
...Cukup sekali aku pernah menyia-nyiakanmu. Tak akan ada yang kedua atau ketiga kalinya dalam hidupku untuk melakukan hal yang sama di masa lalu. ...
...~Humaira Khema Shireen...
...π΄π΄π΄...
Di sebuah ruangan galeri. Terlihat semua orang saling bekerja antara satu dengan yang lain. Semua orang benar-benar saling bekerja sama menyelesaikan desain mereka yang akan digunakan dalam waktu yang berbeda.
Dua desain itu memang akan dikeluarkan bersama. Yang pertama, milik Ye Jun. Akan mengikuti fashion dalam empat hari lagi. Fashion yang memang diadakan untuk mempererat hubungan apra desainer di sini.
Sedangkan acara kedua. Nanti, fashion show yang dilakukan oleh seluruh desainer terkenal yang diadakan untuk menarik perhatian semua orang.
Wajah Humai dan Ye Jun begitu fokus. Dua model dengan dua patung berdiri saling berjejeran dengan jarak beberapa langkah antara satu dengan yang lain.
Kedua orang itu menatap berulang kali hasil desain mereka di sebuah kertas. Mata mereka menatap awas. Sangat amat teliti karena takut melakukan kesalahan.
Tangan keduanya juga tak henti bergerak. Saling menggabungkan dengan jarum agar bisa menyerahkan. Lalu memotong kain sendiri untuk melihat model seperti apa sebelum dijahit kuat.
Semua itu dilakukan oleh mereka berempat. Baik Ye Jun, Humai, Hae dan Dong Min. Begitu amat sangat bekerja sama. Tak ada yang bersantai. Keempatnya saling tolong menolong antara satu dengan yang lain.
"Potonganmu kurang, Mai, " Kata Ye Jun yang ternyata sejak tadi memperhatikan sosok Humai.
Pria itu berjalan mendekati patung milik Humai. Dia meminta gunting yang dipegang oleh istri Syakir itu lalu memegang kain yang dibeli olehnya.
"Mana model kamu? " Tanya Ye Jun dengan pelan.
"Ini." Humai menyerahkan sebuah kertas yang sejak tadi dia pegang.
Kertas putih bergambar miliknya yang sangat amat cantik. Tangan Ye Jun segera bergerak melihat pola yang ternyata sudah digambar oleh istri Syakir di kain tersebut.
"Jangan ragu dan takut. Kalau kamu lagi gunting, gunting aja yakin. Hasilnya bakalan lebih halus dan keren. Jangan terlalu ikuti pola. Kalau lebih, ya gapapa. Teruskan! Paham? "
"Paham, " Jawab Humai mengangguk.
Banyak ilmu yang dia dapatkan disini. Ye Jun, Hae dan Dong Min tak pernah pelit padanya.
Semua yang Humai tanyakan dijawab sampai istri Syakir mendapatkan jawaban yang puas.
__ADS_1
"Nih, " Kata Ye Jun memberikan gunting itu kembali.
Akhirnya Humai kembali bergerak lagi. Menggunting kain dan langsung diminta oleh Ye Jun hasil guntingan itu.
"Kalau kamu mau nyatuin ini. Begini! " Kata Ye Jun dengan pelan sambil meletakkan kain itu tepat di patung itu.
"Lebih real lagi. Kalau kamu butuh melihat apakah cocok dipakai oleh manusia. Pakai seperti ini! "
Tanpa diduga, Ye Jun bergerak mendekati Humai dengan tangan memegang hasil potongan kain yang digunting oleh istri Syakir lalu mendekatkan ke tubuhnya.
Jantung Humai berdetak kencang. Hidungnya mencium aroma minyak wangi Ye Jun saat pria itu meletakkan potongan kain itu di tubuh bagian bawah karena menang potongan itu buat bagian bawah.
"Bagaimana, Hae?" Tanya Ye Jun pada temannya.
"Cocok sama kamu, Mai, " Sahut Hae dengan serius. "Kamu pakai bajumu sendiri nanti. Cocok banget! "
"Nggak, Hae. Suamiku akan marah jika dia tahu! " Kata Humai dengan santai dan ternyata bisa didengar oleh beberapa orang yang tengah masuk ke dalam ruangan itu.
"Untuk apa aku marah? "
Dengan yakin dan menelan ludahnya begitu susah payah. Akhirnya Humai memberanikan diri membalikkan tubuhnya dengan pelan. Apalagi saat Ye Jun juga menjauhkan tangannya dari tubuhnya dan menatap ke belakangnya membuat ia yakin bahwa suara tadi adalah nyata.
"Kak Syakir, " Lirih Humai pelan dengan wajah tegangnya.
Inilah yang ditakutkan oleh Humai. Akan ada salah paham yang terjadi jika bekerja tanpa berdua saja.
"Ayo kita pulang! " Ajak Syakir sambil berjalan mendekati istrinya itu.
Wajah pria itu terlihat mengeras. Tak ada senyuman sedikitpun di bibirnya dan itu membuat Humai tahu. Bahwa saya ini suaminya tengah menahan emosi dan amarah. Suami yang dia cintai sedang berperang dengan dirinya sendiri.
"Syakir. Apa yang kamu lihat⦠"
"Aku tahu dan paham apa yang aku lihat! " Sela Syakir sambil memegang tangan istri tapi menahan langkah kakinya.
Mata pria itu menatap ke arah Ye Jun. Nafas Syakir juga terlihat berat dan membuat Ye Jun tahu jika pria itu tengah berusaha mengendalikan dirinya dengan baik.
"Aku akan mengajak istriku pulang. Sekarang! "
__ADS_1
Akhirnya Humai pasrah dengan apa yang dilakukan oleh suaminya. Dia pasrah Syakir membawanya kemana sekarang.
"Tolong ambilkan tas Humai, Sefira. Kakak juga minta, tolong bawa Jay sebentar yah? " Kata Syakir lalu segera melewati adiknya itu dan Jeno serta Jay yang ada dalam gendongan adik iparnya itu.
"Masuk! " Kata Syakir meminta istrinya masuk ke dalam mobil.
Ibu satu anak itu patuh. Dia tak mengeluarkan suara apapun. Seakan Humai benar-benar membiarkan suaminya melakukan apa yang ingin dia lakukan sekarang. Bagaimanapun dia sadar.
Sadar jika posisinya tadi dengan Ye Jun adalah salah. Namun, dia juga akan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi tadi. Dia akan menjelaskan agar suaminya tahu dan paham.
...π΄π΄π΄...
Pasangan suami istri itu mulai memasuki lift hotel. Tangan Syakir tak pernah lepas dari tangan istrinya itu. Dia benar-benar membawa istrinya kemanapun tanpa melepas genggaman tangan mereka.
Humai juga tak marah. Dia tak merasa keberatan karena suaminya itu tak mencengkram tangannya dengan kuat. Tak ada rasa sakit apapun sampai Humai menyadari jika suaminya berusaha menguasai dirinya dengan baik.
"Sayang, " Panggil Humai saat keduanya mulai masuk ke dalam kamar hotel.
Saat Humai hendak bersuara lagi. Tiba-tiba Syakir menyerangnya dengan mencium bibirnya penuh ekspresi. Tubuhnya juga didorong sampai menyentuh di dinding.
Ciuman itu menuntut. Bahkan sampai Humai mulai membalas ciuman itu dengan begitu bergairah.
Keduanya benar-benar membuat suasana disana semakin panas. Bahkan mereka saling mencecap, menyesal dan menggigit antara satu dengan yang lainnya.
Keduanya benar-benar sudah sangat ahli dalam bidang ini. Bidang perciuman dan membuat keduanya mulai lupa arah.
Saat tangan Humai hendak memegang kepala Syakir. Dengan pelan ciuman itu terlepas dan membuat kedua mata itu saling tatap dengan lekat.
Ayah satu anak itu memegang kedua tangan Humai lalu membawa ke atas kepalanya.
"Jangan pernah menurunkan kedua tanganmu atau aku akan menghukummu, Sayang. Mengerti? " Kata Syakir dengan pelan dan penuh bisikan.
"Iya, Kak, " Sahut Humai dengan pasrah dan mata penuh kabut gairah.
~Bersambung
Haha lihat Bang Syakir ngereog sendiri karena cemburu huhu. Emang kamu doang yang dulu bikin kesel. Sekarang tak bikin kesel balik lu, Bang. Kaburrr
__ADS_1