
...Seseorang bisa mencintai dan membenci dalam waktu bersamaan. Mereka tak bisa membedakan tapi tubuhnya bisa mengatakan bahwa siapa pemilik sebenarnya....
...~JBlack...
...🌴🌴🌴...
Akhirnya hari itu juga, semua perlengkapan Rein telah dipersiapkan. Dari keberangkatan, pesawat dan konfirmasi dengan rumah sakit yang akan dituju semuanya selesai dengan cepat
Ternyata jauh-jauh hari, Papa Haidar dan Mama Ayna telah mempersiapkan semuanya. Mereka berinisiatif memberikan Humaira kejutan dengan memberangkatkan Rein secara cepat agar segera mendapatkan penanganan khusus.Â
"Mama dan Papa akan ikut Rein, Sayang," kata Papa Haidar mengusap kepala menantunya.
Entah kenapa pria paruh baya itu menyayangi Humai selayaknya anaknya sendiri. Dia melihat bagaimana tulusnya menantunya itu. Apalagi dia sering mendengar kebaikan Humai dari cerita Giska saat mereka belum mengenal dulu.
Tak ada alasan untuk tak menyayangi menantunya. Walau wajahnya tak cantik tapi hati Humai tak dapat diragukan lagi. Lembut, penyayang dan apa adanya.
"Humai mau ikut. Boleh?"Â
Mama Ayna tersenyum. Dia tahu bagaimana perasaan Humai. Mereka juga sudah tahu bagaimana keadaan keluarga Humai dulu dari cerita anaknya dan tetangga menantunya.
"Kamu lagi hamil, Nak. Kamu gak boleh naik pesawat," kata Mama Ayna menenangkan. "Tapi setelah kandungan kamu kuat. Kamu bisa menjenguknya?"Â
Mata Humai berkaca-kaca. Lagi-lagi dia harus terpisah oleh keluarganya. Namun, bukankah ini salah satu cara untuk mengobati adiknya. Bukankah Humai juga ingin Rein segera sembuh dan kembali seperti sedia kala.Â
"Bagaimana, Nak?"Â
Humai menarik nafasnya begitu dalam. Dia menganggukkan kepalanya meski lemah.
"Mama sama Papa terus kabari Humai yah kalau terjadi sesuatu pada Rein. Humai cuma punya dia," ujarnya dengan air mata menetes.
Mama Ayna mengangguk. Dia memeluk menantunya yang lagi-lagi harus bersedih dengan keadaan. Mereka benar-benar tak menyangka kehidupan Humaira sudah diuji oleh Tuhan sepahit ini.Â
"Mama sama Papa bakalan jagain Rein, Sayang," kata Mama Ayna dengan tulus. "Kamu disini harus jaga diri baik-baik yah. Kamu gak boleh lupain kondisi kamu dan anak kamu."Â
"Iya, Ma. Pasti."Â
Saat pelukan mereka terlepas. Bersamaan dengan Sefira yang baru saja datang dari kantin. Dia menyerahkan semangkuk bubur dan teh hangat pada sahabatnya itu.
"Aku yakin kamu belum makan, 'kan?"Â
Humai tersenyum. Dia tak menyangka jika Sefira sangat mengingat betul kebiasaan Humai. Kebiasaan buruk ketika dia panik maka Humai akan melupakan bahwa ia belum makan.
__ADS_1
"Iya."Â
"Ayo makan! Ponakanku pasti sudah sangat kelaparan disini," kata Sefira dengan membantu membukakan kotak berisi bubur dengan bau harum dan enak tersebut.
Ketiga orang disana tak ada yang membahas Syakir. Mereka tak mau semakin membuat Humai kepikiran. Mama Ayna juga tahu, jika anaknya semalam tak pulang karena mata-mata yang ia minta untuk mengikuti putranya mengatakan bahwa Syakir ada di apartemen.
Bukannya diam tapi Mama Ayna ingin melihat seberapa jauh putranya bertindak. Dia dan putrinya juga sedang menyelidiki semuanya. Mereka bahkan memiliki praduga yang sama siapa dalang dari semua ini.
Namun, mereka mencoba diam. Baik Mama Ayna, Sefira dan Papa Haidar ingin memberikan pelajaran pada putranya. Pelajaran bahwa tak selamanya yang terlihat baik selalu baik di matanya.Â
"Kamu gak makan?" tanya Humai pada sahabatnya yang sejak tadi melihatnya makan.
Sefira terkekeh. "Lihat kamu makan gini aja. Aku ikut kenyang, Bumil."Â
"Ih. Ya ayo makan, Fir!" ajak Humai lalu menyodorkan sesuap bubur di depan mulut Sefira. "Buka!"Â
Sefira tersenyum. Dia lekas menerima suapan itu dan membuat Mama Ayna dan Papa Haidar yang melihatnya merasa terharu. Mereka tak menyangka hubungan putrinya dan istri putranya sangat amat dekat. Bahkan terlihat seperti saudara kandung keduanya.
Akhirnya setelah makan. Dokter mulai menemui Mama Ayna dan Papa Haidar. Mereka mengatakan jika Rein sudah siap dibawa.Â
"Ayo!"Â
"Perlengkapan Papa sama Mama?" tanya Humaira pada kedua mertuanya.Â
Akhirnya rombongan ambulans dan mobil itu berjejeran melewati banyaknya lalu lalang padatnya Kota Malang. Suara sirine yang semakin kencang membuat Humai semakin merasa sedih dan takut.
Dia menatap ambulans itu dari mobil mertuanya. Disana, sosok yang sangat ia sayangi sedang mencoba bertahan dan berjuang. Lalu kenapa dia yang masih sehat harus mengalah dengan keadaan.Â
Humai tak selemah itu. Dia tak boleh mengalah pada keadaan. Dia disini untuk anaknya dan berjuang untuk kesehatan adiknya. Dia ingin ketika Rein sadar, adiknya bisa melihat bahwa Humai baik-baik saja.Â
Akhirnya perjalanan itu berakhir. Mereka sampai di bandara dengan waktu yang singkat. Humai lekas mengikuti langkah perawat dan dokter yang mendorong ranjang Rein memasuki bandara dengan cepat.
"Tunggu!" kata Humai pada mereka. "Bolehkan saya berbicara dengan adik saya, Dokter? Sebentar saja."Â
Dokter itu terenyuh. Dia menganggukkan kepalanya dan membuat Humai lekas tersenyum dan berterima kasih. Ibu hamil itu lekas mendekati sosok sang adik dan mencium dahi serta seluruh wajah Rein.
"Kamu harus sembuh ya. Janji sama Kakak, sepulangnya ke Indonesia kamu udah bangun, bisa jalan dan nemuin Kakak," bisik Humai dengan meneteskan air mata. "Kakak bakalan bertahan buat kamu disini."Â
Setelah pembicaraan itu selesai. Dokter dan perawat mulai melanjutkan langkah mereka. Meninggalkan empat orang yang berdiri mematung memandang kepergiannya.
"Mama sama Papa berangkat yah," pamit Mama Ayna pada kedua putrinya. "Kalian berdua harus saling menjaga. Giska, tolong bantuin Mama buat jaga menantu Mama dan calon cucu Mama ini. Lalu Humai, jagain putri mama satu-satunya."Â
__ADS_1
Keduanya mengangguk bersama.
"Tanpa Mama minta. Humai bakalan jagain dia dengan baik."
"Giska juga."Â
Akhirnya kedua orang tua Humai mulai melambaikan tangan mereka pada dua anka yang seumuran tersebut. Baik Humai maupun Sefira sama-sama berharap semoga ada kabar baik setelah ini.
...🌴🌴🌴...
Sedangkan di tempat lain. Terlihat sepasang kekasih saling berciuman dengan hasrat menggebu. Sang wanita duduk di atas perut sang pria dan mencoba mengambil alih kekuasaan kekasihnya.
Dia ingin menjerat kekasihnya. Dia tak mau kehilangan tambang uangnya yang sangat banyak. Dirinya harus berhasil memberikan kenikmatan itu pada prianya sekarang atau semuanya akan hancur tak bersisa.
"Sayang!" pekik pria itu saat merasakan kekasihnya semakin liar.
Namun, entah kenapa hasrat pria itu tak membara. Walau tangannya sudah menyentuh area sensitif sang kekasih. Dia bisa merasakan miliknya tak berdiri dengan tegak sempurna.
Ditambah bayang-bayang wajah Humai selalu datang dan membuatnya frustasi.
"Berhenti, Rachel! Stop."Â
Wanita itu mendongak. Dia menatap Syakir yang terlihat frustasi.Â
"Ada apa?" tanya Rachel yang menyingkir karena Syakir hendak berdiri.Â
"Kita tak bisa melakukan ini," kata Syakir lalu memakai atasannya kembali. "Aku tak bisa."Â
"Kenapa? Kenapa, hah?" teriak Humai yang sama frustasi.Â
"Apa kau sudah tak mencintaiku?" lanjut Rachel yang membuat Syakir mengacak rambutnya sendiri.
"Aku mencintaimu tapi aku tak bisa. Maaf."Â
Setelah mengatakan itu, Syakir lekas keluar. Dia meninggalkan Rachel yang marah dan mengacak kamarnya.Â
"Aku tak akan melepaskanmu, Syakir. Kau adalah milikku!"Â
~Bersambung
Lalala dah lah. Gak fungsi lagi punya Bang Syakir, haha.
__ADS_1
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat.