
...Kehilangan adalah masa menyakitkan dan melupakan adalah hal yang sulit dilakukan. Mencoba berdamai dan menerima semuanya serta menatap masa depan, membuatku memiliki kekuatan baru. Kekuatan untuk melewati hari-hariku tanpa dirinya lagi....
...~Humaira Khema Shireen...
...🌴🌴🌴...
"Kau tak akan pernah bertemu lagi dengan mereka. Kau tak akan tahu dimana mereka berada!" kata Papa Haidar yang mulai beranjak berdiri dan hendak meninggalkan anaknya.
Namun, baru beberapa langkah. Pria itu menghentikan langkah kakinya dan berbalik.
"Kau tak akan menemukan mereka lagi. Kau juga saat ini sudah bebas dari beban yang selalu kau hina itu," ucap Papa Haidar seakan menusuk hati Syakir. "Saat ini, tunggulah surat perceraiannya datang kepadamu."Â
"Tapi Humai tak bisa cerai denganku, Papa. Dia dalam keadaan hamil!" kata Syakir secara spontan yang membuat Papa Haidar menaikkan salah satu alisnya.Â
"Kenapa kau seperti menahan perceraian ini?" tanya Papa Syakir menatap anaknya dengan lekat. "Semuanya bisa terjadi dengan uang. Jadi kau siapkan saja tanganmu itu untuk menandatangani surat perceraian kalian yang akan datang kesini."Â
Setelah mengatakan itu, Papa Haidar lekas pergi dari sana menyusul anak dan istrinya. Dia tak menatap lagi ke belakang dan melihat bagaimana ekspresi wajah Syakir.
Seakan pria paruh baya itu tahu jika putranya mulai merasa kehilangan. Jika Syakir mulai merasa berat dengan perceraian ini. Dari ekspresi wajahnya saja, Papa Haidar sangat tahu apa yang dirasakan duplikatnya itu.
Saat dia mulai sampai di mobil yang diparkirkan di depan rumah menantunya. Pria tua itu lekas masuk. Dia duduk di kursi kemudi dengan pelan.
"Bagaimana, Pa?"Â
"Seperti yang ada dalam bayangan Mama. Syakir bertanya perceraian ini tak akan bisa dilakukan karena Humaira hamil."Â
Mama Ayna meneteskan air mata. Dia tahu sebenarnya putranya mulai bergantung pada Humai. Seakan putranya mulai ada ikatan dengan mereka berdua.
"Caramu berhasil, Giska. Tendangan bayi itu pasti membuat hati kakakmu mulai goyah."Â
Masih ingat ketika Sefira meletakkan tangan Syakir di perut Humai. Perempuan muda itu sengaja melakukan itu karena dia yakin ikatan ayah dan anak itu sangat kuat.
Dan benar saja! Sekarang Syakir seakan tak rela untuk bercerai. Bahkan mencari alasan yang seharusnya sudah sangat tahu jika semuanya bisa dengan uang. Pria itu lupa jika uang ada di tangan mereka dan mudah melakukan semuanya dalam sekejap.Â
"Biarkan Kak Syakir tenggelam dengan penyesalannya. Kita hanya bisa menunggu saat dimana dia hancur dan kembali pada kita keluarganya."
Setelah mengatakan itu. Papa Haidar melajukan mobilnya. Mereka meninggalkan rumah Humaira dan membiarkan Syakir tinggal disana untuk meratapi semuanya.
Bukankah rumah itu adalah rumah yang dia jadikan neraka dan permainannya sendiri. Bukankah rumah itu yang menjadi bukti bagaimana dia jahat dan tega pada anak dan istrinya. Maka biarkan Syakir membayangkan itu semua disana.Â
...🌴🌴🌴...
Jakarta, rumah Almeera.
Kedatangan Humaira tentu disambut sangat antusias oleh keluarga Almeera. Bahkan Bia saja sampai begitu bahagia dengan adanya perempuan hamil itu. Dia sangat senang dengan kehadiran Humaira seakan menemukan teman baru disana.Â
__ADS_1
"Makanlah yang banyak. Kamu dan anakmu butuh nutrisi yang penuh," kata Almeera meletakkan sayuran lagi di atas piring Humaira.
"Tapi, Mbak. Ini terlalu banyak," ujar Humaira menatap piringnya yang banyak dengan banyak macam makanan.Â
Almeera menggeleng. Dia tersenyum dan mengusap pundak Humaira.
"Jangan samakan di sana dengan disini. Makanlah yang banyak dan jangan memikirkan apapun. Kamu sekarang bebas melakukan semuanya, Mai. Kamu bebas melakukannya tanpa hinaan dari dia lagi," kata Almeera dengan pelan yang membuat Humaira menatap istri Bara berkaca-kaca.Â
"Mbak…"Â
Almeera mengangguk seakan menjawab perkataan yang belum Humai lontarkan.
"Demi putramu, Mai," ucap Almeera yang sudah diceritakan jenis kelamin anak Syakir oleh Humai.
Akhirnya Humaira tak membantah. Dia lekas memakan makanan yang sudah disiapkan di piringnya. Mereka mulai makan malam dengan tenang dan lahap. Tak ada kesedihan di sana.
Bahkan Humai bisa merasakan kehangatan keluarga Almeera. Bagaimana mereka saling mengasihi dan menyayangi disana.Â
Setelah acara makan malam itu selesai. Almeera lekas mengajak keduanya ke kamar. Ya, sejak kedatangan mereka tadi, semua orang tak langsung pulang. Almeera dan keluarga malah mengajak Humai dan Rein jalan-jalan sebentar.Â
"Ayo ke kamar kalian. Aku sudah menyiapkan dua kamar," kata Almeera yang membuat Humai menghentikan langkahnya.
"Satu kamar aja gapapa, Mbak. Aku gak mau ngerepotin, Mbak?"
Humaira tersenyum bahagia. Jujur sebenarnya dia terkejut mengetahui Almeera hamil sepulang dari Malang. Benih Bara benar-benar mantap dan membuat Humaira juga ikut bahagia.
"Iya, Mbak."Â
"Jadi ayo! Kasihan Rein mau istirahat."Â
Remaja pria itu sejak tadi melihat interaksi kakaknya dengan keluarga Almeera. Rein jadi tahu jika kakaknya telah dikelilingi oleh keluarga yang baik. Keluarga yang sangat tahu bagaimana menghargai mereka.Â
Menghargai sosok yang tak memandang sosial dan harta. Bagaimana mereka saling membantu dan memeluk satu dengan yang lainnya. Hingga Rein sendiri saja mulai merasa lega.
Setidaknya kakaknya disini tak akan berdua saja dengan dirinya. Setidaknya kakaknya ada teman untuk bercerita yaitu almeera dan ada teman bermain yaitu Bia.Â
"Ini kamar kamu, Rein. Selamat istirahat," kata Almeera membuka pintu kamar yang ada di lantai pertama.Â
"Terima kasih banyak, Mbak," kata Rein dengan tulus.
"Sama-sama. Masuklah! Kamu pasti capek."Â
Akhirnya remaja itu mengangguk. Kemudian dia segera masuk dan membuat Almeera mulai mengajak Humaira ke kamarnya.Â
"Semoga kamu betah disini yah," mata Almeera mulai membuka salah satu pintu tepat di samping kamar Rein.Â
__ADS_1
Keduanya masuk dan membuat Humaira menatap ke sekeliling. Dia tersenyum melihat kamarnya langsung menghadap ke arah taman.
"Semoga view yang sudah dirubah membuat kamu bahagia dan betah."Â
"Aku pasti betah, Mbak."Â
Almeera berjalan mendekati Humaira. Dia memegang kedua pundak wanita hamil itu hingga keduanya bertatapan.
"Jangan merasa sendiri, Mai. Disini sekarang semuanya ada untuk kamu. Butuh apapun katakan pada kami," kata Almeera dengan penuh kelembutan. "Kita akan melewati masa kehamilan ini bersama. Kita akan berjuang bersama sampai akhir."
"Iya, Mbak. Pasti."Â
"Jangan pikirkan hal yang tak penting lagi, oke," kata Almeera lalu tersenyum dengan bahagia. "Lebih baik kamu pikirkan saja persiapan dirimu."
"Maksudnya?" tanya Humai dengan bingung.
"Mama Ayna belum bilang sama kamu?" ucap Almeera yang membuat Humai menggeleng.
Dia ingat mertuanya itu tidak menceritakan apapun. Mereka berpisah saja tadi tak banyak bicara karena sudah merasa sangat sedih.Â
"Kamu akan kami daftarkan kuliah lagi. Lanjutkan jurusan desainer kamu, Humai. Jadilah orang sukses dan lakukan semua itu demi harga dirimu dan putra yang kau kandung!" kata Almeera dengan serius. "Buktikan pada Syakir bahwa kamu bukan gadis buruk rupa lagi. Kamu adalah Humaira yang sukses dengan status single mother."Â
~Bersambung
Yuhuu pradaaa. Mbak Humai mau di make over ye. Kuliah lagi, kerja terus sukses abis itu balik kali ya ke Malang. Haha.
Mampir juga di cerita temenku gengs.
Judul: Penjara Cinta Untuk Stella
Penulis: Rini Sya
Stella ditalak sang suami, usai dia melakukan malam pertama.
Keadaan ini membuat orang tua Stella tidak terima dan mengusir wanita cantik itu dari rumah.
Bukan hanya diusir, Stella juga dihajar hingga hampir kehilangan nyawa.
Beruntung, takdir baik masih berpihak padanya.
Dalam keadaan antara hidup dan mati itu, Stella dipertemukan dengan seorang pemuda baik hati yang diam-diam menaruh hati padanya.
Mungkinkah Stella mau menerima cinta pemuda tersebut? Ataukah dia masih mengharapkan cinta pertamanya🥰🥰
__ADS_1