka harga dirinya yang akan terus diinjak-injak.


Untuk apa aku bertahan hanya untuk cinta yang kumiliki seorang. Lebih baik aku menyimpannya seorang diri tanpa menginginkan balasan, gumam Humaira dalam hati dengan keputusan yang sudah bulat.


"Serius. Kakak akan mengikuti kemauanmu, Rein. Kakak juga sudah tak bisa bertahan disini," kata Humaira dengan pelan. "Semakin Kakak memaksa, anak yang Kakak kandung semakin ikut tersakiti." 


Akhirnya Rein bisa melihat semangat kakaknya lagi. Semangat dimana kakaknya yang pantang menyerah. Dia memberikan senyuman manis dan menguatkan kakak kandungnya jika pasti mereka bisa melewati semua ini. 


"Lalu bagaimana dengan pernikahan, Kak Humai?"


Ibu hamil itu menarik nafasnya begitu dalam. Semua yang sudah dia siapkan akhirnya kini harus dilaksanakan. Apa yang telah menjerat Syakir. Hubungan yang pria itu jalani dengan terpaksa. Akan segera Humaira akhirnya. Gadis itu akan mengabulkan permintaan Syakir. 


Wanita itu dengan ikhlas, merelakan hubungannya hanya untuk kebahagiaan Syakir. Humaira ikhlas menyakiti dirinya sendiri demi melihat senyuman di bibir suaminya. Jika dengan berpisahnya mereka berdua, mampu mengembalikan kebahagiaan suaminya itu. Maka dia yang akan mengalah. 


"Kakak akan mengurus surat perceraian Kakak dengan Kak Syakir. Kakak akan membebaskan dia dari ikatan yang membelenggunya itu." 


Rein menatap kakaknya dengan rasa bersalah yang tinggi. Ternyata selama ini dia membiarkan kakak kandungnya melewati semuanya sendirian. Keadaan dimana seharusnya dia menemani sang kakak. Ternyata harus menjadi salah satu beban pikirannya. 


"Kakak sanggup?" tanya Rein dengan serius.


Sanggup tak sanggup. Mau tak mau, Humai berusaha kuat. Dia tak boleh egois. Dia tak boleh terus memaksa Syakir ada di sampingnya. Dia menganggukkan kepalanya meski cinta yang ia miliki untuk Syakir sangat besar. 

__ADS_1


"Sanggup. Kakak akan memberikan apa yang dia mau, Rein. Selama ini dia ingin lepas dari pernikahan ini. Maka Kakak akan memberikan kebebasan itu!" 


"Dan Mama akan membantumu, Nak!" celetuk suara perempuan yang mengejutkan kakak beradik itu.


Humaira dan Rein menatap ke arah pintu ruangan Humai. Disana berdiri seorang ibu yang hatinya sudah dihancurkan oleh putra pertamanya sendiri. Seorang ibu yang harapan dan keinginannya ternyata dipatahkan oleh anaknya sendiri. 


"Mama akan membantumu, Nak. Kamu ada di posisi ini karena perbuatan anak Mama. Jadi, terima bantuan Mama ini sebagai permintaan rasa bersalah Mama sama kamu," ucap Mama Ayna dengan air mata yang menetes.


Entah Mama Ayna merasa anaknya sudah menyia-nyiakan seorang wanita hebat dan kuat seperti Humai. Wanita yang tulus melewati semuanya demi anak yang dikandung. Wanita yang rela dihina habis-habisan hanya demi anaknya.


"Mama akan membantumu pergi dari sini. Mama akan membantumu keluar dari keadaan ini," ujar Mama Ayna sambil berjalan mendekati menantunya. 


Humaira menangis tanpa bisa dicegah. Dia langsung memeluk seorang ibu yang sudah dianggap seperti mamanya sendiri. Seorang ibu dari suaminya yang sangat menyayanginya.


"Maafkan Humai, Ma. Humai gak bisa bertahan terlalu lama. Humai gak bisa bantu Mama buat rubah Kak Syakir," bisik Humaira dengan menangis dalam pelukan ibu mertuanya.


Mama Ayna mengangguk. Dia mengusap punggung menantunya dengan sayang. Ia menerima semua keputusan Humai. Dirinya tak mau menjerat Humaira untuk terus bertahan. 


"Mama sudah memaafkanmu. Mama juga minta kamu jangan nangis lagi setelah ini yah," pinta Mama Ayna dengan melepaskan pelukannya. "Apapun hubungan kamu dan Syakir tapi yang pasti. Kamu tetap putri Mama dan anak yang kamu kandung adalah cucu kandung Mama." 


Humaira mengangguk. Meski dia menolak pun. Humaira tak bisa memutus ikatan darah Mama Ayna dengan cucunya. Mau di DNA sebanyak apapun. Anak yang ada dalam kandungannya adalah keturunan pertama Keluarga Alhusyn.


Cucu pertama yang dimiliki oleh sepasang suami istri dan keponakan pertama dari Sefira. 


"Terima kasih, Ma. Terima kasih banyak," kata Humaira dengan tulus.


"Sekarang kamu serahkan data-data kamu yah. Malam ini juga Mama akan memberikan berkas kamu dan Syakir pada pengacara Papa." 


Hati Humaira sakit. Ternyata perceraian itu sudah di depan matanya. Dia yakin jika permintaannya tak akan lama karena pihak suaminya juga pasti cepat menyetujui perceraian itu. 


"Baik, Ma." 

__ADS_1


"Kak," panggil Rein yang membuat Humai menoleh. "Kita mau pergi kemana?" 


Humaira tersenyum. Sebenarnya dia sudah sejak lama menyiapkan ini semua. Menyiapkan waktu dimana dia harus meninggalkan kota ini. Memutuskan hubungan pernikahan mereka dan mencari kebahagiaannya sendiri.


"Di suatu tempat. Kakak akan menghubungi seseorang sebelum kita berangkat," ucap Humai lalu menatap ke arah jendela yang ada di sampingnya. 


Disana dia mampu melihat langit Malang yang begitu indah. Bibirnya tersenyum tapi berbanding terbalik dengan hatinya. Dia sakit. Hatinya hancur dan perasaannya dijatuhkan. Untuk pertama kalinya dia jatuh cinta pada seseorang tapi langsung dipatahkan. 


"Mama yakin kamu bakalan bahagia setelah ini, Nak," ujar Mama Ayna dengan hati yang ikhlas. "Mama dan Papa akan membantumu untuk meraihnya. Jadi jangan pernah memutus hubungan kita meski kamu bukan menantu Mama lagi. Janji?" 


"Janji, Ma. Mama, Papa dan Sefira adalah keluarga baru buat Humai dan Rein." 


...🌴🌴🌴...


Suasana ruangan Humaira terasa sepi. Sang adik, Rein sedang diajak oleh Mama Ayna dan Papa Haidar untuk cek up. Sedangkan Sefira, gadis itu pamit untuk pulang sebentar.


Akhirnya disinilah Humai berada. Sepi sunyi dan membuatnya bisa melanjutkan rencananya tadi. Dia segera meraih ponsel miliknya lalu mencari nomor seseorang. Setelah menemukan nomor kontak yang dituju. Humaira lekas melakukan panggilan.


"Semoga diangkat," gumamnya dalam hati dengan untaian doa.


Sampai deringan ketiga akhirnya sebuah suara lembut yang sangat dia rindukan terdengar di seberang sana. Matanya berkaca-kaca saat suara itu dapat didengar lagi.


Suara yang sangat membuatnya tenang. Suara yang selalu memberikan nasehat dan semangat kepadanya. Seorang yang ia kenal sebentar tapi mampu memberikan pengaruh besar kepadanya.


Seorang manusia yang sudah dianggap seperti kakaknya sendiri. Seorang yang menjadi keluarga keduanya setelah keluarga Syakir.


"Assalamualaykum, Kak Meera. Ini Humaira." 


~Bersambung


Woo part yang banyak kalian tunggu haha. Mbak Meera datang deh. Yuhuu.

__ADS_1


Mulai besok 3 bab perhari yah. Awas aja komen sama likenya dikit. Entar aku ngambek hahaa. Bercanda gengs!


__ADS_2