
...Perpisahan yang menyakitkan memang. Meski sementara tapi rasa terbiasa bersama lalu dipisahkan adalah suatu hal yang berat. ...
...~Humaira Khema Shireen...
...🌴🌴🌴...
"Ibu mau Ayah, " Rengek Jay yang sedari semalam terus mengatakan hal yang sama.
Ya anak itu benar-benar tak mau ditinggal. semenjak di airport. Semenjak Syakir berangkat, Jay terus merengek minta ikut.
"Sayang, Ayah lagi kerja, Nak. Nanti kalau selesai. Ayah bakalan pulang, " Kata Humai dengan penuh nasehat.
Jam menunjukkan pukul empat pagi. Jay benar-benar belum tidur sejak semalam. Humai tentu menemaninya hingga punggungnya terasa sakit.
"Jay mau Ayah sekarang. Mau Ayah, Bu! "
Humaira menarik nafasnya begitu dalam. Rasanya sejak tadi dia ingin menangis. Syakir yang biasanya menemani dirinya, membantunya menenangkan Jay kini tak ada lagi.
Dia harus kembali ke setelan pabrik. Menemani putranya dan membuatnya tenang. Namun, kehadiran Syakir memang membuat banyak perubahan untuk Humai maupun Jay.
Dia membuat kehidupan dia orang itu bergantungan padanya. Syakir berhasil membuat istri dan anaknya tak mau jauh darinya.
"Iya. Nanti kalau Ayah sampai pasti telepon, Jay," Bujuk Humai masih berusaha.
Jay menggeleng. Dia lekas berdiri dan beranjak dari ranjang.
"Jay mau Ayah sekarang! Mau sekarang! " Jay lekas berlari keluar kamar.
Hal itu tentu membuat Humai ikut beranjak dari tidurnya. Dirinya merasa kepalanya pusing. Saat dia hendak berdiri, Humai kembali duduk dengan memegang kepalanya.
"Aku belum tidur semalaman, " Liriknya dengan pelan.
Humai berusaha menenangkan dirinya. Dia mencoba menghembuskan nafas berat lalu menarik nafas lagi dan menghembuskannya berulang kali.
Dirinya mengakui bahwa keberadaan Syakir berarti untuknya. Dia mengakui keberadaan Syakir telah membuat anaknya sangat amat bergantung kepadanya.
"Jay, " Panggil Humai saat dia nekat turun ke bawah.
"Ada apa, Sayang? Kenapa Jay lari-lari? " Tanya Mama Ayna yang mendekati menantunya.
"Dia nyariin Kak Syakir, Ma. Dia minta ikut ayahnya, " Jawab Humai dengan wajahnya yang pucat.
"Kamu sakit? " Tanya Mama Ayna sambil membawa Humai duduk di sofa yang ada disana. "Mukamu pucat banget. "
"Humai belum tidur, Ma. Jay gak mau tidur. Dia merengek terus, " Jawab Humai yang kembali merasakan kepalanya sakit.
"Ya Allah. Kenapa gak bangunin Mama, Papa dan yang lain?"
__ADS_1
"Humai gak mau ngerepotin, " Sahutnya dengan tersenyum.
"Tapi kamu lagi hamil, Nak. Kamu harus banyak istirahat, " Ujar Mama Ayna dengan raut wajah khawatir. "Ayo kami tidur. Mama antar ke kamar. "
Humai menggeleng. "Aku tidur disini ya, Ma. Temani Humai. Humai bakalan gak bisa tidur kalau gak ada temennya. "
Humai memohon dengan sangat. Dia benar-benar ingin tidur di sofa karena memang di kamar akan mengingatkannya tentang Syakir. Pria itu benar-benar telah menghipnotis dirinya. Membuatnya tergila-gila dengan keberadaan Syakir.
"Tapi ini sofa, Sayang. Badanmu bakalan sakit, " Ujar Mama Ayna memberi tahu.
"Gak bakal, Ma. Ya? "
"Oke tapi Mama ambil bantal dulu buat kamu! " Kata Mama Ayna yang membuat Humai menurut.
Akhirnya ibu hamil satu ini perlahan merebahkan dirinya dengan pelan. Kepalanya diletakkan di atas bantal yang dibawa oleh Mama Ayna. Kepalanya terasa nyaman dan tak butuh waktu lama. Akhirnya Humai tertidur dengan nafasnya yang terdengar teratur.
...🌴🌴🌴...
"Kalau sekarang, Jay boleh telepon Ayah, Kek? " Tanya Jay pada Papa Hermansyah.
Bocah itu memang masuk ke kamar orang tua Humai. Sejak tadi dia merengek meminta menghubungi ayahnya.
"Boleh. Pasti Ayah sudah ada di Indonesia, " Sahut Papa Hermansyah lalu meraih ponselnya.
Perjalanan Korea Indonesia memakan waktu 7 jam lebih. Maka dari itu, Papa Hermansyah akhirnya lekas menghubungi menantunya. Dia yakin Syakir pasti sedang sibuk saat ini.
"Kok gak diangkat? " Ucap Jay dengan mata berkaca-kaca.
Ayah Humai ini memang telah mengasuh cucunya karena dia tahu putrinya sedang tidur di sofa. Semua keluarga juga tengah menemami ibu hamil itu karena takut jatuh dari sofa.
Begitupun Sefira. Dia juga penuh perhatian membuatkan makanan yang sehat untuk dimakan kakak iparnya ketika bangun tidur.
Semua orang tentu saling mengasihi. Memberikan kasih sayang tanpa membedakan. Memberikan cinta yang luar biasa dan perhatian di antara mereka.
Papa Hermansyah kembali berusaha menghubungi menantunya. Dia berdoa semoga kali ini Syakir mengangkatnya. Dia tak bisa melihat wajah kecewa cucunya itu.
"Ya. Assalamu'alaikum, Pa? Maaf Syakir baru angkat. Disini sedang ramai, " Kata Syakir saat panggilan itu terhubung.
"Waalaikumsalam. Akhirnya kamu angkat juga. Apa Papa mengganggu? " Tanya Papa Hermansyah tak enak hati.
Bagaimanapun dia tahu menantunya itu pasti sedang sibuk.
"Sedikit. Syakir sedang mengambil berkas di rumah untuk dibawa ke Malang, " Ujar Syakir dengan suara yang terdengar ngos-ngosan. "Memangnya ada apa, Pa? "
"Putramu merengek sejak semalam. Dia bahkan sampai tak tidur ingin bicara denganmu, Syakir. Istrimu juga ikut begadang sejak semalam, " Ujar Papa Hermansyah yang membuat suara disana hening. "Syakir? "
"Dimana Jay sekarang? "
__ADS_1
Papa Hermansyah lekas menatap ke arah cucunya. Dia menyerahkan ponsel miliknya yang langsung membuat bocah tiga tahun itu melebarkan senyumannya.
"Ayah! " Pekik Jay dengan heboh.
Syakir tersenyum. Dia melambaikan tangannya dan menatap ke arah putranya dengan senyuman lebar.
"Halo, Nak. "
"Halo, Ayah, " Sahut Jay dengan tak kalah senangnya.
"Gimana kabar Jay hari ini? "
"Gak baik. Jay mau Ayah. Jay mau ikut, Ayah! " Dengernya kembali terlihat.
Syakir tersenyum. "Kalau Jay ikut Ayah. Siapa yang jagain Ibu dan Adik? "
Senyuman itu surut dari bibir Jay. Anak itu terlihat cemberut.
"Bukannya Ayah kemarin udah bilang mau titip Ibu sama Adik bentar? Ayah lagi kerja, 'kan? Ayah kerja buat siapa? "
"Buat Jay, Ibu sama Adik, " Sahut Jay menambahi.
"Nah itu tau. Mangkanya kalau Jay rewel gini. Jay gak kasihan sama Ibu? "
Jay terdiam. Kepala anak itu tertunduk. Dia sepertinya mulai ingat apa yang telah dia lakukan pada ibunya.
"Ayah minta maaf harus pergi ninggalin Jay sama Ibu buat kerja. Jay boleh sedih tapi jangan bikin Ibu kepikiran. Nanti adik bayi ikutan sedih. Gimana? "
"Maaf, Ayah, " Lirih Jay dengan tetap menunduk.
"Bukannya Jay seneng jadi Abang? Bukannya Jay bilang sendiri mau punya adik? "
Kepala mungil itu mengangguk. Anak umur 3 tahun ini tentu bisa diberikan nasehat jika menggunakan kata yang lembut dan mudah dimengerti.
"Iya, Ayah. "
"Jadi Ayah titip Ibu sama adik bentar yah? Ayah janji bakalan kerja dengan giat. Biar Ayah bisa cepet pulang dan ketemu sama Jay, Ibu dan Adik"
"Ayah janji? "
"Tentu, Sayang. Ayah janji. Jagain Ibu dan Adik yah? "
Kepala yang mukanya tertunduk itu perlahan mendongak. Dia menatap wajah ayahnya dengan lekat.
"Iya. Jay bakalan jagain Ibu dan Adik. "
~Bersambung
__ADS_1
Kemarin aku habis kontrol ya guys. Maafin banget beberapa hari ini emang update sebab terus. bukan stuck atau malas. Tapi aku dan anakku lagi sakit. Jadi benar-benar diminta istirahat.
Tapi aku orangnya gak bisa leyeh-leyeh. jadi pengennya update aja. hihi gakpapa nakal dikit sama dokter. nanti mau update lagi. aku lanjut ngetik dulu yah.