
..."Seorang anak akan terus menjadikan orang tuanya sebagai contoh. Apa yang mereka lakukan maka itu memang jadi pembelajaran pertama untuk mereka. ...
...~JBlack...
...🌴🌴🌴...
"Ayah! " Pekik Jay saat mereka sampai dan baru saja turun dari mobil.
Humai pulang cepat. Mereka bisa melihat Jay bermain di depan rumah dengan Papa Haidar yang duduk sambil memangku laptopnya.
"My boy," Kata Syakir lalu berlari dan mengangkat tubuh anak kesayangannya itu. "Rindu Ayah hmm? "
"Sangat! " Kata Jay dengan melingkarkan tangannya di leher Syakir. "Kapan Ayah sampai? "
"Barusan terus Ayah langsung jemput Ibu, " Ujar Syakir menjelaskan.
Papa Haidar yang melihat kedatangan putranya juga ikut beranjak berdiri. Dia meletakkan laptop yang ada di pangkuan di atas kursi lalu bersalaman dengan putra pertamanya itu.
"Papa sehat? "
"Tentu. Papa harus sehat untuk melihat cucu kesayangan Papa yang akan lahir berdekatan, " Kata Papa Haidar menunjuk ke arah putri dan menantunya.
Humai tersenyum. Dia memeluk Papa Haidar dari samping.
"Sehat selalu ya, Pa. Biar bisa peluk cucu Papa yang kedua dari Humai dan pertama dari Fira, " Kata Humai yang membuat pria paruh baya itu mengangguk.
Dia mengusap kepala wanita yang sudah dianggap seperti putrinya sendiri.
"Ayo masuk. Jangan biarkan istrimu ini berdiri, Syakir, " Ajak Papa Haidar lalu meraih laptopnya dan membawa menantunya itu masuk. "Kemana Fira? "
"Masih dijalan sepertinya, Pa. Dia bersama dengan Pak Jeno, " Ucap Humai menjawab.
"Jeno ikut pulang? "
"Iya, Pa. Dia sudah resign dari dosen. Lalu sudah mulai mengurus perusahaan keluarganya, " Kata Syakir menjelaskan.
...🌴🌴🌴...
Berbeda tempat berbeda suasana. Di tempat lain lebih tepatnya di sebuah mobil. Terlihat sepasang suami istri yang terlihat saling melepas kerinduan. Saling menatap penuh cinta dan menggenggam tangan mereka antara satu dengan yang lain.
Keduanya benar-benar sengaja untuk tak pulang lebih dulu karena bumil satu ini minta ditemani jalan-jalan dan ingin makan bersama.
"Kamu mau makan apa, Sayang? " Tanya Jeno sambil mengusap kepala istrinya.
Sefira yang masih bingung hanya bisa menatap keluar. Dia sejak tadi juga sedang mencari makanan apa yang ingin dia makan.
"Kita pulang aja, Kak. Aku ingin makan di rumah, " Ujar Sefira dengan wajah lesu.
__ADS_1
Jeno perlahan mencari tempat untuk menepikan mobilnya. Dia bisa melihat wajah bingung dari raut wajah istrinya itu.
"Kenapa hmm? " Tanya Syakir dengan pelan.
"Aku ingin makan mie apong, " Lirih Sefira yang membuat Jeno membelalakkan matanya.
Oh apalagi ini Tuhan, mungkin itu adalah kata kata yang tepat keluar dari hati kecil pria yang akan menjadi seorang ayah.
"Mie yang putih ada Sultan ayam diatasnya?"
Sefira mengangguk. Mie itu sudah sering berkeliaran jika di Indonesia. Namun, ini bukan Indonesia. Mereka ada di Korea. Apakah ada makanan itu disini.
"Mau bikin sendiri? " Tanya Jeno dengan pelan.
Dia tak mau menambah mood istrinya buruk. Bagaimanapun Jeno mulai memahami bagaimana emosi istrinya yang tak pernah stabil. Kadang marah, lesu, ngambek dan kadang manja. Semua itu Jeno pelajari selama Sefira hamil.
Dia tak pernah mengeluh. Dia juga banyak belajar dari internet. Apapun yang diinginkan bumil harus dilakukan. Itulah hal yang membuat Jeno selalu menuruti kemauan istrinya.
"Kita belanja bahan ya. Terus kita bikin di rumah. Gimana? "
Wajah yang mulanya muram perlahan bersinar. Sefira menatap suaminya dengan pandangan tak percaya. Namun, kepala Jeno yang mengangguk, membuat Sefira percaya jika apa yang dikatakan oleh suaminya itu benar.
"Serius kan, Kak? "
"Tentu. Ayo! Kita akan bikin bersama-sama untuk orang serumah! "
...🌴🌴🌴...
"Begini, Ma? " Tanya Jeno dengan rasa putus asa.
Mereka benar-benar membuat mie sendiri. Menggilingnya dengan susah payah.
"Ya, Sayang. Itu sudah benar! "
"Bumil ngidamnya bener-bener ngeri, " Kata Humai yang membuat mata Sefira mendelik sebal.
"Kayak dirinya aja gak pernah ngidam, " Kata Sefira menyindir.
"Hahahah. Pernahlah tapi sekarang belum pengen apa-apa lagi! " Ujar Humai menjawab.
Mereka yang melihat tentu geleng-geleng kepala. Suasana dua bumil memang selalu seperti ini. Tak ada suami ataupun ada. Semua sama saja. .
Akhirnya perjuangan Jeno berakhir. Berkat bantuan mamanya juga dan Mama Emili serta Mama Ayna mie apong porsi keluarga itu selesai dengan cepat.
Dia meletakkan mie itu di atas meja dan perlahan meminta istri serta keluarganya berkumpul.
"Ini untukmu, Sayang, " Kata Jeno dengan memberikan sepiring mie apong yang sudah dihias oleh Jeno khusus untuk istrinya.
__ADS_1
Sefira tersenyum. Dia menatap mie apong dengan suwiran ayam banyak serta harumnya tercium semerbak di hidungnya.
"Makanlah, Sayang. Ayo! "
Perlahan semua orang mulai menyantap mie apong itu bersama-sama. Namun, berbeda dengan Jeno. Pra itu dengan setia menunggu istrinya yang mulai menyuapi dirinya makan.
"Bagaimana? "
Jeno tetaplah Jeno. Dia ingin tahu bagaimana reaksi istrinya itu. Apakah Sefira suka, apakah istrinya sudah tak ngidam lagi.
"Ini enak sekali, Kak. Ini bahkan lebih enak dari tempat langganan aku di Malang. Bener, 'kan, Mau? "
Humai yang duduk di samping Sefira tentu mendengar ucapan sahabatnya itu. Kepalanya mengangguk dan dia memberikan dua acungan jempol pada mantan dosennya itu.
"Ini luar biasa enak, Pak. Boleh aku nambah? " Tanya Humai menatap dosen yang dulu dikenal killer itu.
"Tentu."
Syakir yang melihat istrinya memuji pria lain cemberut. Hal itu tentu dilihat langsung oleh Humai. Wanita itu hampir tertawa tapi dia menahannya.
"Urut utut cemburu yah, Suami aku? " Goda Humai sambil mengusap pipi Syakir dengan pelan. "Masak cemburu saja adik ipar sendiri? "
Syakir melirik istrinya. Hal itu tentu membuat Humai tersenyum dengan lucu.
"Jangan marah yah. Kan aku cuma muji masakannya, Sayang. Bukan orangnya, " Ujar Humai menjelaskan.
Perlahan ibu hamil itu meraih tangan Syakir dan menciumnya.
"Kamu tetap prioritas, Kak. Kamu pemenang di hatiku. Jangan merasa Kakak akan tersingkir oleh siapapun. Itu gak bakal ada dan gak bakal terjadi. Kakak adalah suami terbaik, " Ujar Humai dengan tulus.
Mata wanita itu menggambarkan ketulusan dan keseriusan. Apa yang dia katakan memang benar. Syakir yang sekarang adalah sosok suami idaman.
Pria yang belajar dari masa lalu. Pria yang mau berubah demi indahnya masa depan. Meski dulu dia harus jatuh dulu, berusaha bangkit dan akhirnya memperbaiki semuanya. Itu sudah menjadi tanda bahwa cinta bisa menuntun seseorang untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
"Terima kasih sudah hadir di hidupku, Sayang, " Kata Syakir dengan pelan.
"Sama-sama. Aku juga berterima kasih telah datang menjemput kami di waktu yang tepat. Memberikan hal yang dulu hanya menjadi mimpi bagiku, Kak, " Ujar Humai dengan tulus dan membuat semua orang menjadi saksi cinta mereka berdua.
"Baiklah, romantis kali ini bener-bener bikin aku baper! " Celetuk Sefira yang perlahan membuat suasana meja makan itu ramai akan kehangatan keluarga mereka.
~Bersambung
Ada yang mau bantuin kasih saran nama anak cewek atau gak cowok buat Humai dan Sefira?
Bantuin cari dong. Komen yah. Kayak dulu Jay itukan dari pembaca juga yang kata Rasya hihi.
Kasih ide nama yah di kolom komentar.
__ADS_1