Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Pelukan Mendadak (Sefira-Jeno)


__ADS_3

...Percayalah orang baik terkadang harus menemukan wanita yang tepat untuk menjadi pendampingnya. Aku tak bisa menjadikannya orang baik tapi sahabatku pasti bisa....


...~Humaira Khema Shireen...


...🌴🌴🌴...


Canda tawa begitu terdengar di area wahana permainan itu. Tanpa Sefira dan Jeno sadari. Keduanya seakan seperti teman yang sudah kenal bertahun-tahun lamanya. Keduanya bukan seperti dosen dan sahabat muridnya. Melainkan seperti anak seumuran. 


Sefira yang terbuka. Suka berteman dengan siapapun. Tentu membuat siapapun yang mengenalnya menjadi nyaman dan tenang. Apalagi dia yang cerewet dan barbar membuat Jeno yang pendiam menjadi ikut arus miliknya. 


Humaira yang melihatnya tentu tersenyum bahagia. Setidaknya dia telah memberikan jalan. Jalan untuk keduanya saling mengenal. Dia tak tahu jodoh apa yang tertulis untuk keduanya. Takdir apa yang telah tuhan siapkan. 


Namun, bukankah berharap dan berdoa adalah jalan ninja utama untuk saling menerima takdir apa yang telah tuhan siapkan. Humaira hanya ingin dosennya tak merasakan sakit hati lagi. Tak merasakan dan memiliki perasaan kepadanya. 


Jujur bukan Humai tak tahu. Bukan dia buta atau tak peka. Dia tau arti tatapan Jeno. Tatapan yang masih tetap sama kepadanya. Tatapan yang masih tertuju padanya. Namun, Humaira juga paham bahwa Jeno sudah mulai tertarik dengan sahabatnya. 


Sikapnya dan tatapannya seakan Sefira mampu mengalihkan perhatian dosen killernya itu. Sikap barbar sahabatnya mampu membuat Jeno sedikit mengalihkan perhatiannya dari dirinya.


"Yey, menang!" pekik Sefira bertepuk tangan.


"Ayo main lagi! Aku tak mungkin kalah darimu," seru Jeno yang terlihat lelah tapi dia merasa senang. 


"Wah. Bagus. Ayo! Kau belum menyerah yah?" goda Sefira dengan wajahnya yang antusias.


Sefira memang anak yang aktif. Kedua wanita itu sebenarnya wanita yang aktif. Sefira yang ekstrovert dan Humaira yang introvert karena insecure dalam dirinya, mampu membuat Humai mengikuti arus yang Sefira buat. 


Sefira adalah wanita yang menyenangkan. Sikapnya yang terbuka pada siapapun. Tak memilih teman untuknya. Membuatnya dengan mudah berteman dengan orang lain. Mau itu lebih tua atau lebih muda. Semua orang suka dengannya. 


Humaira hanya tersenyum melihat keduanya. Dia lekas menatap sekeliling. Mencoba mencari dimana mantan suami dan putranya. Hingga tatapannya tertuju pada Syakir yang menemani putranya yang naik mobil-mobilan bergerak di tempat.


Dengan tersenyum kecil. Humaira lekas menatap keduanya. 


"Kalian habiskan saja waktu berdua yah. Aku tak mau jadi obat nyamuk," kata Humai berbicara dengan dirinya sendiri. 


Akhirnya dia mulai kabur dari sana. Humaira berjalan meninggalkan keduanya. Dia segera melangkahkan kakinya ke arah Syakir dan Jay.

__ADS_1


Bibirnya tersenyum saat melihat putranya begitu bahagia. Tawa terus menebar dari bibirnya dan membuat hati Humaira menghangat. Dia merasa apa yang telah ia putuskan membuat putranya bisa bahagia sebebas ini. 


Membuat putranya lebih berekspresi dan tak menahan hanya karena ia menangis seperti dulu. Jujur mencoba berdamai dengan masa lalu ternyata setenang itu untuk Humai. 


Dia menjadi lebih tenang. Trauma akan kejadian buruk itu perlahan tak muncul lagi dari pikirannya. Entah dia yang mulai memahami dirinya atau karena Syakir yang membuatnya melupakan traumanya itu. 


"Ayah, nanti Jay kalau sudah besar. Jay mau beli mobil kayak gini," celoteh Jay yang didengar di telinga Humai.


"Ayah belikan mau?" 


Kepala mungil itu menggeleng. "Jay beli sendiri nanti. Kalau sekarang Jay naik mobil-mobilan dulu karena masih kecil." 


Humaira tersenyum. Putranya ini benar-benar memiliki pikiran yang lebih tua dari umurnya. Dia pandai mengatakan dan mengulang ucapan orang lain. 


Apa yang Jay katakan adalah ucapannya dulu. Ketika Jay ingin beli mobil di sebuah showroom mobil. Humai bilang menunggu Jay besar dan terbukti bukan.


Sekarang anak itu mengulang ucapannya. Hal itu yang terkadang membuat Humai menahan ucapannya sebaik mungkin. Memfilter apa yang akan ia katakan karena putranya benar-benar merekam semuanya dengan baik. 


"Ibu!" pekik Jay yang membuat lamunan Humai buyar.


Disana, Syakir dan Jay menatap ke arahnya. Keduanya tersenyum ke arahnya dan membuat bibir Humai spontan ikut menarik kedua sudutnya ke atas. 


"Kenapa kamu disana sendirian?" tanya Syakir dengan tatapannya yang khawatir.


Pria itu menatap sekeliling. Mencoba mencari keberadaan dua orang yang tadi bersama mantan istrinya. 


"Mereka sedang bermain bersama dan aku lari kesini. Aku ingin memberikan…eh!" Humaira menutup mulutnya saat dia dengan enaknya mengatakan rencananya. 


Syakir tersenyum. Dia tahu apa yang ingin dikatakan oleh wanita yang ia cintai itu. Tanpa diduga, Syakir mengangkat tangan kanannya. Dia memegang tangan Humai dan menurunkan tangan itu dari bibirnya.


"Aku tau yang kamu maksud," kata Syakir dengan tersenyum. "Aku juga merestui Jeno jika dia ingin mendekati Giska." 


Humaira menatap Syakir tak percaya. Dia menatap kedua mata itu mencoba mencari pembenaran. Anggukan kepala dari mantan suaminya membuat Humai percaya. Percaya bahwa Syakir benar-benar memberikan restunya. Percaya bahwa Syakir benar-benar merestui Jeno untuk sahabatnya itu. 


"Jeno orang baik. Aku yakin dia bisa menjaga dan membimbing Giska menjadi sosok lebih baik lagi," lanjut Syakir dengan jujur.

__ADS_1


Apa yang dia katakan tulus dari hati seorang kakak untuk adiknya. Dia benar-benar berharap adiknya mendapat sosok yang lebih baik dari dirinya. Dia ingin yang terbaik untuk adiknya dan itu dapat dilihat dalam diri Jeno. 


"Aamiin," sahut Humaira dengan ikut tersenyum. 


...🌴🌴🌴...


Di tempat dua orang yang sama-sama aktif itu. Keduanya sudah pindah tempat. Mereka berdiri di balik mesin permainan bola basket. 


Tatapan Sefira dan Jeno saling beradu pandang dengan mereka yang saling memajukan tangan kanan mereka untuk bertos ria.


"Siapa yang kalah, maka…" jeda Jeno pada Sefira.


"Dia traktir lawannya yang menang!" lanjut Sefira dengan begitu percaya dirinya.


"Oke!"


Keduanya memang tanpa sadar telah akrab seperti teman. Memiliki hobi yang sama. Memiliki antusias yang sama terkadang membuat keduanya lupa jika keduanya baru dua kali bertemu. 


Mereka tak seakrab itu tapi jika sefrekuensi tentu membuat keduanya lupa jika mereka memang tak sedekat ini bisa menjadi dekat. 


Mereka mulai fokus akan ring yang ada di depan matanya. Saat Sefira dan Jeno mulai menggesekkan kartunya pada mesin permainan itu. 


Akhirnya permainan baru dimulai. Sefira yang bisa basket membuatnya tentu tak perlu belajar lagi. Mereka segera berlomba dan fokus memasukkan bola ke arah ring yang menjadi fokus mereka masing-masing.


Suara heboh dan teriakan tentu membuat keduanya menjadi pusat perhatian. Banyak yang ikut senyum-senyum dengan aksi keduanya. Bahkan banyak yang mengira jika keduanya adalah pasangan kekasih karena kompak akan permainan itu.


Mereka tentu semakin heboh. Saat detik-detik terakhir. Sefira benar-benar fokus dan tak melihat berapa skor Jeno. Dalam otaknya terpenuhi traktiran dari Humai dan Jeno. 


Akhirnya setelah permainan berakhir. Sefira lekas menoleh kesamping. Dia melihat papan milik Jeno dan ternyata.


"Wahh. Aku menang!" 


Sefira meloncat bahagia. Bahkan tanpa sadar dia lekas memeluk Jeno dan melompat-lompat kecil dengan tangannya yang memeluk tubuh dosen killer itu. 


"Aku menang aku menang!" ujarnya yang membuat Jeno benar-benar mendadak kaku.

__ADS_1


~Bersambung


Jangan senyum terus woy. Kering tu gigi hahaha. Kabur.


__ADS_2