
...Percayalah ketika sesuatu yang ditutupi mulai terbongkar maka disitulah rasa sakit mulai bermunculan....
...~Humaira Khema Shireen...
...🌴🌴🌴...
Humaira berdiri dengan air mata mengumpul di kedua matanya. Dia bahkan merasa kedua kakinya susah digerakkan. Kedua telinganya masih mendengar dengan jelas. Apa yang sedang dibicarakan oleh papanya tadi begitu merasuk di kedua telinganya.
Jujur dadanya terasa sesak. Dia merasa oksigen di sekitarnya habis entah pergi kemana. Dia begitu merasa sakit di hatinya.
Bayangan wajah Rachel dan ekspresi papanya yang seakan khawatir saat mengatakan itu membuat Humai dipenuhi banyak tanda tanya.Â
Apalagi ketika dia mendengar tentang papanya yang akan ke Malang. Lalu soal Rachel, tentu membuat Humai yakin jika papanya jauh lebih tahu segalanya.Â
Humaira mencoba menarik nafasnya begitu dalam. Mengisi rongga paru-parunya dengan oksigen. Dia merasa harus lebih banyak bernafas karena sesak itu masih terasa sampai sekarang.Â
"Papa," lirih Humai setelah dirinya mulai merasa tenang.Â
Papa Hermansyah menyadari sesuatu. Ya dia sadar jika putri tunggalnya itu mendengar semuanya.Â
"Nak!"Â
"Berhenti, Pa!" seru Humai sambil memandang papanya penuh luka.
Dia mengulurkan tangannya. Memberikan kode agar papanya tak mendekatinya. Jujur dia masih merasa shock. Dia masih merasa terkejut akan kebenaran yang baru saja dia dengar.
Ini bukan mimpi. Ya, Papanya mengenal Rachel. Bahkan tahu jika wanita itu menderita sakit jiwa.Â
Meski ia hanya mendengar dari sebelah pihak. Dia menguping sedikit tapi dirinya bisa mengerti ke arah mana topik yang sedang papanya itu bicarakan.Â
"Dengarkan Papa dulu!"Â
"Nggak!" teriak Humai sambil menggeleng. "Apa yang sedang Papa sembunyikan, hah? Apa?"Â
Teriakan itu tentu membuat suasana rumah mulai gaduh. Mama Emili, yang saat itu ada di ruang tamu lekas mendekati dua orang kesayangannya itu.Â
__ADS_1
Apalagi Sefira, gadis itu yang masih duduk di ruang tamu untuk menunggu Humai. Tentu ikut beranjak berdiri dan menyusul Mama Emili.
"Ada apa ini?" tanya Mama Emili kebingungan. "Kenapa, Sayang? Kenapa kamu bentak Papa?"Â
Mama Emili kebingungan. Percayalah wanita itu tak tahu tentang apapun. Soal anak adopsi dan sebagainya dia tak tahu.
Saat itu dalam pikirannya hanya Humai. Humai kecilnya diambil dan membuat jiwanya mulai terganggu.Â
Humaira perlahan menoleh ke arah mamanya. Dia menatap wanita yang begitu ia sayangi. Wanita yang memiliki kemiripan wajah dengannya.
"Apa Mama tahu kalau Papa…"Â
"Mama gak tahu soal apapun, Humai," sela Papa Hermansyah yang membuat Humaira tersenyum perih.
Dia sudah menyangka akan hal ini. Dia yakin mamanya tak akan tahu soal apapun. Apalagi kesehatan mamanya yang dulu membuatnya percaya bahwa Mama Emili adalah orang yang tak tahu menahu akan hal ini.
"Kenapa Papa tahu semuanya? Kenapa Papa peduli pada Rachel? Kenapa orang itu menghubungi Papa untuk memberikan kabar Rachel. Kenapa, Pa? Kenapa?" teriak Humai penuh penjelasan.
Nafas ibu satu anak itu naik turun. Teriakannya membuat siapapun merasa takut. Untung saja, Jay, anak kecil itu sedang keluar bersama orang tua Syakir dan membuatnya tak tahu akan pertengkaran ini.
"Jawab Humai, Pa. Jawab!" pinta Humai menurunkan nada bicaranya.
"Rachel adalah anak angkat Papa," kata Papa Hermansyah dengan menundukkan kepalanya.Â
Jantung Humai mencelos. Bahkan dirinya sampai oleng dan hampir terjatuh kalau tak dipegang oleh Sefira yang berdiri di belakangnya.Â
"Humai," panggil Sefira yang takut jika sahabatnya akan pingsan.
Humaira menggeleng. Dia mencoba berpegangan pada tangan Sefira. Dirinya merasa udara disini semakin habis.
Kenyataan itu membuat Humai menatap papanya dengan kecewa. Sepahit apapun masa lalu, tapi jika hal itu ditutupi terlalu lama tentu akan membuat siapapun merasa sakit hati ketika hal itu terbongkar.
"Maksud, Papa?" tanya Mama Emili yang belum paham apapun.
"Saat itu Mama mulai terguncang jiwanya. Papa tahu Mama sedang kesepian. Maka dari itu, Papa coba mengambil anak di panti asuhan untuk menemani Mama. Tapi ternyata Mama tetap begitu sayang dengan Humai kecil. Mama sampai terguncang dan Papa harus membawa ke rumah sakit jiwa," kata Papa Hermansyah menjelaskan.Â
__ADS_1
"Dan karena Mama gak menerima Rachel, Papa mengabaikan gadis itu. Papa mengangkatnya menjadi anak tapi tak memberikan kasih sayang. Begitu?" lanjut Humai yang mulai tahu arah kemana papanya itu bicara.
"Maafkan Papa, Mai," lirih Papa Hermansyah yang membuat Humaira tertawa lirih.
Dia mulai sadar akan semua hal yang terjadi pada dirinya. Semua perilaku Rachel, semua kejahatan yang gadis itu lakukan kepadanya adalah tak lain dan tak bukan karena melampiaskan segalanya.Â
"Rachel juga tahu kalau Humai anak Papa. Bener, 'kan?"Â
Papa Hermansyah mengangguk dan hal itu tentu membuat Humaira memejamkan matanya. Ya dirinya mulai bisa menarik benang merah disini. Dia mulai bisa mengambil kesimpulan.
Kesimpulan tentang, kenapa Rachel begitu jahat kepadanya. Kenapa Rachel begitu terobsesi memperlakukannya begitu buruk, menjatuhkan mentalnya dan membuatnya seperti boneka hidup untuk Rachel.Â
Ternyata semua itu terjadi karena papanya yang tak bertanggung jawab. Karena papanya yang mengabaikan Rachel hingga gadis itu menjadi seperti ini.
"Humai gak percaya Papa bisa senekat ini. Apa papa tahu?" jeda Humai dengan marah.
Wajahnya sampai memerah. Kedua tangannya terkepal kuat. Rasanya dia ingin memukul papanya itu sekarang.
Humaira adalah salah satu anak yang mendapatkan perlakuan buruk dari Mama Shadiva. Kehidupannya di masa lalu sangat amat kelam dan membuatnya tahu bagaimana posisi Rachel saat itu.
Dia adalah anak yang selalu dituntut sempurna. Dia adalah anak yang tak mendapatkan kasih sayang yang sama dari ibunya. Hanya almarhum papa angkatnya lah yang menyayangi dirinya dengan tulus.
"Karena perbuatan Papa. Rachel menjadi sosok yang jahat. Karena Papa yang lalai akan tanggung jawab, membuat Rachel besar dengan ambisi dan kebencian yang dalam padaku, Pa."
"Dia hanya tahu bahwa aku musuhnya. Aku adalah orang yang merebut kebahagiaannya. Hingga dulu dia melampiaskannya dengan menyiksaku. Menjebakku, mempermalukanku di seluruh area kampus dan juga membuat Jay lahir tanpa kebahagiaan yang sempurna!"Â
Humaira melampiaskan semuanya. Dia benar-benar melampiaskan semua yang selama ini ia pendam. Apa yang ingin ia ceritakan dulu ternyata tak lebih ubahnya semua karena papanya ini.
Apa yang papanya lakukan, membuat Rachael menjadi orang yang egois dan merubahnya menjadi wanita jahat.Â
"Papa tahu, Mai. Papa menyesal. Papa minta maaf sama kamu dan Mama," kata Papa Hermansyah menatap anak dan istrinya.Â
Dia bisa melihat tatapan dua wanita kesayangannya penuh luka ke arahnya dan dirinya tak bisa melakukan apapun. Apa yang terjadi memang kesalahannya.
"Maaf darimu bukan untukku dan Mama, Pa. Tapi…" jeda Humai menatap papanya dengan lekat. "Untuk Rachel. Anak gadis yang telah Papa ubah menjadi monster kecil karena kelalaian Papa akan tanggung jawab."Â
__ADS_1
~Bersambung
Percayalah Humai masih kecewa aja. Bukan dia gak nerima Rachel atau marah sama papanya tapi Humai tahu alasan Rachel jadi jahat karena kecemburuan akan kasih sayang dari papanya.