Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Guntur Syakir Bucin Alhusyn


__ADS_3

...Ternyata berada di dunia yang sangat kita nantikan adalah hal paling membahagiakan. Sebuah pekerjaan yang sangat dinanti membuat perasaan siapapun nyaman termasuk hatiku. ...


...~Humaira Khema Shireen...


...🌴🌴🌴...


Akhirnya Humai, Ye Jun, Dong Min dan Hae sampai di tempat penjualan kain. Keempat orang itu saling memilih dan memilah kain apa yang akan mereka pakai.


Begitupun dengan Humai. Pertama kali dalam hidupnya dia berdiri disini bukan untuk membeli kain dan menjahitkan pada orang lain. Melainkan dia membeli kain terbaik untuk gaun miliknya. Desain tangannya sendiri yang membuatnya benar-benar super duper sangat teliti.


Mata ibu satu anak itu benar-benar tak lepas dari kain yang digulung dan berjajar. Humai berjalan sendirian dengan tangan menyentuh setiap kain yang ingin dia lihat.


"Jangan pakai kain itu, Mai, " Ujar suara perempuan yang membuat Humai menoleh.


Dia melihat Hae, wanita berambut pendek itu membawa gulungan kain ke arahnya.


"Kain ini gak bagus. Kalau dibuat gaun gak bisa melambai cetar, " Kata Hae sambil memperagakan apa yang dia maksud.


"Ah begitu, " Ucap Humai dengan wajah tak enak hati. "Aku benar-benar masih nol belum tau semua kain yang bagus untuk gaun, Hae. "


"Tenanglah. Ayo kemari! " Ajak Har dengan begitu ramah. "Aku saat bekerja pertama dengan Ye Jun. Tak tahu apapun sepertimu. Dia adalah teman yang baik mengajarkanku tentang kain dan menjahit. "


Hae menceritakan pengalaman pertamanya saat dia ikut Ye Jun untuk pertama kalinya. Perempuan yang tak pernah menyangka akan menjadi desainer itu pernah melewati masa yang sulit.


Dan Ye Jun lah orang pertama yang membantunya untuk bangkit.


"Serius? "


"Ya, " Sahut Hae dengan serius. "Keluargaku bukan dari keluarga terkenal. Bertemu dan kenal dengan Ye Jun dan Jeno adalah salah satu keberuntungan dalam hidup. "


Apa yang Hae katakan memang benar. Dua pria itu seakan malaikat yang Tuhan berikan padanya. Banyak rejeki yang dia dapatkan dari bekerja bersama mereka.


"Nah ini. Kain yang pas untuk kamu, " Ujar Hae menghentikan gerakannya.


Humai menoleh. Dia mencoba menyentuh kain itu dan benar saja. Sangat jauh berbeda dari kain yang tadi dia lihat.


"Pilihlah! Kami juga akan memilih, " Kata Hae yang langsung dijawab acungan jempol oleh Humai.


Perempuan itu mulai memilih. Desain terbaru yang akan dibawa ke fashion show nanti adalah sebuah dress pendek selutut. Sebuah fashion baju ala Korea yang membuatnya memilih desain tersebut.


Dia tak mau membuat gaun yang terlalu panjang karena dirinya tak suka. Humai ingin menunjukkan kaki jenjang yang akan membawa gaun itu dengan begitu lincah.


"Humai, kemari! " Panggil Ye Jun yang membuat istri Syakir itu menoleh.

__ADS_1


Dia yang memeluk gulungan kain segera berjalan menghampiri Ye Jun. Bagaimanapun dia sangat menghormati pria itu.


"Ya. Ada… " Suara Humai seakan tercekat di tenggorokan melihat tingkah Ye Jun.


Ya tanpa diduga pria itu meletakkan kain ke tubuh Humai. Seakan ingin menunjukkan apakah gaun itu sangat manis pada tubuh Humai atau tidak.


"Ini, " Ucap Humai dengan gugup.


Akhirnya dua mata itu saling bertemu. Ye Jun menatap dan menyelami mata Humai. Begitupun dengan ibu satu anak itu juga.


Humai merasa kesulitan bernafas. Dia bahkan sudah mengatakan apapun. Dirinya gugup tapi bukan karena ia memiliki perasaan.


Melainkan dia terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Ye Jun padanya. Bahkan jantungnya berdegup kencang bukan karena dia jatuh cinta. Melainkan ada sesuatu yang mengusik hatinya seakan mengatakan bahwa ada pria spesial di belakangnya yang selalu percaya padanya.


"Oh, Sorry, " Kata Ye Jun yang baru sadar. "Aku tak bermaksud memelukmu, Mau. Aku hanya ingin menunjukkan bahwa kain ini cocok dengan warna kulit sepertimu. "


Humai mundur beberapa langkah. Dia berusaha menenangkan jantungnya yang tak karuan. Dirinya sampai mengusap keringat yang membasahi dahinya karena terlalu terkejut akan melakukan Ye Jun yang tanpa berkata apapun.


"Iya, " Sahut Humai dengan mengangguk.


"Gimana sih, Bos. Untung gak ada suaminya. Kalau ada, bisa perang dunia kedua, " Kata Dong Min sedikit menyindir.


Ye Jun melirik pria itu sekilas dengan tajam. Hal itu tentu membuat Dong Min langsung diam.


Hae yang sejak tadi diam hanya bisa mengacungkan jempolnya. Apa yang harus dikatakan jelek. Kuning dipadu dengan kulit Humai yang putih sangat amat serasi.


Hal itulah yang membuat wanita itu setuju akan ide dari Ye Jun.


"Baiklah. Apa kau sudah menemukan milikmu? " Tanya Ye Jun pada Humai.


"Aku masih menemukan ini, " Ucap Humai setelah dirinya sudah menguasai dirinya.


"Carilah kain yang cocok untukmu. Setelah itu kita pulang! "


...🌴🌴🌴...


"Kau tak mau menyusul istrimu, Kak? " Tanya Sefira yang tengah menyandarkan kepalanya di lengan Jeno.


Saat ini mereka tengah berada di sebuah mall. Sepulang Sefira dan Jeno mengurus semuanya. Keduanya mengajak Syakir dan Jay yang tengah bermain di dalam kamar hotelnya berdua.


"Humai belum menghubungiku. Dia pasti sedang sibuk sekarang, " Ujar Syakir sambil meminum oksusu cha.


Oksusu Cha atau teh jagung adalah teh tradisional Korea yang terbuat dari jagung. Oksusu Cha bisa dibuat dari biji jagung, rambut jagung, atau kombinasi dari keduanya. Minuman ini bebas kafein dan merupakan minuman panas yang populer pada saat musim dingin. Oksusu Cha adalah salah satu teh biji-bijian gratis yang disediakan di banyak restoran untuk pengganti air putih.

__ADS_1


Syakir benar-benar menyukai minuman ini sejak dirinya bermain ke negara ini. Dia bahkan hampir mencoba semua makanan khas Korea. Syakir sama seperti Sefira. Suka menjelajah dan mencoba makanan apa yang ada di negara yang mereka kunjungi.


"Terus kalau misalnya sampai malam. Kakak mau nungguin sampai malam juga gitu? " Tanya Sefira dengan kening berkerut.


"Ya nggak lah! " Seru Syakir dengan langsung.


"Yaudah. Ayo jemput sekarang aja! " Kata Sefira dengan semangat. "Aku takut nanti kakak iparku diambil sama Ye Jun! "


Jeno lekas menoleh. Dia menggelengkan kepalanya seakan dirinya tahu tingkah istrinya sedang memancing kecemburuan kakak iparnya itu.


Spontan ucapan Sefira seakan api yang disiram bensin. Semakin melebar dan panas.


"Kita jemput sekarang! " Kata Syakir dengan wajah tak sabaran.


Jujur Sefira hampir tertawa lepas. Niat hati dia ingin menggoda kakaknya itu. Dia sangat tahu Syakir adalah pria posesif.


Dia yakin kakaknya itu akan mudah terprovokasi olehnya.


"Gak jadi. Katanya nanti aja? Nunggu Humai telepon? " Pancing Sefira menyindir.


"Gak ada nanti-nantian. Sekarang! "


Syakir spontan beranjak berdiri. Dia lalu melambaikan tangan pada putranya.


"Ada apa, Ayah? "


"Ayo kita jemput Ibu, " Ajak Syakir yang membuat mata anak itu berbinar.


Jay mengangguk. Dia lekas meminta gendong dan segera ditangkap oleh Syakir.


"Ayo, Fira! Jangan membuat Kakak menunggu, " Ujar Syakir sambil beranjak pergi.


Sepeninggal Syakir. Sefira meledakkam tawanya. Dia benar-benar merasa lucu ketika rencananya berhasil. Hal itu tentu membuat kepala Jeno geleng-geleng kepala.


"Kamu bikin masalah, Sayang, " Kata Jeno menasehati.


"Biarin aja. Biar dia tahu rasa! " Ujar Sefira dengan menghentikan tawanya. "Aku ingin tahu bagaimana karma manis yang didapat oleh Kak Syakir. "


"Dulu dia tak mau bahkan memakai Humai. Sekarang, lihatlah tingkahnya! Benar-benar Guntur Syakir bucin Alhusyn! "


~Bersambung


Haha si bucin Syakir, dibilang gitu aja udah keburu. Run, Bang. Lari! takut si Ye Jun buat ulah haha.

__ADS_1


__ADS_2