Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Memasak Bersama


__ADS_3

...Dulu kegiatan ini adalah hal yang paling aku bayangkan dalam kepalaku. Namun, sekarang aku terkejut jika bisa melakukannya dengan nyata bersamamu. ...


...~Humaira Khema Shireen...


...🌴🌴🌴...


Suara canda tawa terdengar begitu bahagia di dalam sebuah rumah. Terlihat sepasang manusia yang saling membantu satu dengan yang lain. Mereka saat ini tengah memasak di dapur.


Wajahnya keduanya tak bisa menutupi rasa bahagia di antara mereka. Bayangan ketika masa sekarang sangat berbanding terbalik dengan masa lalu mereka.


Keduanya tak pernah berpikir akan ada hal seperti ini. Keduanya tak pernah membayangkan jika Tuhan memberikan kesempatan kedua. Kesempatan yang sangat amat anugerah bagi mereka.


Hal yang seakan mimpi bagi keduanya. Hal yang mereka anggap hanya bunga tidur dan tak bisa menjadi nyata. Kini keduanya alami secara langsung.


"Jangan ganggu terus, Kak. Nanti gak selesai loh! " Kata Humai mengancam.


Bukannya takut. Syakir malah terkekeh. Dia semakin merapatkan tubuhnya dan memeluk Humaira dari belakang. Wajahnya menyusup di leher sang kekasih hingga membuat Humai benar-benar tak bisa fokus akan pekerjaannya.


"Aku gak ganggu, " Kata Syakir dengan suaranya yang manja. "Aku cuma pengen deket sama kamu terus. "


Humaira tersenyum. Dia benar-benar harus membiasakan diri dengan sikap Syakir yang manja dan penuh romantis. Mantan suaminya ini benar-benar pribadi ganda menurutnya.


Syakir bisa berubah menjadi jinak seperti ini ketika keduanya sama-sama bucin. Syakir juga bisa segarang dan sejahat preman ketika dia sudah membenci seseorang. Hal itulah yang dirasakan oleh Humaira secara langsung.


Dia sudah melihat Syakir versi apapun. Versi marah, kecewa, bahagia dan cinta. Dia paling mencintai Syakir ketika mode begini.


"Tapi kamu gak mau diam, Sayang! " Ujar Humaira yang membuat Syakir mengangguk.


Dia memang sejak tadi tak mau diam. Tangannya mencubit pipi Humai, mengusap hidungnya dan bahkan sesekali mentoel dagu Humai.


"Baiklah. Aku menyerah, Sayang, " Ujar Syakir lalu mencuri satu kecupan di pipi Humai sebelum dia melepaskan tangannya dari perut sang mantan istri.


"Ambilkan udang, Kak, " Kata Humaira menunjuk ikan yang sudah dia cuci dan kupas.


Ya, keduanya memang belanja bersama ke pasaran tadi. Setelah berkeliling di seluruh sudut rumah. Syakir merengek minta makan masakan hasil tangan Humaira sendiri. Akhirnya mau tak mau, Humaira lekas minta di antar ke tempat langganannya.


"Ini, " Ujar Syakir sambil menyerahkan apa yang diminta oleh wanita pujaannya.


Akhirnya setelah berkutat dengan peralatan dapur selama hampir satu jam lebih. Udang asam manis tersaji dengan begitu cantik di atas meja makan.


Masakan pertama yang dibuat dengan cinta dari keduanya. Hasil yang dibuat oleh kedua pasang tangan berbeda yang sedang dimabuk asmara.


"Aku ambilkan ya, Sayang, " Kata Humai saat keduanya sudah duduk di kursi meja makan.


Dengan begitu telaten, Humai mengambil nasi dan meletakkannya di atas piring milik Syakir. Dia juga mengambilkan lauk kemudian menyerahkannya pada Syakir.

__ADS_1


Ibu satu anak itu lalu menatap Syakir yang tengah mengaduk nasinya. Dia menyangga dagunya dengan kedua tangan dengan tatapan tak beralih dari Syaki


"Kamu gak makan? " Tanya Syakir yang merasa diperhatikan.


Dan benar saja, saat dia mendongak. Dia menatap calon istrinya yang tengah menatapnya.


"Aku nunggu kamu makan dulu. Terus kasih nilai ya," Pinta Humai penuh harap.


Akhirnya Syakir mengangguk. Dia tersenyum lalu mulai mengambil nasi dan lauk itu dan memasukkan ke dalam mulutnya.


Matanya terpejam saat suapan pertama masuk dalam mulutnya. Syakir mengunyah dengan tenang dan membuat Humai benar-benar menatap Syakir penuh penasaran.


"Gimana, Sayang? " Tanya Humai tak sabaran.


"Coba kamu rasain juga. Kok aneh rasanya, " Ucap Syakir lalu menyendokkan nasi dan lauk dan mengulurkan di depan bibir Humai. "Ayo buka mulutnya, Sayangnya Syakir! "


Humaira yang takut masakannya terasa aneh lekas membuka mulutnya dan menerima suapan itu. Saat nasi dan lauk itu mengenai lidahnya. Hanya satu kata yang mampu dia katakan.


"Ini… "


"Luar biasa, Sayang, " Sela Syakir yang membuat Humai menatap calon suaminya itu penuh curiga.


"Kamu ngerjain aku yah? " Kata Humai dengan mendelik sebal.


Syakir terkekeh. Dia memang berniat mengerjai mantan istrinya itu. Melihat wajah Humai yang panik tentu menjadi sebuah pemandangan indah di mata Syakir.


Humai menatap Syakir dengan lekat. Dia tak menyangka jika mantan suaminya itu mengingat kejadian di masa lalu. Kejadian dimana Humai selalu memasak dan dihidangkan setiap hari. Padahal dia tahu jika Syakir tak akan memakannya.


Sampai suatu hari, saat Syakir kelaparan akhirnya hanya ada makanan buatan mantan istrinya itu. Dengan sembunyi dia mencobanya dan dari sanalah Syakir suka buatan Humai.


"Jadi kamu… "


"Ya aku bohong mengatakan tak enak, Sayang. Masakanmu sejak dulu sudah sangat enak. Ditambah sekarang, ada bumbu cinta makin bikin nikmat rasanya. "


Humaira memutar bola matanya malas. Syakir selalu saja menikmati kesempatan dalam kesempitan. Pria itu selalu bisa mencuri kesempatan untuk menggombal.


"Udah gak usah ngerayu terus. Ayo makan dan habiskan! "


...🌴🌴🌴...


Langit yang mulanya cerah kini mulai berganti gelap. Kota Jakarta yang tak pernah tidur itu kini terlihat begitu ramai akan lalu lalang kendaraan bermotor.


Banyak roda dua atau empat yang memenuhi jalanan menuju Bandar Soekarno Hatta. Begitupun dengan salah satu kendaraan yang membawa sepasang bucin yang sama-sama sedang di mabuk asmara.


Saat ini mereka tengah berada di dalam sebuah mobil menuju ke bandara. Sefira dan Jeno, serta Jay ada di mobil milik Jeno. Sedangkan Mama Emili, Mama Ayna dan Papa Haidar ada di kendaraan depan.

__ADS_1


"Jadi entar lagi ketemu Ibu, 'kan, Ante? " Tanya Jay yang tengah duduk di pangkuan Jeno.


Pria itu memang tak menyetir. Supir keluarga Humai yang mengantar mereka agar kendaraan Jeno aman di rumah mahasiswanya itu.


"Iya, Sayang. Entar lagi ketemu Ibu dan Ayah. Jay udah gak sabar yah? " Tanya Sefira dengan mentoel pipi keponakannya lucunya itu.


"Iya, " Sahut Jay dengan mengangguk. "Ayah sama Ibu gak telfon Jay lagi. "


"Apa Ibu sama Ayah, sibuk? " Tanya Jay dengan tatapan penuh kerinduan.


Kedua mata kecil itu mendongak. Dia menatap ke arah Jeno yang sama-sama sedang menatapnya itu.


"Mereka sibuk bikin adek buat, Jay, " Celetuk Sefira dengan terkekeh. "Aw! "


Adik Syakir itu memegang tangannya yang dicubit kecil oleh kekasihnya itu. Matanya membulat seakan tak terima akan cubitan Jeno.


"Kok dicubit sih, Sayang? " Kata Sefira pura-pura sedih.


"Mana yang sakit? Serius sakit? Padahal aku udah pelan-pelan, " Ujar Jeno dengan khawatir.


Jujur rasanya Adik Syakir itu ingin tertawa. Apalagi melihat wajah kekasihnya yang panik.


"Disini sakit, " Kata Sefira meletakkan tangan Jeno ke pipinya.


Dia ucapkan telapak tangan Jeno di pipi bagian kirinya itu.


"Kemarilah! " Kata Jeno meminta Sefira mendekat.


Gadis yang polos itu tentu menurut. Dia berpikir jika Jeno ingin berbisik dengannya. Tanpa diduga, Jeno menutup mata Jay dan,


Cup.


"Jeno! " Pekik Sefira lekas menjauh.


Dia menatap kekasihnya yang malah tertawa itu. Jeno benar-benar gila. Ada supir di antara mereka tapi melakukan hal gila.


"Kenapa gak sabaran sih. Ada Jay sama supir loh! " Kata Sefira dengan mata tetap membulat


"Tenang saja, Non. Kami sudah biasa melihatnya!"


"Apa! " Pekik Sefira tak percaya.


"Nah kan. Supir aja paham, " Ujar Jeno membela diri. "Toh aku menciummu agar kamu segera sembuh. "


~Bersambung

__ADS_1


Bisa aja Lu Bang Jen. Yang satu masak bareng, yang satunya lagi gak tahu diri. Cium depan supir haha. Pak Supir pindah aja ke Mars. Takut diabetes lihat keuwuwan mereka berdua.


__ADS_2