
...Ketika apa yang kita impikan menjadi kenyataan maka disitulah rasa bahagia yang membuncah begitu besar dan percaya bahwa perjuangan pasti akan ada hasil yang terindah. ...
...~JBlack...
...🌴🌴🌴...
Indahnya salju yang turun kini mulai terlihat dengan mata kepala sendiri. Dinginnya udara tentu mulai terasa menusuk. Pesawat yang membawa mereka ke Negara Korea akhirnya mulai mendarat dengan begitu mulusnya.
Kedatangan mereka tentu langsung disambut oleh turunnya salju yang mulai berguguran. Saat pintu pesawat dibuka, disitulah udara dingin terasa semakin kuat.
Hal yang pertama kalinya dirasakan oleh Humaira dalam hidupnya. Dirinya yang tak pernah ke negara ini, tak pernah melihat salju secara langsung tentu terpesona dengan pemandangan yang baru ia temui seumur hidupnya.
Saat Humai untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di tanah Korea. Perempuan itu mendongakkan kepalanya. Dia mengulurkan tangan ke atas seakan menerima salju yang berjatuhan itu.
Dia ingin menangkapnya dan membuat sejarah bahwa dia akhirnya bisa datang dan merasakan bagaimana musim salju tersebut.
"Masya Allah," Gumam Humai dalam hatinya.
Tanpa sadar, ibu anak satu itu memutar tubuhnya. Dia menikmati suasana ini dan mengabaikan rasa dingin yang mulai menyergap tubuhnya.
"Sayang, ayo! " Kata Syakir mengajak. "Badanku bisa beku disini! "
Humai membuka matanya. Dia baru sadar bahwa tubuhnya mulai kaku. Dirinya juga mulai kedinginan. Ah, terlalu bersemangat membuatnya lupa bahwa salju bisa membuatnya kaku dan membeku.
"Ayo! "
Akhirnya Humai menerima uluran tangan suaminya. Jay, bocah kecil itu tertidur di gendongan Syakir. Pasangan suami istri itu berjalan menuju ke dalam bandara karena suhunya semakin menurun.
Berbeda dengan Jeno dan Sefira. Mungkin karena keduanya sudah biasa datang ke luar negeri. Membuat mereka sudah terbiasa dengan situasi seperti ini.
"Sahabatmu terlalu bahagia, Sayang, " Kata Jeno yang melihat Humaira begitu bahagianya.
"Tentu, Kak. Pertama kalinya dia datang kesini dan menikmati musim salju untuknya, " Kata Humai tersenyum menatap sahabatnya yang berjalan lebih dahulu.
"Dulu dia sering bilang ingin melihat salju. Dia ingin merasakan dinginnya salju dan memegangnya, " Lanjut Sefira yang sangat ingat saat mereka masih kuliah di Malang. "Tapi dulu Humai bilang, mungkin itu keinginannya dalam mimpi. Dan sekarang, lihatlah! "
"Tak ada kata mimpi jika kita mampu berjuang. Humai mau belajar sampai akhirnya desainnya terpilih dan dia mendapatkan tiket gratis kesini. Hebat, 'kan? "
Ya penerbangan Humai ke Korea gratis dari desainer yang ingin mengajaknya bergabung juga. Jujur Humai merasa bahagia. Dia bisa berangkat dengan hasil kerja kerasnya sendiri.
Sebenarnya Syakir bisa menolak. Tapi saat istrinya mengatakan bahwa dia senang meski tiketnya ekonomi dan membuat Syakir menyiapkan tiket untungnya, putranya dan adik serta adik iparnya dengan tiket ekonomi juga.
Syakir dan Sefira serta Jeno yang tak pernah sombong pada uang yang mereka punya. Duduk di bangku ekonomi tak menjadi masalah. Mereka menikmati saja perjalanan itu bahkan merasa bahagia karena bisa menggenggam tangan pasangan mereka masing-masing.
"Tentu, Sayang. Kamu juga hebat. Kamu mau datang kesini dan merintis semuanya dari bawah, " Kata Jeno memuji istrinya yang membuat pipi Sefira memerah.
__ADS_1
"Bisa aja kamu, Kak. Udah ah jan gombal! " kata Sefira mengalihkan pembicaraan.
Jika terus mendengar ucapan suaminya itu. Sefira yakin wajahnya akan terus memerah sampai nanti.
Mereka segera masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan oleh Syakir. Kelimanya akan pergi ke hotel dekat dengan galeri dimana desainer yang akan meminta kerja sama dengan Humai nanti.
"Kamu bahagia, Sayang? " Tanya Syakir dengan mendekatkan wajahnya di dekat wajah istrinya.
Syakir memang sengaja memesan dua mobil. Dia ingin terus di dekat istrinya itu.
"Tentu. Ini adalah pengalaman pertamaku terbang kesini. Melihat salju dan menangkapnya dengan kedua tanganku sendiri, " Kata Humai dengan menunjukkan salju yang turun di jalanan.
Syakir tersenyum. Perasaannya ikut menghangat melihat istrinya itu tak hentinya menyuratkan senyumannya. Hingga akhirnya perjalanan itu berakhir. Mobil yang membawa Syakir dan Humai sampai di depan hotel.
"Bisa, Kak? " Tanya Humai saat dia melihat suaminya kesusahan menggendong putra mereka.
"Bisa, Sayang, " Balas Syakir lalu mulai turun.
Dia segera mengucapkan Terima kasih pada supir itu. Pria itu akan siap siaga mengantarkan Syakir dan Humai karena memang Syakir telah memesan mobil dan supirnya untuk berkeliling selama ada di Korea.
"Ayo masuk, Sayang! " Ajak Syakir yang menatap wajah anaknya yang pucat.
"Tapi Sefira dan Jeno, Kak? "
"Mereka pasti masih berhenti ke tempat lain. Biarkan saja, nanti mereka akan menyusul, " Ujar Syakir yang membuat Humai mengangguk.
...🌴🌴🌴...
Ya istrinya itu meminta supir untuk membawa mereka ke apotik. Jujur Jeno mulai khawatir pada istrinya itu.
"Kamu sakit? "
"Ada yang luka gak? "
Pertanyaan-pertanyaan itu muncul membuat hati Sefira hangat. Lihatlah perhatian suaminya itu. Bahkan dirinya belum berbicara tapi Jeno sudah cerewet dengan banyak pertanyaan.
"Nggak, Kak. Aku cuma mau beli vitamin. Tunggu disini yah! " Kata Sefira lalu lekas turun.
Dia berjalan lebih cepat. Salju yang turun lebih banyak dan ia yakin jalanan akan ditutup sebentar lagi.
"Ada yang bisa kami bantu? " Tanya seorang pelayan apotik dengan bahasa Korea yang fasih.
"Ada suplemen asam folat? " Tanya Sefira yang membuat pelayan itu menatap Sefira dengan lekat.
"Untuk program hamil? " Tanya pelayan itu dengan sopan.
__ADS_1
"Ya."
Jeno tak tahu akan hal ini. Jujur Sefira sudah menyiapkan semuanya dengan baik. Dia juga sudah mengambil keputusan bahwa akan menyerahkan dirinya nanti malam.
Ya, Sefira paham jika dia berdoa menolak suaminya sendiri. Tapi, dirinya juga tak mau melakukan karena terpaksa atau tak nyaman. Apalagi bagaimanapun keduanya juga mengenal satu dengan yang lain tak begitu lama.
Maka dari itu jika ada kecanggungan itu masih akan di antara merek.
"Berapa? "
"Dua, Mbak, " Kata Sefira membalas dengan Bahasa Inggris. "Terus sama vitamin juga. "
Logat Bahasa Korea dirinya tak lancar. Maka dari itu, Sefira memilih menggunakan Bahasa Inggris.
"Terima kasih, " Kata Sefira setelah menyerahkan beberapa won pada pelayan di depannya.
Tanpa kata Sefira menyimpan asam folat itu di dalam tas. Sedangkan vitamin dibawa di tangannya sampai masuk ke dalam mobil.
"Bukannya kamu udah beli, Sayang? "
"Belum, Kak, " Kata Sefira dengan cepat.
Jeno akhirnya tak ambil pusing. Mereka segera melanjutkan perjalanan ke hotel tempat mereka tinggal. Keduanya bergandengan tangan masuk ke dalam hotel setelah mobil yang mereka tumpangi berhenti.
Mereka juga menyebutkan pesanan kamar yang sudah dipesan online oleh Syakir.
"Ini."
"Terima kasih, " Ucap Jeno lalu mengangkat kopernya.
Mereka berjalan dengan cekatan. Keduanya segera masuk ke dalam kamar yang ternyata sangat luas. Sefira berjalan ke arah jendela kamar dan membuka tirainya.
"Ini sangat indah," kata Sefira yang tak tahu jika Jeno ada di belakangnya.
"Kamu juga indah," Balas Jeno dengan memeluk tubuh Sefira.
Pria itu menyerukan kepalanya di leher sang istrinya. Menciumnya dengan pelan dan membuat Sefira spontan hampir mendesahkan suaranya.
"Kak, " Kata Sefira mencoba lepas dari pelukan suaminya. "Tunggu! "
Jeno mengalah lagi. Dia melepaskan pelukan suaminya dan berbalik. Sefira mengusap wajah itu dan bisa melihat sesuatu yang berbeda di kedua mata Jeno.
"Tunggu sebentar lagi ya, Sayang. Aku akan bersiap setelah itu aku akan menyerahkan diriku padamu. "
~Bersambung
__ADS_1
Aww jadi next bab adegan apa hayo? hahah
Maaf baru update ya. Aku lagi crazy update di bang jim. 10 ribu kata sehari dari kemarin haha. semangat