Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Sefira VS Jeno


__ADS_3

...Kau tau takdir terkadang tak ada yang tahu kapan kita bertemu dan  berpisah. Hanya saja dua kata itu adalah kata yang saling bersinggungan. Kita harus setiap dengan sebuah pertemuan dan akhir perpisahan. ...


...~JBlack...


...🌴🌴 🌴...


Hari bebas telah tiada. Humaira dan Syakir harus kembali ke kegiatan sehari-harinya. Kakak Sefira itu berpamitan untuk pulang dan bekerja karena dia menang dapat shift siang. Sedangkan Humaira, dia harus berangkat ke kampus karena Jeno telah menghubunginya soal kelanjutan desainnya nanti. 


Tak ada yang mencegah. Tak ada yang bertanya. Mama Ayna, Papa Haidar dan Sefira membiarkan putra mereka bekerja. Mereka tak mau membuat Syakir membolos dan dipecat karena terlalu banyak izin. 


Sebenarnya kedua kesayangan Syakir itu tak tahu, apa pekerjaan Syakir sebenarnya. Kecuali Papa Haidar. Pria paruh baya itu tahu langsung pekerjaan putranya yang bekerja di sebuah restoran. 


Dulu ketika Papa Haidar hendak bercerita soal pekerjaan Syakir. Mama Ayna yang masih marah tak mau mendengarkan. Wanita paruh baya itu malah memilih pergi dan membiarkan suaminya seorang diri. 


"Pa, Humai berangkat yah!" Pamit Humaira saat dia baru saja menuruni tangga. 


"Kamu berangkat sama siapa, Sayang?" Tanya Mama Ayna pada kesayangannya itu. 


"Minta anter supir, Ma," Jawab Humai dengan mencium punggung tangan orang tuanya dan orang tua Syakir. 


"Sama aku aja, Mai. Aku juga pengen jalan-jalan. Gapapa, 'kan?" Sela Sefira yang tiba-tiba menawarkan dirinya sendiri. 


Humai yang tak bisa menolak akhirnya mengangguk. Tok tak ada salahnya berangkat bersama sahabatnya ini. Apalagi keduanya sudah lama tak menghabiskan waktu berdua saja.


Jarak yang jauh dan keadaan yang membuat keduanya berjauhan. Jarang bisa bertemu dan berkumpul bersama. Meski begitu, hubungan melalui ponsel tetap terjalin dengan baik. 


"Oke. Ayo kamu siap-siap dulu," Ujar Humai menjawab. 


"Jay ikut ya, Ante!" Peliknya pada saudara ayahnya itu. 


"Oke, Anak Tampan. Ayo!" 


Akhirnya Sefira lekas berlari ke arah kamar yang menjadi tempat tinggalnya. Ya mereka akan berada disini selama beberapa hari ke depan. Ini bukan pertama kalinya mereka menginap. setiap kali ingin menemui Jay, ketiganya selalu tinggal disini dan bersama bersama bocah kecil itu. 


Setelah bersiap, dia segera menyusul berpamitan pada orang tua sahabatnya dan orang tuanya juga. Dia mencium punggung tangan semua orang. 


"Hati-hati ya, Nak. Nanti pulangnya sama Jay juga, jangan ngebut-ngebut!" Nasehat Papa Haidar pada putrinya. 


"Iya, Pa." 


Perlahan dua sahabat itu mulai masuk. Kemudian disusul Jay yang duduk dengan tenang di kursi seatcar yang sudah Humaira siapkan. 

__ADS_1


Semua itu dilakukan untuk keselamatan dan keamanan Jay. Apapun itu, Jay adalah orang utama yang harus mereka lindungi dari apapun. 


Perlahan Sefira mulai menginjak pedal gas menjalankan mobilnya. Dia melakukan dengan mulus hingga kendaraan itu keluar dari perumahan Rumah Humai. 


Jalanan Jakarta lumayan padat di waktu seperti ini. Banyak lalu lalang orang yang hendak belajar dan bekerja juga. Semuanya tentu tertib dan rapi ketika berjejer mobil mulai berhenti di sebuah lampu merah. 


"Aku bisa gila diam disini setiap hari!" Pekik Sefira yang lelah dengan kemacetan ini. 


Humaira terkekeh. Wajah badmood sahabatnya langsung terlihat. 


"Kau hanya belum terbiasa, Fir. Aku yakin selama satu atau dua bulan kau diam disini. Lama-lama kau akan terbiasa," Ujar Humai dengan apa adanya. 


Ya bukan hanya Sefira yang merasakan itu. Awal kedatangan Humai disini, dia melakukan adaptasi dengan berat. Dengan keadaan berbadan dua, dia harus melewati kota yang terkenal macet. Namun, lambat laun, seiring berjalannya waktu. Humai mampu menikmati itu semua dengan baik. 


Dia bahkan tak merasa lelah jika setiap kali harus rela antri macet seperti ini. Menurutnya jika ingin bebas, maka harus berangkat lebih pagi. 


"Ayo jalan! Perhatikan kendaraan di depan," Kata Humaira saat lampu telah berganti warna hijau. 


"Kau sudah ahli disini, 'yah!" Goda Sefira pada sahabatnya itu. "Aku ingin tinggal disini juga."


"Tinggallah disini. Bukankah kau hampir selesai mengejar S2 mu?" 


Pekerjaan di depan mata dan dia harus mendapatkannya tanpa bantuan orang lain. Menjadi seorang desainer dengan desain yang bertolak belakang dengan Humai memang menjadi ciri khas keduanya. 


Namun, hal itu yang membuat dia orang ini memiliki kepribadian yang menonjol dan bisa menjadi kekuatan mereka berdua. 


"Ya. Tapi aku tak akan tinggal disini, Mai!" Kata Sefira yang membuat Humai menoleh. "Aku ingin ikut denganmu di Korea dan memulai mimpi kita dari awal disana." 


Wajah Humaira bukannya takut malah dia melebarkan senyumannya. Dia menganggukkan kepalanya setuju akan pendapat sahabatnya ini. Akhirnya dia bisa berkumpul dan bersatu lagi dengan sahabatnya itu untuk meraih cita-cita keduanya. 


"Kau akan ku kenalkan pada kedua sahabatku juga. Dia juga ingin Korea dan ikut bersamamu merajut mimpi kita disana!" 


...🌴🌴🌴...


Akhirnya perjalanan ke kampus Humai mulai berakhir. Sefira dengan lihai mulai memutar setirnya menuju tempat parkiran. Saat dirinya sudah menemukan sebuah tempat yang pas dan hendak mengarahkan ke sana. 


Tiba-tiba sebuah kendaraan datang dan membuat Sefira mau tak mau menekan pedal rem dengan segera. Hal itu tentu membuat tubuh keduanya hampir terpental ke depan jika tak ada sabuk pengaman. 


Humaira dan Sefira lekas menoleh ke belakang mengecek kondisi bocah kecil kesayangan keduanya. 


"Jay baik-baik aja, 'kan?"

__ADS_1


Nafas Jay terlihat tak beraturan. Dia sepertinya terkejut akan gerakan itu. Namun, kepala kecil itu mengangguk menjawab bahwa dia baik-baik saja. 


"Orang ini benar-benar!" Umpat Sefira setelah mengecek kondisi keponakannya. 


Dia lekas melepaskan sabuk pengamannya dan keluar. 


"Fir gak usah… " Humaira telat. 


Dia menepuk keningnya saat melihat mobil yang tiba-tiba datang adalah mobil yang ia kenal siapa pemiliknya. 


Sedangkan Sefira, gadis itu segera berjalan menuju mobil yang menurutnya menyalip dengan seenaknya dan mengambil posisi parkir yang hendak dituju. Dirinya mengetuk jendela bagian samping supir dengan wajah kesal bukan main. 


"Keluar, Lo!" Sungut Sefira dengan tak sabaran.


Dia terus mengetuk kaca itu sampai perlahan pintu itu terbuka dan keluarlah seorang pria muda dengan pakaian begitu rapi muncul di hadapannya. 


"Mata Lo gak lihat, hah? Lo tiba-tiba parkir disini saat mobil gue mau parkir disini juga. Tindakan Lo ini bisa membahayakan gue dan ponakan gue!" Sungut Sefira langsung menyemprotnya. "Emang Lo mau tanggung jawab. Nggak kan?"


Nafas Sefira memburu. Dia benar-benar kesal setengah mati ditambah khawatir pada Jay dan Humai. 


"Dasar anak orang kaya! Gak tau aturan memang!" Serunya dengan tanpa jeda. 


Humaira yang baru saja selesai membantu Jay turun dari seatcarnya langsung berjalan ke arah sahabat dan pria yang sangat ia kenal. 


Setengah mati ia ingin meledakkan tawanya pada tingkah sahabatnya itu. 


"Fir, udah, Fir!" Kata Humai menarik tangan sahabatnya. 


"Gue gak bisa diam aja, Mai. Pria muda kek dia ini. Harus tau aturan!" 


"Om Jeno!" Pekik Jay yang baru sampai di dekat ibu dan Antenya. 


Panggilan itu membuat Sefira membulatkan matanya. Dia menatap ke arah Jay yang dengan tenang berjalan ke arah Jeno dan meminta gendong. 


Apa telinganya tak salah dengar. Jika iya, maka mampuslah dia. Dia masih sangat ingat betul siapa Jeno dari penjelasan sahabatnya kemarin. 


"Mampus gue! Bukannya dia yang kasih kucing buat Jay. Itu tandanya, dia dosen disini?" Gumam Sefira dalam hati. 


~Bersambung


Wahahaha kapok, 'kan! asal semprot gak taunya dosen killer hahaha.

__ADS_1


__ADS_2