Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Ulah Jay


__ADS_3

...Terkadang seorang anak akan menjadi posesif ketika dia sangat takut kehilangan sosok yang sangat berarti dalam hidupnya. ...


...~JBlack...


...🌴🌴🌴...


Tanpa terasa waktu terus bergerak dengan cepat. Hari yang pagi sudah berganti dengan siang. Banyak salju yang sudah mencair dan membuat suasana sedikit lebih hangat daripada di pagi hari.


Terlihat seorang anak laki-laki tengah duduk tenang di samping ibunya yang tengah menggambar pola di atas kain. Anak laki-laki itu sejak tadi hanya duduk diam sambil memegang ponsel milik ibunya.


Jay, dia tak berpindah kemanapun. Bahkan sampai Humai duduk dibawah. Anak itu terus ikut dan membuat siapapun yang melihatnya ikut merasa gemas.


"Jay sama Ante aja yuk! " Ajak Hae kesekian kalinya.


Kepala mungil itu menggeleng. Dia menatap Hae dengan wajah polosnya.


"Jay disini aja, Ante, " Ucap Jay dengan sopan.


Anak itu benar-benar tak mau jauh dari Humai. Seakan di manapun Ibunya ada makanan dirinya harus ada di dekatnya.


"Disini dingin. Ayo nanti Ante buatin coklat panas, " Ajak Hae yang memang sangat ingin bermain dengan Jay.


Kepala itu tetap menggeleng. Jay tetaplah Jay. Meski dia penurut, kepalanya hampir sama dengan Humai dan Syakir. Sama-sama keras kepala di waktu yang tertentu.


"Nggak mau! " Ucap Jay sambil semakin merapatkan tubuhnya dengan sang ibu.


Gerakan itu membuat goresan di lain sedikit melenceng. Namun, bukannya marah. Humai menghentikan gerakannya dan membenarkan posisi duduk putranya itu.


"Jay duduk tenang disini okey. Ibu mau menggambar nih, " Ujar Humai memberikan pengertian.


"Iya, Bu. "


Akhirnya Humai mengangguk. Lalu dia menatap ke arah Hae dengan pandangan tak enak hati.


"Gapapa, Hae. Jay memang begitu. Susah-susah gampang buat maklumin dia, " Kata Humai memberikan pengertian.


Tak lama semua orang kini kembali fokus dengan pekerjaan mereka. Ye Jun, Hae, Sefira dan Humai. Sedangkan Dong Min, pria itu sedang keluar untuk membeli makanan.


"Makanan datang! " Pekik Dong Min sambil mendorong pintu galeri.


Pria yang memiliki tubuh tinggi dan putih itu terlihat menenteng makanan di kanan kirinya. Dua buah plastik berisi kotak box yang tersusun rapi itu terlihat sangat mudah dibawa oleh Dong Min sendirian.

__ADS_1


"Ayo kita makan siang dulu. Hentikan semua pekerjaan kalian! " Kata Ye Jun dengan tegas.


Ye Jun adalah tipikal bos yang sangat tegas. Dimana jam bekerja maka mereka harus fokus untuk bekerja. Jika waktunya makan dan istirahat maka semua orang harus menghentikan kesibukannya. Tak boleh ada yang melanggar, tak boleh ada yang tak patuh karena Ye Jun adalah orang yang disiplin.


Semua orang akhirnya berkumpul duduk di lantai dengan diberi karpet besar yang hangat. Karpet berbulu itu memang dikeluarkan karena semua orang sangat sayang pada Jay.


Merasa khawatir anak itu sakit dan kedinginan maka mereka semua memberikan karpet bulu itu untuk menjadi alas duduk agar tubuh Jay mereka jadi hangat.


"Kamu beli berapa, Sayang? " Tanya Hae pada kekasihnya.


"Lima, " Jawab Dong Min dengan entengnya.


"Terus Jay? Kamu anggap apa? Kenapa gak dibelikan? " Semprot Hae yang membuat Dong Min memukul dahinya.


Dia benar-benar lupa. Kebanyakan pikiran tentang perubahan desain membuat Dong Min melupakan sesuatu.


"Maafkan aku. Aku lupa, Mai. Aku akan membelikan lagi untuk si bayik lucu ini, " Kata Dong Min dengan cepat.


"Gak perlu, Min. Biarkan putraku makan bersamaku, " Ujar Humai mencegah lalu memberikan kotak makannya pada putranya.


Meski perut Humai bisa dibilang kosong. Dia benar-benar lapar. Namun, demi putranya dia rela memberikan makanan miliknya.


Jay adalah sosok di atas segalanya. Jay adalah anak yang sangat dia sayangi melebihi apapun. Putranya adalah orang yang selalu ada untuknya dan membuatnya rela mengorbankan apapun.


"Aku tau kalian orang Indonesia, 'kan? Jadi aku carikan makanan Indonesia saja, " Ujar Dong Min dengan tersenyum.


"Terima kasih banyak, Min, " Kata Sefira dan Humai bersamaan.


"Sama-sama."


Akhirnya Humai menyuapi putranya. Semua orang mulai menyantap makanan mereka masing-masing kecuali Ye Jun.


Pria itu tak makan dan malah dia membuat tingkah yang membuat Hae dan Ye Jun terkejut.


"Mai, makanlah punyaku ini!" Kata Ye Jun memberikan kotak makanan miliknya pada Humai.


Hal itu tentu membuat tatapan semua orang beralih padanya.


"Eh tapi gak perlu. Ini pasti juga Jay gak bakal abis, " Ujar Humai tak enak hati.


"Makanlah. Sekotak itu pasti habis untuk Jay, " Kata Ye Jun sambil beranjak dari duduknya.

__ADS_1


Pria itu lekas keluar dari ruangannya sambil membawa ponselnya. Sepeninggal Ye Jun, Humai menatap kotak makan itu.


Jujur dia tak merasa baper. Hanya saja Humai merasa bersalah dan tak enak hati.


"Ibu, " Panggil Jay pelan yang membuat Humai tersadar. "Ibu mikirin Om Ye Jun? "


"Eh." Humai membelalakkan matanya.


Bagaimana bisa putranya berpikiran seperti itu padanya. Bahkan Humai tak pernah terusik apapun dengan keberadaan Ye Jun. Mau ada dia atau tidak. Mau bagaimanapun sikapnya, tingkahnya, penampilannya tak membuat Humai berpaling dari suaminya.


Ucapan Jay juga membuat Sefira yang ada di samping anak itu mendengar. Berbeda dengan Hae dan Dong Min. Dua orang itu terlihat sedang bucin sambil berbincang antara satu dengan yang lain.


"Ngapain Ibumu mikirin dia, Jay. Ayah Syakir lebih tampan. Gak bakal ada yang bisa gantiin Ayahmu di hati ibumu itu, " Kata Sefira yang membuat Humai menggelengkan kepalanya.


Sahabatnya itu memang paling aktif jika berbicara. Paling banyak tak bisa mengontrol emosinya jika menyangkut tentang mereka.


"Beneran, Bu? "


Humai menghentikan tawanya. Dia menatap ke arah putranya yang terlihat menunggu jawabannya. Dengan pelan, Humai mengangkat tangan kirinya yang tak kotor lalu mengusap wajah putranya.


"Bener, Nak, " Ujar Humai dengan serius. "Gak bakal ada yang bisa gantiin Ayah Syakir di hati Ibu. Cuma Ayah yang ada dipikiran Ibu, bukan pria lain."


Terlihat wajah anak itu sedikit lebih lega. Bahkan dia tersenyum bahagia saat apa yang dia pikirkan tak terjadi.


Memang kelakukan anak dan Ayah itu sama-sama meresahkan. Keduanya sama-sama posesif dengan apa yang mereka punya. Tak ada yang mau saling berbagi kecuali di antara mereka berdua.


Baik Jay ataupun Syakir. Akan menjadi garda terdepan untuk pria yang mau mendekati wanita kesayangan mereka.


"Ayo makan lagi! " Kata Humai lalu menyuapkan nasi itu ke dalam mulut Jay.


"Ayah udah makan apa belum, Bu? " Tanya Jaya pada ibunya.


Humai tersenyum. Lihatlah putranya itu, dia sangat perhatian pada dirinya ataupun pada Syakir. Jay akan selalu bertanya seperti itu setiap kali di antara Syakir atau Humai tak bersamanya.


"Ibu tak tahu. Lebih baik kita telpon Ayah aja. Bagaimana? "


Wajah itu terlihat bahagia. Kepala mungil itu mengangguk setuju untuk menghubungi ayahnya.


"Telepon Ayah coba tapi Jay sambil makan. Ayo! "


~Bersambung

__ADS_1


Hahaha Jay beneran duplikat dah. BTW siapin hati buat persiapan pisah sama Bang Syakir Humai ya. Otw menuju tamat ehhh. Huhuhu


__ADS_2