
...Sakit itu menyiksa kita tapi ketika cinta yang menguasai maka dia akan menikmati sakit itu secara perlahan....
...~Humaira Khema Shireen...
...🌴🌴🌴...
Suasana apartemen yang luas itu begitu berisik. Musik DJ yang dibunyikan begitu memekakkan telinga. Seakan suasana diskotik di pindah di ruangan tersebut.
Sepasang kekasih itu terlihat begitu menikmati kegiatan mereka. Sang pria yang sedang menikmati minumannya dengan sang wanita yang bergoyang kesana kemari.Â
Kegiatan seperti ini sudah sering dilakukan oleh Rachel dan Syakir. Dua manusia itu sering menghabiskan waktu minum bersama ketika keduanya mengalami stress.
"Kemarilah, Sayang. Ayo kita bergoyang bersama!" ajak Rachel dengan bibir meracau karena terlalu banyak minum.Â
Syakir menggeleng. Dia meraih segelas minuman lagi lalu meminumnya dengan sekali tegukan. Badannya ikut bergerak walau dirinya hanya duduk di sofa.
"Ayo!" ajak Rachel yang memaksa.
Dia meraih tangan Syakir hingga keduanya akhirnya berhadapan. Dengan memaksa, Rachel meletakkan kedua tangan Syakir di pinggangnya lalu dia melingkarkan tangannya di leher pria itu.
Tubuh mereka merapat. Badan Rachel yang bergoyang tentu membuat Syakir juga menggerakkan tubuhnya. Pikiran keduanya sudah dikuasai oleh alkohol.
Mereka seakan pasangan prik dan gila yang tak tahu jika apa yang mereka lakukan adalah salah.Â
"Sayang," kata Rachel menatap sayu Syakir.
Tak terduga, wanita ular itu menarik leher Syakir hingga menunduk. Keduanya lalu berciuman dengan mesra. Bahkan Rachel sampai merapatkan tubuhnya agar bisa menguasai tubuh Syakir.Â
Suasana yang panas, pikiran yang panas dengan dipadu padankan alkohol membuat pikiran mereka liar. Tubuh keduanya mulai saling merangsang. Tangan Rachel bergerak mencari celah dengan bibir yang tak mau terlepas.
Hingga sekali gerakan, akhirnya tubuh Rachel digendong oleh Syakir. Dia membawa kekasihnya berjalan menuju kamar dengan pikiran yang sudah dikuasai oleh hawa nafsu.Â
"Aghhh!" pekik Syakir khas mendayu saat bibir Rachel menyentuh lehernya.Â
Dengan sengaja gadis itu mencari titik lemah Syakir agar pria itu tergoda.
"Aww!" pekik Rachel saat tubuhnya dilempar di ranjang apartemennya.Â
Mata mereka mulai berkilat nafsu. Syakir lekas berjalan mendekati Rachel yang mengulurkan tangan kepadanya.Â
"Kemarilah, Sayang. Kita habiskan malam ini dengan panas," ajaknya dengan gaya menggoda.
Syakir yang sudah lupa daratan menerima ajakan itu. Dia mulai menaiki ranjang dan naik ke atas tubuh Rachel. Wajah keduanya mulai mendekat hingga akhirnya bibir mereka bersentuhan dengan begitu liarnya.
Pasangan kekasih ini begitu panas dengan tangan keduanya yang mulai menyentuh dan memberikan sensasi yang semakin menantang. Hingga tiba-tiba, suatu hal tak terduga terjadi.Â
"Huekk!" Syakir memundurkan wajahnya.
__ADS_1
Dia merasa sesuatu ingin keluar dari mulutnya. Hingga dengan sempoyongan pria itu menarik tubuhnya dan segera berlari ke kamar mandi.
"Sial!" umpat Rachel mengepalkan kedua tangannya.Â
Dia mulai beranjak duduk menatap ke arah kamar mandi dimana Syakir meninggalkannya disaat gairahnya mulai tinggi. Lagi-lagi ada sesuatu yang menggagalkan keinginannya dan membuat rencananya batal.Â
Hingga perhatian Rachel teralih pada panggilan dari dalam kamar mandi. Dengan malas wanita itu beranjak berdiri dan menyusul Syakir yang masih terdengar muntah-muntah.
"Ada apa?" tanya Rachel dengan wajah malas.
"Bisa bawa aku ke kamar? Kepalaku pusing, Sayang," kata Syakir setelah membersihkan bekas muntahnya.
Pria itu memijat dahinya. Kepalanya terasa berputar dan Syakir yakin pasti karena dia terlalu banyak minum.
"Ayo!" ajak Rachel lalu meletakkan tangan kekasihnya di pundak.
Sebenarnya dia ingin marah. Ingin berteriak dan meninggalkan Syakir. Namun, lagi-lagi isi dompet berteriak untuk tak melakukan hal yang membuat Syakir curiga.
Rachel dengan pelan meletakkan Syakir ke atas ranjang dan membantu mengangkat kedua kakinya.Â
"Ayo buka bajumu, Sayang. Ini terkena muntahan," kata Rachel yang merasa pakaian Syakir basah.
Akhirnya suami Humai itu tak memakai atasan. Dia bahkan segera membaringkan tubuhnya lalu mulai memejamkan mata. Syakir merasa kepalanya terasa sakit dan dia ingin tidur untuk menghilangkan rasa sakit tersebut.
"Rasanya aku seperti pelayan," umpat Rachel saat dia keluar dari kamar.Â
"Ternyata aku tak salah mencintainya," kata Rachel selesai membaca rencana yang telah dikirimkan oleh kekasihnya.
Dengan cepat dia kembali ke kamarnya. Menatap Syakir yang sudah terlelap dengan tenang. Senyum miring mulai menghiasi wajah Rachel. Gadis itu lalu menatap ponsel yang ada di tangannya.Â
"Mari kita lihat. Bagaimana reaksi gadis cupu itu jika tahu bahwa suaminya berada dalam pelukanku," ujarnya dengan senyuman miring.
...🌴🌴🌴...
Di rumah Humai, seorang perempuan tengah berdiri di depan cermin. Dia menatap perutnya yang semakin membesar. Matanya berkaca-kaca saat ia menyadari telah melewati semuanya dalam waktu yang lumayan lama.
Tangannya terangkat, mengusap perut yang menonjol itu dengan kasih sayang. Air matanya menetes saat merasakan tendangan luar biasa dari putranya.Â
"Kamu pasti kangen Ayah, 'yah? Kamu pasti pengen dielus sama Ayah, 'kan?" kata Humai dengan pelan.Â
Dia menghapus air matanya. Dirinya merasa sedih pada nasib anaknya. Kenapa nasib dirinya dan sang putra berbeda.Â
Meski nasib Humaira tak baik, tapi dia memiliki ayah yang sangat menyayanginya. Sebelum ayahnya meninggal, ayah selalu menjadi garda terdepan untuk Humai.Â
"Nanti Mama bakalan cari cara biar ayah elus kamu yah. Sebelum kita pergi," kata Humai dengan yakin.
Dia menatap ke samping. Menarik dasternya ke belakang dan membuat bentuk perutnya semakin terlihat. Dia melihat pantulan dirinya di cermin dengan senyuman yang lebar.Â
__ADS_1
Kesedihan tak mampu ditutupi dari matanya. Namun, dia bahagia telah melewati semuanya sejauh ini. Dia bahagia karena putranya mampu bekerja sama dengan dirinya.
"Semangat, Sayang. Setelah ini kita bakalan cari cara bahagia dengan Om Rein," ucap Humai
Kling.
Tak lama, suara notifikasi pesan di ponselnya membuat Humaira menatap ke arah ranjang. Disana ada ponselnya yang ia letakkan sejak tadi tanpa tersentuh.
Berpikir jika itu adalah Mama Ayna yang memberikan kabar terbaru tentang sang adik. Membuat Humai lekas berjalan mengambilnya. Ibu hamil itu segera meraih benda pipih itu dan menggeser layarnya.Â
"Nomor baru?" gumamnya lalu segera menekan chat tersebut.
Mata Humai terbelalak. Jantungnya berdegup kencang saat melihat sebuah kiriman tak senonoh dari nomor tersebut. Dia semakin mengklik foto itu untuk melihat apakah pria yang dia lihat benar jika itu adalah suaminya.Â
Kepala Humai menggeleng. Dia menutup mulutnya tak percaya. Gadis itu berusaha untuk tetap percaya pada Syakir. Walau foto itu menampakkan hal berbeda dari pikirannya.Â
"Nggak. Aku yakin Kak Syakir bukan pria seperti itu. Aku yakin dia bukan pria yang mau tidur dengan sembarang wanita," katanya dengan air mata menetes.Â
~Bersambung
Siap dengan bab selanjutnya? yaya otw Rein pulang wushh yuhuu.
Yang pitnah bakalan ada adegan Syakir Rachel, hiks. Noh gak ada loh geng. Bang Syakir juga kan dan gak bisa berdiri hahaha.
Oh iya mampir jangan lupa mampir di karya temanku.
"Hei, OB kau becus gak sih kerja, gara-gara lo, gue jatuh tahu gak!" hardik Sharon.
"Anda yang jatuh bukan salah saya, sepertinya anda tidak melihat peringatan itu, bahwa lantai ini sedang di bersihkan," bantah Meisie. Karena tak terima di salahkan Sharon pun melepas paksa masker yang Meisie gunakan untuk menutup codetnya. Sharon begitu terkejut ketika melihat wajah Meisie yang mengerikan, begitu pun dengan karyawan yang lain, mereka semua saling berbisik.
"Jadi, masker ini untuk menutupi wajah burukmu, dasar gadis buruk rupa." Ucap Sharon, yang tersenyum sinis. Meisie hanya diam, tapi Sharon terus menghinanya tanpa henti.
"Hey, lihatlah wajahnya begitu menyeramkan, untuk apa kau tutupi pakai masker ini, tetap saja wajahmu terlihat," ejek Sharon, seraya menginjak masker Meisie dengan kakinya.
"Ada apa ini?" ucapan seseorang mengejutkannya, dan mampu membuat diam semua orang yang saling berbisik. Siapa lagi kalau bukan Elo, pria dingin dan cuek yang di takuti semua orang.
Elo, melirik ke arah Meisie yang terus menunduk, namun Sharon dengan sengaja mencengkram dagunya, dan menariknya ke atas membuat Meisie mendongak, dan Elo, harus melihat codet di wajahnya.
"Elo, lihatlah wajahnya apa kau tidak malu memperkerjakan gadis cacat seperti dia," cibir Sharon, berharap Meisie dapat hinaan dari Elo.
"Siapapun boleh bekerja disini, fisik bagi saya tidak penting, yang penting adalah orang itu punya kemampuan dan bekerja dengan baik. Seharusnya kamu yang malu, kau orang terpelajar tapi tingkah mu seperti tidak berpendidikan," Telgas Elo, namun menusuk di hati Sharon. Sharon pun langsung melepaskan cengkraman tangannya, wajahnya begitu merah karena menahan malu, akhirnya Sharon pun pergi.
"Bubar kalian semua, kembali bekerja." Tegas Elo pada semua karyawannya. Elo kembali menatap Meisie, Elo terus menatap luka codetnya, entah kenapa Elo, teringat seseorang di masa kecilnya. Meisie hanya menunduk hormat pada Elo. Elo pun akhirnya melangkah pergi.
****
__ADS_1
Meisie Callia, seorang gadis buruk rupa karena codet di wajahnya. Yang selalu di hina dan d ejek. Namun kehidupannya berubah setelah menemukan sebuah brush ajaib.