Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Tidur Seranjang?


__ADS_3

...Memaafkan sebuah kesalahan dan mencoba berdamai dengan keadaan adalah hal yang sangat indah. Namun, hal tersulit yang paling terjadi ketika kita mencoba memulai lagi tapi tanpa bayangan masa lalu kita. ...


...~Humaira Khema Shireen...


...🌴🌴🌴...


"Ada apa ini?" Tanya Syakir yang tiba-tiba muncul di antara kedua orang yang sangat ia sayangi.


Pria itu berdiri di antara keduanya. Menatap putra dan mantan istrinya yang terlihat sedang membicarakan sesuatu yang penting.


Sejak tadi sebenarnya Syakir ingin mendekat. Namun, melihat suasana dan keadaan yang antara Humai dan Jay yang sepertinya semakin memanas. Membuatnya menahan diri sampai akhirnya ia tak sanggup melihat kesayangannya menangis seperti itu.


Humaira lekas menggeleng. Dia menatap putranya sambil tersenyum.


"Jay lagi minta maaf sama Ibu. Jay janji gak bakal bikin Ibu nangis lagi," Ujarnya yang membuat hati Syakir tersentuh.


Pria tampan meski usianya sudah hampir kepala empat itu, duduk di samping Jay. Dirinya mengusap kepala kecil itu sambil menatap wajahnya.


Memang mereka memiliki kemiripan. Dari wajah bahkan rambut pun, Syakir sendiri yang begitu terkejut melihat mereka yang sangat amat mirip. Namun, dalam hati pria itu. Dia masih berdoa semoga hati dan sikap serta tingkah laku Jay tak seperti dirinya.


Dia berharap sopan santun Jay, sangat mirip dengan Humai. Dia tak mau sikapnya menurun pada putranya. Dia tak mau anaknya mengikuti jejaknya.


Secinta apapun Syakir pada Jay. Sesayang apapun dirinya dengan Jay. Sebahagia apapun dirinya melihat wajah anaknya yang sangat mirip dengannya. Tetap saja, ia berdoa dan berharap keburukan dirinya tak menempel pada putranya itu.


"Jay harus tepati janji yah. Jagain Ibu di masa depan, Nak," Kata Syakir dengan menatap putranya begitu yakin.


Jay mengangguk. "Bukan Jay aja. Sama Ayah juga."


"Ayah dan Jay yang akan melindungi Ibu."


Syakir mengangguk. Dia memaksakan senyumannya agar terlihat baik-baik saja di hadapan putranya.


"Ya. Ayah akan menjaga Ibu juga."


...🌴🌴🌴...


Waktu terus beranjak naik. Beberapa kali bibir Jay menguap. Bahkan dia mulai terkantuk-kantuk di atas kursinya sendiri.


"Bawalah Jay ke kamar, Sayang. Dia udah gak tahan tuh!" Kata Mama Ayna pada Humai.


Ibu satu anak itu mengangguk. Dia hendak meraih tubuh Jay dalam gendongan tapi tangan putranya itu begitu erat memegang kemeja Syakir.


"Ayo, Jay. Kita tidur."

__ADS_1


Mata kecil itu mengerjap dengan lucu. Dia menggelengkan kepalanya berusaha mengusir rasa kantuk. Matanya berusaha terbuka lebar dengan menarik beberapa kali kemeja Syakir.


"Ada apa, Sayang?" Tanya Jay yang sejak tadi fokus akan pembicaraan dua pria paruh baya tentang perusahaan.


Ya dia menyimak obrolan Papa Hermansyah dan papanya sendiri membahas tentang pekerjaan. Namun, saat dia merasakan tarikan di bajunya. Tentu ia lekas menoleh.


"Jay mau tidur sama, Ayah!" Kata anak itu menguatkan matanya untuk tetap terjaga. "Ayo, Ayah!"


Jay menarik-narik kemeja Syakir. Dia bahkan mengabaikan rasa kantuk karena hanya ingin tidur dengan Syakir.


Hal itu tentu membuat Humaira bingung. Jika Syakir diminta tidur dengannya. Itu tandanya jika mereka akan tidur satu tempat. Tak mungkin di kamar Jay sendiri yang kecil.


Anaknya itu memiliki kamar memang tapi kondisi ranjangnya sudah dimodif punya kartun kesukaan Jay. Hal itu tak memungkinkan Syakir tidur di atasnya karena tak muat.


"Ayo, Ayah. Jay mengantuk," desak Jay dengan berulang kali mengusap matanya yang berair karena bibirnya tak henti menguap.


Akhirnya Syakir yang tak tega mulai menggendong putranya. Dia juga bingung harus melakukan apa.


"Ibu… "


"Ibu juga ikut!" Ajak Jay sambil mengulurkan tangannya.


Tentu hal itu membuat Syakir dan Humai tanpa sengaja saling pandang. Jantung keduanya begitu berdegup kencang saat membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini.


Dia lekas berjalan terlebih dahulu dengan Syakir yang menggendong Jay di belakangnya. Dengan pelan ibu anak satu itu membantu membukakan pintu kamar. Lalu masuklah Jay dan Syakir menyusul.


"Turunkan Jay di sofa itu, Kak," Kata Humai merasa canggung.


Syakir menurutinya. Humai lekas mendekat dan membantu membuka pakaian putranya itu. Humai melakukan semuanya dengan cepat. Kemudian dia juga menuntut Jay ke kamar mandi meski harus melewati adegan Syakir harus ikut karena takut ditinggal.


Jujur Jay baru kali ini seperti ini. Meminta sesuatu yang benar-benar memaksa untuk dituruti. Namun, hal itu tak membuat Humai marah.


Dia bahkan mencoba memaklumi. Mencoba memahami putranya yang mungkin ingin merasakan tidur sepanjang malam dengan ayah kandungnya.


"Nah sudah. Ayo tidur!" Ajak Humai saat Jay telah selesai membersihkan dirinya dan berganti pakaian.


"Ayo, Ayah! Ayo, Ibu!"


Dua tangan mungil itu saling memegang baju kedua orang tuanya. Dia bahkan dengan mata setengah terbuka berusaha menahan rasa ingin memejamkan matanya.


Akhirnya Syakir lekas menggendong putranya. Sedangkan Humai dia menyiapkan ranjang mereka dengan meletakkan bantal untuk Syakir di bagian kiri dan Humai bagian kanan. Lalu di antara keduanya ada Jay yang tertidur dengan tenang.


"Naiklah, Kak!" Kata Humai dengan degup jantung yang tak normal.

__ADS_1


Setelah sekian lama. Setelah kejadian pemerkosaan itu. Baru kali ini Humai kembali tidur satu ranjang dengan seorang pria. Meski pria yang sama, pria yang mengambil kehormatannya. Tetap saja ada sesuatu yang membuat Humai merasa tak nyaman.


Keringat dingin mengalir di kedua telapak tangannya. Dia merasa gugup sekaligus takut. Bayangan dimana hinaan dan makian Syakir kembali memutar di kepalanya.


"Humai!" Panggil Syakir menyentuh pundak mantan istrinya.


Humai tersentak kaget. Dia menggelengkan kepalanya seakan mencoba membuang pikiran buruk itu.


"Ayo naik. Aku akan keluar setelah Jay tidur," Kata Syakir yang sangat tahu jika mantan istrinya itu pasti merasa tak nyaman.


Perlahan pasangan mantan suami istri saling membaringkan tubuhnya di samping kanan kiri putranya. Tubuh mereka sama-sama gugup dan berkeringat dingin. Bahkan untuk menelan ludahnya sendiri saja, Humai merasa takut.


"Peluk Jay, Bu!" Pinta anak itu yang sudah menjadi kebiasaan Jay sejak kecil.


Ya putranya selalu minta dipeluk ketika tidur. Minta diusap kepalanya dengan lembut. Terkadang sebuah lagu juga dia minta alunkan untuknya.


"Ayah juga. Peluk Jay!" Katanya dengan suara yang hampir menghilang karena rasa kantuknya semakin besar.


Syakir tak bisa berkutik. Dengan pelan dia mulai mengangkat tangannya. Kemudian meletakkan di atas perut Jay dan membuat dua kulit itu tanpa sengaja saling bersentuhan.


"Kak… " Lirih Humai yang begitu gemetaran.


Perempuan itu tak tahan. Dia bahkan mulai sadar bahwa Humai butuh obatnya. Namun, tanpa disangka. Saat dia hendak beranjak. Sebuah genggaman di tangannya membuatnya kembali berbaring.


Dia langsung menatap ke arah tangannya dan melihat jika tangan Syakir lah yang menggenggam tangannya.


"Kak… "


"Jangan khawatirkan apapun, Mai," Lirih Syakir yang melihat keringat dingin di dahi Humai.


Dia mencoba lebih mendekat. Melepas genggaman itu dan semakin naik mengusap peluh keringat di dahi Humai yang membuat jantung gadis itu semakin tak karuan.


"Aku janji tak akan melakukan apapun padamu," Ujar Syakir dengan serius. "Tidurlah dan aku akan keluar setelah kalian tertidur dengan nyenyak."


Setelah mengatakan itu. Humai seakan terhipnotis dengan suara dan tatapan mata mantan suaminya. Wanita itu dengan perlahan memejamkan matanya dan menikmati usapan lembut di wajah dan dahinya.


Usapan kulit Syakir yang terasa hangat hingga membuatnya kini mulai masuk ke dalam alam mimpi yang membuat nafasnya mulai teratur.


"Tidurlah, Humairaku. Bermimpi dengan indah dan esok aku akan memulai semuanya dari awal."


~Bersambung


Woo bikin gemeter sendiri Bang Syakir. Pen teriak ahh. Bayangin gimana mereka tidur seranjang.

__ADS_1


__ADS_2