
...Percayalah semua masalah yang berhasil dilalui. Semua ujian yang bisa kita lewati dengan baik. Akan menghasilkan hikmah yang indah di antara mereka yang kuat. ...
...~JBlack...
...🌴🌴🌴...
Akhirnya tak ada lagi perpecahan dalam rumah. Tak ada lagi masalah atau keributan. Semua yang terjadi kini sudah saling memaafkan. Mereka saling berdamai dengan tenang dan hidup berdampingan.
Dengan langkah ringan, dua wanita dan satu pria berjalan dengan saling memeluk. Wajah ketiganya begitu cerah dan berbinar. Bibir mereka saling melebarkan senyumannya seakan tak ada lagi beban di antara mereka.
Semua rasa kecewa, khawatir, sedih dan takut kini sudah teratasi. Sebuah untaian kata maaf telah saling keluar dan membuat mereka kini berdamai dengan keadaan.
Saat mereka baru saja masuk melalui pintu hubung antara taman samping rumah dengan rumah Papa Hermansyah. Di depan sana, terlihat sosok kepala rumah tangga yang menatap anggota keluarganya dengan air mata penuh harus.
Sosok pria paruh baya yang dulu menjadi penengah di antara istri dan putranya. Menjadi sosok yang harus berada adil di antara keduanya.
Dia menyayangi istrinya tapi dia juga menyayangi putra pertamanya itu. Bagaimanapun sifat putranya, dia mencintai keluarganya lebih dari apapun. Dirinya memang menyalahkan perilaku putranya tapi dia tak akan meninggalkan Syakir sendirian.
"Akhirnya… " Kata Papa Haidar dengan merentangkan kedua tangannya.
Sejak dulu dia menunggu momen ini. Momen dimana keluarganya kembali utuh lagi. Momen dimana putranya kembali tinggal bersamanya.
Bagaimanapun Papa Haidar merindukan kebersamaan istri dan anak-anaknya. Dia ingin membuat mereka kembali bersama dan saling akur. Namun, keadaan dulu tak memungkinkan membuatnya mendamaikan keduanya.
Mama Ayna, Syakir dan Sefira lekas berlari ke arah Papa Haidar. Mereka memeluk sosok paruh baya yang menjadi pemimpin mereka. Sosok pria yang sangat mereka hormati, sayangi dan begitu adil pada mereka.
"Akhirnya kita berkumpul lagi, Pa," Lirih Mama Ayna sambil menangis dalam pelukan suaminya.
Sefira dan Syakir juga tak kalah bahagianya. Mereka memeluk kedua orang tuanya dengan perasaan yang tak bisa dijabarkan. Antara rasa senang, sedih, bahagia bercampur menjadi satu.
"Terima kasih. Terima kasih karena Mama dan Syakir mau berdamai. Papa bahagia."
Semuanya tak bisa mengatakan apapun lagi. Bahkan air mata saja yang sanggup mengatakan keadaan mereka sekarang.
Menurut Syakir, tak ada lagi kebahagiaan yang ingin ia raih. Cukup melihat keluarganya kembali memeluknya, anak yang dulu pernah ia sia-siakan. Lalu istri yang ia campakkan kini sedang ia perjuangkan kini semuanya terasa lengkap.
__ADS_1
Kebahagiaan ini nyata ia rasakan. Bukan mimpi ataupun halusinasi lagi. Semuanya benar-benar sudah ada dalam pelukannya.
Tak jauh dari sana, sepasang keluarga bahagia juga sedang menatap mereka. Orang tua Humaira dan Humaira berdiri disana. Mereka ikut tersenyum saat keluarga Syakir kini sudah kembali berkumpul.
Jujur hati Humai merasa lega. Dia bahagia akhirnya mantan suaminya itu tak sendirian lagi. Bahkan dalam hati, Humai berharap semoga suaminya itu bisa menjadi sosok lebih baik lagi setelah berkumpul dengan keluarganya.
Bukan ia tak bersyukur. Syakir butuh sosok keluarga untuk menuntunnya. Dia butuh pendamping seperti Mama dan papanya untuk terus melangkah.
Tanpa sengaja mata Sefira yang terbuka bertatapan dengan Humai. Kedua sahabat itu saling menampilkan senyuman terbaik.
"Terima kasih," Kata Sefira tanpa suara sambil mengacungkan jempolnya pada Humai.
Humaira menganggukkan kepalanya. Dia memberikan ciuman jauh pada sahabatnya itu dan memberikan kode memeluk tubuhnya sendiri agar sahabatnya menikmati pelukan dengan keluarganya.
"Bahagia terus yah!" Balas Humai dengan tersenyum cerah.
...🌴🌴🌴...
Waktu terus bergerak naik. Namun, tak ada satupun yang berniat pulang bahkan meninggalkan rumah ini. Mereka semua bahkan semakin terlihat seperti keluarga besar.
Canda tawa, suara riuh dan juga celotehan si kecil menghiasi malam mereka. Bahkan dengan begitu spesialnya, orang tua Humai melakukan perayaan.
Beberapa piring buah dan daging yang selesai dibakar siap diletakkan di atas meja. Bahkan para kaum laki-laki saling bekerja sama untuk membakar ikan. Sedangkan kaum wanita menyiapkan buah, dan pelengkap daging bakar.
"Rumah Jay rame ya, Bu. Akhirnya Jay bisa punya keluarga lengkap," Celetuknya yang membuat hati Humai tersentil.
Dia meletakkan pisau yang saat ini ia pegang untuk mengupas buah. Gadis itu memiringkan tubuhnya dan menatap putranya itu.
"Apa selama ini Jay merasa kesepian, hmm?" Tanya Humai dengan lembut.
Dia memegang kedua tangan putranya dengan lembut. Meletakkan di kedua sisi wajahnya hingga sensasi dingin saling bersentuhan.
"Bukan begitu, Bu…" Jeda Jay seakan bingung.
Humai tersenyum. Dia mengusap pipi putranya yang sepertinya sedang mencari penjelasan.
__ADS_1
"Jujur sama Ibu. Apa Jay merasa kesepian?"
Jay menunduk. Namun, kepalanya perlahan mengangguk. Hal itu tentu semakin membuat Humai merasa bersalah.
Dia seperti ibu yang gagal. Ibu yang tak bertanggung jawab dan tak perhatian pada putranya.
Melihat ibunya diam, Jay merasa sedih. Dia lekas mendongakkan kepalanya lalu menatap ibunya dengan takut.
"Maafkan Jay, Bu."
"Jay gak salah," Balas Humai dengan cepat. "Harusnya Ibu yang minta maaf sama, Jay."
"Maafin Ibu yang egois. Ibu yang sibuk kuliah tanpa mikir perasaan Jay. Ibu yang gak perhatian dan gak tau sama keinginan Jay. Ibu… "
"Ibu baik sama Jay. Ibu selalu ada buat Jay," Ujar anak itu dengan pandai. "Kata kakek, Ibu sekolah biar bisa ajarin Jay nanti. Ibu sekolah biar pandai dan buat bangga Jay."
Humaira menarik nafasnya begitu dalam. Dia berusaha mengatur emosinya yang tak stabil. Setiap membahas tentang Jay. Dia selalu tersentuh dan merasa sakit.
Sakit karena kelahiran putranya berbeda dari yang lain. Momen yang seharusnya menjadi hal membahagiakan seorang suami istri. Ternyata menjadi hal paling sulit yang ia rasakan.
Kesendirian, menguatkan diri untuk bertarung nyawa demi kelahiran putranya.
"Maafin Jay, Bu. Jay bikin Ibu nangis lagi," Kata anak itu dengan air mata yang mulai menetes.
"Jangan menangis, Sayang," Kata Humai yang lekas menarik putranya dalam pelukan. "Ibu gak sedih kok. Ibu gak nangis karena, Jay."
"Ibu hanya ingat kenapa gak dari dulu aja kamu ketemu sama ayah kamu, Nak. Kalau Ibu tahu kamu bakalan bahagia kayak gini. Ibu akan lakuin apapun."
Jay sesenggukan. Namun, dia mencoba menghapus air mata ibunya. Dia mencium pipi Humai dengan penuh sayang lalu memeluknya lagi.
"Aku sayang, Ibu. Aku bahagia punya, Ibu. Ibu adalah pahlawan Jay. Opa sama Oma juga selalu bilang seperti itu sama Jay. Jadi Ibu jangan tinggalin Jay, yah!"
"Tentu, Nak. Ibu gak bakal ninggalin Jay. Ibu bakalan ngutamain apapun demi Jay sekarang. Apa yang Jay minta. Ibu berusaha mewujudkannya."
~Bersambung
__ADS_1
Kesel aja bikin bab begini. Nangis sendiri huhu. Ajak pembaca nangis juga enak.
BTW aku masih punya hutang satu bab yah. Semoga besok bisa ngelunasin.