
...Percayalah seorang wanita bekerja dan mengejar karir bukan karena dia melepaskan tanggung jawabnya sebagai istri. Dia hanya ingin membuat suami dan anaknya bangga padanya tanpa melepaskan gelar seorang ibu rumah tangga dalam pundaknya. ...
...~Humaira Khema Shireen...
...π΄π΄π΄...
Akhirnya hari ini adalah hari yang ditunggu oleh Humai. Perempuan dengan predikat seorang istri dan anak satu itu sudah siap dengan pakaian yang menurutnya pantas untuk menemui seorang rekan kerja baru untuknya.
Bibirnya tak henti tersenyum. Dirinya sudah tak sabar untuk menemui orang yang akan membawanya ke kehidupan baru. Kehidupan yang sangat dia cita-citakan. Kehidupan yang merupakan impiannya sejak dulu.
"Sudah siap? " Tanya Syakir saat melihat istrinya itu baru keluar dari kamar.
Syakir dan Jay memang menunggu di ruang tamu. Kamar hotel yang disewa memang luas dengan beberapa sekat hampir mirip dengan apartemen dan tentunya harganya tak main-main. Namun, Syakir tetaplah Syakir.
Pria bucin satu itu berani bekerja dan mengontrol semuanya dari jauh dengan jabatan yang sudah kembali di kedua pundaknya. Syakir benar-benar tak mau melakukan kesalahan kedua kalinya.
Dia yang ingin menjaga istri. Rela melakukan semua pekerjaan melalui online. Meeting online, semua berkas melalui email. Semua dia kerjakan dengan sempurna.
Syakir tak mau mengecewakan papanya. Syakir tak mau mengecewakan mama dan keluarganya lagi. Dia ingin membanggakan dirinya di hadapan istri dan anaknya. Syakir ingin keluarganya bangga memilikinya.
"Sudah, Kak, " Balas Humai dengan mengangguk. "Kakak beneran mau anter? "
"Tentu, Sayang, " Balas Syakir dengan serius. "Aku akan mengantarmu menuju gerbang suksesmu. Aku ingin menjadi orang pertama yang akan melihatmu meraih cita-citamu ini. "
Mata Humai berkaca-kaca. Dia menatap Syakir dengan pancaran cinta penuh besar. Suaminya itu benar-benar selalu ada untuknya. Mensupport dirinya apapun apa yang ia lakukan.
"Makasih, Sayang. Makasih. " Humai lekas memeluk Syakir dengan pelan.
Dia sangat bersyukur akan keputusannya. Kesempatan yang diberikan untuk Syakir ternyata membuat hidupnya jauh lebih bahagia. Ditambah putranya, Jay. Sangat amat merasa bahagia dengan kehadiran Syakir di antara mereka berdua.
"Ayo kita berangkat, Boy! " Ajak Syakir pada Jay yang tengah bermain tab milik Syakir.
"Sekarang, Ayah? " Tanya Jay meletakkan tab itu di atas sofa.
Dia lekas beranjak berdiri dan berjalan dengan pelan di atas sofa lalu mengulurkan kedua tangan ke arah ayahnya.
"Ya, Sayang. Ayo? "
...π΄π΄π΄...
Kedua keluarga kecil itu tentu bertemu di depan hotel. Mereka lekas meninggalkan tempat tinggal sementara mereka selama ada disini dengan menggunakan mobil yang disewa oleh Syakir.
Pria itu akan menyetir sendiri dengan bantuan maps yang akan membantu mereka sampai di tempat dimana tujuan Humai dan Sefira.
Jalanan tentu masih dibasahi oleh salju. Beberapa pinggiran banyak salju yang tinggi dan menjulang. Langit memang tak terlalu cerah dan membuat cuaca masih terasa dingin menusuk tulang mereka.
__ADS_1
"Bener kesini, No?" Tanya Syakir pada Jeno.
Dua pria itu memang duduk di tempat kursi depan. Syakir yang menyetir dan Jeno duduk di kursi samping kemudi. Lalu Humai, Sefira dan Jay duduk di bangku tengah.
Mereka tentu menikmati perjalanan dengan memandang pemandangan di luar sana. Beberapa mobil tentu terlihat berlalu lalang. Dinginnya salju tak membuat semua orang bermalas-malasan.
"Bener, Kak, " Sahut Jeno dengan serius.
Tangan dosen killer itu memegang benda pipih miliknya. Matanya juga menatap bolak balik dari layar yang menyala dengan jalanan untuk menyamakannya.
"Disana! " Kata Jeno menunjuk sebuah galeri tempat dimana rekan desainernya berada.
Syakir lekas menepikan kendaraan mereka. Keenam orang itu segera turun dari mobil dengan merapatkan jaket mereka.
Semua orang tentu memakai pakaian tebal. Bagaimanapun cuaca ini masih baru untuk mereka dan membuat semua orang beradaptasi dengan suasana ini.
"Ayo! "
Jeno, Syakir, Humai, Sefira dan Jay mulai memasuki galeri itu. Mereka mulai menuruni tangga dan sampai di ujung melihat dua pintu berbeda.
Humai mengangkat kepalanya. Sebuah name tag ruangan dengan nama Paradise Kiss.
"Ruangan apa ini? " Gumam Humai dengan berjalan mendekat.
Tangannya mulai terulur ingin membuka pintu itu. Namun, saat tangannya mulai menggantung. Sebuah suara membuat semua orang menoleh.
Jeno tersenyum. Dia melambaikan tangannya dan menyugar rambutnya ke belakang.
"Jeno? " Seru perempuan itu dengan mata terbelalak.
"Hae, kau mengingatku? " Tanya Jeno dengan tersenyum lebar.
Hae, wanita yang berambut pendek itu lekas mendekat. Dia mengulurkan tangannya pada Jeno lalu diterima langsung dengan suami Sefira itu.
"Tentu saja, " Sahut Hae dengan tersenyum. "Kupikir Ye Jun yang mengatakan kau ingin kemari itu bohong. Ternyata dia benar! "
Jeno tertawa. Dia lalu mendekat pada Sefira dan melingkarkan tangannya di pinggang istrinya.
"Hae kenalin. Ini istriku. Sefira, " Kata Jeno yang tak lupa mengenalkan.
Sefira tersenyum. Dia tak menyangka suaminya itu tak lupa padanya.
"Sefira. "
"Hae! " Sapa gadis itu dengan logat Indonesia yang kaku. "Kau menikah tak mengatakan pada kami, Jen. Kau jahat! "
__ADS_1
Jeno tertawa. Dia memang tak mengatakan pada sahabatnya ini karena pernikahan yang serba dadakan dan dalam waktu yang cepat.
"Maafkan aku, Hae. Kami hanya akad nikah saja. Aku akan mengundangmu ke acara resepsi kita nanti. Oke? "
"Akan kutunggu? " Kata Hae dengan sangat antusias.
"Oh iya, Hae. Hampir lupa! " Ujar Jeno yang hampir lupa dengan keberadaan keluarga kakak iparnya itu.
Jeno bergeser sedikit agar temannya itu bisa melihat Humai, Syakir dan Jay.
"Dan kenalkan ini, Humaira, " Kata Jeno mengenalkan.
"Iniβ¦"
"Ya. Dia perempuan yang hasil desainnya kau sanjung."
Mata Hae berbinar. Dia mendekati Humai dan langsung mengulurkan tangannya.
"Hai, Humai. Aku Hae, teman bermain Jeno. Aku juga sangat menyukai desain kamu! " Kata Har dengan serius.
Mata Humai terbelalak. Dia tak menyangka dengan ucapan Hae.
"Serius?"
Humai tak menyangka. Dirinya memiliki seorang fans sebelum debut. Dirinya memiliki orang yang menyukai hasil desainnya dengan baik.
"Tentu. Aku sangat suka bahkan aku ingin salah satu desainnya dibuat karya nyata, " Ujar Har dengan serius. "Tapi Ye Jun bilang. Kau akan kemari dan aku diminta pamit langsung padamu. "
Humai terkekeh. Dia menganggukkan kepalanya dengan sebagai.
"Apa kau setuju? "
"Tentu. Aku juga ingin melihat hasil nyata buatan tanganmu, Hae. "
Mata Hae berbinar. Dia menepuk dadanya dengan bangga seakan Humai percayakan saja padanya untuk urusan jahit menjahit.
"Kau bisa percayakan padaku, Mai. Aku akan menjahit desainnya dengan penuh cinta! " Kata Hae dengan bangga.
"Udah jangan gombal mulu! " Kata Jeno memecah pembicaraan mereka. "Ye Jun ada?"
Hae hampir lupa. Dia menepuk kepalanya slalu mengangguk.
"Tentu. Dia ada di dalam, Jen. Dia sedang mengerjakan gaun untuk fashion shownya, " Kata Hae sambil membuka pintu galeri dan mempersilahkan mereka masuk.
"Selamat datang di Galeri YJ Collection. Selamat datang dan semoga kalian suka! "
__ADS_1
~Bersambung
Akhirnya tetep update kok guys. Maaf telat ya. Bocil baru aja tidur.