
...Terkadang apa yang kita harapkan tak pernah sesuai rencana. Semua yang kita lakukan terkadang masih diberikan ujian oleh Tuhan untuk membuktikan bahwa kita bisa melewatinya atau tidak. ...
...~Humaira Khema Shireen...
...🌴🌴🌴...
Hari pertama bekerja pasti adalah hari yang membuat jantung siapapun berdetak kencang. Ketakutan dan keraguan sudah pasti ada di hati mereka. Namun, seorang perempuan yang tengah bersiap diri itu mencoba mengatur pernapasannya.
Dia meyakinkan dirinya bahwa dia bisa melewati hari pertama. Dia juga percaya bahwa di hari pertama tak pernah seburuk apa yang dikatakan oleh orang lain.
Akhirnya Humaira kembali melihat penampilannya lagi. Sebuah pakaian sederhana tapi tetap menunjukkan seorang diri Humaira tentu membuat aura ibu satu anak itu terpancar hebat.
Istri Syakir itu juga lekas menarik nafasnya begitu dalam sebelum sebuah pelukan dari belakang dan wajah suaminya terlihat disana.
"Kau pasti bisa, Sayang. Jangan takut. Gagal untuk pertama kali adalah hal biasa. Kamu harus percaya pada kemampuanmu," Bisik Syakir dengan pelan.
Mata Humai menatap mata suaminya itu. Dia bisa melihat ketulusan di setiap ucapan ayah dari putranya itu.
"Iya, Kak. Humai yakin bisa, " Ujarnya dengan mengangguk mantap.
Perlahan pelukan itu terlepas. Humaira berbalik dan dia bisa melihat wajah suami yang selalu mensupport dirinya tanpa batas.
Tangan Humai terangkat. Dia menangkup kedua wajah Syakir dan menyatukan hidung mereka untuk saling bersentuhan.
"Kau adalah support sistem terbaikku, Kak. Semangatmu adalah semangatku yang membara. Terima kasih sudah selalu mendukungku sampai detik ini, " Kata Humai dengan tulus.
Syakir tersenyum. Dia mencuri satu ciuman di bibir istrinya dan langsung dibalas oleh Humai dengan pelan.
Tak ada gairah disana. Tak ada nafsu terselubung. Hanya sebuah ciuman untuk menyalurkan cinta keduanya. Mengatakan antara satu dengan yang lain bahwa mereka saling memiliki. Bahwa mereka saling ada dan mensupport satu dengan yang lainnya.
"Kamu juga anugerah indah dari Tuhan, Sayang. Hadirmu adalah semangat hidupku untuk menjadi orang yang selalu lebih baik dari sebelumnya. Terima kasih sudah membuatku dan membawaku ke titik ini. Tanpamu dan Jay, mungkin aku akan menjadi orang paling menyesal seumur hidupku," Ujar Syakir dengan suaranya yang serak menahan tangis.
Humai mengangguk. Perlahan mereka mulai saling berpelukan. Menyalurkan hangatnya perasaan mereka, besarnya cinta mereka dan saling menenangkan satu dengan yang lain.
"Kita akan melewati semuanya bersama-sama, Kak. Kita akan memulai semua dari bawah dan aku akan terus ada disampingmu sampai kapanpun! "
...🌴🌴🌴...
"Semangat, Ibu. Jay sama Ayah akan menunggu disini! " Kata Syakir dan Jay saat mereka berada di depan galeri YJ.
__ADS_1
Humai berkaca-kaca. Lihatlah dua pangerannya ini. Mengantar dirinya dan memberikan semangat untuknya.
"Tentu. Ibu akan semangat untuk kalian. Ibu masuk dulu yah. Assalamu'alaikum, " Kata Humai dengan melambaikan tangannya.
Perempuan yang pernah melahirkan satu anak itu memang sendirian. Sefira, perempuan itu juga akan menyusulnya kesini. Ya Jeno telah mengatakan tujuan istrinya dan dengan langsung Ye Jun mengizinkan Sefira menjadi asisten kerja Humai. Membantu perempuan itu untuk bekerja dan membuat karya yang indah.
"Waalaikumsalam."
Perlahan Humai mulai menuruni tangga yang terbuat dari bata itu. Ada perasaan yang tak bisa dijabarkan dalam hatinya. Seakan semua ini mimpi untuk Humai. Seakan semua ini masih sebuah khayalan untuknya.
Saat dirinya hampir saja sampai di ujung tangga. Sebuah suara membuat kepalanya mendingan.
"Hae, " Sapa Humai terkejut saat melihat wanita berambut pendek itu keluar dari ruangan yang bertuliskan paradise kiss dengan penampilan berantakan.
"Maafkan aku, Mai. Penampilanku! " Kata Hae dengan segera mengancingkan beberapa kancing di bajunya.
Belum hilang keterkejutan Humai. Dari dalam terdengar suara teriakan seorang pria yang membuat Humai tersadar akan sesuatu.
"Diamlah, Dong Min! " Seru Hae balas berteriak. "Ayo masuk, Mai. Jangan dengarkan dia. Dia akan berteriak jika apa yang dia dapatkan kurang. "
Humai terkekeh. Dia paham apa yang dibicarakan oleh teman kerjanya ini. Di negara yang sebebas ini tentu hal seperti itu sangat amat wajar.
"Ye Jun belum sampai, Mai. Dia masih dijalan. Jadi duduklah dulu, " Kata Hae yang baru saja masuk ke dalam galeri.
Humai mengangguk.
"Letakkan jaketmu disana! " Kata Hae saat Humai mulai melepaskan jaket tebalnya.
Perempuan itu segera menggantung jaketnya ke tempat yang dikatakan oleh Hae. Lalu dia membawa beberapa lembar kertas yang ia peluk itu ke arah sofa yang ada disana.
"Kau mau coklat panas? " Kata Har yang berdiri di balik pantry.
Ya ruangan itu sangat luas. Ada pantry tempat untuk membuat makanan dan memasak. Ada juga kemarin besar tempat untuk kain dan beberapa alat yang digunakan mereka.
Ruangan yang benar-benar sangat aesthetic tapi memiliki semua fungsi yang mereka butuhkan.
"Ini untukmu, " Ujar Hae dengan menyerahkan segelas coklat panas di atas meja.
Humai lekas meraihnya. Dia menangkup gelas itu seakan ingin merasakan panasnya gelas agar menyentuh kulitnya.
__ADS_1
Suhu hari ini semakin turun. Salju bahkan sangat tebal dan membuat Syakir tadi hampir terjebak macet karena jalanan banyak dipenuhi oleh salju.
"Terima kasih, Hae! " Ucap Humai dengan tulus.
"Sama-sama! "
Perlahan Huami menyeruput air berwarna coklat itu dan ini benar-benar berhasil. Rasa hangat itu menyentuh tenggorokannya dan membuatnya sangat amat lega dan hangat.
Tak lama pintu ruangan Galeri terbuka dan muncullah Ye Jun dari sana. Pria itu terlihat membawa sebuah gaun cantik dan segera menggantungnya di tempat penggantungan.
"Milik siapa itu, Ye? " Tanya Hae berjalan mendekat.
Humai juga tak mau kalah. Ibu satu anak itu berjalan ke arah Ye Jun dan menatap sebuah dress indah dengan lengan dan dress panjang berwarna kuning.
"Milikku! " Kata Ye Jun dengan santainya.
"Apa! " Hae sedikit terkejut.
Perempuan itu menoleh dan menatap Ye Jun dengan pandangan tak percaya.
"Jangan katakan bahwa kau akan merubah desain kita. Jangan bilang kita akan memulai semuanya dari awal! " Seru Hae dengan serius.
Ye Jun mengangguk. Di wajahnya seakan tak ada beban dengan jawaban yang dia berikan.
"Ya. Aku merubah desain kita. Aku ingin sesuatu look yang baru dan sebuah perasaan bahagia yang menggambarkan warna gaun kita. "
Hae berteriak kecewa. Dia memegang kepalanya seakan frustasi dengan keputusan Ye Jun. Gaun lama mereka hampir selesai tapi pria itu benar-benar.
"Lihatlah dia, Mai. Kau harus bersabar jika bekerja dengannya. Ye Jun adalah pria yang suka merubah desain mendadak di tanggal mendekati acara. "
"Dan kau, tak akan bisa menolak keputusanku, Hae. Jadi cepat panggil Dong Min dan katakan bahwa hari ini kita akan belanja kain dan Humai, ikutlah bersama kami! "
~Bersambung
Hihi gimana kalau disini nyempil kisahnya Rachel juga? hihi
Cuma tanya doang loh yah. hahaha.
Ingat harus tamat tengah bulan Bang Syakir haha.
__ADS_1