
...Sebuah perasaan itu tak bisa dipaksakan. Dia akan tumbuh dengan sendirinya dan akan berhenti jika sudah merasa lelah....
...~JBlack...
...🌴🌴🌴...
Akhirnya disinilah mereka berdua berada. Di sebuah restoran tempat dimana Humai sering datang bersama sahabatnya. Begitupun dengan Jeno, dia juga sering kesini bersama Jay ketika keluar berdua dengannya.Â
Mereka segera memakan makanan yang sudah dipesan. Entah kenapa Jeno mengatakan untuk menikmati pesanannya terlebih dahulu sebelum berbincang.Â
Keduanya terlihat begitu lahap karena memang Humakra tak jadi memesan makanan di kantin kampus. Dia sengaja ingin makan di rumah dan menahan rasa laparnya. Namun, mau dikata apa lagi.Â
Dosen killernya mengajak keluar dan berbincang berdua, membuatnya mau tak mau ada disini.Â
"Sebelumnya saya ingin minta maaf dulu sama kamu, Mai," kata Jeno memulai pembicaraan.
"Untuk apa, Pak?" Kata Humaira dengan perasaan yang tak karuan.Â
Keringat dingin memenuhi telapak tangannya. Jujur Humai merasa gugup. Dirinya yakin jika apa yang ada dalam pikirannya benar. Pasti dosennya itu ingin menyatakan perasaannya.Â
"Karena saya dengan lancang mencintaimu kamu," ucap Jeno yang terdengar lembut di telinga Humai.Â
Tangan Humai saling menggenggam. Matanya terpejam saat ia mendengar dan merasakan bagaimana dosennya ini berubah 180° dari biasanya.
Tak ada suara tegas dan dinginnya. Saat ini yang duduk di hadapannya adalah Jeno yang sering bersama dengan Jay. Pria yang begitu penyayang, lembut dan sopan.Â
"Saya tanpa permisi berani menjatuhkan perasaan saya sama kamu," lanjut Jeno yang membuat Humai mendongakkan kepalanya.Â
Dia menatap kedua bola mata Jenk untuk pertama kalinya. Biasanya dia akan menatap wajah dan mata dosennya ketika diajak berbicara. Namun, sekarang berbeda.
Humai menatap Jeno dengan berani. Dia bisa meresapi tatapan mata dosen killernya dan ya benar sama. Sama seperti Syakir yang sekarang menatapnya.
Penuh cinta di dalamnya dan hal itu bukan membuat Humai bangga. Bukan membuat Humai senang. Namun, dia semakin takut. Takut menyakiti perasaan seorang laki-laki dan membuatnya patah hati. Â
"Sejak kapan, Pak?" Tanya Humai dengan pelan.
"Sejak saya mengajar disini," kata Jeno dengan jujur.Â
Humai mencoba memutar ingatannya. Jika sejak Pak Jeno mengajar maka waktu sudah berjalan selama satu tahun lebih. Selama itu Pan Jeno menyimpannya sendirian dan aku juga baru menyadarinya beberapa hari kemarin.
Benar-benar luar biasa bukan. Benar-benar pengendalian diri Jeno sangat besar. Dia bahkan tak menunjukkan terlalu mencolok kepadanya. Hanya pada Jay, dia sangat menyayanginya dengan tulus tanpa menginginkan perhatian.Â
__ADS_1
"Kamu ingat ketika saya mengajar kelas kamu pertama kalinya?"Â
Jeno akhirnya memutar ingatannya. Saat itu dirinya untuk pertama kalinya memulai pekerjaannya sebagai dosen. Dirinya juga mendapatkan tugas untuk mengajar kelas desain.Â
Meski dirinya gugup, canggung dan takut. Jeno memberanikan diri. Dibalik sikap dingin dan tegasnya. Ketika sendirian, dia juga tetaplah manusia biasa. Ada perasaan takut dan gugup.
Dia salah saat mengajar dan memberikan materi. Namun, bagaimanapun nanti, Jeno sudah menguasai dirinya dengan baik.Â
Dia harus bisa memulai, dia harus bisa membuktikan pada keluarga orang tuanya bahwa ia bisa sukses tanpa bantuan dan embel-embel nama keluarga di belakang namanya.Â
"Kamu pasti bisa, Jeno!" katanya menyemangati diri sendiri.Â
Akhirnya dirinya mulai melangkahkan kakinya memasuki ruang kelas. Pertama kali, saat kakinya menyentuh kelas itu. Suasana seketika hening. Begitu tentram dan damai.
Saat dia sampai di meja dosen, Jeno meletakkan bukunya di atas meja. Kemudian untuk eprtama kalinya dia menatap seluruh mahasiswa dan mahasiswi disana.Â
Disinilah dia mengawali mimpinya. Disinilah dia akan mencurahkan seluruh ilmunya agar bermanfaat.Â
"Selamat pagi semua!" Akhirnya dari kata itulah Jeno memulai kegiatan kelasnya.Â
Dia mulai menuliskan pembahasan sekarang sampai tak lama sebuah ketukan pintu membuatnya menoleh.
Matanya melihat seorang wanita sedang menunduk dengan nafas ngos-ngosan. Terlihat dia berlari untuk sampai disini sampai nafasnya tak beraturan.
Jantung Jeno berdegup kencang. Untuk pertama kalinya dia bersitatap dengan sepasang mata yang begitu teduh menurutnya. Dirinya perlahan menatap sosok gadis itu sampai berdiri di dekatnya.
"Maaf, Pak. Saya telat datang," kata gadis itu dengan menunduk.
"Siapa nama kamu?" Entah kenapa hanya kata itu yang mampu Jeno keluarkan.Â
Â
Entah karena dirinya penasaran siapa pemilik mata teduh itu atau karena dia ingin menghukumnya.
"Humaira, Pak," kata Humai dengan menunduk takut.
"Kamu tahu, ini sudah jam berapa?" tanya Jeno dengan tegas.
Kepala Humai perlahan mengangguk. "Iya, Pak. Saya tau."Â
"Lalu kenapa bisa telat?"Â
__ADS_1
"Saya masih…!"
"Saya tak menerima alasan apapun. Sekarang kamu keluar dari kelas saya dan jangan pernah telat lagi!"Â
Dari kejadian itulah seakan karma datang menghantui pikiran Jeno. Seperginya Humai, telinganya mendengar desas desus teman kelas Humai yang mengatakan kasihan. Mereka sebagian juga terdengar berbisik-bisik membela Humai.
Dari sanalah Jeno penasaran!Â
Sampai akhirnya saat dia pulang dari kampus dan menuju ke rumah yang ia beli hasil uangnya sendiri. Dia pertengahan jalan dia melihat sepasang ibu dan anak sedang bermain bersama di taman perumahannya.Â
Entah kenapa pemandangan itu tanpa sadar membuat Jeno menghentikan mobilnya. Dia menatap dari jauh, sampai akhirnya dirinya terkejut membelalakkan kedua matanya.Â
Dirinya tak percaya saat melihat jika yang bermain di sana, bersama anak kecil adalah mahasiswanya sendiri.
"Ibu!"Â
Sampai teriakan yang ia dengar pertama kali. Membuat Jeno tahu jima Humaira ternyata memiliki seorang putra. Ditambah banyak mahasiswa dan mahaswi yang tahu siapa Humai disana semakin membuat Jeno merasa bersalah.Â
Dan dari sanalah, dia mendekati sosok Jay. Seakan ia ingin meminta maaf karena dulu mengusir Humai karena telat ke kelasnya.Â
"Saya minta maaf untuk kejadian itu," kata Jenk yang sudah kembali pada ingatannya kali ini.
"Saya sudah memaafkan, Bapak. Dari pengalaman Bapak, saya juga bisa merubah dan mengatur jadwal saya mengurus Jay di pagi hari," kata Humai dengan jujur.Â
"Saya sedikit keteteran dulu tapi setelah Bapak usir, saya mulai membuat jadwal. Terima kasih banyak, Pak," lanjut Humai dengan apa adanya.
Jeno mengangguk. Dia tersenyum melihat Humaira yang tulus memaafkannya.
"Lalu bagaimana dengan pernyataan perasaan saya, Mai. Saya benar-benar suka sama kamu. Saya mencintai kamu dan menerima Jay disampingmu. Ini bukan gombalan, jika kamu menerima saya, maka saya akan membawa kedua orang tua saya ke rumahmu, sekarang juga!"Â
Bagian ini yang tersulit. Humaira merasa dadanya sesak. Dia bisa merasakan bagaimana perasaan dosennya kepadanya.Â
Dia bisa merasakan ketulusan hati Jeno. Bagaimana dosen killernya itu yang menaruh cinta kepadanya.
"Saya…"Â
~Bersambung
Nah dari sini udah tahu, 'kan? gimana si perjaka suka Humai, janda muda cantik yuhuu.
BTW bab hari ini full Jeno dan Humai. Hihi biar kelar kalo ya. Biar perasaan pembaca seneng hehe.
__ADS_1
Jangan lupa mampir ke karya temanku juga yah