Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Awal Mula Kehancuran Syakir


__ADS_3

...Ternyata apa yang aku tutupi selama ini harus terbongkar di depan mata sosok yang paling aku sayangi....


...~Humaira Khema Shireen...


...🌴🌴🌴...


Setelah mengatakan itu, Rein lekas berbalik. Dia menatap Mama Ayna dan Papa Haidar yang juga sedang menatapnya. Meski ada perasaan kecewa karena mereka ikut andil membohonginya. Namun, Rein masih ingat bagaimana kebaikan kedua orang tua Syakir. 


Bagaimana Mama Ayna dan Papa Haidar yang merawatnya, menjaganya dan menemaninya. Rein seperti berada di tengah tebing curam. Disisi lain dia benci keluarga Syakir karena perbuatan suami kakaknya itu, tapi disisi lain dia  juga bersyukur karena melalui itu jalan dirinya untuk sehat mulai terbuka lebar.


"Aku mau ke ruangan Kak Humai," kata Rein dengan pandangan pasrahnya.


"Ayo! Tante temenin ya?" 


Rein menggeleng. Entah kenapa dia ingin segera ke ruangan kakaknya untuk berbincang berdua. Mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi dan menjadi penguat untuk Humaira. 


"Aku ingin bertemu dengan Kak Humai berdua saja. Aku ingin berbincang dengannya," ucap Rein lalu dia menatap seorang pria yang merupakan orang suruhan Mama Ayna untuk menjaga Sefira disini. 


"Baiklah," sahut Mama Ayna tak mau menolak. "Antar Rein ke kamar Humai sekarang. Biarkan dia disana bersama menantuku!"


"Baik, Nyonya." 


Akhirnya Rein mulai kembali duduk di kursi roda. Lalu orang suruhan Mama Ayna mengambil alih kursi itu dan mendorongnya keluar dari kamar.  


Sungguh dia tak mau ada di ruangan yang sama dengan Syakir. Pria itu benar-benar menghancurkan perasaannya sebagai seorang adik dari Humaira Khema Shireen.


Semua hinaan yang keluar dari bibirnya membutuhkan jawaban yang hanya bisa dijawab oleh Humai. Hal itulah yang membuat Rein memilih pergi dari sana dan meninggalkan Mama Ayna, Papa Haidar, Syakir dan Rachel.


"Sudah puas, Syakir? Sudah puas sekarang?" tanya Mama Ayna menunjuk wajah putranya. 


Jangankan Rein. Dia yang merupakan ibu kandungnya sendiri merasa malu dengan tingkah anak pertamanya. Dengan apa yang sudah pria itu lakukan dan hinaan yang dikeluarkan, membuat Mama Ayna tak memiliki muka lagi untuk menemui Rein. 


"Katakan pada Mama, Syakir! Apa kau sudah puas sekarang?" pekik Mama Ayna mencengkram dua kerah baju Syakir hingga tatapan anak dan ibu itu saling memandang dengan lekat. 


"Kau sudah puas menghina istrimu? Kau puas menghina anakmu? Kau puas mencaci makinya, hah?" 

__ADS_1


Syakir benar-benar merasakan kemarahan mamanya. Dia bahkan bisa merasakan cengkraman di kerah bajunya sangat kuat. 


"Karena perempuan ini, kau menjadi pria buta arah, Nak! Karena perempuan ini, kau tak bisa berfikir mana wanita yang baik dan mana wanita yang buruk." 


"Jangan menilai Rachel jika Mama belum mengenalnya!" seru Syakir yang membuat Mama Ayna mengangguk. 


"Ya. Mama memang belum mengenalnya, Nak. Begitu juga dengan kamu," ujarnya dengan pelan dan menusuk. "Kamu hanya tahu luarnya saja selama ini. Kamu belum tahu apa saja yang sudah perempuan ini lakukan kepadamu!" 


Mama Ayna berjalan ke arah Rachel yang sedang menatapnya juga. Wanita yang telah melahirkan Syakir dan Sefira itu menatap penuh kebencian ke arah Rachel.


Keterdiamannya selama ini bukan karena ia tak tahu apapun. Namun, Mama Ayna adalah orang yang diam tapi sebenarnya dia sudah mengetahui segalanya.


"Kita lihat sampai kapan kau memakai topeng busukmu ini, hah!" seru Mama Ayna menunjuk Rachel yang juga menatapnya tanpa takut. "Aku pastikan setelah semua yang terjadi. Kau akan mendekam di penjara!" 


Jantung Rachel berdegup kencang. Matanya terbelalak menatap Mama Ayna yang mengucapkannya tanpa main-main. Dia merasa kesulitan bernafas saat mendengar ancaman itu. Tubuhnya bahkan gemetaran dan sekelebat ancaman Sefira terbayang di matanya.


"Apa wanita tua ini tahu tentangku sama seperti Sefira? Jika iya, aku harus melenyapkannya!" ucapnya dalam hati dengan tangan terkepal kuat.


Setelah urusannya dengan Rachel selesai. Mama Ayna lekas berjalan menuju tempat dimana suaminya berdiri. Dia menggenggam tangan Papa Haidar hingga pasangan suami istri itu saling menatap.


"Syakir!" panggil Papa Haidar yang membuat Syakir menatap kedua orang tuanya. "Papa mengeluarkanmu dari kartu keluarga. Kau bukan keluarga Alhusyn lagi. Lalu perusahaan, semua aset dan kartu yang kau miliki. Kembalikan pada Papa secepatnya!" 


Jantung Syakir mencelos. Dia tak menyangka jika orang tuanya serius dengan ucapannya. Dirinya tak percaya jika namanya dicoret dari kartu keluarga. 


"Dan mulai besok, kau tak perlu datang ke perusahaan lagi!" 


...🌴🌴🌴...


Sedangkan di tempat lain. Disinilah Rein berada. Berhadapan dengan sosok Humai yang duduk di atas ranjang. Tak ada siapapun lagi disana karena Sefira telah diminta keluar oleh Rein.


"Kakak merindukanmu," kata Humai yang ingin memeluk adiknya.


Namun, entah kenapa sejak kedatangan Rein. Remaja muda itu sepertinya hendak mengatakan sesuatu kepadanya. 


"Katakan semuanya padaku, Kak! Jangan berbohong lagi. Kakak gak bahagia, 'kan menikah dengan Kak Syakir?" 

__ADS_1


Tubuh Humai menegang kaku. Dia menatap adiknya yang menatapnya dengan lekat. 


"Apa maksud kamu, Dek? Apa…" 


"Jangan menutupi apapun dari Rein lagi, Kak. Rein sudah tahu kalau kalian berdua menikah karena kakak hamil duluan." 


Humai langsung menundukkan kepalanya. Dia tak tahu darimana Rein mengetahui semuanya. Segala hal yang ditutupi sudah terdengar di telinga adik kandungnya ini. 


"Katakan pada Rein! Kakak tertekan bukan selama ini? Kakak gak bahagia, 'kan? Kakak hanya pura-pura kuat karena anak ini, 'kan?" 


Humai merasa tak tahu harus menjawab apa. Namun, air matanya yang menetes membuat Rein mengartikan jika air mata itu mewakili perasaan kakaknya. 


Dia segera menarik Humaira ke dalam pelukannya. Dia mencoba menenangkan kakak kandungnya ini.


"Rein lihat suami Kakak berciuman dengan wanita lain di rumah sakit ini. Dari sana Rein tahu semuanya." 


Kedua mata Humai terpejam. Dia tak menyangka jika semuanya selesai. Apa yang Humai coba tutupi dari adiknya ternyata sudah terbongkar semuanya. Ternyata tanpa dia membukanya sendiri, Tuhan telah menunjukkan kuasanya. 


Dengan pelan, Humai akhirnya menceritakan semuanya. Bagaimana dia bisa terjebak dalam pernikahan ini. Bagaimana kejadian saat dia bisa berada di ranjang Syakir. Kejadian pemerkosaan itu, semua dia katakan tanpa di tutupi.


Rein yang masih remaja tapi dia sudah mengerti. Dia tak menyangka kakak kandungnya mengalami kesulitan yang lebih dalam lagi disaat keadaan mereka hancur tak berkeping. 


"Apa Kakak masih mau bertahan dengannya?" ucap Rein setelah Humaira selesai menceritakan semuanya.


Ibu hamil itu tergugu. Dia mencoba menghapus air matanya yang sejak tadi mengalir dengan deras. Kemudian dia menatap sosok adiknya yang juga sedang menatapnya.


"Apa Kakak masih mau harga dirinya diinjak-injak lagi?" tanya Rein dengan pandangan lekatnya. 


"Cinta boleh tapi jangan bodoh, Kak!" kata Rein dengan menggenggam tangan kakaknya. "Jika cinta Kakak tak dihargai maka lepaskan. Ayo kita tinggalkan Kota Malang dan cari kebahagiaan di tempat lain. Kakak mau?" 


Humaira menatap wajah adiknya. Dia bisa melihat keseriusan disana. Tanpa ragu, ibu hamil itu membalas genggaman tangan adiknya dan menghapus air matanya.


"Kakak mau."


~Bersambung

__ADS_1


Woo ada yang bahagia. Ayo semangat komen guys. Biar aku makin bahagia haha. Besok crazy update lohh!


__ADS_2