Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Pindah Rumah


__ADS_3

...Sabarnya orang diam itu tak ada yang tahu dimana batasnya. Namun, selagi diamnya masih banyak. Jangan pernah kecewakan mereka, jika tidak kau akan menyesal dengan penyesalan paling dalam....


...~JBlack...


...🌴🌴🌴...


Di perjalanan pulang ke rumah tak ada suara apapun. Baik Sefira dan Humaira seakan berusaha menerima kebenaran yang baru saja mereka dengar. Kebenaran yang sangat amat mengejutkan hati mereka dengan hal terduga tersebut. 


Baik Humai maupun Sefira tak menyangka jika lagi-lagi akan terjebak dengan Rachel. Wanita gila dengan sejuta ambisi dan nekat melakukan apapun yang dia mau. 


Namun, dibalik kegelisahan keduanya. Ada Mama Ayna yang paling merasa bersalah. Dia takut jika anak keduanya akan bertengkar dengan kakaknya sebentar lagi. Apalagi melihat wajah Sefira yang tak bersahabat membuat dia tahu bahwa anak keduanya sangat marah. 


Saat mobil yang membawa mereka mulai memasuki halaman rumah. Tanpa kata Sefira turun lebih dulu sambil membawa pakaian Humai yang tadi dibelinya. Dia bahkan masih membantu sahabatnya turun dari mobil saat melihat Humai memijat kepalanya. 


"Pusing?" 


"Sedikit," balas Humai dengan pelan. "Mungkin aku capek, Fir." 


Mama Ayna yang ikut turun lekas membantu menantunya juga. 


"Ayo ke kamar dan kamu langsung istirahat!" 


Mereka segera menggandeng Humai sampai ke kamar. Dengan pelan Mama Ayna dan Sefira membantu Humai merebahkan dirinya di atas ranjang. Bahkan dengan penuh perhatian, adik kandung Syakir itu membantu melepas sepatu kakak iparnya.


"Tidurlah. Aku dan Mama keluar dulu yah," pamit Sefira yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Humai. 


"Kalau ada apa-apa, langsung panggil kami dengan bel di dekat ranjang ya, Nak. Mama lupa mengatakan itu padamu kemarin," kata Mama Ayna pada menantunya. 


"Baik, Ma." 


Dengan pelan, kedua wanita itu mulai keluar dari kamar Humai. Menutup pintunya dengan pelan agar tak menimbulkan suara. 


Saat Sefira hendak berlalu dari sana. Mama Ayna memegang tangan putrinya dan membuat gadis itu menghentikan langkahnya. 


"Maafkan Mama, Sayang. Mama…" 


Sefira berbalik. Dia balas menggenggam tangan mamanya dan tersenyum perih.


"Jujur Sefira kecewa sama Mama dan Papa. Kenapa kalian menyembunyikan hal ini dari Sefira?" tanya gadis itu dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Mama Ayna menunduk. Dia saja baru mengetahui jika kekasih putranya adalah teman kampus Sefira saat hubungan mereka sudah sejauh ini. Keduanya memang mencari tahu dari keluarga mana Rachel. Lalu kuliah dimana. Namun, mereka tak mencarinya lebih jauh.


"Mama sama Papa takut kamu kecewa sama kakakmu, Sayang," kata Mama Ayna dengan pelan. "Saat itu Mama belum tahu jika Rachel teman kampus kamu tapi karena melihat sikapnya yang buruk pada kakakmu, maka Mama dan Papa mulai mencari tahu." 


Sefira menarik nafasnya begitu dalam. Dia juga tak bisa menyalahkan orang tuanya. Baik Mama maupun Papanya juga tak mungkin tahu jika Rachel adalah teman kampusnya. 


"Mama benar-benar menyesal, Nak. Mama…" 


"Aku sudah memaafkan, Mama," ucap Sefira dengan yakin. "Aku tak marah tapi hanya kecewa saja. Kenapa Kakak mencintai wanita seperti Rachel?"


"Dia memang primadona kampus, Ma. Tapi sikapnya…" 


Sefira menarik nafasnya begitu dalam. Setiap kali mengingat sikap dan perilaku Rachel pada sahabatnya, Humai. Dia merasa dadanya sakit dan sesak.


Tingkah Rachel dan pembullyan itu selalu berakhir dengan Humaira yang tertindas. Selalu berakhir dengan keadaan Humai yang kacau.


"Benar-benar jahat!" lanjutnya dengan berat. "Dia adalah salah satu orang yang selalu membully Humai. Dia juga yang melakukan hal gila dan membuat Humai takut padanya." 


"Rachel menyiksa Humai, Ma. Menyiram air bakso ke tubuhnya, menghinanya sampai anak-anak yang lain ikut menghujat. Bahkan baik aku atau Humai tak pernah tahu alasan apa yang membuat Rachel sangat membenci Humaira." 


Mama Ayna menggenggam tangan putrinya. Tatapan antara ibu dan anak itu saling bertemu dengan lekat. 


"Setelah ini tak boleh ada yang mengganggu Humai. Tak ada yang bisa merendahkannya. Kita akan menjaga Humai dengan baik, Nak."


"Kita akan melindungi Humai, Ma. Meski harus melawan Kakak Syakir." 


"Iya, Sayang."


Akhirnya tak ada kesalah pahaman. Tak ada lagi yang disembunyikan di antara mereka. Mama Ayna mengajak putrinya ke ruang tamu dan menceritakan apapun yang ia tahu. 


Begitu pula dengan Sefira. Dia menceritakan apa saja yang sudah dilakukan oleh Rachel. Keduanya bahkan membahas malam dimana Humai dan Sefira datang ke ulang tahun wanita gila itu.


"Jadi Humai…"


"Ya, Ma. Dia menghilang dari kamar mandi dan keesokannya muncul di rumah sakit dengan keadaan kacau." 


"Mama yakin ada yang tak beres disini," kata Mama Ayna mencoba menelaah setiap kejadian yang diceritakan putrinya.


"Kita akan mencari tahu, Ma. Kita akan membuka kedoknya. Mama setuju?" 

__ADS_1


Mama Ayna mengangguk. Dia ikut menggenggam tangan putrinya dan keduanya bertos ria.


"Cepat kabari pria itu, Ma. Aku yakin dia bisa meretas sistem keamanan apartemen itu dan melihat apa yang terjadi disana melalui CCTV yang masih hidup." 


...🌴🌴🌴...


Keesokan harinya, semua perlengkapan mulai tertata rapi di ruang tamu. Beberapa koper berjajar rapi di sana dan mulai bergantian dimasukkan ke dalam mobil.


Hari ini adalah hari dimana Syakir dan Humai akan pindah ke Tumpang. Tempat dimana keduanya akan memulai hidup baru dengan perjalanan baru.


Mereka akan memulai membangun rumah tangga yang entah seperti apa nantinya tapi disana, akan dimulai cerita dimana perhatian, pengorbanan, kesakitan akan bercampur menjadi satu.


"Semuanya sudah kamu masukkan, Nak? Gak ada yang tertinggal?" tanya Mama Ayna pada menantunya.


Humai menatap koper yang dibelikan mertuanya untuk tempat pakaiannya. Dia memikirkan semua barangnya dan mengangguk.


"Susu hamil?' celetuk Sefira yang membuat Humai mendongak.


"Nah iya. Susu hamil sudah kamu masukkan?" tanya Mama Ayna pada Humai.


"Sudah, Ma. Ada di koper ini semua. Dari cemilan dan susu ibu hamil semua Humai masukkan ke sini," kata Humai menjelaskan.


"Bagus, Nak!" 


Tak lama Syakir muncul. Pria itu terlihat baru saja selesai mandi. Rambutnya masih basah yang semakin menambah kadar ketampanannya. 


"Ayo berangkat!" kata Syakir ketika baru saja sampai di dekat mamanya.


Mama Ayna menggenggam tangan putranya. Dia menarik Syakir menjauh dari mereka untuk membicarakan sesuatu.


"Mau kemana, Ma?" kata Syakir pada mamanya.


Mama Ayna menghentikan langkahnya. Keduanya berhadapan dengan jarak dekat. 


"Mama tak tahu apa tujuanmu ingin pisah rumah dengan Mama dan Papa setelah menikah dengan Humai," kata Mama Ayna memulai pembicaraan.


"Syakir gak ada maksud apapun, Ma. Syakir hanya mau mandiri," katanya dengan menutupi sesuatu tujuan dalam dirinya.


"Mama percaya, Sayang. Mama cuma berpesan…" jedanya dengan menepuk dada Syakir dan memberikan senyuman terbaik seorang ibu. "Jangan lupa kalau kamu terlahir dari seorang perempuan, Nak. Kalau kamu menyakiti salah satunya, maka sama saja kamu menyakiti Mama dan Adikmu Sefira."

__ADS_1


~Bersambung


Nah loh bener ya, Kir. Inget kamu nongol di bumi juga gak langsung nongol. Lewat perempuan juga.


__ADS_2