Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Humai Mengancam?


__ADS_3

...Seorang wanita yang memiliki kesabaran yang besar tetap saja ada batas yang dia miliki dan saat itu tiba maka tak akan ada kata maaf untuknya. ...


...~JBlack...


...🌴🌴🌴...


Di dalam kamar, Humaira sudah tak mau memikirkan apa yang dilakukan oleh Syakir dan Rachel. Dia tak mau membuat perutnya terjadi sesuatu yang tak diinginkan karena terlalu banyak pikiran. 


Nasehat yang selalu Almeera katakan, perintah yang selalu wanita baik itu berikan kepadanya seakan tertancap rapi di pikiran Humai.


"Kalau memang jodoh, Tuhan pasti tunjukkan hal baik buat kita, Nak," kata Humai dengan mengusap perutnya.


Akhirnya ibu hamil itu lekas memejamkan matanya. Dia ingin beristirahat sejenak. Sebelum Humai harus kembali ke kenyataan jika dia sedang menghadapi dua manusia yang saling mencintai dan tak memiliki hati kepadanya.


...🌴🌴🌴...


"Ayo aku antar ke kamar!" Ajak Syakir setelah melihat keadaan kekasihnya mulai tenang. 


Rachel mengangguk. Dengan manja dia menggandeng tangan Syakir menuju mobilnya dulu untuk mengambil kopernya. Setelah itu keduanya segera kembali masuk dan mulai menaiki tangga. 


Gadis ini benar-benar tak memiliki rasa malu sedikitpun. Diperingati oleh Humai seakan menjadi angin lalu untuk Rachel. Yang ada dalam pikiran wanita itu, terpenting saat ini dia ada disini dan ingin membuat Humai sadar diri serta cemburu.


"Ini kamarmu, Sayang," kata Syakir membuka salah satu kamar yang ada di lantai dua.


Rachel menatap sekeliling. Dia melihat semua dekorasi yang ada di kamar itu.


"Kecil banget kamarnya, Sayang," kata Rachel menatap jijik kamar itu. "Kamar segini bikin pengap."


Syakir hanya bisa menarik nafasnya begitu dalam. Dia sendiri bisa menebak bagaimana ekspresi kekasihnya melihat keadaan rumah yang ia tinggali ini.


"Mangkanya aku bilang ayo ke apartemen aja, Sayang. Disini kamu gak bakal betah," kata Syakir mencoba merayu.


Rachel menggeleng. Dia segera meletakkan tasnya di atas ranjang lalu kembali berjalan ke arah Syakir dan memeluknya.


"Aku mau disini. Aku mau sama kamu terus," rengek Rachel dengan manja.


Syakir mengusap kepala kekasihnya. Dia tersenyum dan tak bisa menolak permintaan Rachel. 

__ADS_1


"Iya. Kamu disini sama aku."


Rachel langsung memeluk kekasihnya kembali. Dia tersenyum miring ketika rencananya berjalan satu langkah dengan lancar. Akhirnya dia bisa masuk ke rumah ini. Setelah itu dia akan melanjutkan rencana keduanya dengan membuat Humaira kepanasan dan menyerah dengan sendirinya.


"Kamu tidur disini juga, 'kan?" Tanya Rachel yang membuat Syakir menatap kekasihnya tak percaya. 


Apa Rachel tak mendengar ancaman Humai tadi. Bagaimanapun Syakir tak mau bertindak bodoh. Jika dia dilaporkan ke kantor polisi, merusak citra namanya maka hancur sudah reputasinya.


Dia yakin kedua orang tuanya tak akan mau membantunya. Dia yakin hartanya akan semakin jatuh ditangan gadis cupu itu dan anak yang mereka pikir adalah anaknya.


Itu tak boleh terjadi dan tak akan terjadi selama dia hidup!


"Aku tidur di kamarku, Sayang," kata Syakir dengan hati-hati. "Kamarku ada di depan itu." 


"Kenapa kamu gak mau sekamar sama aku? Padahal di apartemen kita selalu bersama. Kamu bahkan selalu manja ketika tidur denganku," ujar Rachel dengan air mata palsu.


Syakir mulai pusing. Apa yang dikatakan oleh kekasihnya memang benar. Dia selalu tidur bersama Rachel satu kamar di apartemen. Meski mereka memang tak pernah melakukan apapun. Hanya tidur saja di antara mereka berdua.


"Sayang, kamu ingat ancaman gadis cupu itu, 'kan?" Ucap Syakir penuh pengertian. "Aku tak mau wajah kita berdua ada di koran. Lalu nama kita berdua tercemar dan membuat wanita itu menang."


Ternyata Syakir pintar juga. Aku tak menyesal telah membuatnya menjadi seperti ini. Teruslah membencinya, Sayang. Dan kau berada dalam genggamanku! Ujarnya dalam hati. 


Syakir tersenyum. Dia mengangguk lalu mencium kepala kekasihnya dengan penuh kasih sayang.


"Deal, Sayang." 


...🌴🌴🌴...


Tak terasa waktu terus berputar begitu cepat. Jarum jam menunjukkan pukul enam sore. Sebentar lagi waktu makan malam akan tiba. Dengan rasa malas dan lelah di punggungnya, Humai tetap beranjak dari ranjang.


Dia harus memasak karena perutnya mulai meronta meminta diisi. Dia tak boleh manja tapi dia juga tetap hati-hati. Dengan menyiapkan batin yang kuat, Humai mulai berjalan keluar dari kamar.


Suasana terasa sepi. Dia menatap ke arah tangga dan terlihat pintu kamar tertutup. Pikirannya mencoba positif. Dia tak mau terus nethink dan membuatnya kepikiran.


Akhirnya Humai melanjutkan langkah kakinya ke dapur. Dia mulai memasak dengan sangat lincah hingga tak perlu waktu lama menu makan malam telah siap. 


Soto ayam khas buatan tangan Humai jadi dengan sempurna. Dia juga telah menata beberapa bahan di beberapa tempat. Hingga bersamaan dengan itu, terdengar langkah kaki dari tangga yang membuat Humai tahu siapa pemiliknya.

__ADS_1


"Wah makan malam sudah siap yah," kata Rachel dengan wajah puas sekaligus mengejek. "Maaf aku tak membantumu, Mai. Aku merasa lelah dan nyaman tidur dalam pelukan kekasihku." 


Humai tak menjawab. Gadis itu malah menuang kuah soto itu di mangkuk milik Syakir dan memberikan pada pria itu. 


"Lah aku?" Tanya Rachel saat melihat disana hanya ada dua mangkuk saja. "Mai!" 


"Kamu siapa?" Tanya Humai menatap Rachel dengan datar. 


"Aku kekasih suamimu! Orang yang disayang oleh Syakir!" Serunya dengan marah. 


Humai mengangguk. Dia balas menatap Rachel dengan pandangan yang sulit di artikan.


"Kamu punya kaki, 'bukan? Tangan kamu juga lengkap. Jadi kamu masih sanggup buat masak sendiri," seru Humai tanpa takut sedikitpun.


"Kau benar-benar keterlaluan!" Seru Rachel hendak marah tapi ditahan oleh Syakir. 


Humai menatap tangan suaminya yang memegang lengan Rachel. Ada perasaan iri tapi dia berusaha menutupinya.


"Pokoknya aku mau punyamu!" 


Saat Rachel hendak merampas milik Humai. Istri Syakir itu dengan lincah menariknya hingga Rachel tak bisa meraihnya. 


"Kau memang wanita tak punya malu. Datang ke rumahku, tinggal disini lalu meminta makan. Apa uangmu habis?" 


Rachel mengepalkan kedua tangannya. Dia menatap Humai tak percaya melihat gadis cupu itu berani melawannya. 


"Kemari kau! Uang jajanku untuk membeli rumah jelekmu ini saja, aku bisa!" Kata Rachel dengan sombong.


Wanita itu merasa terhina dengan ucapan Humai. Istri kekasihnya itu benar-benar bukan Humai yang dulu. Dia telah berubah menjadi gadis pemberani tanpa takut.


"Buktikan saja. Kau terlalu banyak bicara!" Seru Humai lalu mulai membawa mangkuk itu bersamanya.


"Ingat kataku, Kak. Aku memasak untukmu. Jika kau sampai memberikannya pada wanita harammu itu. Jangan salahkan aku jika Mama, Papa dan Sefira tahu jika dia ada disini!"


~Bersambung


Hahaha Humai makin kucing garong yak.

__ADS_1


Maaf baru update yah. Baru kelar semuanya. Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.


__ADS_2