
...Percayalah cinta seorang ayah pada putranya jauh lebih besar. Terlepas masa lalu mereka yang buruk, tapi menjadi pribadi yang lebih baik adalah sebuah keseriusan untuk memperbaiki masa depan....
...~Guntur Syakir Alhusyn...
...🌴🌴🌴...
Humaira yang saat itu baru selesai mandi kilat dan bersiap langsung disuguhkan pemandangan yang begitu membuatnya terharu. Langkah kakinya bahkan langsung terhenti melihat bagaimana anaknya yang sangat bahagia bisa memeluk ayah kandungnya lagi.Â
Air mata kembali mengalir deras melihat bagaimana ayah dan anak yang saling bebas memeluk. Melampiaskan segala kerinduan yang selama ini terjadi pada keduanya.
Humaira tak menyangka jika perkataannya semalam membawa dampak yang besar pada putranya. Membawa efek yang begitu besar juga pada Jay.Â
Humaira rela melupakan sakitnya. Humaira rela memaksa traumanya hilang agar putranya bisa bermain bersama ayah kandungnya.Â
Bagaimanapun seorang ibu selalu mementingkan kepentingan anaknya. Meski mental dan dirinya yang dikorbankan.Â
Meski jiwanya yang sakit tapi dia tetap berdiri tegak demi kebahagiaan putrinya sendiri. Begitulah hati seorang ibu. Lembut dan penyayang. Namun, tak ada yang tahu bahwa seorang perempuan bisa setegar dan sekuat itu.Â
"Ibu!" panggil Jay yang ternyata sudah melepaskan pelukannya.
Humaira yang sejak tadi asyik melamun dengan membayangkan putranya kini tersadar. Dia menatap kedua wajah yang sangat mirip itu. Dia bergantian melihat ke arah Syakir dan Jay.
Tangannya mulai bergetar hingga membuat Humai memilih menatap Jay. Dia yakin traumanya akan hilang saat putranya ini tersenyum ke arahnya.
Lihatlah, bocah yang usianya hampir tiga tahun itu menghampiri ibunya. Bibirnya terus melengkung ke atas seakan menggambarkan bahwa dirinya memang bahagia.Â
"Ayah datang, Bu. Ayah datang," kata Jay menunjuk ke arah Syakir.
Humaira mengangguk saat melihat bagaimana putranya yang sangat antusias.Â
"Ayo Ibu juga harus salim sama, Ayah. Tadi Jay udah," kata Jay yang sangat tahu bagaimana ajaran ibunya.
Anak itu sangat mengingat jika Humaira selalu mengajarkan untuk mencium punggung tangan orang yang lebih tua jika mereka bertemu. Hal itu diajarkan sejak kecil oleh Humai agar Jay bisa beradab dengan baik.
Menurut Humai, anak cerdas memang bagus tapi anak beradab jauh lebih bagus. Ilmu diatas adab. Orang berilmu tapi tak beradab maka ilmunya percuma. Tak akan ada orang yang menghargainya. Sedangkan orang yang beradab, dimanapun dia berada maka akan selalu dihargai, disegani dan disukai banyak orang.Â
"Ibu…" ujar Humai mencoba menjauh.
"Ibu gak mau salim sama Ayah?" tanya Jay saat melihat penolakan ibunya.
Humai gelagapan. Dia juga tak tahu harus memulai darimana. Dirinya saja sejak tadi menunduk karena tangannya sejak tadi mulai bergetar. Kenangan itu hampir muncul tapi Humai coba menepisnya saat melihat senyuman kebahagiaan dari bibir Jay.
Humai tak bisa menjauh. Dia tak bisa menolak. Ia yakin akan membuat putranya kecewa jika dirinya tak menyetujui keinginan putranya itu.Â
"Ibu mau," kata Humai dengan memaksakan senyumannya.Â
__ADS_1
Dia berusaha menarik nafasnya begitu dalam. Berusaha menepis ketakutan itu. Humai yakin bisa melawan. Trauma dalam dirinya hanya bisa ditepis dengan dirinya sendiri.Â
Dengan kekuatan dalam dirinya. Tanpa bantuan orang lain!
Dengan pelan, Humai melangkahkan kakinya ke depan. Dia hanya menatap ke arah kedua sepatu yang dipakai oleh Syakir. Dia tak berani menatap wajahnya karena entah kenapa bayangan hinaan dan makian itu masih terlihat jelas.Â
"Assalamualaikum, Kak," lirih Humai yang mulai mengangkat tangannya.Â
Akhirnya setelah sekian lama. Setelah banyaknya jarak di antara keduanya. Kini saatnya, dua kulit yang dulunya pernah bersentuhan kini perlahan mulai saling menyentuh.
Seakan ada aliran listrik di antara kulit keduanya. Menimbulkan getaran dan degup jantung yang tak karuan.
Humai bahkan sampai menelan ludahnya dengan kesusahan. Namun, dia berusaha meraih tangan itu dan membawanya ke depan wajahnya. Dengan sekali gerakan, pelan tapi pasti.
Humai mencium punggung tangan Syakir. Kejadian dejavu saat mereka baru saja menikah dan melakukan ijab kabul terbayang dalam benaknya. Bagaimana wajah Syakir yang menolak dan tertekan kini terbayang sampai tanpa sadar air matanya menetes dan membuat Syakir terkejut.
"Ra," panggil Syakir yang membuat bayangan itu langsung tertipis dan Humai tersadar. Â
Dia melepaskan tangan Syakir dan menghapus air matanya.
"Nah. Kalau gini Jay suka," kata Jay dengan bertepuk tangan.Â
Bagaimanapun anak itu masih kecil. Jay belum tahu persoalan orang dewasa. Namun, dia hanya ingin melihat ayah dan ibunya akur. Melihat keduanya terlihat seperti orang tua pada umumnya.
"Ayah kesini bawa apa?" celetuk Jay saat melihat paperbag di tangan Syakir yang sejak tadi bergantungan disana.Â
"Wah. Jay suka. Jay mau!" pekik anak itu dengan sangat antusias.Â
Sedangkan Humaira juga tersadar jika waktunya banyak terbuang. Dia melihat jam di pergelangan tangannya dan waktu semakin bergerak menipis.Â
"Ayo, Ayah. Jay mau makan!" pekik Jay dengan antusias. "Bu, Jay boleh, 'kan?"Â
Ah anak itu memang menggemaskan. Dalam diri Jay memang banyak sekali ajaran dari Humai. Bagaimana bocah itu yang harus berpamitan padanya atau pada kedua opa omanya jika mau melakukan selalu agar tak lepas dari pantauan mereka.
"Boleh, Sayang. Tapi Ibu mau berangkat dulu yah? Ibu takut telat," pamit Humai pada Jay.
"Tapi Ibu juga belum sarapan, 'kan?"Â
"Iya. Nanti ibu makan di kampus," balas Humaira yang mulai mencium tangan mamanya karena terburu-buru.
Tak sadar, tatapan Jay dan Syakir saling tatap. Kedua pria dengan perbedaan usia itu seakan mentransfer maksud tatapan itu. Hingga entah apa yang mereka telepati tiba-tiba kepala keduanya mengangguk.
"Ibu sarapan nasi goreng ini aja. Ayah udah masakin buat, Ibu," kata Jay menyodorkan paperbag yang Syakir bawa.
"Eh." Humai gelagapan. "Ibu keburu, Sayang. Ibu bisa telat."Â Â
__ADS_1
"Nggak bakal. Ayah Syakir bisa anter Ibu kok," kata Jay dengan antusias. "Iya, 'kan, Yah?"
Syakir yang dipanggil mengangguk.Â
"Aku memasakkan bekal itu untukmu dan Jay. Jadi kamu bisa sarapan dan aku juga akan mengantarmu ke kampus."
Jantung Humai berdetak kencang. Entah kenapa dia merasa gugup seperti ini. Apalagi saat Jay mulai membuka paper bag itu seakan kepo dengan isinya.Â
Seperti ada perasaan tak percaya bahwa Syakir memasakkan untuknya. Bayangan dulu dia harus pergi dari meja makan. Bayangan saat dia diusir karena Syakir tak mau melihat wajahnya ketika makan.
"Kamu mau, Mai?"Â
"Aku…"Â
"Ayo, Bu!" ajak Jay yang tak kalah antusias.
Humai menatap putranya itu. Dia bisa melihat bagaimana Jay yang sangat antusias. Dia menatap penuh harap ke arah Humai yang sedang berdamai dengan dirinya.Â
"Kasihan Ayah kalau makanannya gak dimasak," kata Jay yang membuat Humai membulatkan matanya.Â
"Jay tau darimana kata-kata itu?"Â
"Nenek," kata Jay dengan polosnya. "Nenek selalu sedih kalau kuenya, gak Jay makan. Nenek juga bilang, itu namanya gak menghargai."Â
Jika seperti ini Humai tak bisa menolak. Itu ajaran orang tuanya dan benar memang. Akhirnya dengan berat hati, Humai mengangguk.
"Baiklah. Ayo!"Â
"Yey!" Jay bertepuk tangan dengan melompat di teras.Â
Wajahnya sangat amat bahagia. Akhirnya dia bisa berangkat dan mengantar ibunya dengan sang ayah.
Â
"Ayo, Ayah. Kita antar Ibu dan kita makan di mobil!"Â
~Bersambung
Rayuan anak dan bapak mulai berkomplot, hmm. Masih awal belum bikin klepek-klepek haha.
Kaburr.
Oh ya jangan lupa mampir juga ke karya temanku yah
__ADS_1
Aditya Farasyah, pria usia 22 tahun . Ganteng?jangan ditanya benihnya siapa dulu kalau bukan Vano papanya, pria muda humoris juga ceria namun memiliki sifat usil juga bar-bar keturunan Lala mamanya . Dari kecil hingga dewasa ia tinggal di LN bersama kedua orang tua nya dan tiba lah suatu hari drama keluarga dimana Aditya meminta izin untuk merantau ke Indonesia untuk mencari pengalaman atau lebih tepatnya jati diri seorang mandiri,Namun apa jadinya baru pertama kali ke Indonesia Aditya sudah berbuat ulah? "TANTE Love You."
Gimana jadinya persahabatan yang terpisahkan begitu lama karna beda Negara di satukan kembali oleh anak mereka?kisah cinta dari novel(Pembantu Cantiknya Sang Casanova) versi anak mereka. Simak yuk!!