Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Istri atau Pembantu?


__ADS_3

...Ternyata cinta tanpa adanya logika akan membuat seseorang menjadi bodoh dan gila....


...~JBlack...


...🌴🌴🌴...


Akhirnya semua keluarga mulai mengantar Syakir dan Humai ke rumah yang akan mereka tempati. Mama Ayna, Papa Haidar dan Sefira ikut serta karena mereka tak mau Humai merasa kecapekan jika melakukan semuanya sendiri di rumahnya.


Perjalanan yang ditempuh hampir satu jam menuju rumah Humai akhirnya mulai berakhir. Empat mobil berhenti tepat di depan rumah yang lumayan bagus tapi tak semewah rumah Syakir.


Mereka segera turun dengan Humai yang menatap rumahnya dengan pandangan tak percaya. 


"Ini…" gumamnya sambil menunjuk rumah miliknya yang sudah beda jauh dengan terakhir ditinggalkan. 


"Bagaimana? Kamu suka?" tanya Sefira sambil memeluk bahu sahabatnya yang menatap ke arah rumahnya.


"Ini kamu yang lakuin?" tanya Humai dengan mata berkaca-kaca.


Sefira tersenyum. Dia mengangguk membenarkan. 


"Ini atas usul Mama juga. Jadi biar kamu nyaman tinggal disini, Mama dan Papa renovasi rumah kamu," kata Sefira menjelaskan. "Tapi untuk dekorasi di dalamnya. Semua tetap sama seperti semula."


Akhirnya Humai yang penasaran lekas memasuki rumahnya. Dia menatap setiap cat dinding yang sudah diganti dengan warna pastel. Lalu di depan rumahnya ada kolam ikan lele yang sudah dibersihkan. 


Bunga-bunga juga sudah dirapikan dan terlihat seperti taman kecil yang indah. Perlahan, dia mendorong pintu utama. Memasuki rumah yang sudah sangat lama tak ia datangi.


Wajahnya berkaca-kaca saat semua benda masih ditempatkan ke tempat yang semula. Hanya bedanya adalah warna cat dan ditambah aroma terapi yang wangi membuat siapapun menjadi tenang ketika memasuki rumah ini. 


"Ayo kita lihat lebih dalam lagi!" ajak Sefira tanpa melihat Syakir yang sedang masuk dengan wajah malasnya.


Humai dan Sefira dengan semangat berkeliling. Melihat kamar utama yaitu kamar orang tua Humai. Lalu lanjut ke kamarnya sendiri, kemudian ke kamar Rein dan terakhir kamar yang masih kosong di lantai dua.


"Ini bener-bener cantik banget, Fir. Warnanya aja kesukaanku. Pasti kamu…" 


Sefira tersenyum. Dia menggenggam tangan sahabatnya dan mengusapnya dengan pelan. 


"Aku cuma bisa bantu ini aja, Mai. Aku gak bisa buat kakakku baik sama kamu, perlakukan kamu seperti ratunya tapi aku bakalan berusaha buat lindungi kamu, bahagiain kamu pakai cara yang lain." 

__ADS_1


Humai meneteskan air matanya. Dia lekas memeluk sahabatnya ini dengan perasaan tak bisa dijabarkan. Sefira adalah salah satu orang yang tak pernah meragukannya, tak pernah meninggalkannya meski di luar sana banyak sekali yang membencinya.


Sefira akan menjadi tameng pertama yang akan melindungi disaat mereka semua menuduh atau menjauhi Humai. Dia benar-benar teman yang tulus yang Humai punya di dunia ini.


"Makasih udah selalu ada buat aku, Fir. Aku gak tau mau bales apa sama kamu tapi aku bener-bener bersyukur punya sahabat kayak kamu," ucap Humai dengan tulus. 


"Aku juga, Mai. Aku bahagia punya kamu. Semangat berjuang yah dan jangan menahan semuanya sendiri kalau kamu udah gak kuat. Ingat! Ada aku disini yang bakal selalu ada buat kamu. Jangan takut hadapi dunia sendirian, karena sekarang ada anak ini yang akan jadi pelindungmu nanti." 


Akhirnya pembicaraan kedua sahabat itu mulai berakhir saat panggilan dari lantai pertama memanggil keduanya. Pasangan sahabat itu saling turun bersama dengan bergandengan tangan. 


Mereka terlihat terus tersenyum dan membuat Syakir sangat muak. Namun, dia berusaha menahannya karena takut mama dan keluarganya akan terus membela wanita itu.


"Ada apa, Ma?" 


"Ayo kita pulang!" ajak Mama Ayna yang membuat Sefira seperti enggan. 


"Kok cepet sih, Ma. Katanya mau bantu beres-beres?" tanya Sefira dengan lesu.


"Mbak yang Mama sewa buat beresin rumah ini sama semua keperluan kakakmu dan menantu Mama udah dateng," kata Mama Ayna menunjuk tiga orang wanita yang berdiri di depan rumahnya.


"Kamu nanti boleh kesini pas libur kuliah, Fir. Bagaimana?"


Mata Sefira berbinar. Dia hampir melupakan itu. Bukankah jarak rumahnya dan rumah Humai dekat tak sampai satu jam. Mengendarai mobil sendiri pun, dia bisa. 


"Baiklah." 


Akhirnya Mama Ayna, Papa Haidar dan Sefira mulai pamit. Mereka memeluk Humai dan Syakir secara bergantian. 


"Ingat pesan Mama ya, Nak. Sebelum kamu menyesal," bisik Mama Ayna sebelum pelukannya dengan Syakir terlepas.


"Jangan terlalu capek ya, Nak. Banyakin istirahat. Nanti Mama bakalan siapin pelayan buat bantu kamu beresin rumah," kata Mama Ayna pada menantunya.


"Eh gak usah, Ma. Gak perlu!" tolak Syakir dengan cepat.


Hal itu tentu membuat Mama Ayna menatap anaknya dengan kening berkerut. 


"Maksud Syakir gak perlu dicarikan. Syakir juga bisa nyari pembantu sendiri," ujarnya yang akhirnya membuat Mama Ayna mengangguk.

__ADS_1


"Jangan sampai lupa!" kata Mama Ayna yang langsung dijawab anggukan oleh Syakir. 


Akhirnya mobil ketiganya mulai meninggalkan rumah Humai. Mereka meninggalkan dua manusia yang berdiri di depan rumah dengan perasaan yang tak bisa dijabarkan.  


Jika Syakir, pria itu mulai merasa senang karena terbebas dari keluarganya. Namun, tidak dengan Humai. Wanita itu berusaha belajar menerima apa saja yang akan datang kepadanya setelah ini. 


"Hari ini kau boleh bermalas-malasan!" seru Syakir saat sudah tak ada orang disana. "Tapi besok, kau harus melakukan pekerjaan rumah seorang diri." 


Percayalah semua yang dia katakan pada mamanya hanya kibulan semata. Syakir tak mau mengeluarkan sepeserpun uang hanya untuk menyewa asisten rumah tangga.


Dia tak mau gadis cupu itu semakin manja dan semakin berada di atas awan. Syakir ingin menyadarkan wanita yang berstatus menjadi istrinya bahwa hidup tak seenak yang dia lihat. 


"Tapi…" 


"Gak ada tapi-tapian!" seru Syakir dengan suara tegasnya. "Tak akan pernah ada pembantu di rumah ini. Semua tugas rumah, harus kau yang melakukan seorang diri." 


Humai hanya bisa menunduk. Bukannya dia merasa malas tapi selama hamil, Humai merasa tubuhnya tak sekuat dulu. Dia selalu merasa capek dan pusing berlebihan ketika melakukan banyak kegiatan.


"Kalau kau tak mau, minta cerai dariku maka semuanya akan selesai!" 


Syakir tersenyum. Apalagi ketika melihat Humai yang spontan mengangkat kepalanya saat kata yang diucapkan Syakir barusan membuatnya terkejut. 


"Kau terkejut, he?" ujarnya dengan tersenyum miring.


"Kalau kau ingin bebas, maka mintalah cerai dariku. Bukankah ini yang kau inginkan dari dulu? Jadi istriku. Istri seorang pria kaya." 


Humai terdiam. Hatinya sakit saat mendengar semua cercaan, cacian dan makian yang terlontar dari bibir Syakir. Pria itu benar-benar tak memiliki hati sedikitpun dengan kondisi Humai. 


"Aku tak akan pernah meminta cerai dan aku siap melakukan semua pekerjaan rumah sendiri!"  jawab Humai yang membuat senyum Syakir surut. 


"Kita lihat saja. Sampai mana kau bisa bertahan dan melakukan semuanya sendiri, Gadis Cupu!" 


~Bersambung 


Aku pantau loh, Bang. Kita lihat aja nanti yah. Nanti kalau aku dah lompat beberapa tahun kemudian, jangan kaget, haha.


Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.

__ADS_1


__ADS_2