Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Harapan Sebagai Seorang Ayah


__ADS_3

...Harapan seorang ayah untuk anak perempuannya adalah kebahagiaan. Dia hanya menginginkan anak perempuannya tertawa dengan bebas tanpa harus mengeluarkan air mata yang menyakitkan....


...~JBlack...


...🌴🌴🌴...


Akhirnya disinilah Syakir berada. Di sebuah restoran VIP yang sudah dipesan oleh Papa Hermansyah. Dia datang lebih dulu karena tak mau mantan mertuanya hadir dan menunggu dirinya..


Sejujurnya kedua tangannya telah terkepal keringat dingin. Dia gugup dan canggung di waktu yang bersamaan. Entah kenapa jantungnya berdegup kencang. Seakan dirinya akan melakukan pembicaraan besar dengan pria yang baru diketahui jika beliau adalah ayah kandung dari mantan istrinya.


Jujur mendengar tentang kenyataan keluarga Humaira, membuat Syakir bahagia. Dia dulu bahkan sampa menghampiri rumah Papa Hermansyah yang ada di Kota Malang tapi semua pelayannya mengatakan bahwa beliau tak ada di rumah.


Hingga ternyata selama ini, ayah kandung mantan istrinya dan keluarga Humai berada di Kota Jakarta. Dari sana, Syakir merasa bersyukur. Setidaknya sosok yang ia takuti akan sendirian berada di tangan orang yang tepat. 


Hingga pikiran Syakir memutar saat pembicaraan dirinya dengan Bara dan Almeera. Dia sangat ingat betul apa saja yang membuat sahabatnya itu malah lebih memilih menyelamatkan dan membantu Humai pergi dan menyembunyikan semuanya dari dirinya.


"Bukan," sahut Almeera dengan cepat. "Tapi ayah kandung Humai ingin bertemu denganmu."


Syakir menatap Almeera tak percaya. Dia bahkan seperti kesulitan bicara. 


"Ayah Humai?" 


"Ya." Almeera menganggukkan kepalanya. "Dia disini bersama kedua orang tua kandungnya. Apa kau sudah tahu siapa keluarga Humai?" 


"Ya. Keluarga Hermansyah bukan?" 


Bara mengangguk. "Mantan istrimu itu bukan wanita biasa, Kir. Dia adalah wanita terhormat dari keluarga terpandang." 


Syakir menarik nafasnya begitu dalam. Dia sangat tahu akan hal itu aemenjak dari Malang. Dari sana juga, dia mulai menyesali semuanya. Mencoba memperbaiki diri saat dia mencari tahu sosok ayah kandung mantan istrinya.


"Untuk apa Ayah Humai ingin bertemu denganku?" 


"Untuk masalah itu aku tak tahu," jawab Almeera dengan jujur. "Tapi sebenarnya Papa Hermansyah tak setuju denganmu, Kir. Dia tak suka kau ada disini."


Jantung Syakir seakan berhenti berdetak. Dia menatap Almeera yang mengatakan itu dengan ekspresi wajahnya yang super jujur banget. Namun, hal itu membuat Syakir paham jika Almeera tak main-main dalam bicara.


"Apa dia tak mau aku melihat putrinya?" 

__ADS_1


"Mungkin," sahut Almeera dengan mengangguk. "Dia kecewa dengan sikapmu di masa lalu." 


Syakir menunduk. Jangankan Ayah dari mantan istrinya. Dirinya sendiri yang sebagai pelaku saja, jika ingat masa lalu juga kecewa, marah dan malu. Dia bahkan sampai berpikir hatinya terbuat dari apa dulu. Sampai ia rela mengatakan hal hina dan begitu menyakitkan Humaira.


Namun, dari sana juga. Syakir menjadi tahu jika mantan istrinya sangat mencintainya. Dari sana dia bahkan berharap ada kesempatan lagi untuk membahagiakan Humaira. 


"Sikapku yang dulu memang terlalu buruk, Mai. Aku saja malu dengan diriku sendiri," jeda Syakir dengan menarik nafasnya begitu dalam. "Bahkan aku sampai memiliki muka ketika pertemuan dengan Humai di kampus. Aku merasa tak pantas bertemu dengannya meski hati kecilku bahagia." 


"Melihatnya semakin cantik, semakin berisi dan seksi, membuatku sadar bahwa ternyata mantan istriku hidup dengan bahagia setelah berpisah denganku. Sedangkan aku?" Jeda Syakir sambil menunjuk dirinya sendiri. "Aku sendiri bahkan sampai tak sempat mengurus diri. Aku membantu diriku dari awal, berjuang memperbaiki diri dan mencari keberadaan mantan istriku dan anak kandungku." 


Syakir menceritakan semuanya. Tak ada yang doa tutupi. Dia bahkan terlihat seperti seorang pria yang benar-benar menyesali semua perbuatannya. Hingga sebuah tepukan di pundaknya membuat Syakir menatap ke arah Bara. 


"Kau tahu, perjuanganmu itu mengingatkan dulu ketika ingin mendapatkan istriku lagi," kata Bara pada Syakir. "Aku pernah berpikir tak pantas untuk istriku tapi aku masih sehat untuk merubah diriku sendiri agar pantas dengan dirinya." 


Lamunan Syakir seketika pecah saat sebuah pintu terdengar terbuka. Hal itu membuat Syakir lekas beranjak berdiri dengan menundukkan kepalanya. Dia bisa melihat sebuah sepatu pantofel yang sangat mahal berdiri di depannya. 


"Syakir?" Suara tegas dan berwibawa itu terdengar dan membuat Syakir mengangguk.


"Iya…" 


"Panggil Papa saja. Bukankah kau adalah ayah kandung dari cucu pertamaku?" 


"Duduklah, Syakir. Saya ingin berbicara banyak hal denganmu," kata Papa Hermansyah memerintah Syakir untuk duduk.


Akhirnya dua pria dengan perbedaan usia yang lumayan jauh itu duduk saling berhadapan. Keduanya adalah sama-sama pria yang berperan penting dalam hidup Humai.


Jika yang satu adalah ayah kandung yang dulu pernah menyerahkan putrinya untuk tanggung nawan. Sedangkan Syakir adalah pria yang menikahi putrinya dan menjadi alasan terbesar putrinya mengalami gangguan mental. 


Tak lama seorang pelayan datang dan Papa Hermansyah segera memesan minuman terlebih dahulu. Setelah itu Syakir juga memesannya. Keduanya masih diam, sampai pesanan minuman itu datang dan berada di hadapan mereka masing-masing.


"Sebelumnya kau pasti sudah tahu, siapa aku, kan?" Ucap Papa Hermansyah membuka suara. 


"Ya, Pa," sahut Syakir mengangguk.


"Aku datang kesini bukan sebagai seorang mantan mertua, Syakir. Tapi aku kesini sebagai seorang ayah dari wanita yang pernah kau sakiti mentalnya," ujar Papa Hermansyah yang membuat Syakir menatapnya tak percaya.


"Kehadiranmu kemarin, membuat Humai yang sudah lama tak minum obatnya harus meminumnya lagi. Kau…" jedanya menunjuk Syakir yang masih shock akan apa yang dia dengar. "Pelaku utama yang membuat putriku harus ditangani oleh psikolog selama hampir satu tahun lebih." 

__ADS_1


Syakir semakin kecewa pada dirinya sendiri. Dia tak menyangka jika perbuatannya membuat wanita yang ia cintai semenderita itu.


"Kenapa? Kau kecewa?" Tanya Papa Hermansyah yang melihat Syakir terdiam dan kepalanya menunduk. "Apa kau berpikir untuk memutar waktu agar bisa mengulang semua kenangan itu dari awal?" 


"Nggak, Pa," jawab Syakir menggeleng. "Jika aku ingin mengulang masa lalu. Maka tak akan ada Syakir yang sekarang. Syakir yang menyesali semua masa lalunya dan berubah menjadi sosok yang lebih baik." 


Papa Hermansyah mengangguk. Kemudian tak lama, dia meletakkan kedua tangannya di atas meja karena sepertinya ini masuk ke dalam inti pertemuan ini. 


"Lalu apa yang kau inginkan sekarang, Syakir? Setelah bertemu dengan putriku, apa yang kau harapkan?" 


"Aku ingin meminta maaf langsung pada Humai, Pa. Aku juga ingin meminta maaf pada putraku," kata Syakir mengutarakan niatnya. "Aku hanya ingin rasa penyesalanku berkurang saat mendapatkan maaf dari mereka berdua." 


"Putriku sudah memaafkanku sejak dulu," kata Pap Hermansya yang membuat Syakir memberanikan diri untuk mendongakkan kepalanya lagi. "Bagaimana jika Papa sekarang yang meminta sebagai seorang ayah, jangan pernah menemui putriku lagi. Jauhi Humai dan cucu pertamaku?" 


Syakir merasa hatinya ditusuk jarum. Kehadirannya yang belum memulai saja sudah ditolak mentah-mentah.


"Aku akan tetap menemui mereka, Pa. Meski aku tak ada kesempatan untuk kembali. Namun, aku menemui mereka hanya untuk meminta maaf," kata Syakir tak pantang arang.


Hermansyah bisa melihat keseriusan dalam diri Syakir. Dia juga meneliti bagaimana pria itu menjawab pertanyaannya dan semua gerak-geriknya. 


"Tolong berikan Syakir kesempatan, Pa. Sekali saja untuk meminta maaf." 


Papa Hermansyah menarik nafasnya begitu dalam. Dia bahkan mulai meyakini perkataan Almeera yang mengatakan bahwa Syakir telah berubah.


"Baiklah." 


"Jadi…?" Tanya Syakir saat melihat kepala Hermansyah mengangguk.


"Kau boleh menemui putriku tapi…" Jeda Papa Syakir memberikan kesempatan pada pria yang sebenarnya namanya masih melekat indah di hati putri tunggalnya itu. "Jangan pernah memaksanya untuk bisa bertemu denganmu jika dia belum siap."


~Bersambung


Lampu ijo gak nih? yuhuuu


Mampir ke novel temenku juga ya gen


__ADS_1


Bercerita tentang manis pahitnya kehidupan seorang wanita cantik bernama Sashi yang harus berjuang membesarkan putranya seorang diri setelah kematian suaminya karena kecelakaan. Sashi yang seorang desainer harus mampu mengelola dan mempertahankan perusahaan peninggalan suaminya dari sifat tamak adik iparnya.


Seiring waktu, Sashi berubah menjadi seorang CEO wanita dan seorang Ibu serta akan menguak misteri kematian suaminya. Apakah ketika semuanya terkuak Sashi masih sendiri, atau ia berhasil menemukan pendamping hidupnya?


__ADS_2