Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Perhatian Jay pada Syakir


__ADS_3

...Kebersamaan ini dan canda tawa yang selalu kamu berikan membuatku merasa menjadi wanita yang sangat beruntung di dunia ini....


...~Humaira Khema Shireen...


...🌴🌴🌴...


Di sebuah rumah terlihat sepasang pengantin baru tengah berkumpul bersama di ruang tamu. Dengan sang pria yang menatap istri dan anaknya bermain di atas karpet.


Di pangkuan pria itu terdapat laptop yang sudah beberapa tahun tak dipakai lagi. Lalu sekarang, untuk pertama kalinya akhirnya Syakir kembali mengoperasikan laptop itu lagi.


Lebih tepatnya, dia kembali bekerja mulai hari ini. Asisten papanya telah mengirimkan email darinya. Semua pekerjaan yang harus dicek telah dikirim via email yang membuat Syakir mau tak mau harus membukanya dan meneliti satu per satu.


Hal itu sebenarnya membuatnya malas. Syakir ingin bermanja dengan istri dan putranya. Namun, pria itu menyadari satu hal. Ketika satu pekerjaan dia terus tunda maka semakin banyak pekerjaan yang menumpuk untuknya.


"Ibu, " Panggil Jay dengan pelan yang membuat pandangan Humai beralih.


Ya sebenarnya sejak tadi wanita itu menatap suaminya itu. Lebih tepatnya mencuri sekat untuk melihat bagaimana tampannya suaminya saat bekerja. Saat Syakir sangat fokus dengan laptopnya. Entah kenapa menurut Humai ketampanannya bertambah yang semakin membuat hatinya terus berbunga-bunga.


"Ya, Sayang? " Balas Humai juga dengan berbisik.


"Ayah lagi ngapain, Bu? Kenapa dari tadi gak mau ikut main sama Jay? " Tanya anak itu dengan peka.


Ah Humai sadar putranya ini sangat peka dengan keadaan. Hay juga pintar melihat situasi. Pasti bocah kecil itu beranggapan kenapa ayahnya ada disini tapi tak memperdulikannya.


"Ayah gak ikut main karena dia lagi kerja, Sayang, " Kata Humai memberikan pengertian.


Hal inilah yang wajib dilakukan Humai agar antara anak dan suaminya tak ada celah atau sekat.


"Ayah lagi kerja, Nak. Mulai hari ini, Ayah kerja di kantor Kakek. Mangkanya Ayah dari tadi fokus sama laptopnya karena ada yang kirim kerjaan sama Ayah, " Ujar Humai yang ingin putranya mengerti jika bukan kemauan Syakir tak peduli padanya.


Jay mengangguk. Bocah kecil itu spontan beranjak dari duduknya. Sefira tak menahannya. Dia masih tetap duduk dan hanya memandang apa yang akan dilakukan oleh putra pertamanya itu.


Tanpa diduga, anak itu naik ke sofa samping ayahnya. Lalu dia menempel pada Syakir dengan matanya menatap ke arah layar yang menyala.


"Itu apa, Ayah? " Tanya Jay yang membuat perhatian Syakir terusik.

__ADS_1


Kepala Syakir menoleh. Dia lekas mengangkat tangannya dan memegang tubuh anaknya agar tak jatuh.


"Ini itu diagram, Nak, " ujar Syakir memberitahu.


Jay hanya mengangguk. Dia sepertinya tak paham apapun. Namun, tiba-tiba tanpa diduga. Tangan kecil itu memegang tangan Syakir yang lain yang memegang keyboard laptop di pangkuannya.


"Pasti tangan Ayah capek, 'kan? Ayah udah kerja dari tadi, " Ujarnya yang membuat Humaira menatap putranya tak percaya.


"Ayah dari tadi ketik-ketik terus. Sini Jay pijitin, " Tambahnya yang membuat mata Syakir berkaca-kaca.


Beginilah rasanya dimanja oleh putranya sendiri. Beginilah rasanya disayang oleh keluarga kecilnya. Diperhatikan, dimanja dan ada yang mengingatkannya membuat Syakir merasa hidupnya lebih berwarna.


"Anak Ayah pinter banget sih. Siapa yang ajarin? " Kata Syakir yang memindahkan laptopnya dengan satu tangan di atas sofa sampingnya lalu melihat bagaimana jemari kecil itu memijat tangan kanannya.


"Jay selalu pijat Kakek kalau Kakek capek kerja juga. Kakek sama kayak Ayah. Liatin laptop terus. Nanti kalau udah lama. Kakek minta pijitin jarinya, " Cerita Jay dengan jujur.


"Wah ada yang lagi adu kebolehan, yah? " Goda Papa Hermansyah yang baru saja keluar dari dalam kamar.


"Hihi, Kakek. Bener, 'kan, Kek? Jay sering pijitin Kakek," Kata Jay dengan hebohnya.


"Bener dong. Pijitan cucu kakek bener-bener mantap, " Puji Hermansyah yang membuat senyuman Jay semakin lebar.


Umurnya yang kecil tapi memang tingkahnya jauh lebih dewasa. Banyak kosa kata yang sok dewasa dan Syakir yakin karena selama ini anaknya itu hidup dengan orang dewasa dan membuatnya se aktif ini.


"Gimana, Yah? Enak 'kan? " Kata Jay menghentikan pijatannya.


Syakir menatap tangannya yang memang tadi sedikit tegang. Namun, sekarang dia merasa lebih rilex.


"Enak. Tangan Ayah udah gak kaku kayak tadi, " Ujar Syakir dengan jujur.


Meski pijatan itu tak kuat tapi masih terasa. Meski pelan tapi karena kasih sayang yang diberikan setiap sentuhannya membuat perasaan Syakir sangat amat bahagia.


"Yeyy. Kalau gitu, ayo kita main, Ayah? " Teriak Jay yang ternyata memiliki maksud terselubung.


Papa Hermansyah terkekeh. Dia sudah biasa akan kelakuan cucunya ini. Bukan hanya pada Syakir tapi pada dirinya juga, Jay selalu melakukannya.

__ADS_1


Sedangkan Humai memang sengaja untuk diam karena memang tingkah anaknya mencurigakan. Dia juga tahu jika Jay dilanda kebosanan dan membuatnya ingin jalan keluar.


"Ehhh! "


"Selalu seperti itu, Nak, " Sela Papa Hermansyah dengan pelan. "Jay akan mengajak kita jalan-jalan selesai dia memijat kita. Anakmu itu hanya merasa bosan, Syakir. Lalu saat ngeliat kamu kerja. Dia ingin kamu cepat selesai dan ajak dia main. "


Syakir menatap putranya dalam diam. Ternyata dia harus lebih peka akan kemauan putranya itu.


"Ayo, Ayah! "


Syakir melihat anaknya membereskan semua mainan yang sudah dikeluarkan bersama istrinya itu. Pria itu tak marah. Akhirnya dia menutup laptopnya setelah mematikannya.


"Kita jalan kemana, Yah? " Tanya Jay yang minta gendong dan kedatanganya telah bersiap untuk pergi.


"Ke rumah orang tua Ayah, Yah. Disana ada Ante Fira yang lagi sibuk. Kita gangguin dia aja. Gimana?"


Mata Jay berbinar. Jika bersama Sefira. Dia membayangkan bisa mendapatkan apapun. Ya Ante satu itu selalu menuruti keinginannya dan membuat kepala Jay akhirnya mengangguk.


"Mau, Ayah. Ayo kita ke Ante Fira! "


Sefira hanya terkekeh pelan. Dia tahu apa yang ada dalam pikiran putranya itu. Kebersamaan mereka sejak di Jakarta. Bagaimana sikap Fira yang selalu memanjakan putranya membuat Jay selalu bahagia ketika bertemu dengan sahabatnya itu.


Tawa Humai tentu membuat Syakir penasaran. Saat ketiganya sudah ada di dalam mobil dengan Jay yang didudukkan di bangku tengah dengan mainannya membuat Syakir akan bertanya pada istrinya itu.


"Kenapa kamu ketawa, Sayang? " Tanya Syakir yang membuat Humai menoleh.


Wanita itu menarik lengan suaminya dengan pelan. Lalu dia membisikkan sesuatu di telinga Syakir.


"Lihatlah apa yang akan dilakukan putra kita nanti, Kak. Kamu akan tahu kenapa dia langsung bahagia bertemu Giska, " Kata Humaira yang diakhiri dengan ciuman singkat di pipi Syakir.


Mata pria itu membulat. Dia tak menyangka istrinya itu melakukan kecupan singkat. Saat kepala Humai hendak menjauh. Syakir menahan tengkuk istrinya itu dan langsung mencuri ciuman di bibir istrinya.


"Kak! " Pekik Humai terkejut.


"Bonus karena kamu udah cium aku duluan. "

__ADS_1


~Bersambung


Bang Syakir tukang curi kesempatan dalam kesempitan haha. 3 bab hari yah. Aku usahain sampai akhir bukan 3 bab terus.


__ADS_2