
...Dari sinilah kehidupan yang sebenarnya akan dimulai. Kehidupan rumah tangga yang berjalan bak lika liku tanpa henti. Kehidupan yang tanpa sandiwara dengan ibadah terpanjang setiap manusia. ...
...~Humaira Khema Shireen...
...🌴🌴🌴...
Akhirnya kalimat sakral itu terucapkan. Perasaan Humaira gemetar bukan main. Bahkan tanpa sadar air matanya mengalir tanpa diminta.
Kini statusnya sudah berubah di hadapan Tuhan. Kini dia bukan lagi Humaira singlelillah tapi dia sudah menjadi seorang istri. Istri dari seorang pria bernama Guntur Syakir Alhusyn.
Sosok yang akan menjadi imam untuknya. Sosok yang harus di taati dan hormati seperti pada orang tuanya sendiri. Sosok yang akan menuntunnya menuju surga.
"Selamat, Nak. Selamat datang di keluarga Alhusyn," kata Mama Ayna mencium dahi menantunya itu.
Wanita paruh baya itu tak mampu menutupi kebahagiaannya. Wajahnya benar-benar menunjukkan bagaimana dia bersyukur memiliki Humai sebagai istri putra pertamanya. Bagaimana dia yang sangat bahagia ketika anaknya mau bertanggung jawab.
"Terima kasih, Ma," kata Humai mencium punggung tangan Mama Ayna. "Bimbing Humai ya, Ma. Kalau ada tingkah Humai yang salah. Tolong nasehati Humai biar bisa jadi istri yang baik."
Mama Ayna mengangguk. Dia mulai menggenggam tangan menantunya dengan tersenyum.
"Ayo kita turun dan temui suami kamu sekarang, Nak!" ajak Mama Ayna dengan beranjak berdiri.
Humai mengangguk. Dia menarik nafasnya begitu dalam. Bukan karena gugup tapi dia harus menyiapkan hati dan perasaannya dengan semua perlakuan Syakir setelah ini.
Dia harus menjadi sosok yang kuat di hadapan Syakir. Dia tak boleh menunjukkan sisi lemahnya sedikitpun. Humai harus semangat dan menguatkan dirinya untuk menghadapi tingkah dan perilaku Syakir kepadanya.
Langkah tiap langkah mulai mereka langkahkan. Mereka berjalan menuju tempat dimana Syakir menunggu. Humai tak berani mendongakkan kepalanya.
Dia menundukkan kepalanya sampai Mama Ayna menghentikan langkah kakinya sejenak.
"Angkat kepalamu, Sayang. Jangan insecure dengan penampilanmu. Sekarang kamu adalah pemenangnya, ratunya dari acara ini. Kamu harus percaya diri!"
Humai mengangguk. Dia akhirnya mulai mengangkat kepalanya. Memberanikan diri berjalan dengan dagu terangkat yang selama ini tak pernah ia lakukan. Dia harus bisa dan bisa.
Langkah kaki keduanya kembali melangkah. Mereka berjalan sampai mata semua orang tertuju padanya. Humai bisa melihat sosok pria yang sudah menjadi suaminya menunduk.
Syakir benar-benar tak menatapnya dan hal itu hanya membuat Humaira menghembuskan nafasnya pelan. Mama Ayna lekas menuntun Humai untuk berdiri di samping putranya.
__ADS_1
"Kalian sudah boleh saling memasangkan cincin di jari pasangannya," kata pak penghulu pada keduanya.
Perlahan Sefira mendekat. Dia membawa nampan kecil yang diatasnya terdapat sepasang cincin nikah. Syakir tak tahu siapa yang menyiapkan semua ini.
Perlahan pria itu mengambil satu cincin dari adiknya. Lalu dia berhadapan dengan Humai yang sedang menunduk. Syakir belum melihat wajah istrinya itu tapi dia juga tak berniat.
"Mana tanganmu," kata Syakir pelan.
Humai mulai mengangkat tangannya. Dengan segala keterpaksaan, Syakir akhirnya memegang ujung jari Humai dengan tangan kirinya. Lalu tangan kanannya mulai memasangkan cincin itu di jari manis Humai.
Semua orang yang datang bertepuk tangan. Bahkan para fotografer yang disewa oleh Sefira mulai menembak kilat flash itu dihadapan keduanya.
Humaira juga melakukan hal yang sama. Namun, saat dia hendak memasangkan ke jari Syakir. Pria itu malah tak mengangkat tangannya.
"Angkat tanganmu, Syakir!" kata Mama Ayna pada putranya.
"Aku tak mau, Ma. Aku tak usah memakai cincin itu," ujar Syakir dengan pelan.
"Syakir!" seru Mama Ayna dengan nada ancaman.
Akhirnya pria itu menyerahkan tangannya. Saat Humai hendak memegangnya. Syakir lekas menjauh.
Humai hanya bisa mengangguk lemah. Mama Ayna dan Sefira juga hanya bisa diam. Mereka tahu bagaimana perasaan Syakir kali ini. Namun, tanggung jawab itu tetaplah tanggung jawab. Putra dan kakak mereka menghamili seorang gadis dan murni kesalahannya.
"Sekarang pegang kepala istrimu dan baca doa untuknya," kata Pak Penghulu yang membuat Syakir mengangguk.
Dia sebenarnya ingin menolak. Namun, melihat banyaknya orang di sana membuat Syakir tak bisa berkutik. Pria itu dengan terpaksa mengangkat tangannya dan meletakkan di atas kepala Humai.
Lalu Syakir mulai membacakan doa. Doa yang sudah ia tahu karena ia hafalkan saat berniat menikahi Rachel. Namun, ternyata itu semua harus bubar karena kehadiran gadis cupu di depannya ini. Semua rencana yang sudah ia susun serapi mungkin untuk masa depannya sudah hancur tak bersisa.
"Ayo agak mendekat. Cium dahi istri Anda!" kata para fotografer yang membuat Syakir menatap protes.
"Ayo, Syakir!" kata Mama Ayna yang membuat Syakir menatap mamanya dengan pandangan menolak.
"Plis, Ma. Syakir gak mau!"
"Harus mau. Ayo!" Mama Ayna mengambil tangan putranya dan Humai.
__ADS_1
Dia menyatukan kedua tangan itu dan membuat Syakir semakin membenci wanita yang menjadi istrinya itu.
Dengan sengaja dia menekan jari jemari Humai dan membuat gadis itu mendongak. Tatapan keduanya akhirnya bertemu dan membuat Syakit tak bisa mengatakan apapun. Dia menatap penampilan Humai. Melihat bagaimana make up wanita yang menjadi istrinya beberapa menit yang lalu.
Begitupun dengan Humai. Wanita itu merasakan jantungnya berdegup kencang saat menatap wajah rupawan pria yang menjadi kekasihnya. Mata tajam itu seakan mengorek isi matanya dengan lekat. Hingga sebuah bisikan dari bibir Syakir membuat pikiran Humai terhempas ke jurang.
"Jangan kau kira penampilanmu yang seperti ini, aku menyukaimu, Gadis Cupu!" bisik Syakir pelan. "Kau tetaplah gadis murahan. Gadis jelek yang ingin kaya dengan menjeratku."
Setelah mengatakan itu akhirnya Syakir mencium dahi Humai dengan wajah tak ikhlas. Dia tak peduli dengan tatapan protes para wartawan yang tak puas dengan hasil jepretannya.
Mereka meminta diulangi lagi tapi Syakir malah menolaknya.
"Aku ke kamar mandi dulu, Ma." Setelah mengatakan Syakir lekas meninggalkan Humai yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
Dia tak menyangka jika Syakir bisa mengatakan hal jahat itu meski wajahnya sudah dipoles secantik mungkin. Jujur hati ibu hamil tetap sensitif. Dia juga tetaplah wanita biasa.
Humaira ternyata mampu terpana dengan ketampanan Syakir bahkan jantungnya berdetak saat mata tajam itu menatapnya juga. Apalagi ditambah status keduanya yang halal membuat Humai juga memiliki hak luas untuk mencintai suaminya itu.
...🌴🌴🌴...
Sedangkan di tempat lain, terlihat seorang wanita sedang mengacak-ngacak kamarnya sendiri. Dia begitu cemburu saat melihat bagaimana ijab kabul pria yang menjadi kekasihnya dengan gadis cupu yang sangat ia benci.
Rachel, gadis itu bisa melihat semua acara itu karena Sefira melakukan live di IGNya. Bahkan dengan mata kepalanya sendiri, Rachel bisa melihat kekasihnya mencium dahi Humai.
Meski dia tak menyukai Syakir tapi Rachel takut jika sumber uangnya lenyap. Meski dia kaya, memiliki kekasih seperti Syakir adalah keberuntungan. Uang jajan double, uang pemasukannya lebih banyak dan dia bisa membeli apapun.
"Kau boleh senang sekarang, Gadis Cupu. Tapi nanti, aku akan membuatmu menangis!" kata Rachel dengan tatapan bencinya.
"Aku yakin Syakir hanya mencintaiku. Dia tak akan suka dengan gadis jelek cupu itu," serunya menenangkan dirinya sendiri. "Tunggu saja, Humai. Kau akan tau siapa pemilik suamimu sebenarnya."
~Bersambung
Hahaha yang bikin ulah siapa, yang panas siapa. Ngakak.
Sudah siap dengan kelanjutan Bang Syakir Suami Dajjal?
Aku cuma bilang alur HTS sama GJISC berbeda ya guys.
__ADS_1
Penyesalannya aja beda. Jadi tunggu aja.