
...Seberapa jauh kau ingin mengelak akan kenyataan. Jika dia adalah darah dagingmu sendiri maka ikatan itu akan semakin kuat dan tak bisa dipisah....
...~JBlack...
...🌴🌴🌴...
"Humai. Humai, Kak. Dia pendarahan," ucap Sefira dengan menangis. "Ayo kita lihat Humai, Kak. Ayo!"
Sefira benar-benar tak peduli dengan keadaannya. Dia hanya ingat dengan kondisi Humai. Saat perempuan itu mencengkram lengannya karena perutnga yang kesakitan dan kaku.
Sefira takut terjadi sesuatu pada calon keponakannya. Dia takut jika guncangan yang terjadi membahayakan Humai dan bayi yang ada dalam kandungannya.
"Kumohon, Kak. Beri sedikit rasa manusiamu pada istri dan anakmu," pinta Sefira dengan memohon. "Setidaknya biarkan Giska tahu keadaan Humai."Â
Wajah gadis itu penuh permohonan. Bahkan melihat Syakir yang hanya diam membuat Sefira sedih sekaligus sakit. Kenapa dalam keadaan seperti ini, hati kakaknya masih membatu.
Kenapa di suasana yang menakutkan ini, tak membuat kakaknya sedikit menaruh simpati pada istri dan calon anaknya.Â
"Kak," kata Sefira dengan menyatukan kedua tangannya memohon. "Kumohon antar Giska kesana. Demi Giska, Kak. Pliss."
Akhirnya Syakir memalingkan wajahnya. Baru kali ini adiknya memohon seperti ini. Bahkan pertengkaran di antara keduanya langsung tertepis karena masalah Humaira.
Adiknya itu benar-benar menyayangi gadis cupu itu melebihi dirinya. Melihat dari effort yang giska berikan. Melihat bagaimana adiknya berjuang, membuat Syakir tahu jika dirinya tergeser dari hati sang adik hanya karena Humaira.
"Kak!"Â
"Ini semua demi kamu!" kata Syakir sebelum dia berbincang dengan salah satu dokter disana.
Sefira hanya mampu melihat interaksi kakaknya. Namun, tak lama senyumannya mengembang saat kepala dokter itu mengangguk dan seorang perawat yang tadi keluar, kembali dengan membawa kursi roda.
"Terima kasih banyak, Dok," ucap Syakir lalu mendorong kursi roda itu ke arah ranjang adiknya.Â
"Ayo." Syakir menggendong tubuh Sefira lalu meletakkannya di kursi roda.Â
Setelah itu, dia segera keluar dari ruang rawat setelah memastikan adiknya duduk dengan tenang dan nyaman.Â
"Kata dokter dimana Humai, Kak?" tanya Sefira mendongak.Â
"Dia sedang diperiksa oleh dokter kandungan," kata Syakir yang terpaksa bertanya perihal istrinya itu.
Akhirnya mereka segera berjalan menuju ruangan dimana dokter yang tadi berbicara dengan Syakir memberikan arah dimana Humai berada. Sefira benar-benar menggenggam tangannya satu dengan yang lain.
Dia menguntai doa semoga tak ada sesuatu yang terjadi pada keponakannya. Sosok bayi mungil yang jenis kelaminnya sangat diharapkan kakaknya. Jika itu terjadi, mungkin Sefira akan menjadi sosok yang paling menyesal.
__ADS_1
"Disini, Kak?" tanya Sefira saat keduanya mulai berhenti di depan sebuah ruangan tempat dimana dokter kandungan berada.
"Ya," sahut Syakir terdengar ragu.
Dengan segera, Sefira memutar kursi rodanya sendiri. Dia juga membuka pintu itu segera.
"Humai!" panggilnya yang membuat semua yang ada di dalam ruangan menoleh.Â
Disana, Sefira bisa melihat sahabatnya tengah terbaring lemah di ranjang pasien. Dia juga melihat Humaira yang menangis dan membuat jantungnya berdegup dengan kencang.
Tak mau dibuat penasaran, akhirnya Sefira mengabaikan keadaannya. Dia memilih beranjak dari kursi rodanya dan membuat Syakir terkejut.Â
"Giska!"Â
"Lepas, Kak!"Â
Sefira berhasil melepaskan tangan Syakir dari lengannya. Dia juga mengabaikan dahinya yang berdenyut.
"Kamu baik-baik aja, 'kan, Mai? Keponakanku bagaimana?"Â
Sefira menatap perut Humai. Dia merasa sedikit tenang saat melihat perut itu masih menjendut. Namun, Humaira yang menangis masih membuatnya takut sekaligus khawatir.
"Katakan padaku, Mai? Apa ada yang sakit?"
"Biarkan pasien tenang dulu, Nona," kata seorang dokter yang ternyata dokter kandungan Humai.
"Pasien mengalami pendarahan karena guncangan yang terjadi, Nona," kata Dokter menjelaskan. "Tapi selama pemeriksaan tadi, kami memantau pergerakan baby dan alhamdulillah dia terus bergerak dengan aktif."Â
Sefira mengusap wajahnya. Dia benar-benar bersyukur dan merasa lega. Akhirnya perjuangannya yang memang nekad dan berusaha menjaga Humai berhasil.
Dia tak mementingkan keselamatannya tadi. Yang ada dalam pikirannya hanyalah bagaimana Humai dan calon keponakannya baik-baik saja. Keduanya bisa lepas dari jeratan penjahat yang mengintai keduanya.
"Alhamdulillah. Terima kasih banyak, Dokter. Terima kasih," ucap Sefira menjabat tangan dokter dengan wajah bahagia.
"Nona Humai akan kami pindah ke ruang rawat sampai kondisinya stabil dan pendarahannya berhenti."
"Baik, Dokter."Â
Setelah mengatakan itu, dokter lekas keluar untuk meminta para perawat menyiapkan ruangan Humai. Mereka meninggalkan Syakir, Humai dan Segira disana.
"Kamu gimana?" tanya Humai setelah menenangkan dirinya.
"Aku baik. Terima kasih udah mau percaya sama aku," kata Sefira dengan air mata yang menetes.
__ADS_1
"Aku selalu percaya kalau kamu bakalan nepatin janji kamu. Jagain kami berdua dari mara bahaya yang datang."
Sefira mengangguk. Dia benar-benar bangga telah membuktikan semuanya pada Humai. Hingga pikirannya tiba-tiba tertuju pada sang kakak. Gadis itu menoleh ke belakang. Dia melihat Syakir yang masih berdiri di sana.
"Kak!"Â
Humai ikut menoleh. Dia melihat Syakir berdiri di sana dengan pandangan kerinduan. Entah kenapa tiba-tiba ia merasakan anak yang ada dalam kandungannya menendang semakin kuat. Humai merasa putranya sangat senang melihat ayahnya ada di dekatnya.
"Kemari!"Â
Syakir menghembuskan nafas berat. Dia tak bisa menolak karena kondisi Sefira juga membuatnya khawatir. Dengan perasaan setengah ikhlas Syakir mendekat. Dia berdiri di samping Sefira yang duduk di samping ranjang pasien.Â
"Kakak gak mau nyapa Humai?"Â
Syakir hanya memalingkan wajahnya. Hal itu saja membuat Sefira tahu jika ternyata hati kakaknya telah membatu. Namun, bagaimanapun Sefira ingin kakaknya merasakan sesuatu hal. Sesuatu yang mungkin bisa merubah perasaan dan hati Syakir.
"Mau apa, Giska?" tanya Syakir terkejut saat tangannya dipegang oleh sang adik.Â
"Diam!"Â
"Tapi…"Â
"Pegang dan rasakan!" kata Sefira yang meletakkan tangan Syakir di atas perut Humai.
Hal itu tanpa sadar membuat Humaira menyematkan senyuman kecil di bibirnya. Dia merasa satu keinginan anaknya terwujud.
Tanpa diduga Humai merasa anaknya bergerak dengan lincah. Bahkan beberapa kali dia menyundul dan menendang hingga membuat matanya menatap Syakir yang sedang terpaku dengan apa yang dilakukan oleh Sefira.
Perasaan apa ini? Gumam Syakir dalam hati.
Dia hampir saja menarik tangannya saat sebuah gerakan menyentuh tangannya. Namun, semakin bergerak, ada sesuatu yang menggetarkan hatinya.
Dia bergerak sangat aktif, gumam Syakir dengan perasaan hangat.Â
Dia menatap perut itu. Syakir juga bisa melihat tangannya bergerak mengikuti tendangan yang baru kali ini dia rasakan. Entah kenapa dia merasa mulai nyaman dengan gerakan yang berasal dari perut istrinya.
Pemandangan ini membuat Sefira tersenyum. Bahkan dia menganggukkan kepalanya ke arah Humai saat sahabatnya itu mengatakan terima kasih tanpa suara.
Dia menatap kakaknya juga. Matanya berkaca-kaca saat melihat ekspresi Syakir yang sangat antusias.
Rasakan pergerakan dia, Kak. Setelah ini kamu gak bakal bisa merasakannya lagi, gumam Sefira dalam hati dengan meneteskan air mata. Â
~Bersambung
__ADS_1
Hemm kira-kira Bang Syakir lagi rasain apa yah?
Detik-detik konflik besar datang yuhuu.