Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Tamparan!


__ADS_3

...Sejak dulu aku sudah banyak menerima sakit pada mentalku tapi ketika kamu yang melakukannya, semua itu tersimpan rapi dalam ingatanku....


...~Humaira Khema Shireen...


...🌴🌴🌴...


"Nona, lebih baik istirahat saja. Biar kami yang memasak untuk makan malam," kata pelayan yang masih berada disana.


Humaira yang saat itu sedang menyiapkan bahan-bahan makanan segera menoleh. Gadis itu tahu jika tiga pelayan yang disewa oleh ibu mertuanya pasti khawatir kepadanya. Namun, malam ini, dia ingin memulai memasak sendiri.


Meski dilarang, Humai hanya ingin menjalani kehidupannya sebagai seorang istri. Bagaimanapun rumah tangga ini berjalan, bagaimanapun pernikahan ini terjadi. Istri tetaplah seorang istri. Mereka menikah sah dan direstui oleh Tuhan. 


Humai harus tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri dan calon ibu untuk anak mereka. Dia harus bisa menerima semua perlakuan suaminya. 


"Nona," panggil pelayan lagi yang berdiri di dekatnya. "Nyonya akan marah jika tahu Nona pergi ke pasar sendiri dan sekarang memasak sendiri." 


Humai tersenyum. Dia memegang tangan wanita paruh baya ini dan memberikan tatapan mata penuh keyakinan.


"Jangan khawatir, Bu. Humai bakalan baik-baik aja. Ibu istirahat saja sama yang lain." 


Lihatlah, hati wanita selembut ini. Dia selalu menghormati orang tanpa melihat statusnya. Menyayangi semua orang yang memperlakukannya dengan baik. 


Humai merasa dia dihargai oleh orang adalah kebahagiaan untuknya. Untuk dia yang selama ini sering dibully oleh orang. Keberadaannya yang tak dianggap. Maka dari itu, selagi mereka baik padanya, Humai akan balas sebaik mungkin kepadanya.


"Nona…" 


"Ibu boleh bantu, Humai. Bagaimana?" 


Mau dipaksa apapun, Humai mengerti kekhawatiran wanita paruh baya di depannya ini. Mereka pasti takut terjadi sesuatu pada Humai yang sedang hamil muda. Ditambah bagaimana posesifnya mertua yang membuat mereka pasti takut.


Akhirnya Humai mulai memasak makanan dengan hati yang bahagia. Sejak dulu dia suka memasak tapi ia tahan ketika mamanya tak pernah mengizinkannya masuk ke dapur. 


Almarhum Mama Shadiva selalu bilang, jika tugas Humai adalah belajar dan bekerja sampingan. Dia tak perlu melakukan pekerjaan rumah agar jam belajarnya lebih banyak. 


Maka dari itu, dia selalu belajar tapi tak pernah dipraktekkan. Lalu sekarang, ketika dia bisa bergerak kesana kemari dengan bebas. Melakukan apa saja di dapur yang dulu ingin dia masuki membuat suatu kebanggaan dan kesenangan untuknya. 


Akhirnya tepat pukul setengah tujuh malam. Menu makan malam sudah siap terjajar rapi diatas meja makan. Humai tersenyum bangga pada dirinya sendiri karena bisa melalui proses pertama mengacak-ngacak dapurnya sendiri.


"Kami pulang dulu ya, Nona," pamit tiga pelayan itu pada Humai yang sedang menatap ke arah meja makan.


"Eh jangan dulu, Bu," kata Humai menolak.


Dia membawa tiga orang itu ke dapur dan memberikan tiga buah tempat bekal makanan yang sudah dia siapkan.


"Ini buat Ibu di rumah," ujarnya dengan tulus membagikan. 

__ADS_1


"Tapi, Non. Ini terlalu banyak." 


Humai menggeleng. Dia tersenyum sambil mengelus punggung tangan wanita yang membantunya memasak.


"Ibu sudah bantuin Humai beresin rumah dari pagi. Humai bener-bener mau ucapin makasih banyak," kata Humai dengan tulus.


"Kami juga terima kasih, Nona. Semoga Allah mudahkan segala urusan, Nona," ujar ketiganya dengan tulus.


"Aamiin." 


Akhirnya Humaira mengantarkan kepergian ketiga pelayan itu. Dia bahkan melambaikan tangannya dengan senyum kebahagiaan. Tak ada dalam hati Humai membedakan dia dan ketiga pelayan itu. Menurutnya semua yang ada didunia ini sama. 


"Sekarang, kita tunggu ayah kamu pulang ya, Nak," ucap Humai mengelus perutnya. 


...🌴🌴🌴...


Entah sudah berapa lama menunggu. Perempuan yang tengah berbadan dua itu dengan setia menunggu kedatangan sang suaminya. Sejak tadi dia duduk di sofa ruang tamu sambil sesekali menatap jam yang tergantung di dinding rumahnya. 


Jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan sampai saat ini belum terlihat batang hidung Syakir sedikitpun. Pria itu benar-benar belum pulang dan membuat Humai merasa khawatir.


Dia hendak menghubungi suaminya itu tapi dirinya sendiri belum memiliki nomor ponsel pria itu. Hingga hal utama yang hanya bisa dia lakukan adalah menunggu.


"Kemana kamu, Kak? Kenapa belum pulang!" 


Hati seorang istri tetaplah selembut kapas. Perbuatan suami yang kejam tak akan bisa membuatnya tergoyahkan akan rasa khawatir menanti kepulangan sang suami ke rumah. 


"Apa aku harus menghubungi Sefira dan meminta nomor ponsel Kak Syakir?" gumamnya pada diri sendiri. "Tapi nanti kalau Fira tanya lebih jauh. Gimana?"


Saat Humai hampir memencet tombol panggilan. Sebuah suara mesin mobil di depan rumahnya membuat bibir Humai melengkung ke atas. Dia lekas keluar dari rumah dan melihat Syakir baru saja keluar dari mobil.


"Kakak darima… Aw!" 


Humai meringis. Syakir langsung mencengkram tangannya dan menariknya masuk ke dalam rumah.


"Kakak ada apa?" 


"Aku bukan kakakmu!" serunya dengan nada dingin. 


Humai mampu melihat bagaimana ekspresi wajah Syakir yang seperti menahan amarah. Wajah pria itu merah padam dengan gigi gemeretak menahan emosinya yang meluap.


"Kakak!" 


"Kau!" seru Syakir melepaskan tangan Humai dengan kasar.


Dia menunjuk wajah Humai dan tak memperdulikan bagaimana wanita yang berstatus istrinya itu kesakitan. 

__ADS_1


"Apa yang sudah kau bisikan pada Mama, hah?" ujarnya dengan marah.


Mata pria itu melotot marah. Bahkan Syakir sampai gemetar karena sejak tadi menahan emosinya.


"Maksud Kakak apa?" 


"Jangan pura-pura padaku, Gadis Licik! Kau terlalu banyak tipu muslihat dan itu tak mempan padaku!" teriaknya dengan marah.


"Aku…" 


"Kau lakukan apa padaku Mamaku, sampai dia menampar Rachel, hah?" 


Jantung Humai berdetak kencang. Tubuhnya menegang dan kesulitan menelan ludahnya saat mengingat kejadian yang terjadi di mall. 


"Aku tak melakukan apapun, Kak. Rachel sendiri yang bersalah. Dia…" 


"Kau!" seru Syakir dengan tajam. "Rachel kau fitnah dan kau berani mengatakan bahwa dia yang bersalah?" 


"Kau benar-benar gadis licik dan jahat! Kau adalah perempuan kejam yang pernah aku kenal!" 


Plak.


Wajah Syakir terhempas ke samping. Dia memegang pipinya yang panas karena tamparan Humai. 


Plak.


Syakir balas menampar. Kilat marah jelas terlihat di matanya.


"Beraninya kau menamparku?" 


Humai meringis. Dia memegang pipinya yang panas karena balasan tamparan sang suami.


"Aku berani karena aku tak bersalah!" ujar Humai membela diri. "Aku tak melakukan apapun pada kekasihmu itu, Kak."


Tubuh Syakir mematung. Dia menatap tak percaya jika Humai tahu bahwa Rachel adalah kekasihnya. Namun, jika dipikir lagi, bukankah seperti ini lebih baik.


"Kau pembohong!" seru Syakir dengan marah.


Dia tak percaya dengan semua yang diucapkan oleh Humai. Di mata Syakir, Humai hanyalah wanita jahat dan tak berperasaan. Dia adalah wanita yang sudah merusak kebahagiaannya.


"Terserah kamu mau mengatakan aku apa, Kak. Tapi yang pasti jangan menyesal jika Kakak membela orang yang salah!" 


~Bersambung


Masih permulaan. Pelan-pelan aja. Ingat seorang ibu itu bisa jadi singa kalau anaknya dan kesabarannya diuji.

__ADS_1


Tapi Syakir makin bikin gemes juga.


Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat ngetiknya.


__ADS_2