Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Banyak Kesamaan?


__ADS_3

...Waktu memang mengajarkan seseorang untuk ikhlas dan menerima takdir. Memang awalnya berat tapi setelah menjadi kebiasaan maka kita akan melewatinya dengan mudah....


...~Humaira Khema Shireen...


...🌴🌴🌴...


Tak terasa waktu terus berjalan dengan cepat. Bulan mulai berganti lagi. Hari-hari Humaira selalu diisi dengan bekerja di kampus. Dia bahkan mulai menerima jika dirinya sudah dikeluarkan dari tempat dia menuntut ilmu.


Sakit hati, menyesal dan kecewa ada dalam diri Humaira. Bahkan mengakhiri hidupnya, sudah seringkali pikiran itu datang. Namun, kembali lagi, bayangan Rein yang sedang berjuang membuatnya menjadi kuat.


Humaira berusaha menerima takdirnya. Mengubur cita-citanya menjadi desainer terkenal karena mungkin ini memang sudah jalannya. Mau tak mau, suka tak suka, Humai tak bisa melawan takdir. Namun, dia juga sudah merasa tenang dengan kehidupannya sekarang. 


Tak ada lagi pembullyan, tak ada lagi perusak mental. Lingkungan toxicnya di kampus sudah benar-benar lenyap dan dia merasa lega.


Hari ini, seperti biasa, pagi-pagi sekali, Humaira akan pergi ke rumah sakit. Gadis itu selalu menyempatkan untuk menjenguk adiknya yang masih koma.


Entah sampai kapan Rein memejamkan matanya. Namun, dia hanya bisa berusaha. Humaira bekerja untuk mencari tambahan uang pengobatan Rein. Dia juga rela makan dengan ala kadarnya agar uangnya banyak di tabungan.


Bahkan Humai juga menekan keinginannya untuk membeli sesuatu yang mungkin akan terlihat boros. Dia benar-benar belajar hemat. Bahkan sangat hemat karena takut jika dia kehabisan uang untuk biaya rumah sakit. 


"Akhirnya semuanya selesai," kata Humaira setelah membuat roti bakar dengan selai coklat dan taburan kacang di dalamnya.


Dia segera membawa makanan itu ke atas meja makan. Tak ada lagi yang melarang dirinya makan coklat, kacang dan semuanya. Humaira bebas menyuapkan apa saja ke dalam mulutnya.


Saat Humaira mulai menyuapkan roti itu ke dalam mulutnya. Tiba-tiba, dia merasa sesuatu mengaduk aduk perutnya. Hingga dia menutup mulutnya saat Humai merasa sesuatu mulai naik.


Huekk.


Gadis itu lari ke wastafel. Dia memuntahkan roti yang baru saja dikunyahnya dan terakhir cairan kuning. Gadis itu merasa kepalanya pusing. Dia mulai berjalan dengan pelan kembali ke meja makan lalu mulai minum air putih yang sudah disiapkan di dalam gelas.


Entah kenapa tiba-tiba Humai merasa malas. Apalagi ketika dia membuka roti itu dan terlihatlah selai coklat menggiurkan. Pemandangan yang seperti ini dulu menggugah seleranya. Namun, entah kenapa sekarang dia merasa perutnya tak enak dan pengen muntah ketika melihatnya. 


"Kenapa dengan perutku. Biasanya aku suka coklat kacang tapi sekarang melihatnya saja aku ingin muntah." 


Saat Humai masih mencoba menenangkan perutnya. Suara panggilan dari luar dengan diiringi bunyi mobil membuat Humaira tahu siapa yang datang. 


"Mai…kamu dimana?" teriak suara yang sangat familiar. 


Humai hanya bisa geleng-geleng kepala. Tingkah sahabatnya itu memang seperti ini, absurd dan mampu membuatnya bahagia.


"Kamu kenapa, Mai?" tanya Sefira yang terkejut melihat wajah Humai pucat pasi. 


Saat gadis itu duduk di samping Humai. Entah kenapa tiba-tiba dia mencium bau minyak wangi yang tak asing. Minyak wangi yang tak pernah dipakai oleh Sefira. Namun, dia merasa familiar. Pikirannya memutar berusaha mengingat dimana dia mencium bau seperti ini.


"Ini…" gumamnya pelan dengan suara tercekat.


Humai baru ingat jika parfum ini sama dengan bau badan pria itu. Pria yang sudah mengambil kehormatannya. Pria yang menidurinya pertama kali.

__ADS_1


"Ada apa, Mai?" tanya Sefira yang menjauhkan tubuhnya.


"Minyak wangi kamu, baru?" tanya Humai dengan frontal.


"Hah, kenapa? Wangi yah?" tanya Sefira yang mencium bajunya juga. 


"Iya. Wangi banget," sahut Humai dengan cepat.


"Ini aku dapat hadiah dari kakakku. Aroma minyak wangi ini kesukaan kakakku lalu sekarang turun ke aku."


Entah kenapa Humaira merasakan perasaan lega saat bau itu tercium di hidungnya. Bahkan matanya kembali terpejam menikmati aroma yang memabukkan.


"Mai, katakan sesuatu? Kamu sakit?" 


"Aku baik-baik saja, Fir," kata Humaira meyakinkan. 


"Terus kamu kok gak makan?" tanya Humai menunjuk dua buah roti bakar. 


"Aku makan roti, perutku jadi mual," cerita Humai dengan jujur. "Kalau kamu mau, makan aja."


"Beneran?" Sefira mengambil salah satu roti itu lalu dia segera mengunyahnya.


Humaira tak melihat. Entah kenapa dia selalu merasa perutnya mual saat melihat selai coklat itu di depan matanya. 


"Kamu beneran gak mau?" tawar Sefir sambil menyodorkan roti di depan mulut Humai. 


Gadis itu mulai mual. Dia menutup hidungnya dan menggeleng.


"Gapapa tapi jauhkan roti itu dariku," pinta Humai pada sahabatnya.


"Kamu gak suka coklat?" 


"Suka tapi gak tau pagi ini liat coklat aja perutku munek-munek." 


"Kayak kakakku dong, Mai. Dia gak suka coklat, kalau ada yang kasih selai coklat sama dia, dia juga bakalan muntah-muntah." 


Humaira menarik nafasnya begitu berat. Dia berusaha tenang. Keduanya segera beranjak berdiri saat roti itu habis tertelan di mulut Sefira.


"Kita langsung kemana, Mai?" 


"Rumah sakit dulu. Kamu ikut, 'kan?" kata Humai balik bertanya. 


"Tentu. Ayo kita berangkat." 


...🌴🌴🌴...


Saat keduanya baru saja sampai di rumah sakit. Mereka langsung menuju ke ruangan dimana Rein berada. Para dokter memang masih memantau perkembangannya dan sejauh ini otak Rein masih berfungsi dengan baik.

__ADS_1


"Aku masuk dulu ya, Fir. Tungguin!" 


Humai perlahan memasuki ruangan adiknya. Dia bisa menatap sosok Rein yang terbaring lemah dengan banyak alat penunjang kehidupan di tubuhnya.


Hal seperti ini sudah menjadi kegiatan yang baru untuk Humai. Dia akan mengajak adiknya bercerita dengan apa yang ia lakukan seharian kemarin. Dokter sendiri yang meminta Humai mengajak adiknya bicara agar Rein merespon. 


"Selamat pagi, Rein. Kakak datang lagi," lirihnya sambil memegang tangan dingin itu. "Kamu pasti merindukan Kakak, 'kan?" 


"Maaf Kakak tidak datang kemarin. Cafe sedang ada acara dan kakak diminta datang pagi-pagi sekali." 


Tak ada jawaban apapun. Hanya bunyi alat detak jantung yang memenuhi ruangan itu. Perlahan Humaira mencium tangan adiknya dan membawa ke sisi wajahnya. 


"Rein gak mau bangun? Rein gak kangen sama Kakak? Kakak sendirian Rein. Kakak cuma punya kamu," ujar Humai dengan suara seraknya.


Dia terus bercerita tanpa mengenal lelah. Sampai tak lama, perut Humai merasa lapar. Dia mulai pamit pada adiknya dan tak lupa mencium dahi Rei.


"Cepet sembuh yah. Cepet bangun. Kakak menunggumu." 


Setelah mengatakan itu, Humaira lekas keluar. Dia segera menepuk pundak sahabatnya yang sedang melakukan panggilan telepon.


"Udah dulu ya, Kak. Kakak semangat kerjanya. Aku mau pergi dulu, bye!" kata Sefira lalu mulai menatap sahabatnya. "Udah?" 


"Udah," jawab Humai mengangguk. "Aku merasa lapar, Fir."


Sefira menghentikan langkah kakinya. Dia menatap sahabatnya dengan intens.


"Ayo kita makan!" ajak Sefira menggandeng tangan Humai.


"Tapi aku pengen makan nasi uduk,"  kata Humai sambil mengusap perutnya.


"Boleh," kata Sefira tak kalah bersemangat. "Kamu mulai kapan suka nasi uduk?" 


Humaira mengedikkan bahunya tak acuh.


"Entah. Aku juga gak sengaja bayangan nasi uduk dalam mulutku," kata Humai sambil menelan ludahnya.


Sefira geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya.


"Kamu udah kayak Kakakku, Mai. Kalau lagi pengen uduk. Gak bisa ditunda!"


"Eh iya kah?" tanya Humai terkejut.


Kepala Sefira mengangguk. "Iya karena nasi uduk adalah makanan favoritnya." 


~Bersambung


Nah loh, loh he?

__ADS_1


Sama kek kakakku, lahh. 


Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat ngetiknya. 


__ADS_2