
...Aku tak pernah menyangka jika cinta akan datang seindah ini. Bahkan ketika pria yang mampu membuatku jatuh cinta mampu membuatku yakin jika cinta akan semakin indah ketika dihalalkan di hadapan Tuhan....
...~Sefira Giska Alhusyn...
...🌴🌴🌴...
Akhirnya pasangan kekasih itu saling mengeratkan genggaman tangan keduanya bersama-sama. Mereka berjalan memasuki rumah Humaira menyusul keponakannya yang lebih dulu berlari kesana. Sefira telah mengambil keputusan. Ya dirinya akan mengenalkan Jeno pada kedua orang tuanya.
Dirinya akan mengatakan bahwa mereka jika dia siap menjalin sebuah hubungan. Ya, mungkin kedua orang tuanya akan merasa shock. Namun, Sefira berpikir jika mereka tahu sejak awal. Maka pasti keduanya akan memberikan masukan yang terbaik untuknya.
Bagaimanapun Sefira sadar bahwa dia tak memiliki pengalaman berpacaran. Dia tak pernah dekat dengan pria manapun. Jadi wajar saja jika hatinya masih merasa takut. Tubuhnya masih terasa bergetar ketika berdekatan dengan pria lain.
Hingga samar-samar langkah kaki keduanya hampir memasuki ruang keluarga. Telinga keduanya mendengar suara Jay yang mulai bercerita tentang ayah dan ibunya. Bibir Sefira tersenyum saat mendengar bagaimana keponakannya itu dengan pandai bercerita apa yang sudah dikabarkan oleh kedua orang tuanya.
"Jay seneng, Oma, Nenek. Jadi Jay bisa tinggal sama Ayah," ujarnya yang terlihat begitu antusias.
Kedatangan Sefira dan Jeno yang saling bergenggaman tangan tentu menarik perhatian Mama Emili, Mama Ayna dan Papa Haidar. Ketiga paruh baya itu saling menatap keduanya dengan lekat.Â
Sefira yang merasakannya ingin melepas kaitan tangan mereka. Namun, Jeno dengan pasti mengelus tangan Sefira dengan ibu jarinya mengkode agar dirinya tenang dan nyaman.Â
"Selamat Sore, Om, Tante," sapa Jeno yang membuat mereka lekas beranjak berdiri.
Dengan sopan dan santun, Jeno lekas meraih tangan ketiganya secara bergantian. Mencium punggung tangan sebagai bentuk salam hormat orang tua kekasih barunya itu.Â
"Sore," sahut kedua orang tua Syakir bersama-sama.
"Sore, Nak Jeno. Ayo duduk!"Â
Jeno dan Sefira perlahan duduk di kursi yang bisa diduduki oleh dua orang. Dia merasa gugup ketika tatapan kedua orang tuanya lekat kepadanya.
__ADS_1
Sefira sadar pasti mama dan papanya bertanya-tanya. Dia tahu jika mereka berdua pasti terkejut dengan ini. Bagaimanapun hubungan keduanya pun tak melewati banyak hal.Â
Mereka hanya bertemu beberapa kali sampai akhirnya saling mengungkap perasaannya masing-masing.
"Emm, Ma, Pa, kenalin…" Jeda Sefira menatap kedua orang tuanya yang menatap ke arahnya dengan pandangan teduh. "Ini Jeno. Dia adalah dosen di tempat kuliah Humai dan dia juga kekasihnya Sefira."Â
Sefira mengenalkannya dengan menatap wajah Jeno. Perempuan itu tersenyum ke arah pria yang membalas senyumannya dengan teduh.Â
Sedangkan Mama Ayna dan Papa Haidar serta Mama Emili. Ketiganya tentu terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Sefira. Mereka bahkan menatap tak percaya ke arah Jeno dengan intens.
"Sejak kapan kalian jadian?" Tanya Papa Haidar pada Jeno.
Pria paruh baya itu menatap Jeno dengan lekat. Bagaimanapun untuk calon putrinya itu. Dia benar-benar menyeleksi dengan baik. Putrinya itu tak berpengalaman. Dia tak mau Sefira menjadi bahan percobaan para pria yang datang untuk menguji perasaannya.Â
"Barusan, Om," kata Jeno dengan jujur. "Kami baru saja saling mengungkap perasaan kita berdua."Â
Jeno mengatakannya dengan pandangan yang yakin. Tak ada keraguan di kedua matanya. Dia benar-benar ingin memulai semuanya dengan kejujuran.Â
Dia menatap kedua orang tuanya yang menatap Jeno dengan serius. Dirinya mulai merasa takut jika kedua orang tuanya tak setuju. Bagaimanapun Sefira akan tetap memilih mereka. Menurutnya restu orang tua adalah restu dari allah.
Apa yang kedua orang tuanya inginkan dan mereka merestui. Sefira selalu merasa tenang dan lancar ketika melakukannya.Â
"Saya tak menjanjikan apapun, Tante. Saya hanya mengatakan pada Sefira, bahwa aku akan berusaha setia kepadanya," kata Jeno dengan jujur. "Saya tak banyak kata untuk mengumbar keromantisan tapi…"Â
Jeno menatap ke arah Sefira. Dia tersenyum dan mengusap tangan yang sejak tadi tak terlepas. Keduanya masih saling bergenggaman untuk saling menguatkan satu dengan yang lain.Â
"Saya ingin memulai semuanya dengan serius. Saya meminta Sefira mengenalkan saya dengan kedua orang tuanya. Saya ingin serius dengan hubungan kami."Â
Sefira menatap Jeno tak percaya. Pria muda itu, dengan wajah tampan mengatakannya dengan tenang. Tak ada keraguan sedikitpun di wajah Jeno. Pria itu benar-benar serius dengan apa yang dia katakan.Â
__ADS_1
"Apa kamu sekarang meminta restu kami begitu?"Â
"Iya, Om, Tante," sahut Jeno menjawab Papa Haidar. "Jika boleh, saya ingin meminta restu hubungan kami berdua. Saya juga ingin meminta izin untuk menikahi Sefira dalam waktu dekat."
"Apa!" Sefira terpekik terkejut.
Dia membulatkan matanya tak menyangka jika kekasihnya ternyata lebih dari sekedar mengenal. Ya, Jeno benar-benar melamarnya, melamarnya di hadapan kedua orang tuanya.Â
Sefira tak tahu akan hal ini. Dia tak pernah membayangkan jika Jeno seserius dengan dirinya.Â
"Kamu mungkin terkejut tapi aku benar-benar tak mau main-main dengan hubungan kita," ujar Jeno dengan begitu dewasa. "Aku serius dengan hubungan kita. Aku ingin memulai semuanya dengan halal. Aku tak mau membuatmu menunggu begitu lama. Umur kita juga sudah bisa untuk menikah."Â
Sefira tak bisa mengatakan apapun. Untuk pertama kalinya dalam hidup adik Syakir, dia merasa sangat dihargai oleh seorang pria. Dia merasa menemukan pria bertanggung jawab selain papa dan kakaknya.
"Apa kamu serius dengan perkataanmu, Jeno?" Tanya Papa Haidar menatap pria di depannya ini.
Mama Ayna tak bisa mengatakan apapun. Dia hanya menggenggam tangan suaminya. Bagaimanapun Papa Haidar adalah kepala keluarga disini. Pria paruh baya itulah yang tahu semua keputusan disini.Â
"Ya, Om," sahutnya dengan serius. "Saya ingin segera menikah dengan Sefira. Saya tak mau memberikannya hubungan palsu hanya dengan berpacaran. Umur kami bukan waktunya bermain-main."
Papa Haidar bisa menatap keseriusan di mata pria muda itu. Dia sadar akan satu hal. Mungkin umur Jeno masih muda tak seperti putra pertamanya. Namun, pemikiran pria muda itu jauh lebih dewasa dari Syakir.Â
"Jawab pertanyaan saya ini, Jeno. Jika nanti kedua orang tua tidak memberikan restu pada putriku untuk menjadi istrimu. Apa yang akan kamu lakukan? Memilih orang tuamu dan meninggalkan putriku atau memilih Sefira dan menentang kedua orang tuamu?"Â
Tanya Papa Haidar dengan serius. Pertanyaan ini memang menjebak. Namun, dia ingin mendengar jawaban Jeno. Pria yang beragama dan pria yang bijaksana akan terlihat dari jawabannya. Ya jawaban yang Papa Haidar seperti kunci utama untuknya melepaskan anak gadisnya itu.Â
Bagaimanapun Sefira adalah anak terakhir keduanya. Sefira adalah putri satu-satunya.Â
"Berikan jawaban terbaikmu. Jelaskan alasannya pada kami berdua karena restuku tergantung dengan jawabanmu kali ini."Â
__ADS_1
~Bersambung
Aghh ada yang kaget sama bab ini? Gimana kalau mereka nikah barengan aja? biar makin brutal lah hahahha.