Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Keributan


__ADS_3

...Percayalah tak ada sesuatu yang bertahan jika menyakitkan. Mereka akan berubah menjauhimu jika perilakumu sudah terlalu menyakitinya. ...


...~Humaira Khema Shireen...


...🌴🌴🌴...


Suara yang sangat familiar di telinganya. Suara yang pernah membuat mentalnya hancur. Suara yang membuatnya ingat akan hinaan dulu itu kini terdengar jelas di telinganya.


Humaira tentu lekas berbalik. Dia hampir kehilangan nafasnya saat melihat sosok yang sudah lama tak pernah ia temui. Ditambah hatinya semakin takut tatkala melihat siapa yang ada dalam gendongan pria itu. 


"Kak Syakir," lirih Humaira dengan suaranya yang teramat pelan. 


Air mata Humaira mengalir dengan derasnya. Kepalanya menggeleng saat pikiran dimana dia takut Syakir datang dan merebut putranya. Bayangan dimana Syakir mengambil anak kandungnya itu kini berputar di kepala Humai.


"Jangan ambil anakku!" Kata Humaira mendekat lalu menarik Jay dari gendongan Syakir.


"Aku tak berniat mengambil Jay. Aku…" 


Humaira menggeleng. Dia memeluk Jay dengan perasaan yang tak bisa dijabarkan. Entah kenapa bayangan dimana dulu Syakir sering menghinanya kini kembali berputar di telinganya.


Dimana saat pria itu meminta dia menggugurkan kandungannya. Membunuh anak yang ia kandung berdengung di telinganya. 


"Humai," panggil Syakir lagi yang membuat Humaira menatap ke arah pria itu dengan air mata mengalir dengan hebatnya.


"Kumohon jangan ambil Jay. Dia anakku!" Ujar Humai yang perasaan keibuannya mulai keluar. 


Pemandangan ini tentu membuat siapa saja yang ada disana menatap keduanya. Namun, saat wajah Syakir yang familiar di mata mereka, membuat para mahasiswa yang tahu akan kasus dulu segera menghadang Syakir yang hendak mendekati Humaira dan Jay. 


"Kenapa kalian menghadangku! Minggir kalian!" Kata Syakir saat para anak muda itu menghalangi jalannya.


"Kau pria tak tahu malu! Pergi kau dari sini!" Kata seorang wanita yang merupakan satu angkatan dengan Humai. "Kau memperkosa anak muda seperti kami lalu membuatnya hamil dan tak mengakui anakmu sendiri. Lalu sekarang dengan beraninya kau datang kemari, hah?" 


Syakir mengepalkan kedua tangannya. Dia tak menyangka jika beritanya itu sudah menyebar ke seluruh Indonesia.


"Jangan kau anggap kami lupa dengan kasusmu dulu. Kami ingat kau yang memperkosa Humaira. Jadi pergi kau dari sini!" 


"Kau membuat Humai ketakutan. Pergi!" Seru mahasiswa lain yang berdiri menghadang.

__ADS_1


Syakir mencoba menarik nafasnya begitu dalam. Dia tak boleh terpancing emosi dan membuat Humai serta Jay semakin ragu. Dia tak mau kedua kesayangannya itu semakin takut kepadanya. 


"Humai, plis. Aku kesini hanya ingin bicara padamu. Berikan aku kesempatan sebentar saja!" Pinta Syakir memohon.


Tatapan pria itu benar-benar tak mengandung kemarahan. Syakir berbicara dengan pelan dan penuh hati-hati.


"Nggak. Pergi!" Kata Humai dengan ketakutan. 


Tangan Humai benar-benar berkeringat dingin. Dia benar-benar terbayang masa lalunya. Takut, sedih dan kecewa bercampur menjadi satu.


Meski dasar hatinya mengatakan dia mencintai Syakir. Wanita itu tak pernah mencoba membuka hati untuk siapapun karena memang hatinya sudah untuk Syakir. Namun, bayangan tentang Syakir yang tak pernah mencarinya. 


Bayangan pria itu yang tak pernah memberikan kabar membuatnya berpikir jika Syakir tak mengharapkannya. Lalu sekarang, Humai jadi berpikiran buruk jika kedatangan Syakir hanya untuk merebut putranya itu. 


"Humai, kumohon!" 


Syakir tak menyerah. Sampai akhirnya kedatangan Lidya dan Mira yang datang dan mendorong pria itu sampai mundur beberapa langkah membuat semua perhatian semua orang tertuju padanya. 


"Pergi kau! Apa kau tak puas menyakiti Humai?" Seru Lidya dengan dada naik turun. 


"Kau tak tahu apapun. Jangan ikut campur!" Kata Syakir menatap Lidya tajam.


Persahabatan mereka yang murni membuat Humai percaya pada dua sahabatnya itu. 


"Sekarang kau kau apa lagi?" Seru Mira melanjutkan. "Lebih baik kau pergi, sebelum kami memanggil polisi karena membuat keonaran disini!" 


Mira mengancam. Dia benar-benar bisa melihat sahabatnya itu ketakutan. Baru kali ini keduanya melihat Humaira begitu kacau seperti ini.


Syakir yang tidak mendapatkan kesempatan akhirnya pergi dari sana. Dia tak mau membuat Humai dan Jay semakin takut kepadanya. Dirinya juga tak akan berhenti sampai disini. Syakir berjanji dia akan berusaha mengambil hati mantan istri dan  bocah laki-laki yang ia yakini adalah putranya. 


...🌴🌴🌴...


"Minumlah dulu, Mai," kata Lidya memberikan sebotol air putih pada Humai.


Jay, bocah laki-laki itu tetap ada dalam gendongan Humai. Ibu satu anak itu tak mau melepaskan putranya dari dirinya. Dia tak mau berjauhan dengan Jay sedikitpun. 


"Tenanglah. Dia sudah pergi, Mai," kata Mira mengusap punggung Humaira.

__ADS_1


Gadis itu masih diam. Air matanya masih mengalir. Humaira tak tahu harus melakukan apa. Pertemuan yang begitu cepat ini membuat dirinya terbayang akan rasa traumanya di masa lalu.


"Ibu," panggil Jay pelan yang membuat Humaira menatap putranya. "Om Syakir kenapa diusir?" 


Humaira bungkam. Dia bingung harus menjawab apa. Namun, bagaimana bisa anaknya terlihat begitu akrab dengan Syakir. Bahkan tahu nama mantan suaminya juga.


"Om Syakir baik sama Jay, Bu. Dia bantu Jay pipis di restoran," ujarnya yang membuat Humai menatap Jay tak percaya. 


Apa yang dimaksud putranya ini. Apa putranya ini pernah bertemu Syakir di suatu tempat. Hingga pemikiran Humai buyar saat sebuah suara pria datang dan membuat Jay lekas menoleh.


"Om Jeno," pekik Jay dengan wajahnya yang begitu sedih.


Jeno lekas meraih Jay yang merentangkan tangan ke arahnya. Dia melingkarkan tangannya di leher dosen tampan itu yang menatap ke arah Humai yang sedang menunduk.


"Kamu baik-baik saja, 'kan?" 


Pertanyaan itu membuat Humaira mendongak. Dia tak menyangka jika dosennya itu menanyakan kabarnya dengan suara yang baru kali ini terdengar begitu lembut.


Keterkejutan itu bukan hanya dirasakan oleh Humai. Baik Lidya dan Mira, keduanya juga saling pandang. Mereka juga kaget melihat sikap Jeno yang berbeda sekali pada Humai dan Jay. 


"Jay takut, Om. Ibu marah sama Om Syakir," katanya mengadu.


Humaira terlihat mengusap kedua wajahnya. Dia sangat frustasi dan ekspresinya itu bisa ditebak.


"Ayo saya antar kalian pulang," kata Jeno tiba-tiba yang membuat Humai semakin menatapnya tak percaya.


"Stand saya…" 


"Biar saya yang mengurusnya," kata Jeno menyela. 


Mira dan Lidya semakin menganga tak percaya. Keduanya semakin yakin jika Jeno, dosen killer, muda dan tampan itu pasti menaruh hati pada Humaira. 


Sedangkan Humai, wanita itu yang memang sudah tak sanggup melanjutkan acaranya ini mengangguk. Dia lekas mengambil tas miliknya dan Jay.


"Saya minta tolong jagain stand Humai sebentar yah. Nanti akan ada orang yang kesini," kata Jeno pada dua sahabat Humaira.


"Baik, Pak."

__ADS_1


~Bersambung


Pak Jeno mulai brutal nih haha. OTW maju terus dia, hahaa. Kabur.


__ADS_2