
...Kebahagiaan itu kembali terasa lengkap dan sempurna ketika aku, kamu dan putra kita bisa bersatu kembali dan menjadi keluarga yang seutuhnya. ...
...~Guntur Syakir Alhusyn...
...🌴🌴🌴...
Semua orang bertepuk tangan saat mendengar jawaban Humaira. Mama Ayna dan Mama Emili bahkan sampai berpelukan. Dua ibu itu memang duduk berdampingan sekarang.
"Terima kasih sudah mengizinkan putraku untuk menjadi imam Humai sekali lagi, Mbak, " Lirih Mama Ayna dengan air mata harus menetea dari sudut matanya.
Mama Emili mengangguk. Bukan hanya Mama Ayna yang terharu. Dirinya juga ikut merasa bahagia melihat putrinya tinggal menghitung hari untuk bersatu dengan pria yang menjadi pujaannya itu.
"Sama-sama. Kita akan menjadi keluarga besar sebentar lagi, " Ujar Mama Emili dengan air mata yang ikut banjir di wajahnya.
Sedangkan Humaira dia menatap Syakir yang mengusap wajahnya penuh syukur. Pria itu juga terlihat sangat amat bahagia. Bibir yang terus menyunggingkan senyuman lebar terlihat jelas di mata Humai.
Sungguh perasaan semua orang begitu amat bahagia. Begitupun dengan Jeno. Pria yang pernah memiliki hati pada Humaira. Pria yang pernah menaruh hatinya pada ibu satu anak itu terlihat ikut merasa bahagia.
Tak ada rasa benci, tak ada ucapan buruk atau doa yang jelek ketika cintanya ditolak. Jeno benar-benar menerima takdir bahwa sebanyak apapun kita jatuh cinta. Tahta tertinggi dalam sebuah perasaan adalah melihatnya bahagia meski tanpa kita.
Cintanya memang besar untuk Humai. Perasaannya memang tulus untuk Humai dan Jay. Namun, itu dulu sebelum dia bertemu dengan wanita yang di sampingnya. Sebelum cintanya ditolak oleh Humai dan membuatnya sadar.
Sadar bahwa tak ada dirinya di hati mahasiswanya itu. Tak ada cinta dari Humai untuknya dan membuat Jenk mundur. Namun, semua itu tentu dibalas dengan indah oleh Tuhan.
Setelah cintanya dipatahkan. Harapannya diputus oleh semua orang. Teryata Tuhan memberikan pengganti yang luar biasa untuknya. Pengganti yang menurutnya sangat cocok dengan dirinya ini.
Pengganti yang saat ini duduk di sampingnya dengan cantik dan membuat Jeno mengangkat tangannya dan mengusap pipi itu dengan lembut hingga membuat pemiliknya menoleh.
"Ada apa? " Tanya Sefira dengan malu-malu saat tatapan mata Jeno padanya terlalu dalam.
"Kamu cantik, Sayang. Dan itu membuatku semakin jatuh cinta padamu, " Kata Jeno merayu.
"Gombal! " Buruk Sefira sambil memutar matanya malas. "Kamu kalau mau ngerayu mending di pakai atm. Biar sekalian aku malu-malunya. "
Jeno terkekeh. Hal inilah yang membuat pria itu merasakan jatuh cinta yang berbeda. Ketika bersama Humai, gadis itu banyak diam. Namun, dengan Sefira dia menemukan cinta yang baru.
__ADS_1
Warna cinta yang membuatnya merasa semakin hidup. Jeno yang murung dan pemalu. Jeno yang tertutup dan pendiam seakan menemukan obat kebahagiaannya ketika bersama Sefira.
Seakan hadirnya Sefira yang bertingkah lucu, abstrak, aktif dan sangat amat melawak membuat bibir Jeno tak hentinya tersenyum.
"Semua persiapannya bagaimana? " Tanya Papa Hermansyah pada Syakir.
"Semuanya sudah kami urus. Tinggal data milik menantuku saja agar orang kepercayaanku yang akan mengurus surat nikah kalian berdua, " Ujar Papa Haidar yang membuat Humai mengangguk.
"Humai siapkan nanti, Pa. "
"Oke, Nak. Papa menunggu, " Jawab Papa Hermansyah tersenyum pada calon menantunya itu.
"Lalu soal resepsi? " Tanya Mama Emili pelan yang membuat Mama Ayna tersenyum.
"Persiapan semuanya akan kita atur bersama setelah urusan Humai selesai di Korea. Syakir hanya tak mau menahan sedikit lagi, Mbak, " Kata Mama Ayna menatap putranya. "Dia bilang tak mau berpisah lagi dengan istri dan anaknya. "
Semua orang tertawa mendengar ucapan Mama Ayna. Tersangka utamanya juga menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Syakir tak berkilah sedikitpun karena apa yang dikatakan oleh mamanya memang benar.
Dia tak mau LDR an lagi. Apalagi dalam waktu yang lama. Dia juga tak mau berpisah terlalu lama dengan hubungan yang tak jelas. Syakir takut Humai bertemu pria tampan di Korea dan membuat hatinya oleng darinya.
"Baiklah. Karena semuanya selesai. Ayo kita makan bersama! " Ajak Mama Emili yang membuat mereka semua mengangguk.
...🌴🌴🌴...
Semua orang perlahan berjalan ke arah meja makan. Begitupun dengan Humai. Ibu satu anak itu endak beranjak berdiri sampai akhirnya tangannya dipegang oleh seseorang dan membuatnya berbalik.
"Ada apa, Sayang? " Tanya Humai saat Syakir hanya diam. "Ehh! "
Humai mengikut langkah calon suaminya itu. Syakir memegang tangannya yang ditarik dengan pelan agar mengikuti langkah kakinya.
"Mau kemana, Kak? "
Syakir tak memberikan jawaban apapun. Hingga akhirnya Humai tak lagi bertanya. Dengan pelan dia berusaha mengimbangi jalan calon suaminya itu. Hingga akhirnya langkah keduanya berhenti tepat di samping rumah.
Sebuah taman yang sangat indah membuat Humai takjub. Matanya menatap begitu cerah saat dia baru menyadari akan hal ini.
__ADS_1
Selama kedatangannya di rumah ini. Humai memang belum berkeliling sama sekali. Dia terus berada di dalam kamar dan bermain bersama putranya di dalam rumah.
"Taman ini. "
"Sangat indah, " Bisik Syakir yang entah kapan dia ada di belakang Humai dan memeluk gadis itu begitu mesranya.
Humaira menatap ke samping. Hingga wajah Syakir yang ada di pundaknya langsung berdekatan dengan wajahnya.
"Bagaimana Kakak bisa tahu? "
"Aku hanya mengikuti instingku saja, Sayang, " Bisik Syakir sambil menatap wajah calon istrinya dari samping. "Kamu sangat cantik. "
Humaira mendadak sesak nafas. Seakan ucapan Syakir membuat jantungnya berdegup kencang.
"Kakak juga tampan dengan pakaian seperti ini, " Lirih Humai ikut menyatakan apa yang ingin dia katakan sejak tadi.
Kemeja dan jas serta pakaian resmi yang melekat dalam diri Syakir membuat penampilan pria itu sangat luar biasa. Hal ini tentu membuatnya ingat bagaimana dulu Syakir masih bekerja di perusahaan. Sikap dan auranya masih sama seperti dulu. Dingin dan misterius ketika memakai pakaian seperti ini.
"Udah pandai ngegombal yah, " Bisik Syakir yang membuat Humai terkekeh.
"Aku belajar dari kamu, 'kan? " Balas Humai yang membuat tawa keduanya semakin pecah.
Syakir benar-benar tak melepaskan pelukannya. Keduanya melihat ke depan. Mereka menatap tanpa yang sangat indah dan menyejukkan pandangan mereka. Meski cahaya lampu memang menjadi penerang di taman tapi tak mengurangi keindahannya.
"Tinggal tiga hari lagi kita bersama lagi, Sayang, " Lirih Syakir setelah beberapa menit keheningan melanda di antara keduanya. "Setelah itu gak bakal ada yang bisa misahin kita berdua selain Tuhan. "
Humaira mengangguk. Dia membalikkan tubuhnya hingga pelukan Syakir terlepas. Tangannya perlahan terangkat dan melingkar indah di leher Syakir hingga tatapan keduanya bertemu.
"Jangan harap kamu bisa pergi darimu sendirian, Kak. Aku dan Jay akan ikut kemanapun kamu pergi! " Kata Humai yang membuat Syakir tersenyum.
Tanpa diduga pria itu mencuri satu kecupan di bibir Humai dan menciun puncak hidungnya juga.
"Dan aku akan siap membawa kalian kemanapun aku pergi. "
~Bersambung
__ADS_1
Makin bikin sesak nafas ini mah. Belum nikah aja udah bikin kepanasan haha.