
...Jodoh dan takdir itu hanya Tuhan yang tahu. Tak ada nalar yang bisa menjangkau dan melogikannya....
...~JBlack...
...🌴🌴🌴...
"Itu sudah takdir Humai, Pa," kata Almeera yang menjawab dengan berani. "Sejauh apapun Papa menjauhkan mereka, jika Humai dan Syakir berjodoh. Papa tak bisa menolaknya."Â
Almeera mengatakan itu dengan wajah yang menatap ke arah Papa Hermansyah. Dia berani berbicara seperti itu karena ini sudah suratan takdir menurutnya. Mau dipikir secara logika. Mau dihalangi sejauh apapun. Tak akan ada yang bisa mengelak dari takdir Tuhan.
"Tapi kenapa dia harus kembali sekarang?" tanya Papa Hermansyah dengan ekspresi seorang ayah yang khawatir pada putrinya.
Dia sadar bahwa semua kesalahan yang terjadi pada putranya juga karena kesalahannya juga. Papa Hermansyah tahu, bahwa dia yang menyerahkan anaknya pada orang lain karena kesalahannya juga merupakan awal dari kehancuran hidup putrinya.
Semua dirasakan oleh putrinya itu. Semua ditanggung oleh Humaira sendirian.Â
"Karena ada kenangan di masa lalu yang perlu diselesaikan, Pa," kata Almeera dengan pemikirannya yang dewasa.Â
Ibu dari empat orang anak itu mendekat. Dia menggenggam tangan pria yang ia temui beberapa tahun yang lalu, dan bersikap dengannya begitu baik. Bahkan menganggapnya seperti putrinya sendiri.
"Papa jangan khawatir. Jika mereka tak berjodoh, seberapa dekat mereka bersama, tak akan pernah keduanya kembali bersatu," kata Almeera dengan yakin.Â
Papa Hermansyah terlihat ragu. Namun, dia berusaha menganggukkan kepalanya. Menerima nasehat wanita yang sudah ia anggap putrinya sendiri.Â
"Apa Papa masih menaruh benci pada Syakir?"Â
Papa Hermansyah menghela nafas berat. Sebenarnya bukan rasa benci yang pria paruh baya itu rasakan. Melainkan rasa kecewa pada putra pertama pasangan Ayna dan Haidar.
Pernikahan sakral di hadapan Tuhan. Yang terjadi entah karena paksaan, karena hamil duluan atau alasan apapun. Seharusnya Syakir tak menghina dan melukai batin putrinya itu.
Dia kecewa sebagai seorang laki-laki melihat sikap Syakir yang tak memiliki hati. Melihat sosok pria yang tak pernah menyadari bahwa hidupnya di dunia karena seorang perempuan juga.Â
"Papa masih sakit saat ingat bagaimana sikap Syakir pada Humai," lirihnya dengan air mata yang mulai berkumpul di kedua matanya yang mulai menua.
"Itu sudah lalu, Pa. Syakir sekarang sudah berubah," ucap Almeera berusaha berbicara pelan-pelan. "Syakir sekarang jauh berbeda dengan yang dulu, Pa. Dia lebih dewasa dan lebih tenang."Â
Hermansyah menatap wajah Almeera yang begitu yakin. Wanita itu menganggukkan kepalanya tanpa keraguan. Dia ingin mengatakan pada Papa Hermansyah bahwa pria itu tak perlu khawatir lagi pada sikap Syakir.
Pria itu telah berubah dan Almeera bisa menjaminnya.
__ADS_1
"Bagaimana jika Papa ingin bertemu dengan Syakir? Papa ingin berbicara dengannya sebelum dia menemui putri Papa lagi," kata Hermansyah yang membuat Almeera menganggukkan kepalanya.
"Almeera dan Mas Bara bakalan bantu, Pa. Kita akan mempertemukan Papa dengan Syakir."Â
...🌴🌴🌴...
Keesokan harinya.Â
Syakir, pria tampan itu mendapatkan shift pagi sekarang. Dia bertukar dengan temannya yang ada kepentingan. Wajahnya begitu pucat dengan kantung mata yang bengkak.
Pria itu terlihat tidak bersemangat. Dari matanya, wajahnya dan tingkah lakunya tentu membuat siapapun khawatir kepadanya.Â
Hingga tiba-tiba, saat Syakir baru saja selesai mengantarkan makanan milik pembeli. Sebuah suara yang sangat familiar dengannya lekas membuat Syakir menoleh.
"Kak Syakir kemana kemarin? Kenapa Kakak tiba-tiba menghilang?" tanya perempuan yang menjadi tersangka utama mengajaknya ke kampus.Â
Entahlah, Syakir harus bahagia, atau dia harus sedih. Syakir harus marah atau dia harus berterimakasih pada wanita muda di depannya ini.
Ajakannya yang tak berdasar. Paksaannya yang membuat dia mau datang ke kampus ternyata membuatnya bisa bertemu dengan mantan istrinya. Pertemuan yang tak terduga membuat rasa rindunya sedikit berkurang.
Meski kehadirannya ditolak. Setidaknya banyak kenyataan yang dia temukan. Mantan istrinya yang semakin cantik dan cerdas. Lalu anak yang dulu pernah ia hina kini telah tumbuh dengan pesat san menjadi anak yang begitu baik dan pintar.Â
Doa yang selalu dia katakan tanpa bosan ternyata Allah masih izinkan untuk menjadi nyata. Dirinya yang dulunya pendosa, ternyata Allah berikan pintu taubat dan dia bisa merubah segala hal yang telah ia lakukan dengan berubah menjadi sosok yang lebih baik.
"Aku sakit perut. Mangkanya aku langsung pulang dulu. Maaf yah," kata Syakir tanpa menatap ke arah gadis itu.
"Iya gapapa, Kak. Tapi Kak Syakir, kenapa?" tanya gadis itu dengan memajukan wajahnya.Â
Saat dia mengulurkan tangannya dan hendak memegang wajah Syakir. Tiba-tiba pria itu lekas memundurkan wajahnya.Â
"Mau apa?" tanya Syakir yang terkejut dengan aksinya.Â
"Wajah Kak Syakir kenapa? Pucat banget. Kakak gak tidur?" tanya gadis itu penuh perhatian.
Syakir menggeleng. "Aku baik-baik aja. Hanya ya kurang tidur aja kayaknya."Â
Saat gadis itu ingin bertanya lagi. Tiba-tiba sebuah suara panggilan membuat Syakir dan gadia itu menoleh.
"Ada yang nyariin, Kak," kata rekan kerja Syakir yang lebih muda.Â
__ADS_1
"Siapa?"Â
Kepala pria muda itu menggeleng. "Katanya teman, Kak Syakir."Â
Akhirnya ayah kandung Jay itu tak bertanya lagi. Dia lekas membersihkan kedua tangannya terlebih dahulu, sebelum dia keluar dari sana dan berjalan je arah taman samping restoran, dimana orang yang menunggunya berada.Â
Dari jauh, Syakir bisa melihat dia orang manusia yang berdiri disana. Dari arah belakang saja, Syakir sangat tahu siapa temannya itu.
"Mau apa kalian datang kesini?" tanya Syakir yang paham dengan bentuk tubuh Bara dan Almeera.
Pasangan suami istri itu berbalik. Mereka lekas beranjak berdiri tatkala melihat Syakir yang telah datang dengan ekspresi wajahnya yang seakan tak bersahabat.
"Kami…"Â
"Kenapa kalian berbohong padaku?" tanya Syakir yang membuat Almeera dan Bara saling tatap. "Kenapa kalian menutupi keberadaan anak dan mantan istriku?"Â
Jantung pasangan suami itu berdetak kencang. Mereka tak menyangka jika Syakir tahu tentang keterdiaman keduanya perihal keberadaan Humai dan Jay.Â
"Lo tau darimana, Kir?"Â
"Gue ngikutin Humai kemarin sampai rumahnya. Terus gue lihat mobil kalian berdua," kata Syakir dengan jelas. "Kenapa kalian tega sama gue?"Â
Almeera menunduk. Dia tak tahu harus mengatakan apa lagi. Apa yang mereka lakukan juga karena permintaan Humaira.Â
"Kenapa, hah?"Â
"Karena semua itu atas permintaan Humaira, Kir," balas Bara yang tak mau lagi berbohong. "Dia tak mau kau bertemu dengan Humai dengan sengaja. Dia bahkan pernah bilang, jika bertemu biarkan takdir yang mempertemukan."Â
"Apa Lo yakin, Bar?"
"Ya. Maka dari itu kita datang kesini," jawab Almeera dengan cepat.
"Apa Humai yang meminta?"Â
"Bukan," sahut Almeera dengan cepat. "Tapi ayah kandung Humai ingin bertemu denganmu."
~Bersambung
Kira-kira Papa Hermansyah mau bicara apa yah? Suruh jauhin Humai apa restu yang didapat?
__ADS_1