
...Aku hampir menyerah dengan keadaan. Bahkan hampir mengakhirinya. Namun, saat aku berusaha untuk mencoba, aku mengingat masih ada sosok yang sangat mendukungku sampai di titik ini....
...~Humaira Khema Shireen...
...🌴🌴🌴...
Akhirnya disinilah Humaira berada. Disalah satu ruangan yang sangat membuatnya takut. Ketakutan itu tentu semakin besar saat foto-foto itu dipegang oleh beberapa dosen dan rektor yang ada disana.
Humaira menunduk. Dia tak tahu harus membersihkan namanya dari mana. Ini juga bukan kesalahannya. Dia tak tahu apa-apa pada saat kejadian itu dan ini bukan kuasanya.
"Apa maksud semua foto ini, Humai? Kamu tahu, 'kan? Kamu ini salah satu mahasiswa beasiswa yang sangat pandai dan cerdas. Kamu juga memiliki banyak kemenangan lomba di luar sana. Tapi apa maksud semua ini?"Â
Humaira hanya bisa menunduk. Jujur dia malu dihakimi seperti ini oleh banyak orang.Â
"Apa benar kamu menjual diri kamu untuk kuliah?" tanya salah satu dosen perempuan pada Humaira.
"Tidak, Bu. Itu semua tidak benar!" kata Humaira membela diri.Â
"Lalu foto ini? Ini kamu, 'kan?"Â
Humaira menarik nafasnya begitu dalam. Perlahan kepalanya mengangguk karena memang itu adalah foto dirinya.
Walau dia tak sadar. Namun, selimut dan beberapa barang di kamar itu membuatnya ingat jika itu memang dirinya.Â
"Berarti kamu mengakui kalau kamu tidur dengan pria yang lebih tua sama kamu cuma buat kuliah?"Â
"Bukan, Bu. Itu semua gak benar!" Bela Humai mencoba memberanikan diri mengangkat kepalanya.
"Kejadian itu terjadi saat Rachel berulang tahun. Saya berada di kamar mandi. Kemudian ada yang mengetuk pintu kamar mandi. Saya pikir itu Sefira, dan akhirnya saya membuka pintu itu. Tetapi saat saya keluar, tak ada Sefira disana. Sampai akhirnya saya berbalik untuk kembali masuk tapi dari belakang ada yang memukul kepala saya dan saya langsung tak sadarkan diri," kata Humai mencoba menjelaskan. "Lalu esok harinya saya bangun sudah dalam keadaan tak berpakaian dan bersama pria itu."Â
"Ceritamu sungguh hayalan," kata Dosen tadi dengan tatapan remeh. "Jangan mencoba berbohong, Humai. Kasus sepertimu ini sudah banyak!"
"Tapi saya berkata jujur, Bu. Saya dijebak."Â
"Dijebak tapi sampai seperti ini? Kamu bisa, 'kan menghindar? Atau menolak?"Â
"Saya gak sadar, Bu. Ibu bisa lihat saya menunduk terus disana!"
Perdebatan itu berakhir dengan ditenangkan oleh beberapa dosen disana.
"Tapi yang pasti, nama kamu sudah mencoreng nama baik kampus, Humai."Â
__ADS_1
"Maafkan saya, Pak, Bu. Saya benar-benar tak ada niat untuk membuat masalah ini."Â
Masalah tetaplah masalah. Tak ada yang tahu mana benar dan tidak. Hingga akhirnya Humaira disodorkan sebuah amplop dengan segel kampus di tangannya.
"Beasiswa kamu kami cabut dan maaf, Humai. Kamu kami DO dari kampus ini untuk menjaga kelangsungan dan nama baik kami."Â
Jantung Humai mencelos. Air mata menetes tak dapat ditahan. Harapan yang ia buat setinggi mungkin untuk menjadi seorang desainer akhirnya berakhir disini.Â
Harapan dirinya bisa menuntut ilmu, bisa menaikkan derajatnya di mata orang diluar sana kini runtuh seruntuh-runtuhnya.Â
Humaira tak dapat menyelamatkan nasibnya. Semua kesalahan sangat jelas meski kebenarannya bukan seperti itu. Dia segera keluar dari ruangan yang terasa engap dan panas hingga air matanya kembali mengalir ketika dia berhasil keluar dari sana.
Saat kepalanya menunduk, Humai bisa melihat sepasang sepatu berdiri di depannya. Sepatu yang sangat dia hafal dan membuat Humaira mengangkat wajahnya.
"Sefira!" lirih Humai menatap sahabatnya dengan wajah takut.
Terlihat Sefira menatapnya penuh kecewa. Dia menyadari jika pasti sahabatnya itu jijik kepadanya. Memiliki sahabat bekas tidur dengan pria lain adalah hal paling memalukan.
"Maafkan aku, Fir. Aku…"Â
Tiba-tiba sebuah pelukan hangat Humaira rasakan. Sefira bukannya marah malah memeluk Humai dengan erat. Gadis itu menangis dan membuat Humai bingung bukan main.
"Kenapa kamu gak cerita sama aku, Mai?"Â
Sefira tetaplah Sefira. Sahabat yang selalu ada untuknya.
"Maafin aku, Fir. Maaf udah buat nama kamu jelek."Â
"Ustt." Sefira menggelengkan kepalanya.
Dia melepaskan pelukan itu dan menangkup wajah Humai dengan pelan.
"Aku percaya sama kamu. Aku yakin ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari aku karena kamu gak mau aku tau aib kamu."
Humaira hanya bisa menunduk. Jujur dia malu berada disini. Jujur dia juga menyesal dan takut jika orang tuanya yang ada diatas sana menatapnya penuh rasa kecewa.
"Katakan sesuatu padaku, Mai. Jangan kata maaf terus," bujuk Sefira pada sahabatnya.
Sampai tak lama dan tak disengaja, Sefira melihat sebuah amplop putih yang sangat dia tahu itu apa dan mengambilnya.Â
"Mai ini…!"
__ADS_1
Humaira mengangguk lemah.."Aku di DO, Fir."Â
"Apa!" Sefira beranjak berdiri. "Kamu gak salah, Mai. Ayo kita masuk!"Â
Humaira menggelengkan kepalanya. Dia menarik tangan Sefira agar mereka pergi dari sana.Â
"Biarkan aku yang akan menjelaskan semuanya. Mereka gak bisa DO kamu sembarangan. Kamu pintar, Mai. Kamu cerdas!" seru Sefira tak terima.Â
"Jangan, Fir. Jangan merusak citra namamu karenaku," kata Humai membujuk.
Akhirnya Sefira mencoba bersikap tenang. Dia tak lagi memberontak. Keduanya saat ini berada di taman bagian belakang kampus yang terkenal sepi dan tenang.
Perlahan, Humaira mulai menceritakan semuanya pada Sefira. Tak ada sedikitpun bagian yang ditutupi oleh gadis itu. Humai mengatakan semuanya dengan jujur pada adiknya.Â
"Aku benar-benar terkejut pas bangun, Fir. Aku sudah dalam keadaan polos dan tidur dengan pria itu."
Sefira menatap sahabatnya kasihan. Dia sangat tahu bagaimana sikap Humaira dan membuatnya yakin jika Humai tak bersalah.
Tak mungkin gadis yang suka insecure dan lugu ini menjerat pria kaya hanya dengan melempar dirinya di ranjang mereka. Humaira yang polos dan lugu tak akan seberani itu apapun keadaannya.Â
"Aku jijik sama diri aku sendiri. Aku marah sama aku dan keadaan. Aku hampir menyerah tapi aku ingat ada Rein disini yang butuh aku."Â
Sefira menangis. Di segera menarik Humai dalam pelukannya. Dia benar-benar tak menyangka garis hidup Humai serumit ini. Namun, apapun itu. Sefira bangga dan senang bisa mengenal gadis hebat dan sekuat seperti sahabatnya ini.Â
"Aku yakin kamu gak salah. Aku yakin kamu dijebak, Mai. Aku yakin itu!"Â
Sefira perlahan melepaskan pelukannya itu. Dia Ingat akan sesuatu.Â
"Kamu bilang kalau nama apartemen itu, Garden Flower, 'kan?" tanya Sefira dengan yakin.
"Iya. Aku ingat sekali."
"Bukankah itu apartemen elite?" ulang Sefira mencoba mengingatnya.
"Ya. Disana bangunannya mewah banget, Fir. Bahkan ketika aku keluar dari gedung itu, ada satpam yang menjaga di depan dengan ketat," kata Humai mengingat. "Bagaimana kamu bisa tahu kalau itu apartemen elite?"Â
Sefira menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dia baru ingat sesuatu. Ingat jika nama apartemen itu tak asing di telinganya.Â
"Kakak kandungku tinggal disana. Dia keluar dari rumah karena jarak apartemen dengan perusahaannya dekat. Jadi aku tahu tentang apartemen itu."Â
~Bersambung
__ADS_1
Lalala gak mau main tebak-tebak. Biar nebak sendiri, haha.
Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat. btw aku gak bisa bales komen kalian dulu, soalnya kejar dua novel. Tapi nanti aku usahain balesin komen yah.