
...Sebuah keajaiban itu tak ada yang mustahil. Jika Allah sudah berkehendak maka apa yang tidak mungkin akan menjadi mungkin. ...
...~JBlack...
...🌴🌴🌴...
"Kakak apa kau memiliki keinginan untuk menikah?" tanya Sefira sambil berbaring di atas ranjang.
Di sebuah kamar terlihat sepasang kakak dan adik sedang bersenda gurau. Keduanya sering menghabiskan waktu bersama ketika tak ada pekerjaan atau jam kuliah. Mereka selalu quality time meski hanya mengobrol di dalam kamar.
"Tentu saja. Aku juga pria normal yang ingin menikah," jawab Syakir yang tengah duduk di atas ranjang dengan laptop di pangkuannya. "Kenapa kamu tanya hal itu?"
Syakir melirik adiknya yang masih asyik rebahan. Dia memang berbincang sambil mengecek pekerjaan yang dikirimkan oleh Adam kepadanya.
"Lalu kenapa sampai sekarang Kakak belum menikah? Lihat saja teman-temanmu banyak yang sudah menikah dan punya anak," cibir Sefira dengan bibir menggerutu.
Jujur dia heran juga dengan kakaknya. Sempat dalam hati gadis itu bertanya apa kakaknya ini pria normal. Di usia yang hampir kepala empat Syakir tak pernah mengenalkan kekasihnya pada dirinya.
Jangankan mengenalkan. Pria itu entah menutupi segala hal yang dia lakukan di luar sana. Sampai seakan kehidupan pribadi Syakir tak diizinkan diketahui oleh dirinya.
"Nanti jika Kakak sudah siap, maka Kakak akan mengenalkannya padamu," jawab Syakir lalu meletakkan laptopnya ke tengah ranjang.
Tak lama pria itu ikut membaringkan tubuhnya di samping sang adik. Kakak beradik itu dengan santainya berbaring bersama dengan menatap langit-langit kamar.
Hal yang sederhana tapi selalu keduanya lakukan ketika berkumpul bersama.
"Oke. Giska tunggu!" jawab Sefira dengan antusias. "Oh iya…"
Sefira menelungkupkan tubuhnya. Dia menyangga kepalanya dengan kedua tangan dan menatap wajah kakak kandungnya itu.
"Ada apa?" tanya Syakir heran melirik adiknya yang menatapnya dengan lekat.
"Jika Kakak sudah menikah. Kakak pengen punya anak cowok apa cewek?" tanya Sefira dengan wajah keponya.
Entah kenapa kali ini dia ingin tahu jawaban kakaknya. Dia benar-benar penasaran tentang jawaban yang satu ini.
__ADS_1
"Cowok," sahut Syakir tanpa berfikir.
"Kenapa?" tanya Sefira dengan mengerutkan keningnya.
"Biar dia bisa jagain adik-adiknya. Kayak Kakak sama kamu," ujar Syakir mengusap kepala adiknya dengan sayang.
"Kalau Tuhan titipin anak cewek?"
"Ya gak papa. Tapi jika bisa berharap dan berdoa, ya Kakak mau anak pertama yaitu cowok."
"Fir!" tanya Humai menepuk bahu sahabatnya yang melamun.
Sefira terkejut. Lamunannya buyar dan dia menatap sahabatnya yang sudah menenteng plastik berisi obat.
"Udah dapet?"
Kepala Humai mengangguk. Keduanya memang sejak tadi sedang mengantri obat dan membuat Humai dan Sefira mau tak mau menunggunya dengan sabar.
Keduanya mulai meninggalkan rumah sakit. Sefira mengemudikan mobilnya dengan hati-hati. Dia juga mencuri pandang ke arah sahabatnya, menatap Humai yang sedang duduk di sampingnya. Bibirnya tersenyum lalu menggenggam tangan wanita yang selalu sabar dengan tingkah kakaknya.
"Kita akan merayakan baby boy yang sudah menunjukkan dirinya pada kita," kata Sefira dengan wajah yang tak hentinya menampilkan senyuman indah di bibirnya.
Jujur Sefira tak tahu harus bahagia atau tidak. Disatu sisi, dia bahagia keinginan kakaknya dikabulkan oleh Tuhan. Keinginan ketika Syakir mengatakan ingin memiliki anak pertama berjenis kelamin laki-laki.
Syakir juga bilang jika anaknya laki-laki maka dia bisa melindungi semua adik-adiknya. Itulah kata yang terus terngiang di kepala Sefira. Kata yang membuatnya menangis haru saat melihat hasil usg kakak ipar sekaligus sahabatnya itu.
Apalagi mendengar ucapan dokter. Jantungnya seakan mencelos. Tuhan seperti memberikan jalan untuk Syakir dan Humai agar berdamai.
Namun, disisi lain Sefira juga sedih. Sedih karena anak itu tak dianggap oleh Syakir. Sedih karena anak yang seharusnya mendapatkan kasih sayang dari kakaknya ternyata dicampakkan.
Menyakitkan memang dan itu membuatnya selalu ingin menangis setiap kali memegang perut Humai.
"Tapi itu tidak perlu. Kita bisa merayakannya di rumah. Memasak bersama, bagaimana?" tawar Humai dengan membujuk sahabatnya.
"Ide bagus. Kita akan belanja sekarang!" ajak Sefira yang setuju dengan ide Humai.
__ADS_1
Mereka akhirnya memutar arah. Kembali ke jalan yang mengantar keduanya ke arah supermarket tempat Sefira dan Humai dulu belanja ketika masih kuliah. Keduanya sepakat akan memasak bersama dan merayakan perayaan kecil itu di rumah.
...🌴🌴🌴...
"Aku mau ke kamar dulu yah. Ganti baju, Mai. Setelah itu kita ketemu disini buat masak," kata Sefira saat dia baru saja meletakkan dua kantong kresek di atas meja makan.
"Oke. Aku juga mau ganti baju juga. Engap nih," kata Humai dengan jujur.
Akhirnya mereka berpisah. Sefira dengan langkah pasti menaiki satu per satu tangga menuju kamar yang menjadi tempat tinggalnya. Dia tinggal di kamar dimana menjadi tempat tidur Bia dan Abra selama liburan disini.
Dia meletakkan tasnya di atas ranjang. Namun, sebelum itu dirinya mengambil sebuah amplop putih yang sudah dia siapkan. Matanya berkaca-kaca menimbang apakah dia harus melakukan ini atau tidak.
"Apa dia akan sadar?" gumamnya dalam diam.
Sefira hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan berat. Pelan dia berjalan ke arah meja belajar yang disiapkan oleh dirinya untuk belajar selama di rumah Humai. Dia duduk disana lalu membuka amplop yang masih belum disegel.
Sebuah lembaran berwarna hitam putih abstrak yang tadi ia lihat di layar tercetak dengan jelas. Tangannya mengusap foto keponakannya itu.
"Semoga ayahmu bergetar ketika melihatmu ya, Sayang."
Sefira perlahan menyobek sebuah kertas putih lalu menuliskan untaian kata disana. Ya, dia berinisiatif menunjukkan foto usg itu pada Syakir tanpa menyebutkan jenis kelaminnya. Dia hanya ingin membuat hati Kakaknya sedikit memiliki kehangatan atau rasa sayang pada potret calon anaknya ini.
Setelah selesai. Dia segera memasukkan foto dan surat yang ia tulis ke dalam amplop lalu mengelupas perekatnya agar bisa menjaga isi di dalam surat itu.
Dengan cepat dia mengganti pakaiannya juga. Setelah semuanya selesai. Sefira lekas berjalan ke arah kamar Syakir. Dia membuka pintu itu dan mulai masuk.
Tak mau menunda, Sefira lekas meletakkan amplop itu di atas ranjang. Lalu dia segera keluar dari dalam sana. Dirinya hanya berniat meletakkan itu saja agar kakaknya bisa melihat sosok calon anaknya.
Tanpa sepengetahuan Sefira. Jika pemilik kamar itu memantau semua yang dia lakukan di kamarnya. Syakir, pria itu memang memasang CCTV di sana agar ia bisa memantau apa yang setiap hari dilakukan oleh sang adik dan Humai di kamarnya.
"Apa yang diletakkan Giska di sana?" gumam Syakir dengan beranjak berdiri dan mulai meraih jasnya sebelum dia pergi dan pulang ke rumah Tumpang. "Aku harus pulang dan melihatnya."
~Bersambung
Kira-kira hatinya si Suami Dajjal terketuk yah? hayooo?
__ADS_1