Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Diusir?


__ADS_3

...Aku tak pernah menyangka kehidupanku berubah begitu drastis karena sosok kecil dalam tubuhku ini. Kehadirannya karena sebuah kesalahan tapi dia sangat berarti untukku sekarang....


...~Humaira Khema Shireen...


...🌴🌴🌴...


"Kau!" seru Syakir dengan marah. "Ngapain kau ada disini, hah! Kenapa kau ada di rumah orang tuaku, Gadis Cupu!" 


Suara teriakan itu tentu begitu kencang. Bahkan telinga Humai sampai sakit. Hal itu juga yang membuat orang rumah segera berlari ke arah sumber suara.


"Kau semakin berani yah. Kemari kau!" seru Syakir sambil menarik lengan Humai.


Saat dia hendak menyeretnya. Tiba-tiba sebuah tangan melepaskan cekalan itu dan membuat Syakir berbalik.


"Kau!"


"Apa, Syakir?" seru Mama Ayna yang berada di antara mereka berdua. "Kamu benar-benar sudah berubah, Nak. Kamu seperti bukan putra Mama." 


Syakir menatap mamanya dengan lekat. Jujur ada hatinya yang tersakiti saat melihat mamanya lebih membela orang lain daripada anaknya sendiri. 


"Lihatlah? Sejak kapan putra Mama berani mabuk?" kata Mama Ayna dengan mata berkaca-kaca. "Dulu kamu gak sekasar ini, Syakir. Kamu bahkan gak pernah sekejam itu kalau marah. Lalu sekarang?" 


Mama Ayna menghapus air matanya. Dia benar-benar tak percaya dengan tingkah putranya yang sangat amat diluar batas. Mencium aroma alkohol di pakaian putranya membuat hati seorang ibu itu tersakiti. 


Dia merasa gagal.


Gagal dalam mendidik anak. Menyadarkan putranya bahwa yang dilakukannya salah dan juga gagal menjadi madrasah utama untuk anak-anaknya.


Mama Ayna berpikir, putranya akan menjadi sosok yang semakin mandiri, bertanggung jawab dan dewasa ketika memilih untuk tinggal seorang diri. Bahkan Mama Ayna mendukung putranya karena takut Syakir juga kelelahan bolak balik rumah dan perusahaan.


Namun, ternyata dugaannya salah. Sepertinya keputusannya mendukung Syakir untuk tinggal di apartemen adalah sebuah keputusan yang sangat dia sesali. 


"Mama. Maafkan, Syakir," kata pria itu dengan mencoba memegang tangan Mama Ayna.


"Lebih baik kamu belajar menilai dirimu sendiri, Syakir! Banyak berkaca daripada marah pada orang lain karena kesalahanmu sendiri," ucap Mam Ayna sambil menghapus air matanya. 


Syakir merasa sedih. Jujur selama ini dia tak pernah membuat orang tuanya kecewa. Syakir selalu berusaha menjadi anak yang berbakti dan menuruti semua yang diinginkan orang tuanya. 

__ADS_1


Dia selalu menghormati Mama Ayna dan Sefira. Dia tak mau mama dan adiknya merasa tersakiti hatinya. Namun, entah kenapa sekarang Syakir malah bukan hanya menyakiti hati perempuan.


Tapi dia sudah merusak sampai ke akar-akarnya.


"Mama…" 


"Asal kamu tahu, Humai tinggal disini atas permintaan Mama. Kalau kamu mau marah, marah sama Mama. Bukan sama Humai," ujar Mama Ayna dengan menatap putranya tajam.


Syakir menatap mamanya tak percaya. Dia bahkan terkejut jika kehadiran gadis cupu itu karena mamanya sendiri.


"Kalau kamu gak mau Humai tinggal disini. Lebih baik kamu yang pergi dari rumah, Syakir!" 


Jantung Syakir mencelos. Dia semakin menatap mamanya dengan lekat. Ia tak percaya jika mama yang sangat menyayanginya mampu mengusirnya.


Apalagi alasannya karena gadis cupu itu. Mata Syakir semakin menatap Humai dengan tajam. Rasa benci, marah dan kecewa campur menjadi satu. Dia ingin berteriak di hadapan Humai tapi tak bisa ia lakukan.


"Mama aku!" 


"Jangan katakan apapun, Syakir. Mama sudah capek sama semua tingkah kamu. Mama dan Papa sudah putuskan bahwa lusa kamu harus menikah dengan Humai!" kata Mama Ayna telak.


"Tapi, Ma…"


Setelah mengatakan itu. Mama Ayna lekas membalikkan tubuhnya. Dia menatap Humai yang sejak tadi menunduk.


"Ayo!" ajak Mama Ayna yang membuat Humai mendongak.


"Maaf, Ma. Aku…" 


"Tak ada yang perlu kamu mintai maaf. Semua bukan salahmu, Nak. Kamu ada disini karena Mama," kata Mama Ayna lalu mulai membawa Humai pergi dari sana. 


Haidar, ayah kandung Syakir juga mengikuti langkah kaki istrinya. Meninggalkan Sefira dan kakaknya berdua disana. Saat pria itu tersadar dengan posisi adiknya. Syakir lekas mendekat.


"Jangan!" seru Sefira menolak.


Kepalanya menggeleng. Dengan tangan diarahkan ke depan sebagai tanda bahwa Syakir harus berhenti.


"Aku kecewa padamu, Kak. Aku sangat kecewa padamu!" seru Sefira dengan menangis.

__ADS_1


Tanpa menunggu penjelasan Syakir. Sefira lekas menghapus air matanya dengan kasar. Lalu gadis itu menyusul mama, papa dan sahabatnya yang berlalu terlebih dahulu.


Syakir hanya bisa menatap nanar ke arah seluruh keluarganya. Hanya karena satu kesalahannya, posisinya sudah tergeser. Gara-gara gadis dan anak itu, dia dibenci oleh kedua orang tua dan adiknya.


Syakir semakin marah. Dia semakin emosi dengan kepalan tangan yang begitu kuat. Rasa benci itu tentu terlihat jelas. Matanya memerah menahan air mata yang hendak mengalir karena penolakan mama dan adiknya. 


"Aku benar-benar tak akan pernah memaafkanmu. Kau mengambil masa depanku, merusak kehidupan keluargaku dan membuatku menyakiti wanita yang kucintai. Aku sangat membencimu. Aku juga membenci makhluk kecil itu." 


...🌴🌴🌴...


Setelah acara makan malam selesai. Sefira mengajak Humaira berkeliling di rumahnya. Dia ingin sahabatnya itu nyaman tinggal disini sementara waktu. 


Dia berusaha melupakan kejadian yang tadi terjadi. Sefira berusaha tersenyum walau sebenarnya luka kekecewaan yang dibuat oleh kakaknya begitu mendalam. Dia juga sangat terkejut melihat kakak yang biasanya lemah lembut dan kalem tiba-tiba berubah menjadi sosok yang kasar. 


"Kita mau kemana, Fir?" tanya Humai dengan langkah kaki menuruti langkah kaki Sefira.


"Tarrah!" ujar Sefira dengan menghidupkan lampu yang tadinya menyala.


Mata Humai berbinar cerah. Dia menatap kagum ke arah ruangan yang dibentuk seperti tabung. Ruangan ini berbeda dari yang lain. Terdapat gantungan tanaman yang bisa hidup di dalam ruangan. 


Kehijauan ini membuat rumah menjadi asri. Ruangan itu terasa lebih sejuk dengan alami dan membuat perasan Humai sedikit lebih tenang. Bibirnya bahkan melengkung ke atas membentuk sebuah senyuman indah. 


"Ini luar biasa, Fir. Ruangan ini sangat indah." 


"Kau bisa menggunakan ruangan ini sepuasmu nanti. Mama tak akan keberatan jika taman buatan ini diolah oleh dirimu," kata Sefira yang membuat Humai menatap sahabatnya dalam diam.


Jujur dirinya juga merasa aneh dengan keadaan ini. Dia merasa beruntung atau malah seperti jatuh ke dalam jurang. Dia tak mau hidupnya seperti ini, ia ingin kembali ke kehidupan lama. Walau dia harus bekerja banting tulang. Namun, semua keadaan tenang.


"Kenapa, Mai?" tanya Sefira mendekat. 


"Aku merasa menjadi sumber masalah untuk kakakmu, Fir. Aku seperti merebut tahtanya di rumah ini," lirih Humai dengan menunduk. 


"Jangan berpikir seperti itu, Mai. Ingat! Kamu bukan merebut tapi kamu sedang memperjuangkan anak yang ada dalam kandunganmu," kata Sefira sambil menggenggam tangan sahabatnya.


"Tapi…" 


"Tak ada kata tapi. Anak ini putra kakakku, keponakanku dan cucu orang tuaku. Dia berhak memiliki hidup yang sama dengan ayah kandungnya. Hidup di rumah ini dengan segala cinta dari kami."

__ADS_1


~Bersambung


Siapin koin poin buat otw ijab kabul yah. Nih author semangat nih buat ngetik part kawin eh nikah.


__ADS_2