Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Kenapa Berpisah?


__ADS_3

...Aku tak mau menanam kebencian di otak kecil putraku. Biarlah semuanya terkunci rapat dengan masa lalu....


...~Humaira Khema Shiree...


...🌴🌴🌴...


"Om Syakir?" pekik Jay terkejut.


Dia mengambil potret kecil dari tangan ibunya itu. Tangan kecilnya mengusap berulang kali mencoba memperjelas apakah itu orang yang benar dia kenal atau bukan. 


"Iya, Nak. Ayah kandung Jay adalah Om Syakir," ujar Humaira dengan hati-hati.


Jay, dia meneliti foto itu dengan begitu teliti. Foto itu diambil saat akad mereka. Saat foto bersama dengan Mama Ayna, Papa Haidar dan Sefira.


Adanya tiga orang yang sangat Jay kenali, membuatnya percaya jika apa yang dikatakan ibunya adalah kebenaran. Sosok yang sering dipertanyakan pada ibunya, sosok yang membuat ibunya menangis itu, tak lain dan tak bukan adalah pria yang sudah dua kali ia temui. 


"Kemana selama ini Om Syakir, Bu? Kenapa dia baru saja datang menemui Jay?" tanya Jay dengan wajahnya yang begitu penasaran.


Inilah hal tersulit yang ada dalam bayangan Humaira. Inilah bagian tersulit jika ada pertanyaan merambat yang begitu banyak dari pemikiran cerdas putranya. 


Dia harus pandai menjelaskan. Dia harus pandai mengatakan semuanya agar rasa benci itu tak tertanam dan menyebar di hati putranya. 


"Om Syakir ada. Dia di Kota Malang," kata Humaira menjawab.


"Tapi kenapa selama ini Om Syakir gak pernah datang. Kenapa Kakek Haidar, Nenek Ayna sama Ante Sefira gak pernah cerita sama Jay?" tanya Jay menuntut.


"Karena Om Syakir juga harus bekerja, Nak. Kakek, Nenek sama Ante belum cerita, karena Jay masih kecil. Jay belum terlalu paham," ujar Humaira penuh hati-hati.


"Apa ada foto yang lain, Bu?" tanya Jay yang raut wajahnya dipenuhi keraguan.


Terlihat sekali ekspresi bocah kecil itu. Seakan dalam benak Jay masih ada sesuatu yang ingin dipertanyakan kepadanya. Masih jelas banyak sekali hal-hal yang sepertinya disusun rapi dalam benak putra pertamanya.


"Ada. Sebentar." Humaira lekas mengambil sebuah foto lagi di dalam kotak hitam itu.


Dia lalu menyerahkan pada putranya. Itu adalah potret terakhir yang ia punya. Hanya ada dua foto memang karena kalian pasti ingat. Bagaimana dulu ketika pengambilan foto itu. Syakir tetap harus dipaksa bahkan harus dipenuhi akan ancaman. 

__ADS_1


"Ada lagi, Bu?" tanya Jay yang sepertinya tak puas. 


"Gak ada, Sayang," jawab Humaira pada putranya. 


"Kenapa Ibu hanya punya foto waktu menikah?" 


Jantung Humaira seakan mencelos. Tubuhnya mendadak tegang saat mendapatkan pertanyaan itu. Dirinya tak menyangka jika putranya bisa sedetail itu. 


"Aku ingat punya Michele, temanku di sebelah, ia pernah menunjukkan foto Ibunya waktu hamil dia dengan papanya di sampingnya. Ibu gak punya foto itu?" tanya Jay dengan wajah polosnya.


Tangan Humaira tanpa sadar mencekram kotak hitam itu. Lidahnya terasa keluh untuk menjawab. Bagaimana dia memiliki potret yang lain jika potret yang ia punya saja dulu hasil paksaan.


"Gak ada, Sayang," sahut Humaira dengan pelan. "Ayah Syakir itu pemalu. Dia gak suka dipotret orang. Mangkanya Ibu sama Ayah jarang memiliki foto momen seperti orang tua Michele," ujar Humaira dengan logis. 


"Oh." Jay mengangguk-anggukkan kepalanya lucu. 


Seakan apa yang dijelaskan oleh Huamira dirinya mengerti. 


"Lalu kenapa Ayah dan Ibu harus berpisah?" tanya Jay yang sejak dulu ingin dia tanyakan. "Kenapa setiap Jay tanya soal Ayah, Ibu selalu menangis?" 


Ah bagian tersulit Tuhan.


Bagaimanapun umur Jay masih sangat kecil. Dirinya juga tak mau hubungan antara ayah dan anak itu terputus karena kejadian di masa lalu. Menurutnya, cukuplah kenangan itu ikut tenggelam dengan kenangan sekarang.


Jangan ada yang mengangkatnya lagi dan mencuat di permukaan. Biarlah Jay tahu siapa ayahnya dari bibir Humaira. Jangan ada penjelasan lain yang bisa membuat Jay tak mau pada ayah kandungnya. 


"Karena Ibu dan Ayah dulu udah gak ada kecocokan lagi, Nak," jawab Humaira yang sudah memperhitungkan pertanyaan ini sejak lama. "Ibu dan Ayah sudah beda persepsi. Jadi jalan lain agar kami berdua bisa meneruskan hidup dengan berpisah." 


Jay mengerutkan keningnya. Seakan dia belum memahami penjelasan ibunya yang membuat keningnya berkerut. Akhirnya Humaira hanya bisa tersenyum.


Dia menangkup kedua sisi wajah putranya dengan memandangnya begitu lekas. Seluruh garis wajah dan bagian-bagiannya sangat mirip dengan Syakir. Tak ada satupun yang mirip dengannya. Semua Tuhan jelaskan dan katakan dari sini, bahwa Jay adalah nyata anak kandung dari Guntur Syakir Alhusyn.


"Nanti kalau Jay udah dewasa. Jay pasti paham. Untuk sekarang yang Jay tahu, bahwa Ayah dan Ibu udah gak sejalan. Mangkanya kita pisah," kata Humaira final yang membuat Jay menganggukkan kepalanya.


"Jay gak marah?" tanya Humaira dengan pelan.

__ADS_1


"Kenapa Jay harus marah?"


"Karena Ibu baru sekarang cerita sama, Jay,"  kata Humaira dengan takut. 


"Nggak, Bu. Jay gak marah. Jay bahkan mau berterima kasih karena Ibu udah gak nangis lagi soal Ayah," ujar Jay dengan apa yang dia lihat.


Humaira mengangguk. Dia mencium dahi istrinya dan memeluk tubuh mungil itu. Tubuh yang selama ini ia timang, ia asuh sendirian bersama orang tuanya. 


Tubuh yang selama ini menjadi support systemnya, menjadi penyemangat disaat rasa galau dan traumanya muncul. Hanya Jay lah yang mampu menjadi obat untuk Humai dan tak ada lagi.


Kehidupan keduanya memang sangat kejam. Bukan sejam kelahiran Jay tapk sebelum Jay ada dan saat Humaira masih kecil. Keduanya sama-sama memiliki jalan hidup yang sama. Pelik tapi keduanya mampu melewatinya. 


"Apa itu berarti Jay udah nerima kenyataan tentang Ayah Syakir?" tanya Humai dengan harapan yang membumbung tinggi.


"Iya. Jay terima, Bu," sahutnya dengan wajah serius.


"Bagaimana jika besok Om Syakir kesini?"


"Jay bakalan peluk Om Syakir. Jay kangen sama Ayah. Selama ini Jay tahan gak tanya soal Ayah karena takut Ibu menangis," ujarnya yang membuat air mata Humaira tanpa sadar menetes. 


Ya tuhan, sejahat itukah aku dulu. Sesakit itukah sampai aku sendiri membiarkan putraku bertanya pada dirinya sendiri, batin Humaira menjerit. 


"Maafin Ibu yah. Ibu janji sekarang, gak bakal ada yang Ibu tutupi lagi. Ibu bakalan jujur dan selalu menjawab pertanyaan, Jay," ujar Humaira yang membuat Jay mengangguk


"Iya, Bu." 


Tak ada lagi yang ditutupi oleh Humaira. Semuanya sudah dikatakan. Dirinya juga tak berbohong, perpisahan ia dan Syakir karena ketidakcocokan di antara keduanya. Maka dari itu, mereka memilih berpisah. 


"Om Syakir besok kesini, 'kan, Bu?" tanga Jay dengan wajah penuh antusias.


"Belum tahu, Sayang. Tapi kalau dia kesini…" jeda Humaira yang membuat Jay menunggu. "Jangan panggil Om Syakir lagi."


"Pasti, Bu. Jay bakalan panggil dengan sebutan, Ayah Syakir atau Ayah Jay," kata Jay dengan wajahnya yang benar-benar bahagia.


~Bersambung

__ADS_1


Bab ini jadi dejavu. Ingetin seseorang yang jelasin sama anaknya di depan mataku sendiri.


Biarlah keburukan ayahnya ditutup rapat dan menjadi kenangan untuknya. Cukup dia saja bukan anaknya. bener gak?


__ADS_2