
...Terkadang kenyataan mampu menampar kita dari impian yang terpendam. Perasaan yang menggebu itu kini menyusut saat dirinya sadar bahwa sebuah rasa tak bisa dipaksa....
...~JBlack...
...🌴🌴🌴...
Ada yang sakit tak berdarah. Ada yang terasa tertusuk dan perih. Seakan kalimat sederhana itu menyadarkannya bahwa tak ada jalan untuknya berharap. Tak ada angannya yang akan terwujud karena jalan kecil yang akan ia lalui ternyata sudah dipental mentah oleh bocah kecil di hadapannya.
Perkataan yang itu sederhana tapi mengandung makna yang besar dam luar biasa. Terutama untuk sosok Jeno yang masih memiliki perasaan besar pada Humai. Ada harapan yang masih ia harapkan. Namun, sekarang sepertinya ia harus belajar untuk benar-benar melupakan perasaannya pada Humai.
"Om!" panggil Jay lagi saat tak mendapatkan jawaban dari Jeno.Â
Jeno tersadar dari keterkejutannya. Dia menatap sosok Jay lalu mengusap kepalanya.
"Jay tau darimana kata nikah? Emang Jay tau apa artinya?" tanya Jeno mencoba menanyakan hal yang tak seharusnya dipahami oleh bocah tiga tahun kurang tersebut.Â
"Dari Ante Lidya, Ante Mira sama Ante Fira," katanya dengan jujur.
Kening Jeno berkerut. Saat dia mendengar nama seseorang yang tak ia tahu dan kenal.
"Siapa Tante Fira?"Â
"Saudara Jay," sahutnya sepengetahuan anak itu.
"Emang kata tante-tante itu gimana?"Â
"Katanya, Jay diminta buat Ibu nikah lagi. Biar Jay punya Ayah," kata Jay menurukan perkataan Lidya, Mira dan Sefira. "Menikah itu katanya bisa tinggal serumah."
Jeno yang mendengar geleng-geleng kepala. Dirinya yakin pasti anak itu tau kata menikah dari orang lain. Anak sekecil ini apalagi tanggap, pandai menyimpan dan merekam omongan seseorang.
Pandai menirukan dan mencontoh perilaku semua orang. Maka dari itu, banyak orang yang berhati-hati ketika bersikap didekat anak kecil. Alasannya apa? Ya karena ini salah satunya.
"Terus apa lagi?"Â
"Ante Fira juga bilang, kalau Ibu nikah, Jay bisa minta adik."Â
Mata Jeno membulat penuh. Dia semakin merasa terkejut dengan Jay yang pandai merekam perkataan orang lain. Hal inilah yang membuat orang tua tak bisa lepas akan pengawasan pada putranya.
Dirinya juga tak habis pikir bisa-bisanya tiga perempuan itu mempengaruhi pikiran Jay yang masih suci dengan pemikiran dewasa. Beginilah cara Jay bisa berpikir melebihi umurnya. Perkumpulannya saja para wanita dewasa.Â
Akhirnya Jay perlahan menarik nafasnya begitu dalam. Dia menangkup kedua pipi Jay agar anak iti memahami ucapannya.
"Menikah itu bukan karena paksaan, Jay," ucap Jeno memulai pembicaraan.
"Terus, Om?"Â
__ADS_1
"Menikah itu atas dasar kemauan dua-duanya," kata Jeno menjelaskan dengan hati-hati.
Dia ingin Jay paham bahwa menikah tak semudah yang ia pikirkan. Tak semudah apa yang ada dalam bayangannya. Jeno harus menjelaskannya dengan penuh kehati-hatian. Bagaimanapun perasaan Jay masih terlalu kecil.
"Jadi nunggu Ayah dan Ibu mau sendiri?"Â
Kepala Jeno mengangguk. "Ya. Kalau Ayah sama Ibu sama-sama mau. Pasti mereka mau menikah."Â
"Kalau gak mau?" tanya Jay dengan matanya yang berkaca-kaca.Â
Jika begini Jeno merasa tak tega. Dia menggelengkan kepalanya sambil mengusap mata Jay yang mulai mengeluarkan air mata.Â
"Kita membuat Ibu harus yakin dengan hatinya," jawab Jeno yang benar-brnar telah menyadari akan posisinya.
Ya, mungkin inilah takdirnya. Inilah kisah cintanya. Dia tak bisa memaksa Humaira bersamanya. Dia tak bisa memaksakan kehendaknya untuk memiliki Humaira seutuhnya.Â
Di sisi lain, Jay. Putra dari Humai dengan mantan suaminya meminta dirinya membantu bocah kecil itu. Permintaan sederhana agar kedua orang tuanya kembali bersatu.
Lalu setega itukah dirinya ingin merusak impian Jay yang sederhana?Â
Apakah ia sejahat itu menginginkan ada di posisi Syakir tanpa melihat perasaan Jay yang tak menginginkannya.
"Jadi Om mau bantuin Jay?"Â
Kepala Jeno mengangguk. "Ya. Om akan membantu orang tua Jay agar bisa menyadari perasaannya masing-masing."Â
...🌴🌴🌴...
"Siapa, Sayang?" tanya Mama Emili saat melihat putrinya terkejut.
"Mama Ayna, Ma," kata Humaira lalu lekas meraihnya ponselnya. "Humai angkat dulu yah."Â
Setelah mengatakan itu. Ibu satu anak tersebut lekas beranjak dari duduknya. Dia meninggalkan semua orang dan lekas menggeser panggilan itu karena takut segera terputus duluan.Â
"Assalamualaikum, Ma?" sapa Humai dengan bibirnya yang tersenyum senang.Â
"Waalaikumsalam," sahut Mama Ayan dengan suara yang sedikit berisik.
"Mama ada dimana? Kenapa suaranya lumayan berisik?" tanya Humai saat ada suara bleblek blebek dari seberang telepon.
"Ya. Mama sedang ada dijalan," kata Mama Ayna menjawab. "Kamu baik-baik aja, 'kan?"Â
"Alhamdulillah. Humai baik-baik aja, Ma. Sehat. Mama sama Papa? Terus Sefira gimana?"Â
Ah jujur dalam hati Humaira dia merasa rindu pada keluarga mantan suaminya itu. Kebaikan hati Mama Ayna, Papa Haidar dan Sefira melebihi keluarganya sendiri.Â
__ADS_1
Mereka adalah keluarga pertama yang menerima kehadirannya saat dirinya masih jelek. Mereka adalah keluarga pertama yang membela dirinya, menawarkan penjagaan dan menjaga dirinya dan Jay saat masih dalam kandungan.Â
Hal itulah yang membuat Humai menyayangi mereka begitu dalam. Dia bahkan berpikir tak akan pernah melupakan mereka yang sudah menyelamatkan dirinya di masa lalu.Â
"Mama, Papa sama Sefira baik-baik aja," jawab Mama Ayna dengan antusias.
"Aku juga sehat, Mai!" teriak suara Sefira yang membuat Humai terkekeh.Â
"Semoga Mama dan keluarga selalu dalam lindungan Allah."Â
"Aamiin," jawab Mama Ayna dengan suaranya yang terdengar haru. "Oh iya. Mama kangen sama cucu Mama."Â
"Yaudah. Mama kesini. Jay juga pasti kangen sama Kakek, Nenek dan Antenya yang cerewet," kata Humai dengan perasaannya yang bahagia.
"Iya. Ini Mama, Papa dan Sefira otewe kesana," kata Mama Ayna dengan entengnya.
"Apa!" pekik Humaira terkejut.
Dia bahkan sampai menutup mulutnya karena ia yakin suaranya terlalu keras.Â
"Maaf, Ma. Humai kaget," ujarnya dengan merasa bersalah.
"Gak papa tapi Mama serius. Mama sedang perjalanan ke bandara," kata Mama Ayna dengan suaranya yang serius.
Entah kenapa tiba-tiba pikiran Humai langsung tertuju pada Syakir. Dalam benaknya berpikir apakah Mama Ayna dan keluarga tahu jika dirinya dan Jay telah bertemu dengan Humai.
Jika Syakir telah bersama dan bermain dengan putra kandungnya.
"Mama…"Â
"Mama telfon nanti ya, Nak. Ini kita udah masuk parkiran bandara," ujar Mama Ayna yang membuat Humai mengurungkan dirinya bertanya.
"Yaudah, Ma. Mama hati-hati yah."
"Iya, Sayang. Assalamualaikum."Â
"Waalaikumsalam."Â
Setelah panggilan itu selesai. Humaira hanya mampu diam sambil menatap ke arah ponsel yang layarnya mulai meredup.Â
"Mungkin ini adalah cara untuk menyatukan Mama dengan Kak Syakir. Aku akan membuat hubungan keduanya kembali membaik sebelum kehadiranku di antara mereka berdua."Â
~Bersambung
Yang kemarin sempet dzolim sama Bang Jeno. Minta maaf woy. Huhu Bang Jeno andalanku, eyak hahaha.
__ADS_1
BTW setelah ini bakalan ada part Rachel Adam. Jadi yang sering uring-uringan gak suka kudu sabar.