
...Namanya rasa benci tak akan berubah cinta secepat air mengalir. Ketika rasa itu masih menggerogoti maka kebaikan tulus yang dia lakukan tak akan dianggap baik oleh para pembenci....
...~JBlack...
...🌴🌴🌴...
Tiga wanita berbeda usia itu dengan asyik menikmati sosis jumbo dengan duduk di emperan. Ketiganya bahkan tak memikirkan jika pakaian yang digunakan kotor. Benar-benar kehidupan sederhana yang mereka cari tapi membahagiakan.
Bahagia tak harus mahal.
Bahagia tak harus datang dengan menghabiskan uang banyak.
Bahagia itu dari hati kita yang tanpa beban. Bisa melakukan apapun tanpa rasa tertekan, takut dan bingung.Â
"Makan hati-hati, Sayang. Mama gak bakal minta," kata Almeera sambil menghapus noda saus di sudut bibir anaknya.Â
Dua tangan Bia memang memegang dua sosis jumbo dengan begitu bersemangat. Mulutnya mengunyah tanpa lelah. Bocah itu benar-benar menikmati makanan yang sederhana dengan harga murah meriah.
"Iya, Mama," sahutnya dengan mulut penuh.
Humaira yang melihat interaksi ibu dan anak itu ikut tersenyum. Bahkan tanpa sadar dia mengusap-usap perutnya membayangkan jika nanti dia dan anaknya pasti akan seperti itu juga.
Saling mengasihi, menyayangi dan memberikan cinta yang sangat amat luar biasa dalam mendidik dan merawatnya. Meski kehidupannya tak sesuai ekspektasi. Meski pria yang menjadi suaminya tak seperti suami pada umumnya.
Namun. Hadiah dari Tuhan yang sangat amat spesial ini menjadi hadiah dari segala kesakitannya. Walau memang lahirnya tanpa diminta. Keberadaannya karena kecelakaan. Namun, sedikitpun Humai tak menaruh dendam.
Yang salah bukanlah bayi ini!
Dia tak berdosa. Makhluk kecil yang tumbuh dalam rahimnya adalah hasil dari perbuatan dirinya dan Syakir.
Tanpa Humaira sadari. Almeera melihat apa yang dia lakukan. Ibu dua anak itu sangat mengetahui bagaimana perasaan ibu hamil yang masih muda ini. Jiwa mudanya harus ditekan kuat oleh sebuah kenyataan bahwa ia akan menjadi seorang ibu.Â
"Humai," panggil Almeera yang membuat Humaira tersadar dari lamunannya. "Kamu gak sendirian."Â
"Iya, Mbak. Aku gak sendirian," sahut Humai yang tahu maksud wanita hebat di depannya.
"Perlu kamu ingat! Simpan nomorku baik-baik. Kalau aku udah pulang, kabarin aku tentang keadaanmu dan bayi kamu. Aku bakalan bantu kamu sampai kamu bisa berdiri sendiri."
Mata Humaira berkaca-kaca. Dia tak menyangka Tuhan lagi-lagi mempertemukannya dengan orang baik hati seperti Almeera.
"Iya, Mbak. Pasti."
...🌴🌴🌴...
Akhirnya setelah acara CFD selesai. Bukannya pulang, mereka melanjutkan perjalanannya menuju rumah kenalan dari Syakir. Pria itu memang menyiapkan satu kejutan untuk anak sahabatnya.Â
Entah kenapa semalam ketika melihat Bia sangat menyukai buah strawberry, Syakir bisa memiliki pemikiran ini. Dia mempunyai satu kenalan yang memiliki kebun strawberry dan lumayan banyak. Jadi mungkin mengajak Bia kesana dan memetiknya sendiri membuat anak itu bahagia.Â
"Kita mau kemana, Om?" tanya Bia dengan melongokkan kepalanya ke depan.
"Ke suatu tempat."
"Tempat apa?" tanya Bia penasaran.
__ADS_1
"Tempat main."Â
"Main?" ulang Bia dengan kening berkerut. "Bagus gak?"Â
"Bagus," sahut Syakir dengan antusias.
"Emangnya kemana sih, Kir?" tanya Bara yang sama tidak tahunya.Â
"Ntar lagi juga bakalan tau!"Â
Setelah hampir satu jam setengah mereka berkendara. Akhirnya mereka sampai di sebuah rumah dengan lahan samping rumahnya yang sangat amat luat. Dari dalam mobil saja, mereka bisa melihat jika yang tumbuh di sana adalah buah strawberry.Â
"Wahh! Itu beneran strawberry, Om?" tanya Bia dengan tak sabaran.
Anak itu segera keluar dari mobil. Berlari mendekati tanaman yang berbuah merah kecil begitu segar. Bia berjongkok, dia menatap ke kanan ke kiri untuk melihat keadaan.Â
Menatap buah strawberry yang segar membuatnya menelan ludah. Bia menjadi suka dengan buah ini yang rasanya masam karena menurutnya enak. Tanpa kata, anak dari pasangan Almeera dan Bara itu memetiknya dengan mata berbinar.Â
"Hayoo petik-petik!" seru Abraham datang mengejutkan.
Bia gelagapan. Anak itu menggelengkan kepalanya.
"Bia gak petik kok. Ini buahnya jatuh di tanah," ujarnya berkilah.
"Masak?" goda Abraham yang tahu bagaimana adiknya memetik buah itu sendiri.
"Iyah!" sahut Bia tak mau kalah.
"Kalau bohong temannya setan!"Â
Abraham akhirnya tertawa geli. Melihat bagaimana adiknya ketakutan tapi panik.
"Jangan bilang siapa-siapa," bisiknya dengan pelan. "Bia memang petik soalnya udah gak tahan."Â
"Tapi kan gak boleh," ujar Abra menasehati.
"Iya sih. Tapi…"Â
"Mending pamit sama orangnya biar berkah."Â
"Bia takut!" cicitnya menggeleng.
"Orangnya baik." Abraham menarik tangan Adiknya agar beranjak. "Nah! Itu orangnya."Â
"Gak mau!" tolak Bia menahan tarikan abangnya.
"Yaudah kalau gak mau. Abang petik yang banyak dan kamu gak bakal Abang kasih," ancam Abraham.
"Huh." Bia mendelik tak suka.Â
Namun akhirnya anak itu mengangguk. Dia berjalan di belakang tubuh abangnya karena takut pada pemilik strawberry itu. Menurutnya wajahnya yang dipenuhi jambang terlihat begitu menakutkan.Â
"Nah, Bia. Ini Om Ryan yang punya kebun," kata Syakir mengenalkan.
__ADS_1
"Halo, Om. Aku Bia," sapanya sambil melambaikan tangannya.
"Hai. Bia," balas Ryan ramah. "Kata Om Syakir, kamu suka strawberry yah?"Â
Kepala anak itu mengangguk.
"Mau petik buahnya gak?"Â
Kepala yang tadinya menunduk langsung mendongak. Badan yang mulanya ada di belakang Abraham langsung melangkah mendekat.
"Emang boleh?"Â
"Boleh banget!"
"Wah." Mata Bia berbinar. "Mau-mau, Om."Â
Akhirnya anak itu segera mengikuti teman Syakir untuk mengambil keranjang kecil tempat hasil strawberry setelah dipetik. Setelah dia mendapatkannya, dengan cepat Bia berlari ke arah Bara.
"Papa, Bia petik yah?" pamitnya yang langsung mendapatkan anggukan kepala.
Dia segera berjalan ke arah Humairah yang sejak tadi berdiri di samping mamanya.
"Tante mau temenin Bia petik gak?"
Humaira terkejut dengan ajakan anak di depannya ini. Mereka tak sedekat itu tapi lihat bagaimana bahagianya Bia membuat Humai tak kuasa menolak.
Dia seperti melihat sosok Rein dalam diri Bia. Dulu meski Hubungan mereka dijauhkan oleh Shariva. Namun, Rein tetap mencuri waktunya untuk bersama dengan Humai dan manja kepadanya.Â
"Mau."Â
"Ayok!"Â
"Tante Humai gak boleh capek-capek yah. Di Perutnya ada dedek bayi," kata Almeera menasehati.Â
Bia mengacungkan jempolnya.
"Adik bayinya kan adik Bia juga, Ma," katanya dengan mengelus perut Humai.
Mata Humaira berkaca-kaca. Lagi-lagi anaknya memiliki satu orang yang mengharapkan kelahirannya.Â
"Makasih udah anggap anak Tante, adik Bia juga."Â
"Sama-sama, Tante."Â
Akhirnya dua wanita berbeda usia itu segera menuju ke arah barisan tanaman strawberry. Tanpa mereka semua sadari, ada sepasang mata yang menatap interaksi tersebut. Tangannya terkepal kuat dengan terdapat kilat marah dimatanya.Â
Rasa benci yang semakin menguat hebat begitu kentara. Kehadirannya yang sejak lama tak pernah ia tak suka semakin menggerogoti hatinya.
"Wanita munafik dan pandai mencari muka. Dia benar-benar sok polos dan menjadi play victim seakan pihak paling tersakiti. Lihat saja kau, Wanita Mata Duitan! Akan ku buka kedokmu di hadapan semua orang!"Â
~Bersambung
Besok Bab Almeera otw balik. Setelah itu bakalan mendekati detik detik. Detik-detik Humai apa hayoo?
__ADS_1
Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat ngetiknya.